Dea & Kinan

Dea & Kinan
71. Pertengkaran Dea & Megan



Hari ketiga Akira bekerja diluar kota, waktu sudah menunjukan pukul 10:00 Am. Dengam cepat dia masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan oleh sang supir pribadinya.


"Kita langsung ke kantor saya saja ya," tutur Akira kepada supirnya yang baru masuk kedalam mobilnya.


"Baik tuan." Ucapnya sambil memasang sabuk pengamannya.


Tak lama kemudian mobil Akira pun melaju, pria itu mulai meraih heandphone didalam saku jas abu yang dikenakannya.


"Pesan ? Dari ibu?" Gumamnya sambil membuka pesan masuk yang diterimanya.


Tiba-tiba saja tatapannya menjadi hangat dan senyumannya mulai mengembang, ternyata pesan yang diterimanya adalah sebuah video.


Karina sempat merekam aksi Kinan yang bermain layangan, mengalahkan Fino dihadapan semua anak kecil. Lalu sebelum dia mendekati Kinan dan Fino, Karina mengirimkan video itu pada Akira. Tapi sepertinya pria itu baru ada waktu untuk memeriksa pesan dari Karina.


"He... jadi dia bisa tertawa seperti itu juga?" Gumam Akira memperhatikan tawa Kinan saat dikerumuni oleh banyak anak kecil.


"Kita pulang ke rumah saya saja pak." Ucap Akira membatalkan rencana pergi ke kantornya.


"Baik tuan." Jawab supir itu.


'Setelah melihat video ini bagaimana bisa aku membiarkannya...' Batinnya merasakan kerinduan pada sosok yang sering digoda olehnya.


Disisi lain...


"Jangan berlarian-" Teriak Kinan merasa khawatir dengan ketiga anak yang sedang bermain kejar-kejaran itu. Takut jika salah satunya tersandung kaki meja atau ujung karpet yang mereka injak.


"Tunggu! Aku akan menangkapmu." Teriak Doni berusaha meraih bahu Dean.


"Hentikan!" Teriaknya lagi berhasil menghentikan aksi Doni dan si kembar Dean Diana.


Mereka menatap bingung kearah Kinan, wajah wanita itu benar-benar terlihat pucat sekarang.


"Hari ini kita menggambar bersama saja ya, kakak ambilkan pensil dan pewarnanya. Gambaran yang paling bagus akan kakak kasih hadiah..." Tuturnya setelah menenangkan dirinya.


"Hadiah?" Ucap ketiga anak itu dengan mata berbinarnya.


"Ana mau, Ana mau menggambar..." Tutur gadis berkucir dua itu begitu bersemangat.


"Dean juga mau, mau hadiah!" Lanjutnya sambil mengangkat tangannya setinggi mungkin.


"Aku tidak akan kalah darimu." Tutur Doni mulai memanasi Dean, membuat kedua anak itu saling menatap kesal.


"Kalau begitu kakak ambilkan dulu barang-barangnya ya..." Tutur Kinan mengambilkan semua keperluannya di dalam kamar, lalu membagikannya pada ketiga anak itu. Dengan cepat mereka menerimanya dan segera menggambar apa yang mereka inginkan.


'Dengan begini aku jadi bisa ikut menyelesaikan gambaranku...' Batinnya merasa lega saat melihat si kembar Dean Diana dan Doni mulai menggambar di tempat yang mereka suka. Berpencar saling menjauhkan diri, yang perempuan sibuk menggambar diatas meja dan dua lainnya malah menggambar diatas sofa, duduk berjauhan seperti seorang musuh.


"Kalau sudah selesai temui kakak dikamar ya," tutur Kinan segera mendapat jawaban "Iya" dari ketiga anak itu.


***


Dua jam sudah Akira terjebak ditengah-tengah kemacetan kota. Kesabarannya mulai menghilang, cepat-cepat dia melonggarkan dasi yang dikenakannya dan segera membuka kancing kerah kemejanya.


Tangannya kembali mengeluarkan heandphone didalam saku jas abu-abunya, lalu mulai menghubungi nomor Fino. Tak lama kemudian pria itu mendengar suara Fino yang memanggil namanya.


"Fino," ucapnya.


"Ya tuan?" Tanyanya.


"Apakah orang itu sudah menyelesaikan desain karakternya ? Seharusnya sudah dikirim dua jam yang lalu kan?" Tanyanya sambil melihat deretan mobil disampingnya.


"Sudah saya periksa, tapi sepertinya belum ada email masuk. Karakter yang tuan bicarakan juga belum masuk ke-" Jelasnya segera dihentikan oleh suara Akira yang mulai meninggi.


