
Setelah hari kepulangan Dea berlalu, Megan beserta keluarganya benar-benar mengantar Dea kembali ke kediamannya sekaligus melamar wanita itu untuk putra keduanya.
Kinan yang mendengar kabar itupun turut bahagia untuk adiknya yang akan melangsungkan pernikahan diakhir minggu nanti. Terbilang cepat sih, apalagi dia baru kembali dari luar negri. Tapi kekasihnya sudah melamarnya dan menentukan tanggal pernikahannya secepat itu.
Namun setelah menyelidikinya, Megan memang sudah lama melamar Dea saat dia masih sibuk dengan kuliahnya di luar negri. Dan kedatangan keluarganya ke rumah Dea hanya untuk memastikan tanggal pernikahan Megan dan Dea, tanggal yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak sebelumnya.
Dea yang sempat terkejut pun hanya bisa pasrah dengan semua kemendadakan ini, bahkan Kinan pun tak diberitau mengenai hal ini oleh kedua orang tuanya karena dilarang oleh Karina. Bahkan ibunya Megan pun sempat ingin membocorkan kejutan ini pada menantunya, tapi dilarang keras oleh putranya itu. Alhasil kejutan itupun berhasil mengejutkan Dea beserta sang kakak.
Dea yang disibukan dengan pekerjaannya di rumah sakit pun harus pintar-pintar mencari waktu untuk menyiapkan gaun pengantinnya. Bahkan Megan pun mulai melonggarkan jadwal pekerjaannya di rumah sakit, apalagi saat tanggal pernikahannya semakin dekat.
Disisi lain Kinan juga semakin sibuk dengan pekerjaannya di toko, apalagi dia ditunjuk langsung untuk mengurus kue pernikahan adiknya oleh sang ibu mertua yang mempercayainya.
Sedangkan Akira, dia terpaksa harus menjaga Bintang dan Bulan selama istrinya sibuk di toko.
***
Hari bahagia sudah di depan mata, terlihat sosok Kinan yang sedang berias di depan cermin dengan gaun biru muda polos berlengan pendek sampai kesiku.
Disisi lain terlihat sosok Akira yang sedang duduk diatas sofa dekat tempat tidurnya. Pria itu sudah bersiap dengan jas hitam yang dikenakannya, rambutnya pun sudah ditata rapi sedemikian rupa.
"Mama masih lama?" Suara Bintang yang memasuki kamar Kinan diikuti oleh langkah adiknya.
Akira yang sempat sibuk dengan heandphonenya pun langsung memasukannya kedalam saku celananya saat melihat kedua malaikat kecilnya masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian datang." Ucap Akira sambil berjalan mendekati mereka.
"Ayah ...." Gumam Bulan dengan mata berbinarnya, menatap sang ayah dengan penuh rasa kagum.
"Ada apa?" Tanya Akira langsung berjongkok dihadapan putrinya itu, sedangkan Bintang hanya bisa melambai-lambaikan tangannya didepan wajah sang adik yang belum juga berkedip melihat ketampanan sang ayah.
"Ayah benar-benar tampan hari ini." Puji Bulan pada akhirnya dengan senyuman lebarnya.
"Hhaha... benarkah? Hanya hari ini saja?" Tanya Akira tak kuasa menahan tawanya.
"Tidak, setiap hari ayah memang terlihat tampan. Tapi hari ini lebih tampan dari biasanya ...." Jelasnya masih dengan tatapan berbinarnya.
"Omong kosong. Dilihat darimanapun aku lebih tampan dari ayah." Tutur Bintang sambil memalingkan wajahnya dengan salah satu tangannya yang berkacak pinggang.
"Pft ...." Suara Kinan yang berusaha untuk menahan suara tawanya.
"Kakak? Tidak-tidak, jelas-jelas ayah lebih tampan." Sangkal Bulan sambil memeluk Akira dengan riang.
"Benar sekali, tak ada yang bisa mengalahkan ketampanan ayah kan?" Tutur Akira sambil mencium pipi Bulan dengan gemasnya.
"Benar. Ayahku paling tampan dari pria manapun." Ucapnya sambil mengangguk mantap.
