
"Ngomong-ngomong kenapa hari ini pulangnya cepat sekali?" Tanya Kinan sambil mengingat waktu kepulangan Dea 'pukul 11:05 am' sedangkan sekarang, waktu sudah menunjukan pukul 06:20 Pm.
"Ah itu, gurunya sedang rapat sama para orang tua siswa. Jadi hari ini sekolah dibebaskan, dan aku milih pulang cepat karena khawatir dengan ...." Jelasnya terhenti saat merasakan aura hitam disekeliling tubuh Kinan.
"Jadi kau menyembunyikan pertemuan orang tua siswa lagi dariku? Kenapa tidak bilang ada rapat orang tua!?" Teriak Kinan berapi-api membuat Dea ketakutan.
"I–itu, kau kan sangat malas keluar rumah, jadi ku pikir tidak usah memberitaumu. Dan lagi hari ini kita kedatangan tamu penting!" Jelas Dea sambil berjalan mundur berusaha lari keluar dapur.
"Tapi aku bisa meluangkan waktuku untuk urusan penting ini! Aku juga bisa membuat mereka menunggu!" Jelas Kinan penuh penekanan membuat Dea berlari secepat mungkin dari hadapan kakaknya.
"Maafkan aku." Teriak Dea sebelum meninggalkan Kinan di dapur.
"Dasar Dea. Kenapa selalu menyembunyikan hal-hal penting dariku ...." Gumam Kinan.
"Hee... jadi kakak juga bisa marah ya." Ucap Megan yang baru keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan pintu dapur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dipegangnya.
"Kalau sudah selesai mandi, sebaiknya beritau kakakmu. Sekarang giliran dia mandi kan?" Jelas Kinan dengan tatapan datarnya dan kembali fokus pada kegiatan memasaknya.
"Hee... kau bisa masak? Ku kira urusan dapur juga diserahkan pada adikmu," oceh Megan mendekati Kinan, "uwah masakanmu terlihat enak ...." Lanjutnya saat melihat potongan paha ayam yang dibalut dengan telur dan tepung, lalu dimasukan kedalam wajan berisi minyak panas.
"Aku jadi lapar ...." Ocehnya lagi membuat kesabaran Kinan habis, karena perintahnya tak didengarkan.
"Kau sudah selesai? Kenapa tidak memberitauku?" Ucap Akira yang berdiri di depan pintu dapur membuat Megan dan Kinan melihat kearahnya.
"Hhaha aku lupa ...." Jelas Megan sambil tertawa dan menggaruk tengkuknya.
Lalu Akira pun meninggalkan mereka, dan Dea kembali ke dapur untuk membantu kakaknya.
"Hee... ternyata kau mendapat bantuan darinya ya?" Gumam Dea menggoda kakaknya.
"Kau tidak lihat? Dia hanya menontonku saja. Cepat potong bawang dan cabainya, lalu masak nasi gorengnya, setelah itu ...." Tutur Kinan segera dihentikan oleh Dea.
"Aku tau," ucap Dea terdengar pasrah.
"Kalau gitu, aku akan mengelap mejanya dulu." Tutur Megan segera mengelap meja makan dan mempersiapkan piring, sendok makan dan gelas, lalu menuangkan air kedalamnya.
"Hweee..." Rengek Dea membuat Kinan dan Megan terkejut sampai melihat kearahnya, "Aku tidak tahan lagi." Lanjutnya terlihat menangis.
"Hha–hahaha kau menangis ...." Tawa Megan melihat Dea yang tak bisa memotong bawang.
"Berisik! mataku benar-benar perih ...." Jelas Dea hendak menyusut air matanya dengan tangan kirinya yang sudah memegang bawang.
"Cuci dulu tangannya bodoh." Ucap Kinan menghentikan tindakan Dea yang hampir melukai matanya, lalu gadis itupun segera mencuci tangannya dan Kinan mengambil alih pekerjaannya.
"Perhatikan goreng ayamnya, jangan sampai gosong." Ucap Kinan membuat Dea bergegas mengambil alih pekerjaan Kinan. Lalu Kinan mulai memasak nasi goreng yang dia maksud.
"Harumnya ...." Gumam Megan yang sudah duduk manis di kursi dan menopang dagunya dengan kedua tangan berada diatas meja makan.
Tak lama kemudian Akira masuk kedalam dapur dan bergabung dengan Megan.
"Sudah jadi ...." Gumam Dea sambil menghidangkan makanannya dihadapan Akira dan Megan.
"Aromanya benar-benar menggoda ya, perutku jadi lapar." Ucap Megan segera meraih bagiannya.
Lalu merekapun makan malam bersama, sambil berbincang satu sama lain.
