Dea & Kinan

Dea & Kinan
83. Secret Admirer



Waktupun berlalu dengan cepat, acara makan malam telah usai. Semua tamu undangan telah meninggalkan kediaman keluarga Wira, meninggalkan keluarga Pak Arya dan Delia yang masih duduk ditempatnya memperhatikan Kinan yang sedang digoda oleh Akira ditempat duduk Kinan.


"Mobilnya sudah siap nona." Tutur Dafa mengejutkan wanita berambut pirang itu.


"Aku akan berpamitan dulu kepada yang lainnya," jelasnya sambil bangkit dari tempatnya, meninggalkan Dafa yang masih mematung ditempatnya.


"Hee... apa ini artinya mereka benar-benar sudah bertunangan?" Gumam Dafa saat melihat Akira meraih rambut Kinan dan memainkannya dengan tangan kanannya, Sedangkan Kinan hanya bisa menatapnya jengkel. Berusaha melepaskan tangan Akira dari rambutnya, bahkan rona merah diwajahnya sudah tak bisa disembunyikan lagi.


"Ayo pergi!" Ucap Delia melewati Dafa setelah berpamitan pada tuan rumah yang mengundang keluarganya.


'Disaat seperti ini ayah malah tidak bisa datang ... kenapa juga dia mengirimku sebagai perwakilan keluarganya,' batinnya menggerutu kesal.


Disisi lain, Karina sedang asik berbincang dengan Hanum. Memperhatikan putra pertamanya yang semakin dekat dengan Kinan. Sedangkan Wira dan Arya, mereka sedang sibuk membahas soal kerja sama mereka dalam memajukan pertanian keluarga Arya.


"Mereka sibuk sekali ...." Gumam Dea merasa bosan memperhatikan kedua orang tuanya didekat pintu keluar.


"Ayo pulang De!" Ajak Kinan yang berhasil lolos dari genggaman Akira.


"Sudah selesai berduaannya?" Tanyanya segera mendapatkan cubitan gemas yang diberikan Kinan.


"A-aw aw swakit ... ampun ampun ...." Tutur Dea berusaha melepaskan tangan kakaknya itu.


"Ayo pulang! Aku sudah berpamitan pada tante Karina dan ibu, besok kau harus sekolah kan?" Jelas Kinan sambil melepaskan cubitannya.


"Pekerjaan rumahku belum dikerjakan!" Teriak Dea merasa panik dan segera mengejar langkah kakaknya.


***


"Uwah hujan," gumam Dea melihat rintik hujan dibalik kaca mobil yang ditumpanginya.


"Kenapa harus malam-malam begini turun hujannya?" Lanjutnya memasang ekspresi murungnya.


'Kalau begini aku tidak akan bisa fokus belajar. Udara dinginnya pasti akan membuatku tidur lebih cepat dari biasanya...' Batinnya.


"Bagus kan malam hari turun hujannya? Jadi besok pagi udaranya lebih segar. Dan lagi aku bisa bermalas-malasan dibawah selimut sepanjang malam." Tutur Kinan menyadarkan Dea dengan ekspresi berseri-serinya.


"Jangan bilang kau mau begadang nonton anime?!" Tanya Dea membuat Kinan merinding saat merasakan aura misterius yang keluar dari tubuh adiknya.


"Ya–yah mungkin ...." Jawabnya terdengar ragu sambil memalingkan pandangannya keluar jendela.


"Kakak ini!" Ucapnya penuh penekanan sambil mencubit kedua pipi Kinan dengan gemasnya tepat pada saat wanita itu menengok kearahnya.


"A-ampun De!" Teriak Kinan berusaha melepaskan cubitan adiknya dengan mata berkaca-kaca menahan rasa sakit dipipinya.


Disisi lain...


Terlihat seorang wanita berambut pirang keluar dari dalam mobil, memasuki rumah mewahnya dengan ekspresi kesalnya.


"Kau sudah pulang nak? Bagaimana acara makan malamnya?" Tanya seorang wanita berusia 36 tahunan sambil menutup majalah yang sedang dibaca ditangannya.


"Biasa saja," jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya pada sofa lebar yang diduduki oleh wanita berambut pirang sama sepertinya.


"Dimana ayah?" Lanjutnya bertanya.


"Masih bekerja diruangannya," jawab wanita itu sambil memperhatikan raut wajah putrinya.


"Emh ... dimana Dafa?" Lanjutnya bertanya dengan perasaan ragu.


"Dia langsung pulang setelah mengantarku."


"Aku hanya merasa lelah, kalau begitu aku pergi istirahat dulu ya bu. Selamat malam." Jawabnya sambil bangkit dari tempat duduknya setelah mencium kening sang ibu.


"Selamat malam ...." Tutur wanita itu memperhatikan kepergian putrinya yang sudah berjalan menaiki anak tangga.


'Kenapa aku merasa kesal begini? Padahal rencanaku hanya memisahkan Akira dan Kinan, lalu menikah dengannya untuk merebut pertanian keluarga pak.Arya. Setelah aku berhasil ditunjuk sebagai pengurus pertanian itu, aku bisa mengubah semua hak kepengurusan dan surat lainnya atas namaku. Lalu ajukan surat cerai seperti yang diinginkan ayah ... tapi kenapa hatiku malah ... harusnya perasaan ini tidak tumbuh kan? Ayolah Delia fokus pada tujuanmu!' Batinnya terus mengoceh sepanjang perjalanan menuju kamarnya.


***


Waktu pun berlalu dengan cepat, satu minggu sejak Kinan dan Dea menghadiri acara makan malam keluarga Wira. Kini mereka kembali pada kehidupan biasanya, Kinan kembali disibukan dengan freelancenya sedangkan Dea, gadis itu kembali disibukan dengan kegiatan sekolahnya yang tersisa beberapa bulan lagi.