"Kau dengar Bintang?" Goda Akira membuat putranya jengkel.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Jagoan mama sama tampannya seperti ayah. Lagipula kalian kan anak dan ayah," ucap Kinan berusaha melerai pertengkaran mereka.
"Mama hari ini juga terlihat lebih cantik dari biasanya ya." Tutur Bintang sambil melirik jahil kearah Bulan, berharap gadis kecil itu akan merasa kesal padanya. Tapi sepertinya Bulan terlihat baik-baik saja dan tak terganggu dengan pujian sang kakak pada ibunya.
"Benarkah?" Tanya Kinan segera menunjukan senyuman terbaiknya.
"Istri ayah memang sangat cantik kan?" Tanya Akira menyombongkan sosok Kinan kepada putranya itu.
"Hayo ayah gombalin mama lagi." Ucap Bulan membuat Kinan tak kuasa menahan tawanya begitupun dengan Bintang.
***
Aku benar-benar tak bisa berhenti tersenyum saat mendengar suara putra-putriku yang sedang memperdebatkan soal pesta pernikahan bibinya hari ini.
Mereka benar-benar terlihat lucu saat mengenakan pakaian serasi seperti itu, jas putih dengan pita merah yang melingkar dileher Bintang. Lalu gaun putih berenda selutut dengan pita merah yang terikat dirambut panjangnya. Pemandangan itu benar-benar membuatku merasa gemas sendiri.
"Berhentilah memakan makanan manis, bukankah gigimu berlubang?" Suara Bintang terdengar begitu tegas dibangku belakang.
"Selain itu pipimu akan tambah tembem jika kamu banyak memakan makanan manis." Lanjutnya setelah menghela napas lelah.
"Biarin." Ucap Bulan tak memperdulikan ucapan kakaknya.
"Kamu bilang ingin menjadi cantik seperti mama kan? Kalau pipimu jadi tembem, maka kamu tidak akan bisa jadi secantik mama nanti." Jelas Bintang membuatku terkekeh.
"Hee..." Gumam Bulan terdengar sedih, ku lihat matanya sudah berkaca-kaca dari pantulan kaca spion mobil.
"Jangan khawatir, meski pipimu tembem. Putri ayah tetap terlihat cantik kok." Tutur Akira berusaha menghibur Bulan yang ternyata juga memperhatikan putrinya dari pantulan kaca spion.
"Benarkah?" Tanyanya.
"Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum hangat membuatku mengangguk setuju dengan ucapan suamiku itu.
Jadi hari ini kami berangkat pagi-pagi sekali supaya tak terlalu siang datangnya. Mengingat perjalanan kami cukup jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam.
"Mama, apa disana nanti ada tante Kiran?" Tanya Bintang memecah keheningan di dalam mobil.
"Tentu saja, kenapa menanyakannya?" Jawabku sambil menengok kearah Bintang yang duduk dibelakang.
"Tidak ada, hanya menanyakannya saja." Jawabnya sambil tersenyum manis membuatku bingung.
Anak ku yang satu ini memang dekat dengan Kiran, setiap kami berkunjung ke rumah ibu. Wanita itu pasti selalu datang membawakan hadiah untuk Bintang dan Bulan. Mungkin karena itu Bintang jadi lengket dengannya, sedangkan Bulan, putriku itu malah lebih lengket dengan Fino.
Aku sendiri tak begitu tau cerita dibalik kedekatan mereka, yang ku dengar Fino pernah membantu Bulan untuk memilihkan hadiah ulang tahun untuk ayahnya. Lalu membawanya jalan-jalan ke taman bermain.
Mungkin karena itu mereka jadi dekat sampai Akira juga merasa cemburu dengan kedekatan putrinya dengan Fino.
Ku lihat pemandangan yang tersaji disepanjang jalan, memperlihatkan deretan gedung tinggi dan beberapa kendaraan lainnya yang berlalu-lalang dijalan. Lalu beralih pada pesawat terbang diatas langit cerah yang terlihat melintas disamping kaca jendela bagianku, membuat suasana hatiku terasa lebih baik dari biasanya.
Mungkin karena hari ini adalah hari bahagianya Dea jadi suasana hatiku terasa lebih baik sekarang.
