
Pagi ini Akira pergi ke perusahaan game miliknya di kota X setelah mendapatkan pesan dari Fino mengenai Kinan yang bekerja disana.
Dengan cepat pria itu mengemudikan mobilnya, berharap bisa bertemu dengan wanita yang di rindukannya. Tapi sepertinya dia lupa akan halangan besar yang sudah dia kirim ke kantornya kemarin siang. Siapa lagi kalau bukan Delia?
Disisi lain Kinan baru selesai mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian kantornya. Rambut panjangnya sengaja di ikat satu agar tak mengganggu pekerjaannya.
Setelah siap, wanita itu pun segera turun untuk sarapan pagi.
"Fino dimana bi?" Tanya Kinan sambil mencari sosok pria berambut ikal itu ketika sampai di ruang makan. Tangannya langsung menarik kursi yang berada dihadapannya dan mendudukinya.
"Dia sedang membersihkan mobil di luar non." Jawab bi Inah sambil menyajikan nasi untuk Kinan.
"Bibi sama Fino udah makan?" Tanyanya lagi sebelum mengambil lauk di hadapannya.
"Setelah non selesai sarapan, nanti bibi sarapan pagi." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita sarapan bersama saja bi, sekalian panggilkan Fino juga." Tutur Kinan sambil menyimpan sendok dan garpu diatas piringnya.
"Tapi non–" Ucap bi Inah terhenti.
"Aku tak terbiasa makan sendiri bi, apalagi diliatin bibi. Jadi bibi dan Fino temenin aku makan, makan bareng ya ...." Jelasnya sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu, ini perintah untuk bibi dariku. Bibi dan Fino tak akan menolak perintah kan?" Lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya membuat bi Inah terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu biar bibi panggilkan den Fino dulu ya." Tutur bi Inah membuat Kinan tersenyum lebar dengan mata berbinarnya.
Tak lama kemudian bi Inah pun kembali ke ruang makan bersama dengan Fino yang mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat hingga ke bagian siku.
"Nona memanggil saya?" Tanya pria itu berdiri di hadapan Kinan.
"Duduklah, bi Inah juga duduk." Jawab Kinan membuat Fino melirik kearah bi Inah, meminta penjelasan kepada wanita paruh baya iu.
"Nona Kinan ingin sarapan bersama bibi dan den Fino." Jawab bi Inah.
"Ayo cepat duduk, kita tak ada waktu lagi kan?" Pinta Kinan membuat Fino dan bi Inah bergegas setelah melihat jam dinding yang terpampang di belakang Kinan.
***
"Haaah..." Ucap Kiara menghela napas bosan sambil bermalas-malasan di atas tempat duduknya.
"Berhenti menghela napas dihadapanku!" Umpat Bayu tampak kesal dengan kelakuan sepupunya itu.
"Kapan kita bisa menangkap basah si Delia?" Tanya Kiara masih dalam posisi bersender pada sandaran kursi dengan tatapan lurus memperhatikan langit-langit ruangan.
"Kau sendiri yang bilang akan membongkar semua kejahatannya malam ini kan?" Jawab Bayu balik bertanya sambil menutup berkas yang sempat dibacanya, lalu berjalan kearah Kiara dan duduk dihadapan wanita itu sambil menatap malas kearahnya.
"Iya kalau rencananya berjalan lancar, kalau ada gangguan?" Jelasnya kembali menghela napas lelahnya.
"Tinggal buat rencana cadangan kan?" Ucap Bayu kembali mendapatkan helaan napas Kiara yang membuatnya semakin terganggu.
"Berhenti menghela napas ku bilang!" Tegas pria itu tak di dengarkan.
"Dengar, bagaimana dengan bukti yang kau dapatkan dari pelayan yang mencampur teh Kinan dengan obat diacara malam itu?" Tanya Kiara mengalihkan pembicaraan.
"Semuanya sudah ku dapatkan, jangan khawatir." Jawabnya sambil tersenyum angkuh.
"Seperti yang diharapkan ya ...." Gumam Kiara mengejek kinerja sepupunya itu.
"Lalu bagaimana dengan anak buahmu si Dafa itu?" Tanya Bayu sambil meraih cangkir teh yang tersimpan diatas meja.
"Bagus." Jawabnya singkat.
"Terus bagaimana dengan kondisi ibunya?" Tanya pria itu lagi.
"Kau pikir dia pelayan pribadimu apa?!" Ucap Bayu menahan rasa kesalnya terhadap Kiara yang masih anteng bermalas-malasan di tempat duduknya tanpa melakukan apapun.
"Dan lagi, mau sampai kapan kau bermalas-malasan di ruanganku? Pergi sana! Kerjakan pekerjaanmu, bukannya kau bilang hari ini ada pemotretan ?" Lanjutnya sambil menyimpan cangkir tehnya keatas meja.
"Satu jam lagi, biarkan aku disini sampai asistenku menelponku." Jelasnya tak ingin berpisah dengan sofa lembut yang di dudukinya.
