Dea & Kinan

Dea & Kinan
26. Rencana Liburan



Waktupun berlalu dengan cepat, ujian akhir smester Dea pun sudah berakhir. Hari ini adalah hari ketiga liburan sekolahnya, namun kesehariannya masih sama seperti biasanya (beres-beres rumah).


Sedangkan Kinan, dia sedang sibuk-sibuknya mengerjakan pesanan gambar dari kliennya. Jadi kesehariannya lebih sering berada di kamarnya, dan itu sedikit membuat Dea kesepian.


Biar bagaimanapun mereka selalu bertengkar setiap waktu. Dan sekarang, untuk memulai pertengkaran saja, Dea harus berpikir dua kali. Apalagi pekerjaan Kinan saat ini adalah projek yang cukup besar. Jika dia tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu, maka dia bisa kehilangan banyak uang.


"Haah ... padahal aku ingin pergi berlibur dengan kakak. Tapi kalau begini mana bisa pergi berlibur ...." Gumam Dea sambil menyenderkan tubuhnya di sofa, 'Yah memang dari awal dia gak suka dunia luar. Mau sekeras apapun aku mengajaknya keluar, dia pasti akan menolaknya lebih keras.' Lanjutnya mengoceh dalam hati.


"Tapi bagaimana dia bisa nekat pergi keluar rumah untuk mencari si Megan saat itu? Apalagi sampai mau pergi ke pasar bersamanya," ucap Dea sambil melihat ke arah pintu kamar Kinan yang tertutup rapat, "si Megan kurang ajar itu, awas aja kalau sampai dia merebut kakak ku." Lanjutnya mulai kesal dengan nama pria itu, dan mengingat semua kejadian saat Megan dan Kinan terlihat begitu dekat ketika mereka bermain game bersama. Mungkin karena mereka memiliki hobi yang sama, jadi mereka terlihat lebih dekat.


Di dalam kamar Kinan, terlihat sosoknya yang masih sibuk menatapi layar tablet di hadapanya dengan tangan kanannya yang sibuk menggerakan pen di atas tabletnya itu.


Matanya terlihat lelah dan ada kantung mata disana, entah sudah berapa lama wanita itu tidak tidur. Karena wajahnya begitu kusut dan melunturkan kecantikannya.


Di sisi lain, terlihat sosok Akira yang sedang memperhatikan Kinan di jendela kamar wanita itu. Jendela yang sengaja di buka lebar-lebar, membiarkan udara segar memasuki kamarnya.


"Hee... kau masih sibuk saja disini. Padahal adikmu merengek ingin pergi berlibur." Tutur Akira berusaha menggoda Kinan, namun gadis itu tak memperdulikan kehadiranya.


"Sepertinya telingamu bermasalah ya, mau aku antar ke THT?" Lanjut Akira sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.


"Selesai." Ucap Kinan sambil mengirimkan hasil gambarnya, kemudian meregangkan tubuhnya untuk beberapa saat.


"Berarti kau bisa pergi berlibur denganku?" Tanya Akira kembali memulai pembicaraan, berharap Kinan meresponnya kali ini.


"Tidak." Jawab Kinan yang membuat Akira terkejut.


"Akhirnya ngomong juga." Ucap Akira sambil tersenyum pada Kinan yang masih memperhatikan gambarannya.


"Berisik! Pergi sana!" Balas Kinan sambil melirik kearah Akira yang masih memperhatikannya dijendela kamar Kinan.


Akira yang melihat ekspesi lelah di wajah Kinan pun berusaha menahan tawanya saat tersadar dengan rupa wanita itu yang sudah seperti mayat hidup, dengan kantung mata yang menghiasi wajahnya.


"Kenapa menahannya? Tertawa saja, jangan membuatku kesal!" Ucap Kinan menatap Akira penuh ancaman, dan bangkit dari tempatnya dengan sempoyongan.


"Wajahmu benar-benar terlihat buruk ya, Hhaha..." Tutur Akira diakhiri dengan tawanya, membuat Kinan segera berjalan ke arah jendela kamarnya.


Kinan yang baru mendengar suara tawa Akira tak bisa berkata apapun lagi, karena tubuhnya sudah tak memiliki sisa tenaga lagi untuk membalas ledekannya dan kini tubuhnya menjerit ingin beristirahat dan kepalanya mulai berdenyut.


"Kau lucu sekali." Lanjut Akira sambil tersenyum hangat padanya, membuat Kinan terperajat saat mendengar ucapan pria itu, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan dirinya 'lucu'. Padahal kebanyakan dari mereka mengatakan kalau Kinan terlalu jutek dan tak bisa di dekati, kemudian menjauhinya tanpa alasan.


"Pulang sana!" Ucap Kinan sambil menutup jendela kamarnya membuat Akira terkejut dan kesal atas perlakuan Kinan yang tiba-tiba menutup jendelanya saat dia masih berdiri disana.


Setelah menutup gorden kamarnya, Kinan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan berbaring disana sampai matanya terpejam.


***


"Liburan?" Tanya Dea kepada Akira yang duduk di sebrang sofanya.