"Hubungi orang itu! minta dia segera menyelesaikannya. Kita harus segera masuk ketahap selanjutnya, ini sudah lebih dari waktu yang dijanjikannya." Pintanya penuh penekanan.


"Baik tuan." Ucap Fino sebelum Akira mematikan sambungan telponnya.


"Kenapa musti macet di jam-jam sepanas ini?" Gerutunya merasa kesal karena berlama-lama diperjalanan.


Disisi lain...


"Aku sudah menyelesaikannya, bisakah kita pergi makan? Perut Ana terasa lapar sekarang..." Tuturnya membuat Kinan segera melihat kearah jam dinding dikamarnya.


"Ah sudah pukul dua belas siang," ucapnya baru menyadarinya.


"Maaf kakak keasikan gambar, Ana mau makan apa? Biar kakak buatkan." Lanjutnya bertanya sambil mengambil selembar kertas ditangan gadis itu.


"Ana mau makan..." Jawabnya sambil berpikir dan berjalan keluar dari kamar Kinan sambil menggandeng tangan wanita itu.


"Risoles isi ayam." Lanjut Dean dan Doni bersamaan.


"Wah sepertinya enak tuh," guman Diana langsung menatap kearah Kinan yang masih berdiri disampingnya.


"Kalau gitu kalian tunggu dulu disini ya. Kakak buatkan dulu untuk kalian," tutur Kinan segera pergi ke dapur meninggalkan ketiga anak itu diruang tengah.


***


Waktupun berlalu dengan cepat, Dea dan Megan sudah kembali kerumah. Mereka sudah mendapati Kinan dan ketiga anak yang diasuhnya sedang terlelap.


Doni dan Dean tertidur dibahu Kinan dengan posisi menyender pada sofa dan duduk lesehan diatas karpet, sedangkan Diana gadis kecil itu tertidur dipangkuan Kinan.


Mereka berempat benar-benar tertidur dengan lelap sampai tak mendengar keributan yang dibuat oleh Dea dan Megan.


"Sepertinya kali ini mereka tidak membuat rumah jadi berantakan..." Gumam Megan segera mendapat sikutan maut dari Dea membuat pria itu meringis kesakitan.


"Mata loe gak liat kekacauan itu?" Bisik Dea sambil menunjuk beberapa kerayon dan pensil warna yang berceceran diatas meja dan karpet. Lalu menunjuk beberapa remah kue dan piring kotor diatas meja.


"Tapi tidak separah hari itu," jelasnya dengan nada kesalnya.


"Sama aja berantakan. Gue mau mandi dulu, jangan berisik!" Tutur Dea berjalan kearah anak tangga.


"Loe yang berisik dari tadi." Cetus Megan membuat Dea melirik tajam kearahnya. Cepat-cepat dia menutup mulutnya dan mengedarkan pandangannya kesembarang arah.


Gadis itu pun segera meninggalkan Megan diruang tengah.


Terdengar suara perut Megan yang meraung minta diberi makan, tapi pria itu tak tega membangunkan Kinan. Jadi dia memutuskan untuk memasak mie di dapur.


Dengan cepat dia mencari mie, mengobrak-ngabrik isi lemari gantung. Namun tak berhasil menemukan apa yanh dicarinya.


"Padahal perut gue udah lapar gini, makanan jadi juga tidak ada..." Gumamnya sambil memegangi perutnya.


"Rumah, ya di rumah masih ada sisa dua mie. Ambil dulu ah." Lanjutnya segera berlari menuju rumahnya.


Tak lama kemudian pria itupun kembali kerumah Kinan dan segera pergi ke dapur. Matanya membelalak terkejut saat mendapati Dea yang sedang mengiris bawang merah.


"Loe ngapain di dapur?" Tanya Megan nyaris berteriak membuat Dea refleks melemparkan bawang merah berukuran sedang kearah kening Megan.


"Aw!" Pekik pria itu sambil memegangi keningnya.


"Berisik!" Ucap Dea memelototi pria itu.


"Loe ngapain bawa mie? kesini? rumah loe gak ada kompor?" Tanya Dea membuat Megan kesal.


"Perut gue meraung, tadi sempet cari mie disini tapi gak nemu jadi balik dulu bawa mie," Jelasnya memasang ekspresi setengah kesal, "Terus loe ngapain di dapur?" Lanjutnya bertanya.


"Gue mau masak nasi goreng." Jawab Dea membuat Megan melirik kearahnya dan tersenyum sarkas.


"Loe bisa masak ternyata." Ejeknya membuat Dea mendelik.


"Loe mau masak mie ? mending balik aja deh. Punya kompor dirumah juga," tutur Dea memulai pertikaian dengan Megan.


xxx