
"Lama tidak berjumpa Kinan," sapanya sambil tersenyum membuat tubuhku merinding setengah mati.
Dengan cepat aku mengambil langkah mundur, mengambil jarak aman dari sosok pria yang sudah berdiri tegap dihadapanku.
"Ke-kenapa kau ada disini?" Tanyaku tergugup berusaha menyembunyikan rasa takutku. Mengingat dialah pria yang sudah menghancurkan persahabatanku dengan Manda.
"Aku?" Tanyanya.
"Kalian sudah bertemu," tutur seseorang mengejutkanku, refleks membuatku melirik kearah kedatangannya.
"Delia?" Gumamku saat melihatnya berjalan mendekatiku dengan memasang senyuman manisnya. Senyuman yang tak ku sukai darinya.
"Selamat malam nona." Sapa Dafa sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberikan penghormatan padanya.
"He?" Tanyaku semakin kebingungan. Aku tau jika Dafa sudah berteman dengan Delia sejak di SMP. Tapi aku tidak pernah tau jika hubungan mereka sedekat ini.
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Dafa adalah asisten pribadiku." Tuturnya kembali memasang senyumannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Manda? Apa kalian sudah baikan sekarang?" Tanya Dafa membuatku tersentak saat melihat senyumannya.
"Jangan bercanda, bagaimana bisa mereka baikan? Secara kau sudah membuatnya menjadi seorang penjahat dimata wanita itu. Dan lagi dia masih mengharapkanmu." Jawab Delia menahan tawanya.
'Apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka mengungkit masa lalu lagi?' Batinku bertanya-tanya.
"Dengar!" Lanjut Delia menatapku dengan tatapan tajamnya, "aku tidak tau pertunanganmu dengan pak Akira itu asli atau bohongan. Yang pasti aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersamanya," lanjutnya sambil tersenyum sarkas.
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
***
"Kakak tidak ada ditoilet, kemana dia?" Gumam Dea sambil berjalan menyusuri koridor rumah tuan Wira.
"Dan lagi, sekarang aku ada dimana? Apa aku nyasar? Si tiang listrik bilang para pelayan berkeliaran diluar. Tapi tak ada satupun pelayan disini." Lanjutnya menggerutu kesal sambil melirik kesekelilingnya, berharap menemukan seseorang yang bisa membawanya kembali keruang tamu tempat penyelenggaraan acara makan malam itu.
Kemudian matanya menangkap pemandangan tak mengenakan di kebun bunga mawar tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Uwah ada orang pacaran disini," gumamnya merasa malu melihat pemandangan romantis dihadapannya.
Saat gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana, tiba-tiba saja angin malam kembali berhembus menerpa rambut hitamnya dan matanya melihat sosok Megan yang sedang menggoda seorang perempuan cantik dengan gaun merah muda dan riasan wajah yang cukup tebal.
'Jadi itu Megan?! Dia menghilang dan pergi kesini untuk berduaan dengan wanita genit itu?' Batinnya kembali memperhatikan pasangan didekat kebun bunga mawar itu.
"Dasar hidung belang!" Umpat Dea merasa kesal, dengan cepat dia tersenyum jahil ketika mendapatkan sebuah ide jahil yang melintas dikepalanya begitu saja.
Belum ada tiga langkah dia berjalan, tiba-tiba saja seorang pria berjas coklat berjalan cepat melewatinya. Lalu segera memberikan pukulan kewajah Megan dengan raut wajah kesalnya.
"Beraninya kau menggoda pacarku!" Teriak pria itu membuat Dea terkejut.
"Dasar kurang ajar! Beraninya kau memukul wajahku." Umpat Megan menatap tajam mata pria dihadapannya.
"Su-sudah jangan berkelahi ya. Tadi itu–" Jelas perempuan yang berdiri diantara mereka berusaha melerai perkelahian kedua pria itu. Tapi tak ada yang mau mendengarkan ucapannya.
"Ba-bagaimana ini?" Lanjutnya bergumam merasa khawatir dengan keadaan kedua pria itu.
"Ada apa ini?" Tanya Dea yang tak bisa berdiam diri saja menyaksikan kebodohan Megan.
"Siapa kau? Aku tak ada urusan denganmu, menyingkirlah!" Tutur pria asing itu penuh penekanan mencoba mendorong tubuh Dea yang sudah berdiri dihadapannya, menghalangi Megan yang berdiri dibelakang gadis itu.
"Ha?" Tanya Dea menatap pria itu dengan tatapan mengancamnya.
"A-ayo pergi sayang." Ajak perempuan itu segera pergi dari hadapan Megan dan Dea, mau tak mau pria itupun mengikuti ajakannya.
"Loe gak apa-apa?" Tanya Dea begitu mengkhawatirkan Megan, pria itu hanya bisa menundukan kepalanya dan segera melangkah pergi meninggalkan Dea ditempatnya.
"Woii!" Teriak Dea tak didengarkan.
'Dasar bocah!' Lanjutnya dalam hati sambil mengikuti langkah Megan dengan perasaan jengkelnya.
"Setidaknya ucapkan terima kasih ke!" Lanjutnya berguman kesal.
Disisi lain...
"Tuan?" Gumam Fino ketika melihat pria itu sedang berbincang dengan rekan-rekan kerjanya dimeja makannya.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanya Akira mengejutkan Fino yang sempat melamun.
"I-itu, saya hanya merasa heran saja. Bukankah tadi tuan menyuruh seseorang untuk memintaku menemui nona Kinan? Dan meminta nona untuk menemui tuan diluar? Tapi kenapa tuan sudah kembali? Dimana nona?" Jelasnya berkeringat dingin membuat Akira tersentak.
