Dea & Kinan

Dea & Kinan
66. Ambruk



Hari ini aku sampai di rumah tepat pada pukul 07:00 Pm. Ku lihat kakak sudah ambruk diatas sofa ruang tengah, wajahnya tampak lelah dan perawakannya benar-benar menyedihkan.


Disisi lain aku juga melihat Megan dengan penampilan yang tak jauh berbeda dengan kakak. Wajahnya menggambarkan rasa lelah yang kental, bahkan tubuhnya pun sudah menyender lemas pada sandaran sofa yang didudukinya.


"Ada apa dengen mereka berdua ?" Gumamku benar-benar tak bisa menebak apa yang sudah mereka lakukan sampai kelelahan seperti itu.


Ruang tengah juga tampak berantakan dan mereka tak menyadari kepulanganku, jarang sekali mereka bisa sampai kelelahan seperti itu. Padahal biasanya mereka bisa tahan bermain game sampai larut malam, tapi ? Kenapa sekarang mereka bisa ambruk secepat ini.


Tanpa banyak berpikir aku langsung pergi ke kamarku untuk menyimpan tas sekolah dan bergegas mandi. Biar bagaimanapun aku juga merasa lelah seharian ini, apalagi saat menjalani belajar bareng bersama Fani dan Rafa. Mereka benar-benar ketat sampai aku tak bisa bermain-main meski hanya sebentar.


Setelah menyimpan tas sekolah dan membuka kaos kaki ku, tanganku langsung meraih handuk dan pakaian ganti. Lalu segera bergegas pergi ke kamar mandi.


"Haah..." Ucapku menghela nafas lelah sambil menutup pintu kamar mandi dari dalam.


'Sial, energiku sudah habis... ingin segera pergi tidur...' Lanjutku dalam hati sambil memutar kran shower dihadapanku.


Sekitar 20 menit aku mandi dan berendam di betap, akhirnya ku sudahi acara berendamnya dan segera memakai pakaianku. Ku kenakan kaos biru tua berlengan panjang dengan celana training pendek selutut.


Setelah selesai aku langsung melangkahkan kakiku keluar dari kamar mandi dengan malasnya, tanganku juga sibuk mengeringkan rambutku dengan handuk.


Jika saja aku tidak ingat sedang mandi, mungkin aku sudah tertidur di betap sampai pagi. Untung saja aku tidak benar-benar tertidur ditempat itu.


"Mereka masih disana ?" Gumamku melirik dua orang aneh yang masih melekat diatas sofa tanpa berkata apapun. Lalu ku langkahkan kakiku kearah kulkas untuk mengambil botol air mineral.


'Seperinya mereka benar-benar sudah tertidur...' Lanjutku saat memperhatikan mata mereka benar-benar sudah terpejam seutuhnya.


Setelah selesai minum aku langsung menyimpan kembali botol itu ke dalam kulkas dan berniat pergi kedapur saat perutku mengeluarkan suara yang mengerikan. Tapi sebelum itu, aku benar-benar merasa harus membereskan semua kekacauan diruang tengah ini. Aku benar-benar tak tahan melihat semua barang-barang yang berantakan dan tak tersimpan ditempatnya. Rasanya tanganku menjadi gatal, jadi meski tubuhku sudah mencapai batasnya, ku pikir aku masih bisa membereskan semuanya.


"Begini jauh lebih baik" Gumamku sambil memperhatikan ruang tengah yang sudah bersih dan kembali rapi seperti sebelumnya, "Saatnya pergi ma-" Lanjutku terhenti di ambang pintu dapur.


Mataku benar-benar melotot sekarang, mendadak rasa lelahku berganti menjadi kekesalan. Rasanya seluruh energiku yang hilang mendadak terisi kembali.


"Ba-bagaimana bisa kekacauan ini terjadi ?!" Teriak ku tak habis pikir saat melihat segunung cucian piring dan peralatan masak lainnya yang sudah memenuhi wastafel, lalu beberapa gelas mangkuk dan peralatan untuk membuat kue juga berceceran diatas meja makan. Bahkan ada beberapa tepung, coklat cair yang sudah mengering dan tumpahan misis seres yang sudah hinggap dilantai. Setumpuk sampah juga belum dibuang keluar dan kursi meja makan juga sudah terpencar kebeberapa sudut ruangan, memperparah suasana di dalam dapur.


"A-apa yang terjadi ? Kenapa bisa begini ? Apa yang mereka lakukan saat aku tidak ada ?" Gumamku berusaha menahan amarahku, tanpa pikir panjang aku langsung berjalan kembali keruang tengah. Melupakan rasa belas kasihanku pada kedua orang mengkhawatirkan yang sudah terlelap diatas sofa itu.


