Dea & Kinan

Dea & Kinan
96. Sarapan pagi tanpa Kinan



Setelah berkeliling mall bersama dengan Fino, aku langsung diatar pulang olehnya dengan mengunakan mobil yang sengaja ditinggalkan Akira di parkiran. Sedangkan dia pergi dengan mobil yang dibawa oleh Fino, semacam tukar mobil kah? Entahlah, aku tidak ingin memusingkannya.


Sesampainya di depan rumah, aku kembali mengingatkan Fino untuk merahasiakan hadiah yang ku beli dari Akira.


"Ingat ya, jangan beritau Akira soal ini. Jika dia bertanya, jawab saja aku ... aku lupa membeli pakaian untuk lusa." Tuturku begitu ceroboh, memang awalnya aku tidak berniat berbelanja baju untuk acara lusa nanti. Tapi jika Akira menanyakan pakaian yang ku beli bagaimana? Dia nanti malah curiga padaku.


"Bukankah nona tidak membutuhkan pakaian baru untuk lusa?" Tanya Fino semakin membuatku kesal.


"Ya aku memang tidak membutuhkannya, tapi jika sampai pria bodoh itu menanyakan belanjaanku bagaimana? Apalagi aku terang-terangan menolaknya untuk mengantarku ...." Jawabku merasa bingung sendiri.


"Bilang saja nona melupakannya karena keasyikan bermain di game center." Saran Fino membuatku tersadar dengan kejadian memalukan di game center.


Ya aku memang benar-benar keasyikan bermain disana sampai lupa waktu, dan saat itu aku malah salah mengenali orang. Ku kira dia Fino ternyata bukan.


"Itu sih emang beneran keasyikan, bukan alasan lagi ...." Gumamku merasa malu sendiri.


"Pokoknya rahasiakan ini dari Akira oke!" Lanjutku menegaskan membuat Fino segera menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu nona." Tuturnya sambil tersenyum lebar.


"Eh? Tidak mau masuk dulu?" Tanyaku sambil menunjuk kearah pintu rumahku.


"Tidak usah, saya masih harus mengerjakan sesuatu. Jadi saya harus buru-buru kembali ke kediaman keluarga Wira." Jawabnya membuatku merasa bersalah karena memintanya menemaniku jalan-jalan di mall hari ini.


"Ba–baiklah, sampai bertemu lagi ...." Tuturku.


"Ya, sampai bertemu lagi dikediaman nyonya Karina." Balasnya sebelum meninggalkanku di depan rumah.


***


Malam ini Dea kembali di sibukan dengan rutinitas belajarnya. Megan juga sudah mengawasinya dengan serius.


"Silahkan ...." Ucap Dea sambil mengasongkan buku catatannya kepada Megan setelah berhasil mengisi semua soal yang diberikan oleh pria itu padanya.


Dengan cepat Megan memeriksanya, sedangkan Dea sudah kelelahan membaringkan tubuhnya dilantai. Menunggu bukunya selesai di periksa.


"Hem... sejauh ini loe masih kesulitan menjawab soal–" Tutur Megan terhenti saat melihat Dea sudah terlelap dalam tidurnya.


"Bangun oii! Jangan tidur dilantai, nanti masuk angin." Teriak Megan berhasil membuat Dea terbangun.


"Berisik loe, baru juga mau mimpi ...." Gumam Dea sambil menutup mulutnya saat dia merasa akan menguap.


"Udah hari ini belajarnya sampe sini aja. Besok kita lanjut lagi, pelajari soal-soal yang masih sulitnya. Gue udah jelasin berulang kali, harusnya loe udah paham." Oceh Megan sambil merapikan semua buku Dea.


"Gue bilang jangan tidur dilantai!" Bentak Megan saat melihat Dea kembali membaringkan tubuhnya dilantai.


"Iya iya bawel ...." Ucap Dea segera bangkit dari posisi terbaringnya dan mulai berjalan kearah tempat tidurnya.


"Gue balik!" Ucap pria itu sambil menutup pintu kamar Dea, dan bergegas pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, dia langsung mengunci pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya. Meraih heandphonenya yang tersungkur di dekat bantalnya.


"Orang itu gak ada chat lagi ya?" Gumamnya sambil memeriksa pesan masuk di heandphonenya, memperhatikan nama "Secret Admirer" yang dibuat olehnya.


Setelah mendapatkan banyak surat, Megan juga mendapatkan nomor si pengirim surat itu. Tapi dia hanya berani bertukar pesan dengannya belum sampai menelponnya.


Disisi lain Akira sedang sibuk membersihkan folder rahasia di komputernya sambil menikmati kopi buatannya.


Selang beberapa detik kemudian heandphonenya bergetar, dengan cepat dia mengangkat telpon yang diterimanya.