"Kau ini, berhenti merepotkan asistenmu! Kerja yang bener sana!" Bentak Bayu membuat wanita itu terkejut.
"Iya deh iya, aku pergi sekarang." Ucap Kiara sambil mengerucutkan bibirnya dan segera pergi dari ruang kerja sepupunya itu.
"Dasar Kiara!" Umpat pria itu sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah meja kerjanya.
***
"Hem ... Fino bilang Kinan bekerja di perusahaan Akira di kota X kan? Apa aku harus menemuinya disana ya? Hanya untuk berjaga-jaga jika dia bertemu dengan Akira. Jadi ku pikir akan baik jika menjelaskannya sebelum terjadi kesalahpahaman," gumamnya sambil berjalan kearah parkiran mobilnya.
"Tapi jaraknya cukup jauh, menghabiskan waktu dua sampai tiga jam perjalanan. Kalau harus mengemudi sendiri rasanya ... malas ...." Lanjutnya sambil menghela napas lelahnya.
Saat sampai di depan mobilnya, wanita itu pun segera pergi kesisi lainnya dan membuka pintu mobilnya. Lalu masuk kedalam mobil, memasang sabuk pengaman dan memasukan kunci mobilnya pada lubang kunci.
"Baiklah, sudah ku putuskan! Aku akan pergi ke kota X untuk meminta makan pada Kinan," ucapnya begitu bersemangat, "maksudku untuk menjelaskan semuanya pada Kinan." Lanjutnya membenarkan ucapannya.
Dengan cepat dia memutar kunci mobilnya dan segera tancap gas dari parkiran itu.
'Sekali-kali bolos kerja gak papa kan ya.' Batinnya sambil tersenyum lebar dan mulai bersiul menikmati perjalanannya.
Disisi lain, Kinan sedang sibuk menggambar di meja kerjanya. Wanita itu terlihat begitu serius sampai tak menyadari waktu istirahat sudah berlangsung. Dia bahkan tak memperdulikan beberapa keributan karyawan yang mulai meninggalkan meja kerjanya.
Terlihat seorang wanita berkacamata yang bertemu dengan Kinan di dalam lift kemarin siang, wanita itu berjalan mendekati meja kerja Kinan dan berniat mengajaknya pergi keluar untuk makan siang bersama.
Namun aksinya dihentikan oleh beberapa karyawan lain yang tak menyukai Kinan, mau tak mau wanita itu mengurungkan niatnya karena tak ingin berurusan dengan teman satu kantornya.
"Serius sekali?" Ucap Delia mengejutkan Kinan akan kehadirannya yang tanpa permisi itu.
"Gak makan siang?" Lanjutnya bertanya.
"Aku tidak salah dengar kan?" Tanya Kinan membuat wanita berambut pirang itu mengernyitkan keningnya.
"Sepupuku mengkhawatirkanku? Rasanya sudah lama sekali ya, terakhir kali kau mengkhawatirkanku itu saat–" Lanjutnya menjelaskan namun segera dihentikan oleh Delia.
"Aku tidak bermaksud untuk mengkhawatirkanmu." Ucapnya membuat Kinan tersenyum hambar dengan tatapan datarnya.
"Langsung saja, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Lanjutnya bertanya membuat Delia menghela napasnya sebelum mulai berbicara serius.
"Soal keinginan ayahku, kau juga tau maksudku ...." Jawabnya sambil melirik kearah Kinan yang memperhatikan Delia dengan tatapan seriusnya.
"Soal lahan pertanian kan?" Jawab Kinan balik bertanya sambil memutar kursi kerjanya menghadap kearah Delia berdiri disampingnya.
"Aku akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, termasuk merebut Akira darimu." Jelas wanita berambut pirang itu membuat Kinan tersentak.
"Jika paman sangat menginginkan lahan itu, aku akan memberikannya setelah menikah dengan Akira–" Tutur Kinan segera dihentikan oleh tatapan tajam Delia.
"Jadi kau lebih memilih cintamu daripada masa depan keluargamu ya? yah lagipula kau tidak akan rugi jika menikah dengan Akira kan? kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau dengan mudah." Jelas Delia menguji kesabaran sepupunya itu.
'Yah sejujurnya aku ragu jika harus memilih salah satunya, jika kau bisa mencintai Akira melebihi perasaanku padanya. Apa salahnya jika aku memilih lahan itu untuk masa depan keluargaku, tapi jika kau berniat untuk mempermainkan perasaannya, tak ada pilihan lain selain menyerahkan lahan itu pada paman kan?' Batin Kinan memikirkan hal terbaik apa yang bisa dia lakukan untuk orang-orang disekitarnya.
'Lagipula aku tak bisa memberikan pria bodoh itu padamu begitu saja, setelah bertindak seenaknya. Membuatku jatuh cinta padanya, mana mungkin aku melepaskannya begitu saja. Lagipula dia sangat mencintaiku, dan aku bisa melihat dari tatapannya dengan jelas.' Lanjutnya dalam hati sambil menghela napas lelah, mencoba untuk meredakan emosinya yang hampir meledak.
xxx