Dea & Kinan

Dea & Kinan
33. Tuan muda ?



Terlihat sosok Akira yang sedang sibuk menelpon seseorang di kamarnya, sambil memandangi layar komputernya dengan serius. Memandangi sebuah foto seorang perempuan cantik yang pernah mengisi hidupnya dan melukainya. Menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping, kemudian meninggalkannya tanpa suara.


"Kenapa kau sangat kukuh Dev?" Tanya Akira setelah membisu cukup lama.


"Habisnya ku dengar mantanmu itu, dia sudah putus dengan pacarnya. Jadi ada kemungkinan dia akan kembali dalam kehidupanmu, jika kau sudah tak mencintainya lagi. Maka sekarang adalah kesempatan untukmu, perkenalkan pacarmu padanya di acara penyambutan kepulangannya. Kau pasti diundang oleh Kiara kan? Kesempatan bagus untuk balas dendam padanya ...." Jelas Dev panjang lebar.


"Aku tidak harus memenuhi undangannya kan? Untuk apa menemuinya lagi? Dia sudah menjadi masa laluku ...." Tutur Akira menatap foto wanita itu dengan raut wajah serius dan tatapan sendu.


'Memutuskanku begitu saja, lalu pergi ke paris tanpa memberikan kabar padaku. Tau tau sudah punya pasangan, dan sekarang ... kau sudah putus lalu kembali lagi. Sampai sejauh mana kau akan mempermainkan perasaanku?' Batin Akira merasa kesal dengan situasi yang dirasakanya.


"Kalau kau berubah pikiran, hubungi aku saja. Aku akan memberitau tempat dan tanggal perayaannya." Tutur Dev membuat Akira segera mematikan sambungan telponnya.


'Bodoh! Apa kau masih mengharapkannya? Orang yang tak bisa menghargai perasaanmu, orang yang tega melukai hatimu sampai menghancurkannya hingga berkeping-keping. Itu semua bohong kan? Akira.' Batin pria itu sambil mematikan komputernya dan menghempaskan tubuhnya pada sebuah kasur disampingnya, lalu membenamkan wajahnya pada bantal empuk dihadapannya.


Sepertinya dia sedang galau. Saat perhatiannya mulai terfokus pada salah satu saudara rusuh yang tinggal disebelah rumahnya. Secara tiba-tiba Kiara, mantannya datang kembali dan menghantuinya. Mengembalikan semua perasaan yang sempat dibuang jauh olehnya. Semua perasaan yang menyakitinya dan semua sisa cinta yang masih dia miliki untuknya.


Disisi lain, Dea sedang sibuk mencari hadiah untuk kakaknya. Karena Megan menggeretnya keluar rumah secara paksa, dan memintanya untuk menemaninya berberlanja. Memilih hadiah yang mungkin disukai oleh Kinan.


"Kenapa harus pergi sejauh ini untuk mencari hadiah ulang tahun kakak? kita kan bisa pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. barang-barang disana juga cukup bagus." Tutur Dea merasa kesal karena digeret kepusat kota yang jauh dari rumahnya.


"Karena gue maunya belanja disini." Jawab Megan memasang wajah polosnya membuat Dea menghela nafas pasrah.


"Kak Kinan gak akan mungkin suka aksesoris seperti itu." Ucap Dea menghancurkan perasaan Megan yang sedang sibuk memilihkan sebuah kalung.


"Loe kan tau dia maniak game dan anime. Kenapa gak coba cari benda yang ...." Lanjut Dea terhenti saat melihat wajah Megan yang kembali berbinar dan segera menggeretnya kesebuah toko game di dalam pusat perbelanjaan.


"Gak usah tarik-tarik tangan gue oii." Ucap Dea mulai kesal, tapi tak didengarkan.


"Uwaah... ternyata ada game baru." Gumam Megan segera berlari kearah rak game yang memajang game baru disana.


"Dia benar-benar melupakanku sekarang." Gumam Dea berjalan malas mendekati Megan, "ekspresinya... sama seperti kakak." Lanjutnya saat mengingat Kinan yang selalu memasang ekspresi berbinarnya saat melihat beberapa benda kesukaannya, atau saat mendapati action figure yang dia incar.


Saat menginginkan sesuatu dia juga akan menunjukan sisi manjanya, dengan mata puppy eyes yang membuat Dea tak bisa menolak keinginan kakaknya. Benar-benar serangan mematikan.


"Kalau ini sih game yang aku mau." Tutur Megan tampak bingung.


"Masih lama gak? Kalau masih lama gue pergi sendiri. Nanti ketemuan di tempat parkir aja." Ucap Dea mengejutkan Megan.


"Bareng-bareng lah." Ucap Megan menatap kesal kearah Dea.


"Oii tolong bungkus yang ini ya." Teriak Megan pada salah satu pelayan toko, membuat pelayan cantik itu bergegas mendekatinya.


"Yang sopan napa." Ucap Dea sambil menepak tangan pria itu dengan gemasnya.