Disisi lain Megan sedang kebingungan dihadapkan dengan sejuta pertanyaan pada sosok penggemar rahasia yang sedang mengusiknya.


Sore ini dia juga dikejutkan dengan sebuah surat yang didapatkannya didalam kotak surat depan rumahnya. Dea yang mengetahui masalahnya pun sering kali mengejeknya sampai mereka bertengkar.


Semua surat yang didapatnya pun beragam, ada yang berisi tentang perasaan si penulis, ada juga yang berisi puisi dan pujian untuk dirinya.


"Kira-kira perempuan mana yang bisa mengirim semua surat ini setiap hari? Isi suratnya juga berhasil membuat jantungku dag dig dug gini ...." Gumam pria berambut coklat itu sambil memperhatikan semua surat diatas meja belajarnya dengan rona merah diwajahnya.


"Alamat dan nama pengirimnya juga tidak ada, benar-benar membuatku penasaran." Lanjutnya sambil meraih salah satu surat dihadapannya.


"... Aku merasa kita begitu dekat sampai aku bisa memilikimu, tapi nyatanya kau begitu jauh dari jangkauanku ...." Tutur Megan sambil membaca isi surat ditangannya lalu membolak balikan kertas merah muda ditangannya, berharap bisa menemukan nama si pengirim disana. Tapi sepertinya dia tidak bisa menemukan petunjuk dari si pengirim itu.


"Haa..." Ucapnya menghela nafas pasrah sampai akhirnya matanya kembali tertuju pada surat terakhir yang tergeletak disamping surat lainnya. Surat baru yang masih tersegel. Cepat-cepat dia meraihnya dan mengeluarkan isi surat didalam amplop berwarna merah itu.


Matanya terus menjelajah membaca semua kalimat yang tertulis didalam kertas itu, lalu pandangannya terhenti dan perlahan bola matanya melebar saat mendapati sebuah petunjuk diakhir suratnya.


Wajahnya tampak bersinar saat melihat sebuah gambar kecil disana, "Gambar cangkir teh? atau kopi? ... apa maksudnya ini? apa gambar ini ada hubungannya dengan si pengirim surat? dan lagi kenapa pake nomor 34 dicangkirnya?" Tuturnya kembali memasang ekspresi bingungnya.


"Aarrgh... kenapa ni cewe ribet bener sih?! pake teka-teki segala, tinggal tulis nama aja apa susahnya sih? ni cewe pasti ribetin deh." Lanjutnya mengoceh sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Tau ah, mending pergi ke rumah kak Kinan. Main game sambil nunggu makan malam siap ...." Putusnya sambil bangkit dari tempatnya dan segera pergi ke rumah Kinan, meninggalkan semua kebingungan itu didalam kamarnya.


Sesampainya disana Megan disambut hangat dengan ejekan Dea yang membuatnya merasa kesal setengah mati


"Kenapa musti ketemu sama loe lagi sih?" Gumamnya membuat Dea refleks menepuk bahu pria itu dengan kesalnya.


"Gak usah datang ke rumah gue kalau gak mau liat gue! Dasar bucin," Ejeknya sambil berjalan kearah dapur, meninggalkan Megan di ruang tengah.


"Loe yang bucin!" Balas Megan menghentikan langkah Dea.


"Gue gak bucin!" Teriak Dea tak mau kalah.


"Ah iya gue lupa, loe kan jomblo ya ...." Tutur Megan sambil menutup mulutnya dan memalingkan pandangannya, lalu melirik jahil kearah Dea yang sudah mengeluarkan aura membunuhnya.


"Daripada loe! Baru dapat surat dari penggemar rahasia loe aja wajah loe udah merona, padahal awalnya merasa risih, lama-lama malah nungguin surat dari penggemar loe tiap hari. Gampang banget jatuh cintanya, dasar pria." Jelas Dea berapi-api membuat wajah Megan kembali memerah saat gadis itu menyebut "penggemar rahasianya".


"I–itu karena dia lebih romantis gak kaya loe!" Teriak Megan mulai salah tingkah saat mengingat semua isi surat yang dibacanya, terutama surat-surat puisi cinta untuk dirinya.


"Ha?" Tanya Dea penuh penekanan meminta penjelasan dari perkataan Megan yang menyebutkan penggemar rahasia itu lebih romantis dari dirinya, tapi tampaknya Megan tak terlalu memperdulikan Dea. Nyatanya pria itu mulai larut dalam lamunannya sendiri, memikirkan sosok perempuan misterius yang selalu mengiriminya surat. Sosok romantis dan penuh perhatian seperti yang dia bayangkan.


"Ya meskipun sejujurnya gue yakin dia sama rumitnya kaya kebanyakan cewe lainnya ...." Tuturnya mengecilkan suaranya merasa sedih sendiri.


"Apa maksud loe? jelasin kenapa loe bisa seyakin itu kalau tuh cewe lebih romantis dari gue? dan lagi loe yakin cewe itu masih muda? bagaimana kalau dia lebih tua dari loe? terus mukanya ... masih cantikan gue kali!" Oceh Dea yang sudah meraih kerah baju Megan, tapi pria itu hanya bisa memalingkan wajahnya dari Dea. Menghindari tatapan langsung gadis itu, dan lagi pria itu mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan Dea yang mulai mengganggunya.


'Dia benar! gimana kalau cewe itu tante-tante? tapi gak mungkin ah, soalnya ada gambar cangkir itu disana. Kalau tante-tante gak mungkin gambar gambaran selucu itu kan?' Batinnya mulai memikirkan apa yang diucapkan oleh gadis galak dihadapannya.


xxx