
Hari sudah larut, ibu juga sudah mengusir Akira dari rumah. Ku pikir ibu sudah lupa dengan statusku yang masih jadi anak pingitannya, ternyata dia tak melupakannya sedikitpun.
Bahkan aku sampai diceramahi selama berjam-jam karena terlibat dengan hal membahayakan dan mendapatkan luka di tangan kananku.
Aku tau jika salah sedikit saja, aku bisa mati di tempat dan meninggalkan Akira dalam kesedihan. Mengulang masa lalunya yang ditinggal pergi calon istrinya, meski dia masih hidup sekarang. Maafkan aku Kiara, aku tidak bermaksud mendo'akanmu yang tidak-tidak.
"Tutup jendelanya, dingin tau!" Suara Dea menyadarkanku dari lamunanku.
Ku lihat Delia sedang memandangi langit malam dijendela kamarku bersama dengan Dea yang baru saja berteriak padanya.
Jika dilihat dari sikap dan ekspresinya, sepertinya Dea belum sepenuhnya memaafkan Delia. Tapi setidaknya dia mencoba untuk mengakrabkan dirinya lagi dengannya dan melupakan soal masa lalu Delia yang bisa dibilang buruk.
"Aku masih mau melihat bintang." Tutur Delia membalas tatapan serius Dea.
'Mereka ini sedang apa sih?' Batinku bertanya-tanya.
"Lagipula kau sedang apa disini? Bukankah kamarmu ada dilantai atas?" Tanya Delia.
"Aku ... aku juga mau tidur disini." Jawab Dea membuatku terkejut.
"Bukankah kamarmu masih luas untuk kalian berdua? Kenapa kalian tidak tidur bersama saja disana, dan tinggalkan aku sendiri." Tuturku segera mendapat penolakan dari mereka berdua.
"Kau saja sana pergi." Ucap Delia sambil berjalan kearah tempat tidurku dan duduk disana.
"Tidak bisa, kau yang keluar!" Balas Dea sambil mendekati sepupunya dan menarik tangan wanita itu sekuat tenaga.
"Ha~ah... aku malas berdebat. Lebih baik kalian berdua keluar dari kamarku sekarang." Jelasku masih duduk didepan laptopku dan memperhatikan kedua wanita itu dari tempatku.
"Tidak bisa, ibumu memintaku tidur bersamamu." Tolak Delia segera berbaring diatas tempat tidurku dengan nyamannya.
"Kalau begitu kau saja yang keluar." Ucapku melihat kearah Dea yang masih berdiri disamping tempat tidurku, memperhatikan Delia yang berpura-pura tidur dihadapannya.
"Tidak bisa, aku tak akan membiarkanmu tidur berdua bersama dengan wanita ini." Teriak Dea segera menarik tangan sepupunya sampai wanita itu terbangun dari posisi terbaringnya.
"Dasar bocah." Gumamku sambil menutup mulutku yang tak kuasa menahan kantuk akibat menguap.
"Hee... kalian tidur dalam satu ruangan." Suara Akira mengejutkanku dan menghentikan pertengkaran Dea dan Delia.
"Ku kira ada keributan apa, ternyata–" Lanjutnya terhenti bersamaan dengan Delia yang sudah duduk manis dipinggiran tempat tidurku.
Wanita itu terlihat menyibak rambut pirangnya ke belakang dan menumpangkan kakinya dengan anggun memperhatikan Akira yang masih berdiri di depan jendela kamarku.
"Kenapa kau kesini? Bagaimana jika ibu tau." Tuturku segera berjalan mendekati jendela kamarku, namun langkahku terhenti saat melihat Dea menghalangiku.
"Delia cepat tutup jendelanya." Ucap Dea memerintahkan wanita itu.
"Maaf ya, malam ini calon pengantinmu kami pinjam dulu." Tutur Delia segera bangkit dari tempat tidurku.
"Ca–" Gumamku merasa malu sendiri saat mendengar perkataan wanita itu, lalu ku lihat sebersit senyuman jahil terpancar dari wajah Dea.
Kini ku lihat Dea berjalan kebelakangku dan memeluk ku dengan erat.
"Kau pasti kesal kan karena tak bisa bertemu dengan kakak ku." Ejek Dea menaruh dagunya dibahuku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku tak diperdulikan olehnya.
