
Pagi hari di kediaman Kinan.
"Kak aku berangkat dulu." Teriak Dea tampak terburu-buru sambil berlari menuruni anak tangga menuju pintu keluar.
"Sarapanya?" Teriak Kinan yang sudah berdiri di depan pintu dapur sambil melihat adiknya yang sibuk mengenakan sepatu sekolahnya.
"Gak perlu." Jawab Dea sambil berlari keluar rumah meninggalkan keheningan di dalam rumah mereka.
"Anu ... kenapa dia terburu-buru?" Tanya Megan yang baru keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menatap mata Kinan.
"Dia memang selalu seperti itu, kadang-kadang ...." Jawab Kinan sambil melangkahkan kakinya memasuki dapur.
"Hee..." Gumam Megan sambil mengekori Kinan, kemudian pria itu langsung duduk di kursi dan mulai menyantap sarapan pagi yang sengaja dibuatkan Kinan untuk Dea. Namun karena adiknya tidak jadi sarapan, maka tidak ada salahnya kalau sarapannya diberikan pada orang yang membutuhkan.
"Kenapa kalian makan dirumahku?!" Lanjut Kinan sedikit berteriak saat melihat Akira begitu menikmati sarapan paginya, ditambah dengan sikap Megan yang mulai menikmati sarapannya tanpa memperdulikan keberadaan Kinan.
"Aku selesai, aku pergi dulu. Kau jaga rumah ya." Tutur Akira kepada adiknya.
"Oii." Gumam Kinan saat melihat pria itu melengos pergi dari hadapannya, "Kalian ini benar-benar tidak tau malu ya?" Lanjut Kinan sambil duduk dihadapan Megan dan mulai menyantap sarapan paginya.
"Hhaha... habisnya kami bangun kesiangan, dan kakak belum belanja sejak datang kesini kemarin. Mau tak mau, kami harus numpang makan lagi kan? Lagian masakan kak.Kinan juga enak. Jadi aku gak keberatan kalau harus makan masakan kak.Kinan setiap hari." Jelasnya terlihat gembira diakhir kalimatnya dan kembali menyantap makanannya.
"Jangan jadikan aku pembantu kalian!" Teriak Kinan mulai kesal, "Lagian kenapa kalian gak cari makan diluar aja sih?" Lanjutnya bertanya. Namun Megan tampak asik dengan sarapan paginya sampai tak mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari mulut Kinan.
"Tapi tampangmu terlihat seperti anak sekolahan ya, tidak terlihat seperti seorang mahasiswa? smester berapa sekarang?" Tanya Kinan sambil menghela nafasnya.
"Baru semester tiga ko. kalau kak.Kinan bilang gitu, berarti wajahku masih terlihat muda dong ya, senangnya ... Hhhehe." Jawab Megan setelah menelan makanannya dan memberikan senyuman terbaiknya diakhir kalimatnya.
"Hee... ku kira seumuran dengan Dea. Wajahmu benar-benar bikin salah paham ya." Tutur Kinan setelah meneguk air di dalam gelas yang dia genggam.
"Hhaha... bukankah kak Kinan juga seperti itu?" Tanyanya membuat Kinan bungkam. biar bagaimanapun, wajahnya memang selalu bikin salah paham dan sering dianggap sebagai Dea karena terlihat lebih muda dan lebih pendek dari Dea.
'He? kenapa dia tidak menjawabku?' Batin Megan merasa tak enak hati karena membahas soal wajahnya, yah meskipun Kinan yang memulainya terlebih dulu.
Setelah selesai makan, Kinan pun meminta bantuan Megan untuk mencucikan semua piring di wastafel sebagai bayaran karena makan gratis dirumahnya. Dan menghabiskan stok makanan selama satu minggu.
"Haa... ternyata bener-bener habis. Stok satu minggu untuk dua orang. Habis dalam waktu dua hari, bagaimana ini? Aku males banget keluar rumah. Apa tunggu Dea pulang sekolah ya?" Tutur Kinan sambil melihat isi kulkasnya, "Atau aku minta dia pergi kepasar aja ya?" Lanjutnya sambil membayangkan wajah Megan, yang mana pria itu masih sibuk mencuci piring sambil bersiul di dapur.
"Selesai ...." Ucapnya setelah menyelesaikan tugasnya, suaranya terdengar sampai keruang tengah. Membuat Kinan melirik kearah kedatangannya, suara langkah kaki yang sempat terdengarpun mendadak hilang. Kini pria itu sudah berdiri di hadapan Kinan.
