Dea & Kinan

Dea & Kinan
62. Terbongkar



"Hoamz..." Ucap Dea sambil menguap dan menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.


"Masih pagi udah ngantuk lagi" Tutur Kinan menyambut kedatangan Dea di dapur.


"Aku belajar semalaman" Jelas Dea sambil duduk dikursi dan meraih teko beserta sebuah gelas yang tersimpan ditengah meja makan dihadapannya.


"Padahal ujian nasionalnya masih dua bulan lagi..." Gumam Kinan sambil menghidangkan nasi goreng kepada Dea.


"Menu hari ini nasi goreng lagi ?" Tanyanya sedikit kecewa.


"Aku sedang malas masak banyak makanan. Jadi jangan protes ! Makan saja" Jelas Kinan sambil menghela nafas lelah.


"Ngomong-ngomong..." Ucap Dea menarik perhatian kakaknya yang sempat melempar pandangan kesembarang arah.


"Soal klarifikasi itu, apa kakak benar-benar akan bertunangan dengan kak.Akira ?" Lanjutnya bertanya membuat wanita itu terperajat saat mendengar pertanyaan darinya.


"Apa kakak mencintainya ? Aku sih tak masalah kakak mau bertunangan dengan siapapun. Tapi... aku tidak pernah melihat kakak serius soal mencari pasangan, jadi aku pikir-" Tanyanya lagi segera terhenti saat melihat Kinan tersenyum kearahnya.


"Tenang saja, aku sudah memikirkan rencana untuk membatalkan perjodohan dengan pria bodoh itu. Dea fokus saja sekolahnya" Jawab Kinan membuat mata Dea membulat, Kinan yang merasa salah bicarapun mulai berkeringat dingin.


'Sial aku keceplosan !' Batinnya mulai was-was.


"Perjodohan ?" Tanya Dea dengan tatapan seriusnya.


Beruntunglah saat itu Akira dan Megan belum datang. Jadi mereka tidak mendengar ucapan Kinan yang berbicara soal rencana pembatalan perjodohan dengan Akira.


"I-itu..." Ucap Kinan merasa ragu.


"Jelaskan padaku !" Tegas Dea membuat Kinan terpaksa menceritakan semuanya, semua masalah keluarganya yang selama ini dia rahasiakan dari adiknya itu.


"Kenapa tidak pernah menceritakannya padaku ? Aku juga putri ibu, kenapa kau harus menanggung semuanya sendirian ? Dasar bodoh !" Tutur Dea dengan nada kesalnya, tapi wajahnya terlihat lelah.


"Aku hanya ingin kau fokus pada sekolahmu. Aku tidak mau membuatmu kepikiran, dan lagi semua ini tidak ada hubungannya denganmu" Tutur Kinan merasa bersalah.


"Tidak ada hubungannya denganku ? Aku juga keluargamu, putri dari pak.Arya. tentu saja ada hubungannya !" Ucapnya menaikan nada bicaranya sambil menggebrak meja makannya membuat Kinan tersentak.


Dengan cepat Dea pergi dari dapur sambil membawa tas sekolahnya, meninggalkan Kinan yang terduduk lemas dimeja makannya merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Dea.


'Bodoh !' Umpatnya dalam hati sambil meremas ujung pakaiannya.


Disisi lain...


"Dasar bodoh !" Umpat Dea sambil membuka pintu rumahnya dan menutupnya dengan kesal.


Megan dan Akira yang baru keluar dari rumahnya pun tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Dea yang berjalan menjauhi rumahnya dengan terburu-buru sambil memasang wajah kesalnya.


"Ada apa dengannya ?" Tanya Megan merasa heran dengan ekspresi yang ditunjukan gadis itu pagi ini.


***


Aku benar-benar tak habis pikir, kenapa dia bisa menyembunyikan semuanya dariku ? Dia pikir hanya dia putrinya pak.Arya ? Aku juga putrinya, keluarganya. Seharusnya dia memberitauku.


Aku juga tau kalau aku tidak akan bisa banyak membantu, tapi setidaknya dia bisa menceritakan semuanya padaku.