"Hallo..."


***


Waktu sudah menunjukan pukul 05:30 Am, Kinan tampak sibuk berlarian ke sana kemari menyiapkan sarapan pagi untuk adiknya, lalu berlari menuju kamar adiknya sambil melepaskan celemek yang dikenakannya.


"Ya!" Jawab Dea sambil memutar knop pintunya setelah membuka kunci pintunya.


"Sarapannya sudah siap, aku pergi ke toko kue tante Karina dulu ya." Jelasnya terburu-buru sambil memberikan celemek ditangannya ke tangan Dea.


"He?" Gumam Dea sambil memperhatikan celemek ditangannya lalu beralir pada sosok Kinan yang menuruni tangga dengan terburu-buru.


"Pagi-pagi gini?" Lanjutnya bertanya sambil memperhatikan perawakan kakaknya yang mengenakan celana jeans panjang berwarna putih, kaos hitam polos tertutupi sweater coklat yang mana lengan bajunya ditarik hingga ke siku memperlihatkan jam tangan hitam yang dikenakannya.


"Ya, jangan lupa kunci pintunya. Mungkin aku akan pulang larut." Jawab Kinan sambil mengikatkan tali sepatunya dan segera meraih tas kecil disampingnya.


"Hati-hati di jalannya!" Teriak Dea bersamaan dengan kepergian kakaknya sambil menuruni anak tangga dan memasukan celemek di tangannya kedalam mesin cuci yang tersimpan dibawah tangga.


Kemudian gadis itu mulai berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke sekolah.


Disisi lain, Akira juga sudah bersiap dengan setelan dan jas abu-abu yang dikenakannya.


"Sudah lama aku tidak sarapan bersama kakak beradik itu," gumam Akira mengingat wajah Kinan dan Dea.


"Gan." Lanjutnya memanggil adiknya yang masih bermimpi indah dalam tidurnya.


"Gan bangun!" Teriaknya lagi sambil mengetuk kamar adiknya.


"Iya lima menit lagi!" Balas Megan sambil berteriak.


"Bangun sekarang!" Teriak Akira membuat pria itu geram dan segera berjalan kearah pintu kamarnya, memutar kunci pintunya dan menarik paksa knop pintunya.


"Iya, udah bangun nih." Ucapnya sambil menguap di depan pintu.


"Mandi sana, kita sarapan pagi di rumah Kinan." Ucapnya sambil berjalan kearah sofa.


"Sepertinya hari ini pekerjaanmu tak terlalu sibuk ya ...." Gumam Megan sambil berjalan kearah kamar mandi.


15 menit kemudian, mereka pun langsung pergi ke rumah Kinan dengan disambut oleh Dea.


"Ko sepi ya?" Tanya Megan memecah keheningan saat sedang berjalan menuju dapur, mengekori gadis berambut hitam di depannya.


"Oh kakak sudah pergi pagi-pagi buta, jadi wajar kalau pagi ini lebih sepi dari biasanya." Jelas Dea membuat Akira sedikit kecewa karena tidak datang lebih awal.


"Pergi kemana?" Tanya Akira saat memasuki dapur.


"Kakak bilang mau pergi ke toko kue tante Karina." Jawab Dea sambil menarik kursi di dekat meja makan dan mendudukinya.


"Toko kue ibu? mau apa kak Kinan pergi kesana?" Gumam Megan yang sudah menyantap sarapan paginya.


"Emh..." Guman Dea terlihat berpikir keras mengingat pembicaraannya dengan Kinan kemarin sore.


"Dia bilang sih mau buat kue, selain itu kakak kan sudah diberikan tanggung jawab untuk mengurusi toko kue tante Karina." Lanjutnya menjelaskan sebelum menyantap sarapan paginya.


"He, sudah diputuskan ya?" Gumam Megan dengan mulutnya yang terisi penuh oleh makanan, membuat Dea meringis jijik melihat kelakuan pria yang satu itu.


"Habiskan dulu makanan di dalam mulutmu itu! baru ngomong." Tegas Dea menatap Megan dengan tatapan sinisnya.


'Kalau begitu aku bisa menemuinya disana kan?' Batin Akira masih anteng menikmati sarapan paginya, memperhatikan perdebatan Megan dan Dea yang sering terjadi setiap pagi.


"Balikin tahu gue woii! itu jatah gue ...." Teriak Megan merasa kesal saat makanannya diambil oleh Dea.


"Jadi sarapan pagi tanpa Kinan tuh seperti ini ya?" Gumam Akira memperhatikan pertengkaran Dea dan Megan yang mulai tak terkendali, saling berebut makanan dan meledek satu sama lain.


'Tak ada yang bisa mendisiplinkan mereka ....' Lanjutnya dalam hati sambil mengusaikan sarapan paginya.


xxx