Ku tarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan cepat. Dan dalam hitungan detik, tanpa pikir panjang aku langsung berteriak membangunkan mereka. Tak perduli hari sudah malam dan bisa saja ada tetangga yang terganggu. Tapi aku benar-benar tak perduli, saat ini aku ingin meminta penjelasan dari mereka berdua.


Dengan cepat mereka membuka mata, kakak langsung mengambil sikap duduk sambil mengucek matanya sedangkan Megan, pria itu langsung berdiri tegap dengan mata yang menelusuri seluruh ruangan dan berheti saat bertemu pandang denganku.


"Ada apa ? Kenapa berteriak ?" Tanya kakak berusaha menahan kantuknya.


"Benar-benar hari yang berat" Gumam Megan membuatku bingung dan refleks mengerutkan keningku, membuat kedua alisku saling bertautan.


"Aku tidak mau tau, bereskan kekacauan di dapur !" Ucapku penuh penekanan.


"Besok ya, besok saja... aku benar-benar lelah sekarang" Tutur kakak ku sebelum kembali tertidur membuat perasaanku campur aduk.


Aku tidak begitu paham dengan situasi yang mereka alami, tapi semua kekacauan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tapi kenapa hari ini ? Arrgh... pokoknya aku tidak suka dengan kekacauan ini. Mereka harus bertanggung jawab, begitulah pikirku.


Namun sebelum sempat aku membangunkan kakak, Megan sudah memberi sinyal untuk tidak membangunkannya. Lalu dia mulai angkat bicara dan menjelaskan situasi yang mereka alami selama seharian ini.


"Ha ?" Ucapku begitu terkejut saat mendengar ceritanya.


"Yah begitulah kejadiannya, siapa sangka dia bisa direpotkan denga ketiga bocah itu" Jelasnya kembali menyenderkan tubuhnya.


"Saat aku baru pulang, aku sudah mendengar suara keributan di dalam rumahmu, dan saat aku memeriksanya..." Lanjutnya terhenti dan segera bangkit dari tempatnya.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang, tubuhku benar-benar minta dipulihkan sekarang..." Tuturnya lagi sebelum menguap, lalu melangkah pergi kearah pintu keluar sambil menutup mulutnya yang sudah menguap.


'Rasanya kejadian ini pernah terjadi dimasa lalu deh' Batinku berusaha mengingat kejadian yang sama.


Ah ya, benar. Saat itu juga sama, kakak direpotkan oleh ketiga bocah hiperaktif yang dititipkan padanya selama orang tua mereka sibuk bekerja.


"Sekarang masih januari ya ? Pantas saja..." Gumamku ketika menyadari sesuatu dan menatap wajah lelah kakak ku.


Padahal dia sudah disibukan dengan freelancenya, tapi masih sempat-sempatnya mengasuh anak orang lain. Dan lagi, entah perasaanku saja atau memang akhir-akhir ini kakak banyak berubah ya ?


Pertama, aku sudah jarang melihatnya bermalas-malasan dan merengek gak jelas lagi. Kedua, dia jadi begitu bekerja keras dalam setiap hal. Terlihat dewasa dalam situasi apapun, ya meskipun sifat menyebalkannya masih ada.


"Sepertinya karena tekanan mencari jodoh dari ibu, atau karena beban yang diberikan padanya. Soal lahan pertanian itu... sepertinya dari sana kakak mulai merubah kebiasaan buruknya" Gumamku sambil duduk disampingnya, masih memperhatikan sosok seorang wanita tangguh dihadapanku.


Biar bagaimanapun, dari dulu kakak memang selalu bisa diandalkan. Karismanya juga begitu besar, siapapun tak ada yang berani macam-macam padanya.


Entah kenapa aku jadi merindukan perdebatanku dengannya, keributan yang selalu dia lakukan dipagi hari, berbagai macam ekspresi rengekannya dan wajah menyebalkannya saat menggodaku. Aku merindukan semuanya.


'Meski aku sering memintanya untuk berhenti bersikap kekanak-kanakan, tapi saat dia benar-benar melakukannya... aku malah tidak bisa menerimanya' Batinku sambil menyenderkan tubuhku pada sandaran sofa, lalu menatap langit-langit ruang tengah dan tenggelam dalam lamunanku sendiri, memikirkan semua hal yang sudah ku lalui dengannya selama aku hidup. Mendadak mengenang masa lalu dan rasa laparku juga mendadak hilang, tergantikan dengan tetesan air mata yang membasahi pipiku.


"Lagi-lagi teringat dengan ekspresi kesalnya saat gagal meraih impiannya" Gumamku sambil melihat wajah kakak ku dan menghapus air mata yang sempat membasahi wajahku.


xxx