Dea & Kinan

Dea & Kinan
50. Campur tangan Karina 2



Pagi ini Akira pergi menemui ibunya untuk memenuhi panggilannya. Mereka ingin bertemu di restoran keluarganya untuk membahas sesuatu.


Waktu menunjukan pukul 09:00 Am saat Akira baru tiba di restoran keluarganya. Pelayan yang menyambutnya pun mengantarkan dia pada ibunya yang sudah menunggunya diruangan pribadinya.


Sesampainya di depan pintu ruangan ibunya, pelayang yang mengantarnyapun segera pamit undur diri, meninggalkan Akira yang mulai mengetuk pintu pun langsung dipersilahkan masuk oleh ibunya. Dan diapun bergegas masuk untuk menemuinya.


"Kenapa ibu memanggilku ?" Tanyanya tanpa basa-basi.


"Duduklah dulu" Ucap Karina mempersilahkan putranya untuk duduk.


"Jadi ?" Tanyanya lagi setelah mengambil sikap duduk yang nyaman untuknya.


"Ibu sudah tau semuanya dari Fino" Jawab Karina membuat Akira tersentak.


"Anak itu" Gumamnya mengumpat kesal pada bayangan wajah Fino yang berkelebat cepat dalam kepalanya.


"Ibu sudah menyuruh semua orang kepercayaan ibu untuk mengurus masalahmu, jadi berhentilah mengikuti permainan mantanmu itu" Lanjutnya menjelaskan sambil meraih cangkir teh yang tersimpan diatas mejanya.


"Ibu tidak perlu melibatkan diri. Aku sendiri yang akan mengurusnya !" Tutur Akira sedikit menaikan nada bicaranya.


"Aku sudah mendengar cerita lengkapnya dari Fino, mana mungkin ibumu ini diam saja kan ?" Jelas Karina dengan santainya, "Dan lagi, ini sudah hari ketiga kau meminta Fino untuk menyelesaikan semuanya. Padahal kau ingin menyelesaikannya dalam waktu dua hari..." Lanjutnya sambil meletakan kembali cangkir teh ditangannya.


Akira tak bisa berkutik karena perkataan ibunya memang benar, ini sudah memasuki hari ketiga. Dan Fino masih belum memberikan informasi padanya.


"Kemarin ibu pergi ke rumah orang tuanya Kinan bersama dengan ayahmu" Tutur Karina setelah menghela nafas berat membuat putranya menatap dirinya dengan rasa penasaran, untuk apa ibunya pergi ke kediaman orang tuanya Kinan ? Itulah yang dipikirkan oleh pria berusia 22 tahun itu.


Karina yang melihat reaksi putranya itu malah mencoba menahan dirinya agar tidak kelepasan tersenyum geli dihadapannya.


"Urusan bisnis kan ?" Tanya Akira asal bicara sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Ibu pergi kesana untuk mengatur perjodohanmu dengan putri pertamanya. Tapi sayangnya... ibu keduluan orang lain" Jelasnya sambil melipat tanganya diatas dada dan menumpangkan salah satu kakinya dikaki lainnya.


"Keduluan ?" Gumam Akira tak mengerti.


"Kau ingat anak bernama Bayu itu ?" Tanyanya membuat Akira membelalak terkejut.


"Orang tuanya sudah menjodohkan Kinan dengannya untuk menebus lahan pertanian yang sudah digadaikan pada keluarganya. Kalau sampai mereka menikah mungkin lahan itu bisa dikembalikan pada keluarga pak.Arya atau putrinya sendiri yang akan mengurusnya. Ha-ah... padahal ibu sangat menyukainya, tapi anak itu mengambilnya dari ibu..." Tuturnya dengan suara santainya dan menatap putranya dengan tatapan menggoda, sedangkan Akira mulai terlihat resah saat mendengar ucapan ibunya.


"Padahal dia menolaknya secara terang-terangan, kenapa sekarang malah mau menerima perjodohannya ? Dasar gadis bodoh !" Gumam Akira mengumpat kesal.


"Ah alasannya sederhana-" Ucap ibunya kembali menarik perhatian Akira, "Dia terpaksa menyetujuinya untuk menghapus semua bukti sandiwara pertunangan kalian yang bisa mencemarkan nama baik keluarga kita. Dan sisanya untuk meringankan beban orang tuanya, seperti yang ku jelaskan tadi. Jika dia sampai menikah dengan Bayu, maka semua lahan pertanian itu bisa direbut kembali olehnya..." Lanjutnya sambil menarik tubuhnya kebelakang, dan menyenderkanya pada senderan sofa yang didudukinya.


"Dia ?" Tanya Akira yang terkejut saat mendengar kembali penjelasan ibunya.


"Tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Lagipula Kinan tidak mengetahui pengaruh keluarga kita. Gosip seperti itu tidak akan bisa mencemarkan nama baik keluarga kita dengan mudah, ibu akan tunjukan betapa berkuasanya keluarga Wira padanya" Tuturnya sambil tersenyum angkuh saat menyebutkan nama suami tercintanya itu.


"Jangan bilang ibu..." Tutur Akira tak berani melanjutkan ucapannya.


"Ke-kenapa ibu menanyakan itu ?" Tanya Akira berkeringat dingin menatap mata ibunya.


"Kalau kau masih mencintainya, maka ibu tidak perlu repot-repot membersihkan masalahmu kan ? Kita biarkan saja masalah ini terpublikasi, dan Kinan bisa hidup bahagia bersama dengan Bayu. Masalah ini pun terselesaikan" Jawab Karina menjelaskan.


"Tapi lain lagi jika kau sudah tak mencintainya, ibu bisa membantumu membersihkan masalah ini dengan satu syarat tentunya..." Lanjutnya membuat Akira bersusah payah menelan air liurnya.


"Syarat ? Syarat apa yang ibu inginkan ?" Tanya Akira terdengar ragu.


Dengan cepat wanita cantik itupun tersenyum lebar dengan aura berbunganya yang sudah terpancar keluar dari tubuhnya, membuat Akira semakin kebingungan dengan reaksi aneh sang ibu.


"Lakukan pertunangan sungguhan dengan Kinan, tentu saja kalian juga akan menikah nantinya. Dan kau tidak boleh menolak syarat ini" Tuturnya masih dengan senyuman lebarnya.


"Ha ? Tu-tunangan ? Dengan Kinan ?" Tanya Akira membuat Karina mengangguk mantap.


"Bagaimana bisa aku bertunangan dengan orang yang tidak ku cintai ?" Lanjutnya bergumam sambil melirik ke sembarang arah.


"He... jadi kau tidak mencintainya ? Padahal ibu perhatikan kau mulai tertarik padanya. Saat ibu menyebut nama Bayu, wajahmu juga terlihat kesal" Oceh Karina sedikit kecewa, tapi wajahnya kembali berbinar dengan cepat.


"Pokoknya kalian harus bertunangan, satu-satunya cara untuk menyelamatkan reputasi pak.Arya adalah dengan melakukan pertunangan asli dengan putrinya. Jadi semua media tidak akan mempercayai semua bukti yang dimiliki oleh Bayu dan Kiara saat mereka mempublikasikannya. Bagaimana ?" Lanjutnya membuat putranya merenung.


***


Sudah tiga hari aku keluar bersama Bayu, tapi sampai saat ini aku belum bisa menemukan semua bukti yang dia sembunyikan. Heandphonenya juga tidak pernah lepas dari tangannya, padahal aku sangat ingin memeriksanya.


'Apa aku...' Batinku sambil melirik ke arah Bayu yang berjalan disampingku, kemudian kembali menatap nomor asing dilayar heandphoneku, 'Akan ku lakukan !' Lanjutku memantapkan hatiku.


"Aku ingin ke toilet dulu" Ucapku saat kami baru memasuki sebuah kafe sederhana diujung kota.


"Kalau begitu, aku yang akan memesankan makanan untuk kita" Tuturnya sambil tersenyum ramah, dan berjalan kesebuah meja di dekat jendela.


Dengan cepat aku pergi kearah toilet, tentu saja itu hanya alasa saja. Yang ku lakukan sekarang hanya mengawasi Bayu di balik tembok menuju toilet, lalu mulai menelpon nomor asing itu diheandphoneku.


Belum ada jawaban, telponku belum diangkat. apa mungkin bukan dia ? pikiranku mulai berkeliaran menatap cemas pada sosok Bayu yang begitu misterius bagiku.


Tapi saat aku merasa bukan dia, tiba-tiba saja dia meraih deandphone di saku jas abunya. Dan suara seorang pria terdengar dari heandphoneku sontak membuatku terkejut.


'Suaranya...' Batinku berkeringat dingin saat mengetahui bahwa suara itu sangat mirip dengan Bayu, dan saat aku melihatnya, dia juga sedang menelpon seseorang. Rasa curigaku semakin besar saat suara itu terus-terusan mengucap kata "Hallo" sama dengan gerak bibir Bayu.


"Hallo ?" Suara itu kembali mengejutkanku, dengan cepat ku matikan sambungan telponnya dan berjalan kemeja tempat Bayu duduk. Biar bagaimanapun aku tidak boleh terlalu lama pergi.


'Untung saja aku menggunakan nomor pribadi yang baru ku beli kemarin. Dan lagi, sekarang aku tau siapa yang mengirimkan pesan itu padaku...' Batinku menatap tajam pada Bayu yang sedang asik memesan menu makanan setelah memasukan kembali heandphonenya kedalam saku jas abunya.


xxx