Dari semua yang ku dengar sudah jelas kalau klarifikasi, perjodohan dan pertunangan yang diinginkan si Akira itu. Semuanya hanya untuk melindungi reputasi keluarganya. Dia tidak benar-benar mencintai kakak, tapi kenapa ?


"Aarrgh... seandainya aku mengetahui semua ini lebih awal"


"Woii !!" Suara Fani mengejutkanku, kini gadis itu sudah duduk dihadapanku.


"Masih pagi udah gila aja loe, kenapa sih ?" Lanjutnya bertanya membuatku mendengus sebal, mana bisa aku menceritakan masalah keluargaku padanya.


Lagipula kalau disimpulkan lagi, semua masalah keluargaku sudah selesai. Ya semua itu berkat kebodohan kakak ku, dia mau mau saja dijodohkan dengan si Akira.


'Mungkin karena keluarganya sudah banyak membantu keluargaku, tapi... tetap saja aku masih tidak bisa terima. Bagaimana dengan nasib kakak ku nantinya ? Wanita itu ? Siapa namanya ? Ki-kiara. Yah si Kiara, dia masih memiliki hubungan dengan si Akira kan ?' Batinku kembali menggerutu.


"Woii !!" Ucap Fani sambil menggebrak meja dihadapanku, membuatku kembali tersadar dari lamunanku.


"Kenapa sih ?" Tanyanya memasang ekspresi seriusnya.


"Gak, gue lagi kesel aja..." Jawabku sambil memajukan bibirku.


"Tau akh, anter gue ke kantin yuk. Gue laper..." Tuturku sambil bangkit dari tempat duduk ku dan segera menggeret tangan Fani.


"Tu-tunggu dulu, oii tangan gue ? Gak usah digeret juga kali" Protesnya tak ku dengarkan.


"Lagian loe gak sarapan dulu gitu ?" Lanjutnya bertanya.


"Gue buru-buru, jadi gak sempet sarapan" Jawabku masih menggeret tangan Fani.


Sesampainya di kantin, aku langsung memesan nasi goreng dan es teh. Kemudian melahapnya dengan perasaanku yang campur aduk, aku bahkan tak ingat kalau rasa nasi goreng di kantin sekolah ini adalah yang paling enak dan paling aku sukai.


Rasanya indra pengecapku medadak jadi tumpul, dan pikiranku malah melayang gak karuan. Semua hal yang ku terima pagi ini terlalu mengejutkan sampai aku tak sadar dengan lingkungan sekitarku.


Sejak tadi Fani sudah memperhatikanku dengan tatapan khawatirnya dan sosok Rafa juga sudah duduk disamping gadis itu. Mereka berdua benar-benar memperhatikanku sekarang, membuatku merasa risih sendiri.


"Tumben loe diem ? biasanya kalau makan nasi goreng disini suka ribut gak jelas" Tutur Rafa membuatku mendelik kearahnya, aku tau dia berusaha untuk mencairkan suasana berat yang sudah ku ciptakan. Tapi saat ini aku benar-benar tak ingin banyak bicara atau kepalaku bisa pecah nantinya.


"Ayolah jangan menggodanya terus. bukannya baik kalau dia jadi pendiem selama satu hari ?" Jelas Fani membuatku melirik kearahnya sambil mengunyah makanan didalam mulutku.


"He ? bukannya itu malah gak baik buat dia ?" Tanya Rafa segera mendapat sikutan maut dari Fani, dan pria itupun mendadak bungkam menahan rasa sakit dibagian perut yang terkena sikutan dari kekasihnya itu.


"Kalian kalau mau pacaran mending cari tempat lain aja deh, gue mau makan dengan tenang" Tuturku membuat mereka saling melempar pandangan.


"Gue kira loe sariawan, Kenapa sih ? gak biasanya loe diem kaya gini, kalau ada masalah mending bagi-bagi. Siapa tau kita bisa bantu, ya meski gak banyak..." Tutur Rafa membuatku kembali mengingat wajah kakak ku pagi tadi.


