
Waktu masih menunjukan pukul 05:30 am. Matahari juga masih terlelap, udaranya masih dingin dan menyejukan.
Hari ini Dea memutuskan untuk bangun lebih awal agar bisa berolahraga pagi, dengan berlari keliling kompleks selama 30 menit sebelum berangkat sekolah.
"Sepertinya kakak belum bangun, yah wajar saja semalam kan dia begadang nonton anime kesukaannya," guman Dea yang baru turun dari kamarnya, memperhatikan kakaknya yang tertidur di sofa, "padahal dia bisa tidur dikamar." Lanjutnya sambil membuang nafas, lalu memutuskan untuk segera berolahraga dan meninggalkan kakaknya dengan pintu rumah yang terkunci dari luar.
"Hee... jadi hari ini loe juga lari pagi?" Tanya Fani mengejutkan Dea yang sedang asik berlari, menikmati udara segar disekitarnya.
"Ngagetin aja loe!" Ucap Dea membuat Fani terkikik sambil berlari disamping gadis itu.
"Jadi gimana kabar kakak loe? masih sering ngajak ribut?" Tanya Fani mencari topik pembicaraan.
"Yah gitu deh ...." Jawab Dea tak bersemangat membahas soal kakaknya.
"Gak kerasa ya, kita udah kelas 3 SMA lagi ... udah lama juga gue temenan sama loe." Tutur Fani langsung mendapatkan lirikan dari Dea.
"Hem... udah lama, kalau loe udah bosen gimana kalau kita musuhan aja." Tutur Dea membuat Fani tertawa.
"Pft... ya enggak lah, loe ada-ada aja deh." Ucap Fani disela-sela tawanya.
"Ya abis loe ngomongnya kaya gitu, siapa yang gak nyangka loe bosen temenan sama gue coba?" Jelas Dea memelankan laju berlarinya.
"Ya maksud gue tuh cuma mengingat masa lalu aja terus ngebandingin sama masa sekarang. Dan kalau harus di ingat-ingat lagi, berarti usia kakak loe udah 21 tahun, mau sampai kapan dia bersikap kaya anak kecil terus? Harusnya diusianya yang sekarang, dia bisa lebih egois mengenai keinginannya, seperti keinginan mencari pendamping hidup gitu. Kalau dia bersikeras gak mau kerja, lagian kan jodoh gak akan datang kalau kita gak ada usaha." Jelas Fani yang menghentikan langkah berlarinya membuat Dea ikut berhenti.
"Kalau bahas soal itu, gue udah sering nyeramahin dia sampe bosen gue ngurusnya. Telinganya bener-bener kebal, mandi aja masih harus disuruh-suruh. Mana bisa dia bersikap egois," tutur Dea menjelaskan usahanya pada Fani, "meskipun dia begitu menjengkelkan dan kekanak-kanakan. Aku tidak akan menyerahkannya pada sembarang lelaki" Lanjut Dea sambil berkacak pinggang dan tersenyum bangga.
"Loe perhatian juga ya." Gumam Fani sambil tersenyum.
"Loe bilang apa?" Tanya Dea.
"Enggak ... gak ada." Jawab Fani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Terus laki-laki yang pantas buat kakak loe itu seperti apa sih?" Lanjutnya bertanya.
"Eh kalau itu sih ...," Ucap Dea sambil memegangi dagunya dan memiringkan kepalanya sedikit, "Yang bisa beres-beres rumah, penyabar, tegas, dan... pokoknya bisa menerima segala kekuranganya" Lanjutnya menjelaskan semua yang dipikirkannya.
"Hee... beres-beres rumah? kenapa gak nyari pembantu aja De?" Gumam Fani sambil tersenyum hambar.
"Loe kan nanyanya sosok pendamping bukan sosok pembantu," ucap Dea mulai kesal membuat Fani tertawa, "Dan lagi loe kan tau sendiri kakak gue males banget beres-beres rumah. Tiap hari yang ngerjain pekerjaan rumah itu gue, cucian piring yang kemaren juga gue yang beresin. Padahal dia yang inisiatif bikin kue buat kalian ...." Jelas Dea mulai melangkahkan kakinya, dan Fani mengikutinya dari belakang.
"Ya makanya gue saranin nyari pembantu." Ucapnya memberi saran.