"Uwaaaah... masakan kakakmu benar-benar enak," puji Megan sambil menikmati makanannya,
"Beruntungnya kita bisa diundang makan malam bersama, biasanya aku hanya makan mie instan di rumah. kalau pengen makan enak, ya harus pergi keluar..." Lanjutnya.
"Jadi selama ini masakanku tidak enak ya? baiklah baik, aku tidak akan memasak lagi untukmu ...." Tutur Akira membuat Megan terkejut.
"I–itu... Hhaha, masakanmu enak ko, tapi masakan perempuan lebih enak daripada masakan seorang pria kan?" Jelas Megan berkeringat dingin.
"Tidak perlu berlebihan memujinya," ucap Dea melirik kearah kakaknya yang terlihat begitu bahagia saat mendengar masakannya dipuji, "biasanya dia tidak akan masak sebanyak ini, karena dia terbilang pelit." Lanjutnya membuat Kinan meliriknya dengan tatapan super tajamnya.
"Lagian semuanya salahmu karena tidak bisa berhemat. jadi biaya makan harus dikorbankan," gumam Kinan setelah menelan makanan dimulutnya.
"Utang?" Tanya Megan.
"Kau ini." Umpat Dea merasa kesal.
"Kalau begitu biarkan saya saja yang ikut bersama Dea. Biar Megan membantumu membereskan dapur." Jelas Akira.
"Hee..." Teriak Megan terkejut dengan ucapan kakaknya.
"Padahal kalian semua pergi saja ...." Gumam Kinan membuat Megan bungkam.
"Oiii !" Bentak Dea yang tak suka dengan sikap kakaknya yang jutek pada mereka.
"Habisnya rumah ini mendadak berisik, aku jadi tidak bisa nonton anime dengan tenang ...." Jelas Kinan sambil meraih gelasnya.
"Biasanya juga pake headphone." Gumam Dea setelah menelan makanan didalam mulutnya.
"Headphone ku rusak, headshet yang kau pinjamkan juga ru–rusak." Jelas Kinan sambil memalingkan wajahnya dari Dea.
"Apa kau bilang? Headshetku? Padahal aku baru membelinya minggu lalu, kenapa sudah rusak lagi? Kau apakan headshetku?" Teriak Dea merasa kesal.
"Mereka ini ...." Guman Akira dan Megan bersamaan.
***
Akhirnya Dea pergi kerumah Fani bersama dengan Akira, Fani sendiri adalah anaknya pak Rt. Itulah kenapa Kinan meminta Dea pergi kerumah Fani bersama dengan pria itu.
Dan Megan, dia membantu Kinan mengeringkan gelas dan piring yang baru selesai dibilas.
"Kalau boleh tau, kalian tinggal disini dari kapan?" Tanya Megan memulai percakapan.
"Dari kecil." Jawab Kinan.
"Orang tua kalian? aku tidak melihat mereka, apa mereka ...?" Tanya Megan terpotong.
"Mereka tinggal di kampung." Jawab Kinan sambil menutup keran wastafel dan mengeringkan tangannya. lalu pergi meninggalkan Megan di dapur.
"Ternyata dia dingin juga ya ...." Guman Megan mengikuti Kinan yang berjalan keruang tengah.
Dilihatnya wanita itu sudah menyalakan komputernya dan mulai memainkan game kesukaannya.
"Heee... jadi kau juga memainkannya? hebat, aku juga memainkannya, cuma terhenti di level ...." Jelas Megan yang sudah berdiri disamping tempat duduk Kinan.
"Benarkah?" Tanya Kinan dengan mata berbinar-binarnya.
'Heee? kenapa sikap dinginnya berubah?' Batin Megan sambil tersenyum melihat ekspresi Kinan.
"Musuh yang ini cukup sulit juga ...." Jelas Megan mulai memberikan saran kepada Kinan dan mengajarinya bermain game itu, lalu memberikan tips mudah untuk mengalahkan si musuh.
Dalam beberapa menit mereka sudah menjadi teman baik dan terlihat sangat akrab. bahkan saat ini, mereka sedang bermain game bersama dengan menggunakan konsol game yang dibawa oleh Megan dari rumahnya.
tak lama kemudian Dea dan Akira datang.
"Kami pulang." Ucap Dea saat memasuki ruang tengah.
"Arrgh...." Geram Kinan dan Megan merasa kesal, "Aku masih kesulitan mengalahkan musuh yang satu itu." Lanjut Megan.
"Benar-benar menyusahkan." Ucap Kinan merasa kesal juga.
"Sejak kapan mereka menjadi seakrab itu?" Tanya Akira yang berdiri disamping Dea.
"Ternyata sikapnya sebelas dua belas dengan Kakak ku ya ...." Guman Dea memperhatikan Megan yang duduk di sebelah Kinan.
"Dia memang seperti itu, tapi tak disangka kalau Kinan juga suka bermain game." Tutur Akira memaksakan diri untuk tersenyum.
xxx