"Aku tidak pernah mengatakan ingin menemui wanita itu pada siapapun. Siapa yang menyuruhmu meminta Kinan untuk menemuiku diluar?" Tanya Akira.
"I-itu, dia seorang pria bertubuh tinggi–" Tutur Fino berusaha menjelaskan sosok pria yang ditemuinya, namun sebelum dia selesai memberikan penjelasan Akira sudah pergi meninggalkan Fino.
Tatapan matanya terlihat lebih menakutkan dari biasanya, aura mengerikanpun mulai keluar dari tubuhnya. Mengingat penjelasan Fino yang membuatnya kesal karena namanya dijadikan alasan untuk menemui Kinan oleh pria asing yang mencari gara-gara dengannya.
***
"Bagaimana rasanya dibenci oleh orang terdekatmu?" Tanya Delia masih mempertahankan senyuman sarkasnya.
"Jika kau mau aku bisa membantumu memperbaiki hubunganmu dengan Manda," tutur Dafa sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.
"Tapi tidak gratis." Lanjut Delia membuat Kinan menghela nafas lelah, mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Sebenarnya aku tidak perduli dengan masa laluku, hubungan yang sudah rusak memang bisa diperbaiki ... Tapi aku tidak menginginkannya," tutur Kinan menatap Dafa dan Delia dengan tatapan seriusnya.
"Tentu saja, lagipula karena pertengkaran itu kau mengalami banyak hal dan impian terbesarmu untuk menjadi seorang pelari pun sudah direnggut oleh takdir. Mana bisa diperbaiki kan?" Tutur Delia membuat Kinan merasa kesal karena masa lalunya kembali diusik, dan kehadiran Dafa pun sudah membuatnya begitu terguncang.
"Jika semuanya bisa diperbaiki mungkin cederamu juga bisa pulih kan?" Lanjut Dafa membuat Kinan semakin kesal.
Kedua tangannya sudah terkepal erat meremas pinggiran gaun cantik yang dikenakannya. kepalanya menunduk dalam memperhatikan kedua kakinya, menyembunyikan raut wajah menakutkan yang tak bisa ditunjukannya pada sosok Delia dan Dafa.
Angin kembali berhembus dengan kencang mempertebal suasana berat diantara mereka bertiga.
"Tapi semakin diperhatikan, penampilanmu masih sama seperti dulu. Wajahmu juga semakin menarik perhatianku," tutur Dafa sambil meraih wajah Kinan, membuat wanita itu menengadah memperhatikan sorot mata Dafa.
"Ada apa ini?" Suara Akira mengejutkan mereka bertiga.
"Ah itu–aku melihat Kinan sedang berduaan dengan pria itu. aku berusaha menyadarkan perbuatannya–" Jelas Delia terhenti saat melihat Akira menepis tangan Dafa dengan kasar. Meraih tubuh Kinan kedalam pelukannya, lalu menatap pria itu dengan tatapan bengisnya.
"Jangan berani menyentuh tunanganku!" Ucapnya penuh penekanan membuat Dafa dan Delia tersentak.
"A-akira–" Guman Kinan dengan suara lirihnya, tanpa sadar wanita itu sudah meremas jas yang dipakai oleh Akira.
"Kita kembali." Ajaknya sambil menggandeng tangan Kinan setelah melepaskan pelukannya.
"Pa-pak?" Ucap Delia menghentikan langkah kaki Akira.
"Ah ya aku sudah mendengar semuanya, tak ada yang perlu dijelaskan lagi." Tuturnya kembali melangkah pergi meninggalkan Delia dan Dafa yang tak bisa berkutik.
Akira yang melihat ekspresi sedih bercampur kesal diwajah Kinan pun tak bisa berkata apapun. Pria itu hanya bisa menggandeng tangan Kinan dengan erat, membawanya pergi ke halaman belakang rumahnya.
"Jangan ditahan, sudah tak ada siapapun lagi disini." tuturnya saat sampai di halaman belakang rumahnya, tangannya kembali meraih kepala Kinan dengan lembut. Lalu menariknya masuk kedalam pelukannya.
Kinan yang tak kuasa menahan air matanya pun mulai menangis dalam pelukan Akira. Membiarkan pria itu memeluk tubuhnya. Dan kembali meratapi nasib buruknya.
"Aku–" Ucapnya terhenti ketika Akira melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Kinan yang terus mengalir keluar membasahi wajahnya.
"Aku akan meminta Fino untuk menyelesaikan masalahmu dengan Manda, jadi jangan menangis lagi ...." Tuturnya dengan suara lembut membuat rona wajah Kinan memerah.
Tapi dengan cepat Kinan menggelengkan kepalanya, menolak bantuan yang diberikan oleh Akira.
"Aku tidak perduli lagi dengan masa laluku, semua yang sudah terjadi biarlah terjadi–" Jelasnya terheti saat akira meraih tangan kanannya.
'A–ada apa dengannya? ja–jantungku rasanya mau melompat keluar!' Batinnya saat melihat tatapan khawatir Akira.
"Aku baik-baik saja–hentikan wajah bodohmu itu!" Bentak Kinan sambil melepaskan tangan Akira dan segera berjalan melewatinya.
"Apa?!" Ucap Akira merasa terkejut dengan perubahan sikap Kinan, "Sudah kembali seperti semula?" Lanjutnya sambil mengikuti langkah Kinan.
"Berisik!" Bentak Kinan mempercepat langkahnya, menyembunyikan rona merah diwajahnya.
'Jantungku harus diselamatkan!' Batin Kinan sambil meremas pakaian dibagian dada sebelah kirinya dengan menggunakan tangan kanannya.
xxx