"Dibungkus ya, jangan pake lama." Tuturnya kepada pelayan itu, tak mendengarkan ucapan Dea.


"Baik tuan, akan saya bungkuskan." Tutur pelayan itu begitu sopan.


"He?" Gumam Dea merasa heran dengan tingkah sang pelayang yang terbilang sangat sopan kepada seorang pembeli kurang ajar seperti Megan.


Tak lama kemudian pelayan itu datang kepada Megan yang sedang menunggu di dekat kasir.


"Tu–tuan muda?" Tanya Dea semakin kebingungan.


"Uangnya sudah aku transfer ya." Ucap Megan sambil melangkah pergi selagi pelayan itu memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya kearah kepergian Megan.


Dea yang sejak tadi melihat pelayan itu mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"Ya–yang tadi itu apa maksudnya?" Tanya Dea benar-benar bingung sambil terus berjalan disamping Megan.


"Ah dia salah satu bawahan kakak ku. Toko game itu milik kakak ku, dan pusat perbelanjaan ini dikelola oleh ibuku." Jelas Megan masih fokus pada jalan dihadapannya.


"Heee? Pu–pusat perbelanjaan ini? Mi–milik keluargamu? Loe gak bohong kan?" Tanya Dea benar-benar terkejut sekaligus bingung, merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ngapain gue bohong." Jawabnya sambil memasang ekspresi angkuhnya membuat Dea kesal, "Sekarang kita kemana? Loe mau beli apa?" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan sebelum Dea benar-benar menjitak kepalanya saking kesalnya.


"Hem ... beli apa ya?" Gumam Dea mulai berpikir.


"He gue kira udah mastiin mau beli apaan. Ternyata belum toh." Gumam Megan merasa dipermainkan karena diburu-buru oleh gadis itu, padahal dia masih ingin berlama-lama di toko game itu.


Saat melihat sebuah toko pakaian dengan cepat Dea menggeret Megan untuk menemaninya masuk kedalam toko itu.


"Pakaian?" Tanya Megan memasang ekspresi kakunya.


"Soalnya saat malam tahun baru, aku ingin kakak mengenakan pakaian cantik, karena dimalam itu biasanya semua orang akan berkumpul di lapangan terbuka dekat taman kompleks. Mereka datang untuk menyaksikan kembang api. Festival kecil yang rutin diadakan setiap tahunnya, tapi belakangan ini jadi ramai, dan banyak orang yang berdatangan setiap tahunnya, mungkin akan ada banyak penjual makanan, aksesoris, dan lainnya juga disana." Jelas Dea panjang lebar sambil melihat-lihat dress cantik yang mungkin cocok dikenakan oleh kakaknya.


"Hee... ada festival tahun baru? Se–seriusan?" Tanya Megan segera memasang ekspresi berbinarnya.


"Setiap tahun kami pergi kesana untuk melihat kembang api. Jadi mungkin tahun ini, kami juga akan pergi, mungkin ...." Lanjutnya menjelaskan sambil tersenyum lebar.


Entah sadar atau tidak, tapi sekadang gadis itu sudah berbicara lebih sopan kepada Megan.


"Aku ingin pergi, ingin lihat juga." Tuturnya begitu antusias dan bersemangat.


"Tapi kalau baju, rasanya ...." Gumam Dea kembali berpikir, "sebaiknya aku belikan headphone saja untuknya. Lagian kakak tidak terlalu suka dengan pakaian feminim." Lanjutnya memutuskan untuk pergi dari sana.


"Kemana anak itu?" Lanjutnya sambil memperhatikan kesemua sudut toko pakaian saat tak mendapati Megan disampingnya.


Kemudian mata Dea melihat Megan yang sedang berbicara dengan salah satu pelayan toko, lalu tak lama kemudian pelayan lainnya menyerahkan dua buah tas belanjaan ketangannya. Dea yang melihatnya hanya bisa mengernyitkan dahinya karena merasa bingung.


"Sejak kapan dia memilih pakaian? Tunggu dia beli buat siapa? Ka–kakak?" Lanjutnya bertanya-tanya sambil melihat pria itu berjalan mendekatinya sambil menyeringai penuh kebahagiaan.


"Terima kasih atas kunjungannya, silahkan datang kembali tuan muda." Tutur seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu keluar membuat Dea terkejut lagi saat mendengar pelayan itu menyebut tuan muda pada pria dihadapannya.


'Jangan bilang toko ini juga ... gila ni anak, Seberapa kaya keluarganya?' Batin Dea bertanya-tanya saat melihat semua pelayan toko memberikan hormat padanya.


"Jadi alasan dia mau belanja disini karena pusat perbelanjaan ini milik keluarganya ya ...." Lanjutnya bergumam saat menyadari semua alasan Megan yang mungkin tak ingin menghamburkan uangnya di tempat lain. jadi kalau dia berbelanja disini, dia bisa minta gratis atau potongan harga. begitulah pikir Dea.


xxx