"Duit dari mana buat bayar tuh pembantu? loe mau bayarin? gue cari hari ini nih." Jelas Dea, "Meskipun orang tua gue kaya, gue gak bisa terus-terusan bergantung sama mereka kan." Lanjutnya.
"Hee... gak nyangka gue, terus hubungan loe sama pacar loe gimana?" Tanya Fani membuat Dea mempercepat langkahnya, "De?" Lanjut Fani yang melihat reaksi tak terduga itu.
"Hubungan jarak jauh tuh gak gampang. Wajar kan kalau gue putus?" Tutur Dea kepada Fani yang sudah berjalan disampingnya.
"Hee?! Jadi loe udah putus? Kapan? Ko gue gak tau ...." Tanya Fani begitu terkejut mendengar ucapan Dea.
"Seminggu yang lalu, udah ah gak usah dibahas. Nanti gue keinget kejadian memalukan gue..." Jawab Dea menghentikan ucapannya saat dia mengingat momen dimana kakaknya tertawa puas saat mendengar adiknya galau karena putus cinta saat hujan turun, 'Sial aku malah mengingatnya.' Lanjutnya dalam hati.
"Hee... tapi gue pengen tau kalian putusnya kenapa? Ko bisa? Orang ketiga kah?" Oceh Fani tak didengarkan.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 06:00 am. Ku putuskan untuk kembali kerumah dan bersiap-siap pergi ke sekolah.
"Eh De ...," ucap Fani menghentikan langkahku dan langsung menggelayuti tangan kananku, "Siapa cowo itu? Kenapa dia liatin rumah yang loe sewakan itu?" Lanjutnya sambil menunjuk ke arah seorang pria yang sedang memperhatikan rumah utamaku yang terdapat plang disewakan.
"Jangan-jangan dia mau nyewa rumah loe, cakep lagi De. Kalau dilihat-lihat kayanya tuh cowo tipe nya kakak loe deh." Oceh Fani masih asik memperhatikan pria didepan rumahku yang sekarang sedang menelpon seseorang.
'Ni anak mulai bawel deh kalau liat cowo ganteng dikit.' Batinku malah sibuk memperhatikan sikap Fani.
"Kalau misalkan tuh cowo jadian sama kakak loe gimana?" Tanya Fani mengejutkanku dan membuatku refleks memperhatikan postur tubuh pria itu.
"Hem ...." Gumamku mulai menilai pria itu, "Cakep juga sih, tinggi lagi. Kayanya orang kaya deh, keliatan dari jas yang dipakenya..." Lanjutku sambil melirik kearah Fani yang sudah mengembungkan pipinya karena mendengar kata 'Kaya'.
"Dasar matre loe!" Ucapnya sambil melepaskan cubitannya.
"Sakit tau!" Bentak ku sambil mengelus pipiku, "Lagian gue juga gak tau sikap sama sifatnya tuh cowo. Ya kalau dia emang tipe kakak gue tapi kriterianya gak sesuai sama yang gue sebutin tadi. Mending tuh cowo ke laut aja, Hhaha..." Lanjutku menjelaskan.
"Hha–ha... loe bener-bener keliatan seperti emak-emak pemilih, banyak syaratnya." Ejek Fani membuatku kesal.
"Dia pergi!" Gumamku saat melihat pria itu pergi dari tempatnya dan kakiku mulai mengikuti langkah kaki Fani yang berjalan mendahuluiku.
"Gue duluan ya! Sampai nanti disekolah." Ucap Fani ketika melewati rumahku.
Ku langkahkan kakiku memasuki rumah kecil kami yang berada disamping rumah utama keluargaku yang sengaja kami sewakan, karena orang tua kami sudah pulang kampung dan memutuskan untuk menetap disana.
"Aku pulang." Ucapku setelah membuka kunci pintu.
"Deeeaaa...!!" Teriak kakak ku saat mendengar suara pintu terbuka, dan saat aku masuk kedalam rumah. Wanita itu berlari kearahku dengan wajah berseri-serinya. Membuatku merasa takut atas perubahan sikapnya, karena biasanya dia tidak akan bersikap begitu semangat jika tidak ada maunya.
