Dea & Kinan

Dea & Kinan
106. Pertemuan



Pagi ini aku harus pergi ke sebuah perusahaan game di kota X. Kota yang berlawanan dengan tempat kerja Akira, padahal aku berniat mengunjunginya hari ini.


Tapi tiba-tiba saja aku mendapat telpon dari perusahaan game itu agar aku pergi ke kantor untuk membahas soal desain karakter game yang aku garap.


"Haaa..." Gumamku kembali menghela nafas lelah, entah sudah berapa kali aku menghela nafas lelah pagi ini. Yang pasti rasanya benar-benar berat untuk ku.


"Berhenti menghela nafas di pagi hari bodoh!" Bentak Dea sambil menjitak kepalaku dan membuatku memekik kesakitan.


"Habisnya–" Ucapku terpotong saat melihat Dea duduk di hadapanku, mengambil beberapa lauk dan nasi yang tersaji diatas meja makan.


"Habisnya apa?" Tanyanya sambil mendelik kearahku.


"Ini pertama kalinya aku melihat kak Kinan berpenampilan seformal ini dengan setelan jas dan celana hitam berbahannya ... lumayan juga." Tutur Megan mulai angkat bicara dan tak ingin menjadi pengamat pertengkaran kakak beradik dihadapannya.


"Jangan mengejek ku!" Ucap Kinan penuh penekanan membuat Megan refleks tersenyum lebar dengan salah satu tangannya yang menopang dagunya.


"Jarang-jarang melihat kak Kinan kesal karena tak bisa bertemu dengan kakak, biasanya kak Kinan paling cuek kalau soal kakak." Tutur Megan kembali menggoda wanita berambut coklat dihadapannya.


"Yah, dia kan sudah mengakui perasaannya. Dan lagi ... mungkin ini yang pertama untuknya, jadi wajar-wajar saja kalau dia bersikap seperti itu kan? Loe juga waktu pertama bucin juga gitu kan?" Tanya Dea segera mendapat jitakan balasan dari Kinan.


"Sakit bodoh!" Bentak Dea sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat pertengkaran kakak beradik ini." Gumam Megan sambil meraih gelas minumnya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 06:30 Am, Fino sudah tiba di depan rumah Kinan. Bersamaan dengan itu Dea dan Kinan juga baru keluar dari dalam rumahnya bersama Megan yang mengekori mereka.


"Hee... hari ini si Fino ganti tugas lagi ya?" Gumam Megan saat melihat pria berambut ikal itu berjalan mendekati mereka.


"Selamat pagi nona, tuan muda." Sapa Fino sambil membungkukan tubuhnya sedikit dengan tangan kanannya yang memegangi dada sebelah kirinya.


"Pagi ... hari ini ngantar kakak lagi ya?" Ucap Dea membalas sapaan Fino sambil menggendong ranselnya.


"Iya, tuan Akira meminta saya untuk menjaga nona Kinan selama dia bertugas di luar kota." Jawab Fino sambil memberikan senyuman terbaiknya.


"Yah, lagipula kau akan menganggur selama ibu tak ada di rumah, jadi kakak memintamu untuk menjaga kak Kinan." Jelas Megan sambil menyalakan mesin motornya.


"Apa aku tidak boleh bolos Fino?" Tanya Kinan dengan wajah lesunya.


"Oii." Ucap Dea sambil melirik tajam kearah kakaknya berdiri.


"Iya iya aku tau, gak boleh merepotkan siapapun kan?" Tutur wanita itu mulai berjalan ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya.


"Kalau begitu titip kak Kinan ya kak Fino." Ucap Dea sambil tersenyum ramah membuat Fino segera membalas senyumannya itu sebelum dia bergegas mengikuti langkah Kinan yang menjauhi rumahnya.


"Mau bareng gak?" Teriak Megan yang sudah nangkring diatas motornya dengan helm yang tertutup mengejutkan Dea yang sedang memperhatikan kepergian Fino dan kakaknya.


"Sabar ke." Ucap Dea segera berjalan mendekati motor Megan dan bergegas naik keatasnya.


"Pulangnya gue jemput lagi ya." Ucap Megan tak di dengarkan oleh Dea, membuat pria itu merasa gemas dan refleks mencubit paha Dea.


"Aw!" Pekik Dea refleks menepuk helm yang dikenakan oleh Megan sedangkan tangan satunya sibuk mengelus pahanya, berusaha menghilangkan rasa sakitnya.


"Makanya kalau gue ngomong tuh dengerin!" Ketus Megan mulai menancap gasnya, mengikuti kepergian mobil Fino sampai keluar perumahan.


***


Setelah sampai di depan sekolah Dea, Megan pun berpamitan pada gadis itu setelah melakukan perdebatan pagi seperti biasanya.


Meski hubungan mereka belum sampai pada tingkat pacaran, Dea memilih untuk fokus pada sekolahnya dulu dan mengesampingkan soal perasaannya. Meski terkadang dia tak bisa mengendalikan perasaannya saat pria berambut coklat itu menggodanya.


Megan yang juga mengerti dengan keinginan Dea pun hanya bisa menghargai keputusannya.


Sejujurnya pria itu sudah sempat mengutarakan perasaannya pada Dea, tapi gadis itu menolaknya dengan alasan ingin fokus sekolah dulu. Tapi sepertinya Megan tidak mengetahui alasan lainnya, alasan kenapa Dea belum bisa menerimanya.