"Uwaah... hari ini kau benar-benar wangi kak, kulitmu juga lebih lembut dan cerah ya. Ku dengar tante Karina membawamu spa hari ini," lanjutnya mencoba memanas-manasi pria berambut hitam itu.
"Dea, kau membuat pangeran marah loh." Lanjut Delia melirik jahil kearah Akira yang sudah tersipu terlihat dari wajahnya.
"Kau ini—" Ucapku segera dihentikan oleh tindakan Dea yang kembali memeluk tubuhku dengan erat.
"Tak ku sangka Dea sejahil itu." Tutur Delia sambil terkekeh.
"Sekali-kali." Balas Dea ikut terkekeh dan melepaskan pelukannya.
"Tanpa mereka sadari, mereka sudah baikan sekarang." Gumamku menghela napas lelah dan segera terjun keatas tempat tidurku.
***
Pagi ini Delia di jemput oleh Dafa, tampaknya pria itu kembali dipekerjakan oleh Danu. Dan dia diminta untuk menjemput putrinya dikediaman Kinan, sementara Danu sibuk mengurusi masalahnya.
Delia yang terlihat bingung dengan kedatangan Dafa pun hanya bisa mematung di depan pintu rumah Kinan.
"Kenapa belum balik?" Tanya Dea mendorong tubuh Delia, beruntung wanita itu bisa menahannya.
"Ada Dafa." Lanjut Kinan yang berdiri dibelakang Dea dan segera mendorong tubuh adiknya kesampingnya.
"Selamat pagi nona." Sapa Dafa kepada Delia.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Delia tak mengerti.
"Tuan meminta saya untuk menjemput nona, apa tuan tidak memberitau nona?" Jawab Dafa membuat Delia mengernyitkan keningnya bingung.
"Mungkin paman mempekerjakannya lagi Del." Jelas Kinan membuat gadis itu terkejut.
"Benarkah?" Tanyanya pada Dafa, membuat pria itu segera menganggukan kepalanya bersama dengan senyuman hangat yang ditunjukan pada Delia.
"Udah sana balik." Ucap Dea sambil merangkul kakaknya.
"Jangan gitu ih." Tutur Kinan menyikut pinggang adiknya tanpa ampun.
"Kalau begitu aku akan berpamitan dulu dengan ibu dan ayah." Tutur Delia segera berlari memasuki rumah Kinan.
"Ha?! Sejak kapan ibu dan ayahku menjadi orang tuamu!" Teriak Dea tak terima orang tuanya dipanggil ibu dan ayah oleh sepupunya itu.
"Aku sudah mendengar ceritanya dari tuan Danu, terima kasih karena sudah melindungi Delia." Tutur Dafa mengalihkan perhatian Dea dan Kinan.
"Ada apa nih?" Guman Dea memperhatikan gerak-gerik Dafa.
"Jangan bilang loe suka sama–" Lanjutnya terhenti saat melihat Delia keluar dari dalam rumahnya dengan wajah gembiranya.
"Ayo. Aku pulang dulu ya, dah Kinan." Tutur Delia sambil berlari kearah mobilnya.
"Sstt..." Ucap Dafa sambil mengacungkan jari telunjuknya ke dekat bibirnya yang sudah tersenyum lebar membuat Dea dan Kinan terkejut.
"Jadi benar tu orang suka sama si pirang?" Gumam Dea memperhatikan kepergian Dafa dan Delia, sedangkan Kinan hanya bisa tersenyum memperhatikan kepergian mereka dari rumahnya.
"Kinan, kamu belum boleh keluar rumah loh!" Teriak bu Hanum membuat wanita itu bergegas masuk kedalam rumahnya dengan terburu-buru diikuti oleh langkah adiknya.
'Hee... jadi dia menyukai Delia?' Batin Dea masih tak mengerti kenapa Dafa bisa menyukai wanita licik seperti sepupunya itu.
'Bicara soal orang yang disukai, belakangan ini aku juga jarang bertemu dengan Megan. Kira-kira dia lagi apa sekarang? biasanya kan kalau pagi-pagi gini suka ikut sarapan bareng.' Lanjutnya masih dalam hati.
"Dea ibu manggil tuh!" Teriak Kinan membuat gadis itu bergegas saat ingat hari ini dia masih harus mengikuti ujian nasional.
"Ya." Ucap Dea saat sampai di dapur.
"Habiskan sarapanmu." Jawab bu Hanum sambil melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 06:15 Am.
xxx