'Tidak, bukan seperti itu ....' Batinku saat memperhatikan putra-putriku yang sudah terlelap di bangku belakang, lalu berganti pada sosok Akira yang sudah tersenyum manis menatapku dan kembali memperhatikan jalanan dihadapannya.
Kebahagiaanku saat ini, semuanya terwujud karena adanya Akira disampingku.
"Berhentilah menatapku seperti itu, aku tau aku tampan. Tapi jika kau terus menatapku seperti itu, bisa-bisa aku hilang akal nanti." Suara Akira membuatku terkekeh.
"Kenapa? bukankah kau menyukainya?" Godaku segera mendapatkan cubitan dipipiku, membuatku refleks berkata "Aw." padanya.
"berhenti menggodaku. kau lupa Bintang dan Bulan ada bersama kita sekarang?" Tuturnya membuatku terkekeh.
Rupanya suamiku ini tak ingin terlihat malu-malu dihadapan putra-putrinya, makanya sejak tadi dia tak banyak bicara dan hanya fokus pada kemudinya. Padahal biasanya dia akan banyak bicara jika sedang berduaan denganku.
***
Sesampainya di kediaman Karina, Akira bersama istri dan anak-anaknya pun segera turun dari dalam mobilnya dan bergegas masuk kedalam rumah mewah dihadapannya.
Bersama para tamu yang terus berdatangan Bintang dan Bulan berlarian menghampiri kedua nenek dan kakeknya yang sedang berbincang tak jauh dari tempat Dea dan Megan berdiri sekarang.
Sedangkan Kinan masih berjalan santai sambil menggandeng tangan Akira mengikuti langkah putra-putrinya yang sudah berhambur ke pelukan sang nenek.
Dea yang melihat kedatangan Bintang dan Bulan pun langsung melambaikan tangannya pada kedua keponakannya itu.
"Wah bibi Dea sangat cantik hari ini." Puji Bulan memperhatikan Dea dengan mata berbinarnya.
"Gaunnya juga sangat indah." Lanjutnya membuat Karina dan Hanum tersenyum gemas saat melihat ekspresi cucu mereka.
"Bintang mau foto sama om Megan dong yah." Suara Bintang sambil menarik lengan jas Akira dan menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah sang ayah.
"Tunggu sampai mereka selesai menyapa para tamu ya." Jawab Akira sambil tersenyum dan meraih puncak kepala pria kecil itu.
Dea dan Megan terlihat begitu sibuk menyalami para tamu undangan yang mendekati mereka dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, bahkan sebagian dari mereka melakukan cupika-cupiki dengan pasangan pengantin itu.
"Nenek, Bulan laper." Suara Bulan yang sudah di gendong Hanum.
"Mau makan kue?" Bisik sang nenek segera mendapatkan anggukan cepat dari cucunya itu.
"Kalau begitu, kalian makan dulu. Bintang juga pasti lapar kan nak?" Tutur Karina yang mendengar percakapan Bulan dengan neneknya.
"Ya sudah kalau begitu kami makan dulu ya bu." Ucap Kinan segera meraih tangan Bintang dan mengikuti langkah ibunya yang sudah berjalan kearah kursi kosong dengan menggendong Bulan dipangkuannya.
Kinan dan Akira bergantian menyuapi Bintang, sedangkan Bulan terlihat anteng disuapi oleh neneknya. Setelah selesai mengisi perut, merekapun membawa Bintang dan Bulan untuk mendekati bibinya diikuti oleh Akira dan kedua orang tuanya.
Kedua keluarga sudah berkumpul didekat kedua pengantin, sang fotografer pun mengarahkan mereka untuk rileks didepan kamera. Setelah semuanya dirasa siap, fotografer pun langsung mengambil foto mereka yang menunjukan senyuman terbaik mereka.
'Ku harap kebahagiaanku hari ini terus berlanjut sampai nanti.' Batin Dea sambil menggandeng tangan Megan dengan erat.
"Terima kasih ...." Bisik Dea dan Kinan secara bersamaan memperhatikan orang yang dicintainya.
.
.
.
.
.
End~