Ya, karena Dea tau kalau Megan belum sepenuhnya move on dari kakaknya. Dia tidak ingin dijadikan pelarian dan membuat pria itu terpaksa mencintainya, jadi gadis itu memutuskan untuk menunggu Megan sampai dia benar-benar mencintai dirinya tanpa paksaan.


Ketika kebanyakan orang mengambil tindakan untuk menjauhi satu sama lain karena telah mendapat penolakan. Mereka malah terlihat semakin dekat. Ya, mungkin karena Dea mempercayai Megan, dan Megan mengetahui perasaan Dea padanya.


Jadi dia berusaha untuk menjaga perasaan gadis itu, apalagi selama ini dia hanya berpikiran sempit soal para gadis yang tak menyukainya dengan tulus. Lalu dia sampai berani mempermainkan perasaan para wanita yang ditemuinya.


Disisi lain, Kinan masih bermalas-malasan di dalam mobil dengan wajah bosannya. Berulang kali dia menghela nafas lelah yang membuat Fino tersenyum kaku dan tak tau harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa bosan yang dialami oleh Kinan.


"Berapa lama lagi kita sampai?" Tanya Kinan mengejutkan Fino.


"I–itu, sekitar setengah jam lagi nona." Jawabnya sedikit gelagapan.


"Ku harap aku bisa segera pulang ...." Gumam Kinan sambil memperhatikan gedung-gedung tinggi di kaca mobilnya.


'Bagaimana bisa pulang cepat? kita baru saja pergi, kenapa sudah memikirkan untuk pulang?' Batin Fino kembali merasakan suasana canggung yang diciptakan oleh Kinan.


"Ah ya ngomong-ngomong, kapan tante Karina pulang dari London?" Tanya Kinan memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit, membuat Fino terkejut setengah mati. Pasalnya dia sedang mengingat perintah Kiara yang harus menjaga Kinan supaya tak bertemu dengan Akira dan Delia di perusahaan game kota X.


Biar bagaimanapun rencana yang sudah disusun oleh Bayu dan Kiara harus sukses tanpa kendala. Jika sampai Kinan bertemu dengan Akira secara tak sengaja dan melihat Delia melekat dengan pria itu, pasti akan terjadi kesalah pahaman diantara Akira dan Kinan. Jadi wanita itu meminta Fino untuk mencegah kemungkinan buruk itu.


Perusahaan game di kota X itu adalah salah satu perusahaan yang dikelola oleh Akira, Kinan sendiri tidak tau mengenai hal itu. Dan Akira juga tidak tau soal kerja sama perusahaan dengan calon istrinya yang berperan penting dalam pembuatan desain karakter gamenya.


"Fino?" Suara Kinan menyadarkan pria itu.


"Iya–mungkin tiga hari sebelum acara pernikahan nona dengan tuan Akira." Jawab Fino sambil memberikan senyuman terbaiknya dengan matanya yang fokus pada jalanan.


"Aku melupakannya," gumam Kinan sambil mengingat kembali suara Karina yang mengumumkan tanggal pernikahannya dengan Akira.


'Itu berarti sepuluh hari dari sekarang acara pernikahannya akan dilaksanakan ya?' Lanjutnya dalam hati sambil merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat, mengingat ketidak siapan dirinya dalam menghadapi kehidupan baru yang akan dijalaninya dalam waktu dekat.


"Sudah sampai nona." Suara Fino menyadarkan lamunan Kinan.


"He? Ha–iya." Ucap wanita itu gelagapan sambil tersenyum kaku.


'Tadi aku melamun ya? Seberapa lama?' Lanjutnya dalam hati berusaha mengingat durasi melamunnya yang membuatnya lupa diri. Sampai tak sadar kalau dia sudah sampai di perusahaan game yang dituju.


Fino yang sudah keluar lebih dulu pun segera membukakan pintu mobil Kinan, membuat wanita itu bergegas keluar dari dalam mobil hitam itu.


"Terima kasih." Ucapnya setelah keluar dari dalam mobilnya sambil menyibak rambutnya ke belakang saat tiupan angin menerpa rambut panjang tergerainya.


"Mari saya antar ke ruang pertemuannya nona." Tutur Fino memimpin perjalanan mereka menuju ruang yang dimaksud olehnya.


'Semoga saja tuan Akira tidak datang keperusahaan ini, ya dia memang harus bekerja di perusahaan lain selama satu minggu kan? Jadi mana mungkin tuan akan muncul di kantor ini.' Batin Fino terus mengoceh mengkhawatirkan sesuatu yang mengganggunya.


'Gedungnya cukup besar ya ... kenapa semua orang memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang salah dengan pakaianku? Atau ada sesuatu di wajahku?' Batin Kinan merasa tak nyaman dengan tatapan para karyawan yang ditemuinya di lobi kantor, bahkan mereka mulai berbisik-bisik tak jelas.


"Haah ...." Ucap wanita itu sambil menghela nafas lelahnya membuat Fino bertanya-tanya dengan reaksi mengejutkan yang diterimanya saat mereka masuk ke dalam lift. Padahal sejak keluar dari dalam mobil, Kinan terlihat menikmatinya sampai lupa untuk mengeluh.


'Ada apa lagi dengan nona?' Batin pria berambut ikal itu bertanya-tanya.


xxx