
"Kenapa loe gak bisa menghentikan cewe itu?" Tanya Dea merasa gemas setelah mendengar cerita Megan dan Fani, sedangkan mereka berdua hanya bisa melempar pandangan ke sembarang arah. agar tidak bertemu tatap dengan mata Dea yang terlihat penuh kekesalan.
"Saat itu situasinya ...." Jelas Megan segera dihentikan oleh Kinan.
"Sudah ku bilang, aku baik-baik saja." Jelasnya.
"Baik-baik saja apanya? Wajahmu ditampar loh. Sudut bibirmu juga sampai seperti itu, seberapa besar tenaga yang dia gunakan untuk menampar wajah kakak ku ini? Berani-beraninya dia melakukan hal itu. Awas saja ya, aku tidak akan melepaskannya begitu saja." Tutur Dea sambil mengepalkan jari tangannya dengan gemas.
"Ini, gunakan ini untuk mengompresnya." Tutur Akira yang baru kembali dari suatu tempat, entah pergi kemana dia. Yang pasti dia memberikan sapu tangan dan air es ketangan Kinan. lalu wanita itupun menerimanya.
"Sudah sudah, sebaiknya kita pulang sekarang. Atau mau makan dulu? Aku sampai lupa kalau kita bawa makanan." Ucap Fani berusaha menenangkan Dea.
"Makan? Kebetulan sekali, aku sangat lapar setelah berlarian kesana kemari." Tutur Kinan memasang ekspresi berbinarnya.
"Dia ini." Guman Dea merasa sedikit lega dengan sikap kakak nya yang masih sama seperti biasanya.
Kemudian merekapun mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perut. Setelah selesai makan, mereka pun langsung kembali keparkiran dan bergegas untuk pulang.
"Kau yang menyetir." Ucap Akira sambil memberikan kunci mobilnya ketangan Megan saat melihat Kinan sudah masuk ke dalam mobilnya dan mulai memejamkan matanya.
Megan yang menerima kunci itu hanya menatap bingung ke arah kakaknya yang sudah naik kedalam mobil, duduk bersebelahan dengan Kinan.
"Se–serius?" Tanya Megan melihat wajah kakaknya di balik jendela, dan bergegas masuk ke dalam mobil, "Kenapa aku yang menyetir?" Lanjutnya bertanya.
"Aku lelah dan ingin tidur. Semalam aku pulang larut, jadi kau yang menyetir. Gantikan aku." Jelas Akira mulai memejamkan matanya, seolah tak ingin mendengar alasan apapun lagi dari Megan.
"Hee...?" Ucap Megan masih tak percaya
"Udah sih, loe yang bawa mobilnya. Kakak loe kecapean, gak kasian apa?" Ucap Dea membuat Megan membenarkan posisi duduknya dan segera memasang sabuk pengamannya, lalu Megan mulai mengemudikan mobilnya melaju cukup cepat keluar dari parkiran menuju jalan raya.
Semua orang di dalam mobil kecuali Megan dan Dea, mereka sudah terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena kelelalahan.
"Loe gak tidur?" Tanya Megan memecah keheningan sambil melirik kearah Dea yang sedang sibuk memperhatikan beberapa foto yang dia ambil bersama Akira, saat mereka semua berpisah darinya.
"Gak ngantuk." Jawab Dea sangat singkat tanpa melirik kearah Megan.
'Dih ....' Batin Megan merasa sedikit kesal dengan reaksi Dea yang tidak mengacuhkannya.
***
Pagi ini tubuhku rasanya remuk semua, mungkin karena kemarin terlalu bersemangat, berlarian gak karuan naik ini dan itu. Padahal tubuhku sudah terbiasa di dalam rumah, santai dan rebahan.
Kemarin, tiba-tiba digunakan untuk bersenang-senang. Sudah pasti rasanya remuk dan pegal-pegal, bahkan wajahku terasa sakit sekarang. Mungkin karena tamparan yang diberikan oleh Manda. Tamparan yang menyakitkan, dan bertenaga.
Setelah bermalas-malasan cukup lama diatas tempat tidur, dengan cepat aku membereskan tempat tidurku dan membuka jendela kamarku. Lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, dengan berlari keluar kamar sambil membawa handuk dan pakaian ganti.
