
Tubuhku benar-benar terasa lelah sekarang, setelah berlarian kesana kemari untuk menaiki beberapa wahana ekstrem bersama dengan Megan.
Waktu pun sudah semakin sore, kami berpisah cukup lama dari Dea dan yang lainnya. Berlarian tanpa arah dan berakhir di dekat bianglala.
"Sudah jam segini, mereka dimana ya?" Tanya Megan sambil memperhatikan jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.
"Sepertinya kita terlalu bersemangat sampai melupakan mereka." Gumamku merasa tidak enak.
Sudah lama aku tidak keluar dari rumah, dan ini pertama kalinya aku keluar rumah lagi untuk bersenang-senang setelah melakukan beberapa perkerjaan sulit.
"Padahal aku kira mereka akan mengekori dibelakang kita." Guman Megan dengan wajah lesunya.
"Tunggu di sini saja, nanti juga mereka datang." Tuturku sambil duduk di salah satu bangku yang tersedia disekitar sana.
"Biar ku coba telpon." Ucap Megan sambil mengeluarkan heandphonenya dan mulai menelpon seseorang, mungkin dia menelpon kakaknya.
"Tidak ada jawaban." Lanjutnya memasang wajah sedihnya yang bahkan aku tak tertarik untuk menghiburnya.
***
"Akira?" Ucap seorang perempuan cantik bertubuh tinggi dengan heels yang dikenakannya. Rambut panjangnya juga terurai tertiup angin membuat mata pria itu membelalak saat melihat si pemilik suara yang memanggil namanya.
"Ternyata benar Akira, bagaimana kabarmu? Sepertinya kau baik-baik saja ya." Lanjutnya sambil menunjukan senyumannya.
'Kenapa?' Batin Akira bertanya-tanya saat melihat wanita dihadapannya, tatapannya seolah tak menyukai kehadirannya.
"Siapa?" Tanya Dea yang masih berdiri di samping Akira, menatap heran pada wanita yang berdiri di hadapannya.
"Eh ada gadis cantik disini, apa dia?" Tanya wanita itu melirik ke arah Dea dan langsung menghadapkan tubuhnya pada gadis itu, "namaku Kiara, mantannya Akira. Senang bertemu denganmu." Lanjutnya membuat Dea tersentak.
"Ma–mantan?" Gumam Dea merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya sambil melirik ke arah Akira berharap dia mendapat penjelasan dari pria itu.
"Siapa namamu?" Tanya wanita bernama Kiara itu sambil menggenggam tangan Dea dan menatapnya dengan tatapan berseri-serinya.
"De–Dea, namaku Dea." Jawab Dea tergugup.
"Dia pacarmu kan Akira? Kenapa tidak mengenalkannya padaku jauh-jauh hari?" Tanya Kiara sambil melirik kearah Akira.
"Pa–pacar?" Gumam Dea merasa malu.
"Kau sudah pulang dari Paris ternyata." Tutur Akira mengalihkan pembicaraannya dan menunjukan ekspresi datar seperti biasanya.
"Ya, sudah satu minggu." Jawabnya sambil tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam tangan Dea, "jadi siapa dia?" Lanjutnya kembali bertanya.
Dengan ragu Akira pun merangkul Dea dan tersenyum kearah Kiara, "Dia pacarku, cantik kan?" Ucap Akira melirik kearah Dea yang sudah merona dan kembali melirik ke arah Kiara yang sudah memasang ekspresi datarnya, seolah tidak suka dengan jawaban yang diberikan oleh Akira.
"Ho, jadi kau beneran sudah move on ya." Gumamnya.
Tak lama kemudian tampak sepasang kekasih yang berjalan mendekati mereka bertiga.
"Akira." Ucap seorang wanita yang sudah berdiri dihadapannya, "he siapa dia?" Lanjutnya bertanya dengan tatapan menggodanya saat melihat Dea yang masih dirangkul oleh Akira.
"Wulan, Dev ...." Gumam Akira saat melihat mereka.
"Apa jangan-jangan dia yang kau ceritakan itu ya?" Tanya seorang pria disamping Wulan sambil tersenyum lebar kearahnya, membuat Akira memalingkan wajahnya dari Dev.
Wulan adalah sahabat baiknya Kiara. Sedangkan Dev, dia adalah sahabat baiknya Akira. Mereka sudah lama saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah.
"Kalian juga sedang berlibur ya?" Gumam Akira balik melihat ke tiga teman lamanya yanh masih setia berdiri dihadapannya.
"Jadi siapa dia? Kenalkan padaku." Tanya Wulan begitu antusias memperhatikan kecantikan Dea.
"Pacar barunya Akira." Jawab Kiara sambil tersenyum kearah Wulan.
"Serius?" Tanya Dev memasang wajah terkejutnya menatap kearah Akira yang masih membisu, sedangkan Dea hanya bisa menunduk.