"Ya. Aku ingin kita semua pergi berlibur ...." Jawab Akira setelah meminum lemon tea buatannya.


"Liburan kemana?" Tanya Dea begitu antusias dengan mata berbinarnya, membuat Akira berpikir keras untuk menentukan tempat berlibur yang akan mereka tuju.


"Bagaimana kalau ke pantai?" Tanya Akira mempertimbangkan ucapannya.


"Kalau begitu bagaimana dengan puncak? meski sedang musim panas, disana udaranya cukup dingin dan sejuk kan?" Tutur Akira kembali memberikan saran.


"Kakak pikir dia bisa hidup tanpa internet? setiap waktu dia tidak bisa lepas dari gadget dan komputernya, rasanya dia akan langsung minta pulang meski mau pergi ...." Jelas Dea.


"Susah juga ya menentukan tempat liburan yang cocok untuknya." Gumam Akira membuat Dea tertawa.


"Mudah. tempat liburan yang cocok untuknya ada disini. dirumahnya sendiri." Ucap Dea sambil tersenyum.


"Kalau itu sih namanya bukan berlibur." Ucap Akira menyerah.


"Aku juga sudah menyerah dengannya," ucap Dea membuat Akira menaruh perhatiannya pada gadis yang mulai murung itu, "meski sebenarnya aku ingin keluar bersamanya lagi seperti dulu. Tapi setiap tahun aku selalu menghabiskan waktu berliburku dengan Fani dan Rafa." Lanjut Dea sambil melirik ke arah pintu kamar Kinan yang belum terbuka juga.


Tatapan mata gadis itu penuh dengan kerinduan akan masa lalunya saat Kinan masih suka bepergian. Mereka selalu menghabiskan waktu berlibur bersama, melakukan banyak hal yang membuat Dea merasa tak membutuhkan kehadiran siapapun lagi selain kakak yang disayanginya.


"Apa sebegitu bencinya dia keluar rumah?" Tanya Akira bersamaan dengan kedatangan Megan, membuat Dea melirik kearahnya dan Megan yang sudah duduk di dekat Akira, mencoba ikut terlibat dengan pembahasan mereka.


"Entahlah ... tapi sejak dia mengalami cedera kaki, dia mulai berhenti keluar rumah. Selain pergi ke sekolah dan pulang cepat. Saat liburan sekolahpun kakak banyak menghabiskan waktunya di depan komputer. Saat aku tau dia tak memiliki teman, aku jadi mencemaskannya. Tapi setiap hari dia selalu bersikap seperti biasanya, bertengkar denganku, merengek seperti anak kecil dan tertawa saat aku melakukan kesalahan." Jelas Dea setelah menghela nafas berat sambil memeluk bantal sofa ditangannya.


"Hee... dia mengalami cedera?" Tanya Megan yang terkejut saat mendengar masa lalu Kinan.


"Dulu, Saat dia sedang senang-senangnya berlari, tapi dia melakukan kesalahan dan kalah dalam perlombaan ...." Jawab Dea mempererat pelukannya pada bantal sofa ditangannya.


"Jadi kak Kinan seorang pelari?" Tanya Megan begitu terkejut saat mendengarnya.


'Pelari ya, jadi semua mendali yang ku lihat itu adalah mendali kemenangannya.' Batin Akira sambil mengingat semua mendali yang terpajang di dinding kamar Kinan.


Sesaat kemudian Akira melihat ke arah pintu kamar Kinan membuat matanya mebelalak saat melihat wanita itu keluar dari kamarnya sambil menguap dan menutupnya dengan salah satu tangannya.


"Jangan membicarakan masa lalu orang lain kepada orang yang belum lama dikenal Dea." Tutur Kinan sambil menutup pintu kamarnya membuat Dea terkejut saat mendengar suara kakaknya.


"Ka–kakak ...." Ucap Dea merasa tidak enak.


Tapi sepertinya Kinan tidak begitu mempermasalahkannya, dan dia malah berjalan santai ke arah kamar mandi meninggalkan mereka semua yang membisu saat melihatnya keluar dari kamarnya.


"Sepertinya dia belum menerima kalian sepenuhnya." Ucap Dea sambil tersenyum.


"Tipe yang sulit mempercayai orang lain ya." Gumam Akira membuat Megan melirik ke arahnya.


"Kalau begitu liburannya tidak usah jadi. aku juga harus mempersiapkan sesuatu untuk malam tahun baru nanti ...." Tutur Dea kembali menyenderkan tubuhnya, menaruh kepalanya pada kepala sofa dibelakangnya.


"Malam tahun baru?" Tanya Megan mendahului kakaknya yang juga berniat menanyakannya.


Dea langsung meraih heandphonenya yang tersimpan di meja, dengan perasaan senang dia pun membuka lock screen heandphonenya dan membuka kalender digital. lalu menunjukan sebuah tanggal yang dia tandai ke pada mereka berdua.


Akira dan Megan saling melempar pandangan saat melihat tanggal yang di tandai itu.


"Jadi?" Tanya Megan membuat Dea mengangguk cepat sambil tersenyum lebar kepada mereka.


xxx