"Sudah bangun?" Tanya Akira yang sedang duduk manis di sofa ruang tengah, sofa yang menghadap langsung ke arah pintu kamarku. aku yang mendengarnya langsung mematung ditempat.
"A–apa? aku kesiangan?!" Lanjutku segera bergegas ke kamar mandi saat sadar kalau aku bangun kesiangan.
Setelah selesai mandi dan mencuci rambut, aku langsung keluar dari kamar mandi dengan mengenakan sweater berwarna merah dan celana jeans dibawah lutut.
"Dea kemana?" Tanyaku pada Akira yang masih anteng duduk di sofa ruang tengah. sedangkan tanganku masih sibuk mengeringkan rambutku dengan handuk.
"Pergi sama Megan." Jawabnya tanpa melirik sedikitpun kearahku.
"He ...." Gumamku sambil berjalan kearah komputerku dan tanganku langsung meraih kursi putar yang dimasukan kedalam meja, lalu tangan satunya sibuk menyalakan komputerku.
"Baru bangun sudah buka komputer. Apa gak sebaiknya sarapan dulu? dan sisir rambutmu dulu." Tutur Akira tak ku perdulikan.
"Sekarang sudah masuk tanggal 29 desember ya, berarti tiga hari lagi masuk tanggal 1 januari. Kira-kira hadiah apa ya yang diinginkan Dea?" Gumamku sambil menyenderkan tubuhku dan memainkan kursi putarku dengan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Tahun baru tinggal beberapa hari lagi ya ...." Gumam Akira membuatku melirik kearahnya yang sibuk meminkan heandphonenya.
'Dia sibuk dengan heandphonenya tapi masih merespon gumamanku, padahal suaraku terdengar pelan. Sebenarnya telinganya itu setajam apa?' Batinku kembali memperhatikan layar komputerku dan terus memikirkan hadiah apa yang bisa ku berikan pada Dea di hari ulang tahunnya.
Aku jadi benar-benar merasa kalau kami ini adalah anak kembar. Bagaimana tidak, aku lahir diakhir tahun dan Dea lahir diawal tahun. Benar-benar suatu kebetulan yang ... atau memang sudah direncanakan oleh orang tuaku ya?
'Apa yang aku pikirkan? Fokus pada hadiahnya saja.' Batinku menyadarkan pikiranku yang mulai melantur kemana-mana.
"Kinan." Ucap Akira membuatku refleks melihat kearahnya membuat mata kami saling bertemu.
"Bagaimana dengan wajahmu?" Lanjutnya bertanya.
"Lebih baik." Jawabku sambil memperhatikan layar komputerku lagi.
"Dan lagi, Aku masih tidak terima ya kalau kau menggunakan adik ku sebagai pacar bohonganmu, aku sudah dengar penjelasannya kemarin malam dari Dea. Aku ...." Tuturku meluapkan semua emosiku dan menatapnya dengan kesal.
"Lagipula kami tidak akan bertemu lagi." Ucap Akira memotong ucapanku.
"Aku tidak percaya! Pokoknya kalau kau sampai membuat harapan palsu kepada adik ku, dan sampai melukai hatinya. Aku tidak akan ragu untuk menghajarmu." Jelasku masih dengan emosi yang meluap-luap.
"Kau ini benar-benar aneh ya. Padahal tadi biasa saja, sekarang tiba-tiba mengamuk. Tidak imut sama sekali ...." Tutur Akira sambil bangkit dari tempat duduknya membuatku sedikit tersentak saat mendengar kalimat terakhirnya.
"Aku tidak perduli. Pokoknya aku akan–" Ucapku kembali dihentikan olehnya.
"Aku mengerti aku mengerti, jadi tutup mulutmu." Tuturnya dengan nada pasrah sambil berjalan kearah pintu keluar.
"Jangan melarikan diri! Aku belum puas mengomelimu! Cepat kembali kesini oiii!!" Teriak ku tak di dengarkan, benar-benar membuatku kesal.
'Tapi Dea pergi kemana dengan Megan? bukankah waktu belanja mingguan itu besok lusa?' Lanjutku dalam hati setelah menghela nafas pasrah dengan sikap Akira yang memang selalu membuatku jengkel.
xxx