"Mana? Mana? Kau sudah membelikannya kan?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Ha? Membeli... ? Beli apa?" Jawabku balik bertanya sambil berjalan kearah anak tangga.
"Hee!? Kau lupa? Kemarinkan aku sudah menuruti perintahmu untuk berakting jadi sosok kakak yang baik, terus kau janji mau membelikanku big cola dan keripik rasa balado." Jelasnya terlihat kesal.
"Haa ... aku ingat! Tapi karena kemarin aku yang membersihkan piring, gelas dan peralatan bekas membuat kue mu itu. Jadi perjanjiannya batal." Jelasku sambil melangkahkan kakiku menaiki anak tangga menuju kamarku.
"Tidak adil! Padahal aku sudah menuruti kemauanmu! Dasar tidak tau terima kasih." Teriaknya tak ku perdulikan, mengingat waktuku bersiap-siap ke sekolah sudah banyak terbuang.
Setelah selesai bersiap-siap, aku kembali kebawah untuk berpamitan kepada kakak ku yang sedang ngambek.
"Dia beneran ngambek?" Gumamku saat melihat kakak ku sibuk bermain game, dan tak memperdulikan kehadiranku yang berdiri disampingnya "Aku pergi dulu ya." Lanjutku sambil melepaskan headphonenya, namun tak ada respon khusus darinya dan aku tak terganggu dengan sikapnya itu. Jadi ku putuskan untuk segera pergi kesekolah agar tidak terlambat masuk kelas.
Saat aku sedang memakai sepatu sekolahku, tiba-tiba saja Kakak berdiri disampingku masih memasang ekspresi ngambeknya.
"Ada apa?" Tanyaku setelah menghela nafas dan berdiri menghadap kearahnya, tapi tak ada jawaban darinya.
Sebenernya aku gak perduli dia mau ngambek atau enggak. Nanti juga bakal nanya lagi, tapi kadang-kadang dia malah jadi tambah ngeselin dari biasanya. Kalau terus kaya gini, pasti pulang sekolah rumah ini bakal berantakan kaya kapal pecah. Dan aku gak mau beres-beres rumah setelah pulang sekolah, Melelahkan soalnya.
"Big cola dan keripik rasa balado kan? Baiklah baik, nanti pulang sekolah aku beliin deh." Tuturku mengalah, dan kini wajah kakak kembali berseri-seri lagi seperti saat menyambut kedatanganku tadi.
"Asik!!" Teriaknya kegirangan, benar-benar seperti anak kecil. Tak akan ada yang menyangka kalau usianya sudah mencapai 21 tahun.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya, jadi anak baik di rumah, kalau mau tidur siang jangan lupa kunci pintunya..." Tuturku sambil membuka pintu rumah.
"Siap." Jawabnya sambil menyeringai, "Eh... tu–tunggu dulu de! Aku baru ingat." Lanjutnya menghentikan langkahku.
"Sekarang apa lagi? Udah siang nih, nanti bisa telat masuk kelas." Tanyaku mulai kesal.
"Pagi tadi ada cowo yang nelpon, nanya-nanya soal harga sewa rumah. Terus katanya lusa nanti dia mau lihat-lihat rumah kita." Jelasnya segera ku hentikan, "Jadi? Akhirnya ada yang mau menyewa rumah kita?" Tanyaku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku.
"Tapi belum pasti sih, dan lagi ... kita belum bersihin lagi rumahnya loh. Pasti banyak debu, terus keran air nya ... kita juga harus manggil tukang buat memperbaikinya." Jelas kakak membuyarkan kebahagiaanku.
"Kau benar ...." Gumamku.
"Yah tapi kita pikirkan itu nanti saja, kalau dia jadi sewa rumahnya. Baru kita panggil tukang. Dan lagi aku gak mau repot-repot bersihin rumahnya... mending main game." Tuturnya sambil berjalan keruang tengah meninggalkanku di depan pintu.
"Oii !" Ucapku mulai emosi dengan sikap malasnya itu.
"Udah jam setengah tujuh loh. Kamu gak akan berangkat sekarang De?" Tanyanya mengalihkan perhatianku.
"Sial aku lupa," ucapku segera berlari meninggalkan rumah, "Semuanya gara-gara kakak sialan itu, aku sampai lupa sekolah." Lanjutku masih berlari.
xxx