'Ke–kenapa aku tidak bisa menyangkalnya? Padahal aku bukan pacarnya, tapi rasanya ... senang bisa dianggap begitu oleh kak Akira, tapi ....' Batin Dea mengoceh.
"Si–siapa?" Tanya Wulan berkeringat dingin saat melihat wanita itu menatap Akira dengan tajamnya.
"Kak–kak Kinan te–tenanglah." Ucap Megan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kakak." Lanjut Dea yang tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.
"Panasnya." Gumam Fani yang juga sudah bergabung dengan Kinan dan Megan.
"Kinan?" Ucap Akira berkeringat dingin, 'apa dia mendengar pembicaraan kami?' Lanjutnya bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa kalian lama sekali? Aku lelah menunggu di dekat bianglala!" Tutur Kinan merubah ekapresinya menjadi begitu menggemaskan.
"He?" Ucap Dea dan Fani bersamaan. sedangkan Megan dan Akira, mereka malah memasang wajah bingungnya.
"Ma–maafkan aku, tadi kami ...." Jelas Dea merasa takut saat melihat kelakuan kakaknya yang tidak seperti biasanya.
"Kau bahkan tidak menjawab telponku." Lanjut Megan merasa kesal pada kakaknya.
"Siapa mereka?" Tanya Dev.
"Mereka semua teman-temanku, Kinan, Fani dan Rafa," jawab Akira memperkenalkan mereka satu persatu, "dan adik ku Megan." Lanjutnya mengakhiri perkenalannya sambil menepuk bahu Megan yang sudah berdiri disampingnya.
"Kau punya adik? Tak bisa di percaya." Tutur Wulan memasang wajah berseri-serinya menatap ketampanan Megan.
"Karena kalian disini, bagaimana kalau kita lakukan double date yang sempat batal itu?" Saran Dev sambil melirik ke arah Dea.
Aura kesal Kinan semakin menebal, membuat Fani refleks menggandeng tangan Rafa dan Megan mengambil inisiatif untuk mundur satu langkah, mengambil jarak aman dari ancaman yang dirasakannya.
Akira yang mengerti dengan situasi itu hanya bisa mematung di tempatnya, lalu tiba-tiba Kinan menghembuskan nafas lelahnya dan melepaskan tangan Dea setelah melirik ke arah Kiara yang terus menatap tajam kearah adiknya. dan matanya juga sempat melirik kearah wajah Dea yang masih merona.
"Untuk kali ini akan ku biarkan." Ucap Kinan sambil melepaskan tangan adiknya dan menepuk bahu Akira, meloloskannya dari hukuman yang ingin diberikan pada pria itu. Kemudian melangkah pergi menjauhi mereka semua sambil memegangi mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Kak Kinan?" Ucap Fani dan Megan bersamaan.
"Ada apa dengannya?" Gumam Dea melihat punggung kakaknya yang berjalan menjauhi mereka dengan aura kesalnya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Dev mencoba mengalihkan perhatian Akira dari Kinan.
"Kami harus segera pulang. Lain kali saja." Jawab Akira sambil tersenyum pada mereka bertiga.
"Apa ini artinya kita tidak jadi naik bianglala? Bukannya tadi kak Kinan ingin naik wahana itu bersama-sama?" Tanya Fani kepada Rafa.
"Biar aku menyusulnya." Ucap Megan sambil berlari mengejar Kinan.
"Bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, kita harus mengobati lukanya kan?" Jelas Rafa membuat Dea dan Akira menatap kearahnya dengan panik.
"Luka? Luka apa? Dia terluka? Kenapa bisa?" Tanya Dea benar-benar panik.
"Itu ...." Jawab Fani terhenti saat melihat Dea yang tiba-tiba berlari mengejar kakaknya.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Akira pada ketiga sahabatnya dan bergegas menyusul Kinan bersama dengan Rafa dan Fani, 'kalau diperhatikan lagi sudut bibirnya ... aku terlalu fokus pada tatapan matanya.' Lanjutnya sambil mengingat wajah Kinan yang menatapnya dengan tajam sebelum dia pergi.
***
"Kenapa harus bertemu denganya disini?" Gumamku benar-benar merasa kesal sambil memegangi sudut bibirku yang berdarah.
'Padahal aku hanya ingin bersenang-senang dengan Dea, tapi kesenanganku berakhir dengan cepat. aku benar-benar tak ingin berkeliaran lagi ....' Lanjutku menggerutu dalam hati.
Mengingat kejadian tak terduga seperti itu, benar-benar membuat kepalaku berdenyut. bisa-bisanya dia menamparku dengan tenaga seperti itu di depan umum.
"Padahal itu semua sudah lama berlalu, tapi aku masih di anggap sebagai penjahatnya, menyebalkan." Gumamku lagi tak kuasa menahan rasa kesalku.
xxx