Seharusnya dia juga menceritakan semuanya padaku sejak awal, lalu kita bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama. Tapi dia malah menyembunyikannya, bersikap sok perduli dengan masa depanku. Memperlalukanku seperti anak kecil, padahal sendirinya selalu bersikap seperti anak kecil.


'Seperti anak kecil ? jangan-jangan kakak... Seharusnya aku bisa menyadarinya. Tapi aku malah menunggunya untuk memberitauku sendiri...' Batinku merasa sakit.


Aku melupakan sifat kakak ku yang satu itu. Dia memang sering membuatku kesal dengan sikap kekakak kanakannya, tapi dibalik sifat dan sikapnya yang seperti itu, dia berusaha untuk membuatku tak mengkhawatirkannya.


Seandainya sifatnya berubah menjadi seperti dulu. Aku juga pasti akan merasa terganggu dan mencemaskannya, tapi kakak ? dia berusaha melindungi perasaanku.


'Bodoh ! kenapa aku tidak bisa menyadarinya ?' Batinku merasa kesal dengan kebodohanku sendiri.


"Udah deh, kalau dia mau cerita nanti juga bakal cerita. Gak usah mendesaknya terus" Bisik Fani dengan gemasnya membuatku tersadar dari lamunanku.


"Tapi..." Ucap Rafa segera dihentikan oleh tatapan tajam Fani.


"Gue gak apa-apa..." Ucapku berusaha memberikan senyuman terbaik ku supaya mereka berhenti mencemaskanku.


Ya, mereka adalah sahabat baik ku. Sudah pasti mereka mencemaskan perubahan sifatku ini. Dan sebagai sahabat yang baik, aku harus bisa meyakinkan mereka kalau aku baik-baik saja. Aku harus bisa bersikap seperti biasanya meski keadaanku sedang tidak baik-baik saja kan ?


"Loe yakin ?" Tanya Fani masih menatapku dengan tatapan khawatirnya.


"Ya, sekarang udah lebih baik... perut gue juga udah kenyang" Jawabku sambil tersenyum lebar padanya.


"Loe kalau lagi laper emang bisa bikin salah paham ya" Tutur Rafa sambil memberikan senyuman menyebalkannya, senyuman mengejek yang selalu diberikan padaku dan Fani.


Tak lama kemudian mereka malah mentertawakanku, dan membuatku ikut tertawa dengan mereka. Meski aku tidak tau apa yang mereka tertawakan, tapi tawa mereka malah mengundangku untuk ikut tertawa bersama mereka.


"Padahal pas gue datang ke kelas tadi, mukanya udah kusut, seandainya loe juga liat kelakuannya dikelas tadi..." Tutur Fani disela-sela tertawanya.


"Lain kali videoin buat gue ya, biar gue bisa liat juga" Lanjut Rafa menanggapi ucapan Fani setelah puas tertawa.


"Gue ada fotonya nih, mau liat gak ?" Tanya Fani membuatku terkejut setengah mati.


"Mana-mana sini gue mau liat..." Jawab Rafa tampak antusias.


"Foto apaan ? sejak kapan loe-" Tanyaku terhenti saat Rafa dan Fani kembali tertawa dengan lepas, dengan cepat ku raih heandphone Fani yang dipegang oleh Rafa.


"I-ini ? kapan loe foto gue ?" Tanyaku merasa tak percaya dengan foto yang diambil oleh Fani. Foto saat aku mengacak-ngacak rambutku dengan kesal dengan wajah yang tak terkondisikan, dan Foto saat aku menundukan kepalaku diatas meja. Dan parahnya masih banyak fotoku yang diambil oleh Fani secara diam-diam, dan kini aku mengetahui kelakuannya.


Tapi tak ada jawaban dari Fani, mereka masih tertawa terbahak-bahak membuatku merasa kesal dan refleks menggebrak meja dihadapanku membuat mereka menghentikan tawanya meski terlihat belum puas.


"Ma-maaf !" Ucap mereka bersamaan berusaha menahan tawanya, tapi kembali pecah satu detik kemudian.


xxx