"Ada apa?" Tanyanya saat melihat mata Kinan yang terus menatapnya penuh pertimbangan.
"Baiklah aku minta tolong padamu saja." Ucap Kinan membuat ekspresi Megan tampak kebingungan.
Wanita berambut panjang itupun langsung mengambil sebuah kertas yang tersimpan diatas kulkas dan memberikannya pada Megan.
"Apa ini?" Tanyanya sambil membaca tulisan di dalam kertas itu.
"Daftar belanjaan, karena stok makanan selama satu minggu sudah habis. Aku mau kau membelikannya ke pasar. Sekalian kau belanja juga, aku tidak mau keluar rumah jadi tolong gantikan aku berbelanja hari ini. Kalau harus nunggu Dea pulang, jadinya kelamaan." Jelas Kinan sambil berkacak pinggang.
"Hee? Se–serius kau memintaku untuk belanja?" Tanyanya tak percaya.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya?" Tanya Kinan sambil mendekatkan wajahnya dan memasang ekspresi super menyeramkannya membuat pria itu gemetaran karena ketakutan.
"Ti–tidak sungguh, bukannya tidak mau. Hanya saja, aku belum mengenal baik wilayah disekitar sini, mana mungkin aku bisa tau jalan menuju pasar kan?" Jelasnya sedikit tergugup karena tekanan yang diberikan Kinan.
"Benar juga," ucap Kinan menjauhkan wajahnya dan mulai berpikir, "ah, bagaimana kalau aku buat petanya?" Lanjutnya sambil memasang wajah berseri-serinya karena mendapatkan ide cemerlang.
"Bukankah akan lebih baik kalau kita pergi berbelanja bersama?" Tanya Megan terdengar ragu.
"Sudah ku katakan aku tidak mau keluar rumah." Ucap Kinan merasa kesal.
"Tapi..." Gumam Megan mulai kebingungan, "Kenapa kak Kinan sangat benci bepergian?" Lanjutnya bertanya.
"Merepotkan." Jawab Kinan sambil membuang wajah dari pria itu.
"He? Merepotkan?" Gumam Megan terkejut dengan jawaban yang didapatnya.
"I–itu..." Ucap Megan terhenti saat melihat aura yang keluar dari tubuh Kinan semakin menebal, 'Sebegitu gak mau keluar rumahnya, auranya sampai sesuram ini.' Lanjutnya dalam hati.
"Baiklah kalau kak.Kinan tidak mau pergi, buatkan aku peta jalan dan nama tempatnya. Aku akan pergi sendiri." Tutur Megan membuat wajah Kinan berseri-seri.
"Benarkah? Wah senangnya, aku benar-benar tertolong ... terima kasih banyak." Ucap Kinan sambil menggambarkan peta di kertas yang baru disobeknya.
"Kalau bisa tolong buatkan aku peta menuju toko game juga, Ada barang yang ingin aku beli." Tuturnya lagi membuat Kinan melirik malas kearah pria itu.
"Kenapa tidak beli online saja?" Tanya Kinan dengan nada malasnya.
"Bukannya enakan beli langsung ya? Jadi kita bisa tau kualitas barang yang ingin kita beli, dan bisa lihat-lihat dulu. Kalau beli online malah susah buat liat kualitas barangnya, soalnya cuma foto yang dipajangnya. Selain itu aku hanya tidak mau mendapatkan barang cacat lagi, meski mereka menggantinya dengan barang baru." Jelas Megan dengan wajah polosnya.
"Kau hanya tidak mau repot mengecek kualitas barangnya, lagian ada trik yang bisa kita gunakan kalau mau belanja online. Dan lagi, aku yakin 100% kau hanya malas menunggu kurir yang akan mengantar barangmu kan? Jadi kau memutuskan untuk beli langsung ditokonya. Wajahmu benar-benar mudah dibaca ya ...." Tutur Kinan terlihat mengejek, dan Megan hanya bisa memaksakan diri untuk tetap tersenyum selagi keringat dingin mulai keluar dari keningnya.
'Ni orang gak bisa dibodohin ya,' batin Megan merasa kecewa, 'dan lagi, kenapa aku harus berdebat dengannya pagi-pagi begini?' Lanjutnya masih dalam hati.
xxx