
Waktu sudah menunjukan pukul 05:10 Am, terlihat sosok Dea yang sudah terbangun dari tidurnya. Gadis itu sedang sibuk memasak di dapur, mengenakan seragam sekolahnya dan celemek yang melindungi seragamnya dari cipratan minyak.
Rambut hitam pendeknya sudah terikat satu menyisakan poni panjangnya yang menghiasi wajah cantiknya.
"Hoamzz..." Ucapnya saat menguap, dengan cepat gadis itu menutupi mulutnya dan kembali mengiris bawang merah dihadapannya.
"Bagaimana bisa aku bangun sepagi ini?" Gumamnya sambil menyalakan kompor.
'Setelah dikatain seperti itu mana bisa aku diam saja.' Lanjutnya dalam hati saat mengingat pembicaraan makan malamnya dengan Megan.
Rupanya gadis itu sedang berusaha membuat sarapan pagi untuk dirinya dan Megan.
"Akan ku buat dia bungkam setelah merasakan masakanku." Gumamnya begitu bersemangat.
Disisi lain Megan baru bangun dari tidurnya, pria itu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum berangkat ke kampusnya.
"Haruskah aku pergi ke rumah kak Kinan?" Gumamnya sebelum menutup pintu kamar mandinya.
***
Tok... tok...
Terdengar suara pintu rumah Kinan diketuk dari luar membuat Dea refleks berteriak "Masuk." Tentu saja Megan langsung masuk ke dalam rumahnya. Berjalan ke arah dapur untuk berpamitan pada Dea.
Namun langkahnya terhenti tepat diambang pintu dapur, memperhatikan sosok Dea yang sedang melipat celemek yang baru dilepasnya.
Kemudian matanya beralih pada meja makan, memperhatikan dua piring nasi goreng yang terlihat menggiurkan dengan telur dadar dan kerupuk diatasnya, bahkan ada semangkuk sambal kecil yang tersaji disana. Aroma masakan Dea mulai menggelitiki indra penciuman Megan, membuat pria itu tergoda sampai perutnya ikut berdemo meminta makan darinya.
"Kenapa masih berdiri disana?" Tanya Dea menyadarkan Megan, dengan cepat pria itu berjalan mendekati meja makan dan menarik kursi dihadapannya, lalu mendudukinya senyaman mungkin.
"Padahal niatnya mau pamitan doang, tapi aroma ini ... benar-benar menggodaku." Gumamnya masih memperhatikan nasi goreng dihadapannya.
"Makanlah, kali ini rasanya lebih enak dari masakanku semalam." Tutur Dea setelah meneguk air putih di hadapannya.
"Ini loe yang buat?" Tanya Megan merasa tak percaya, "atau jangan-jangan kak Kinan udah balik?" Lanjutnya bertanya.
"Dia bilang pulangnya sorean, jadi gue yang masak pagi ini. Jadi berhenti liatin gue kaya gitu!" Jelasnya penuh penekanan berusaha menghentikan tatapan tak percaya Megan yang terus mengganggunya.
"Gue makan aman kan?" Tanya Megan membuat Dea geram.
"A‐ah itu ... Dea–" Lanjutnya gelagapan berusaha menenangkan Dea tapi gadis itu malah menyuapinya tanpa aba-aba, membuat pria itu terkejut.
'He?' Batin Megan saat merasakan nasi goreng yang memasuki mulutnya, menatap tangan Dea yang menarik sendoknya keluar dari mulutnya.
"Bisa dimakan kan?" Ucap Dea membuat Megan segera mengunyah makanan di dalam mulutnya sambil memperhatikan wajah Dea yang sudah memerah.
'Gi–gila malu banget ... ngapain pake nyuapin dia segala sih De?!' Batin gadis itu merasa salah tingkah dengan tindakannya, sedangkan Megan mulai menikmati sarapan paginya.
"Ini enak loh De, ini beneran loe yang buat De? Gak nyangka gue ...." Tutur Megan membuat Dea tersipu saat mendengar pujian darinya.
"Ya–ya ... lagian cuma nasi goreng biasa doang," jelas Dea tergugup sambil melempar pandangannya kesembarang arah, menghindari tatapan langsung pria dihadapannya.
"Lebih enak dari buatannya kak Kinan loh." Puji Megan sambil tersenyum lebar, tak memperdulikan rona merah di wajah Dea. Bahkan pria itu langsung menyantap habis makanan dipiringnya.
"Gak makan?" Tanya Megan menyadarkan Dea yang sempat mematung memperhatikan kerakusan Megan.
"I–itu ...." Jawabnya terpotong.
"Kalau loe udah kenyang biar gue yang abisin aja." Tutur pria itu kembali tersenyum lebar.
"Bilang aja loe masih lapar, nih ambil punya gue." Gumam Dea sambil mendorong piringnya ke dekat tangan Megan.
"Beneran buat gue nih? Boleh dihabisin?" Tanya Megan begitu bersemangat membuat gadis itu segera menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaannya.
"Uwah asik ...." Ucapnya kembali menyantap nasi goreng dihadapannya dengan ekspresi bahagianya.
"Dasar rakus." Gumam Dea masih memperhatikan Megan diam-diam, tanpa sadar gadis itu sudah tersenyum untuk pria dihadapannya tanpa sepengetahuan darinya.
'Tapi dia bilang nasi goreng buatanku lebih enak dari buatan kak Kinan kan? Gawat, kenapa aku jadi sesenang ini ya ....' Lanjutnya dalam hati.
"Ternyata kalau loe serius dan mau, loe bisa masak juga ya." Ucap Megan mengejutkan Dea.
"Ya–ya begitulah, meski baru bisa bikin nasi goreng dan telur dadar doang." Tutur Dea sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah, berharap pria itu tak melihat rona merah diwajahnya.
"Kalau gitu tinggal belajar lebih banyak lagi kan?" Suara Megan membuat Dea refleks menatap mata pria itu.
***
Sesampainya di gerbang sekolah, Dea langsung turun dari motor Megan dan memberikan helm yang dikenakannya pada pria itu.
"Loe beneran baik-baik aja kan?" Tanya Dea saat tangan Megan meraih helm ditangannya.
"Baik-baik aja?" Jawabnya balik bertanya.
"Soal pesan yang loe terima di rumah tadi." Jelas Dea mengingatkan Megan pada pesan yang diterimanya, pesan yang dikirim oleh Akira padanya.
"Ah soal kakak gue yang serius pengen nikahin kak.Kinan?" Tanya Megan membuat Dea mengangguk pelan.
"Kenapa masalah buat gue? itukan pilihan kakak gue, kalau kak Kinan menerima lamaran dari kak Akira. Ya gue tinggal turut bahagia buat mereka ...." Lanjutnya menjelaskan membuat Dea mematung selama beberapa detik.
"Loe gak salah ngomongkan? gue gak salah denger kan?" Tanya Dea membuat Megan kebingungan.
"Apa sih?" Tanyanya benar-benar tak bisa memahami pertanyaan Dea.
"Gue kira loe bakal galau lagi, ternyata ...." Jawabnya sambil menghela nafas lega.
"Ya enggaklah ...." Ucap pria itu sambil menyentil kening Dea membuat gadis itu memekik kesakitan.
"Gak usah nyentil jidat gue juga kali!" Tegas Dea sambil sengusap keningnya selembut mungkin, Berharap rasa sakitnya hilang.
"Sorry sorry," Sesal Megan sambil tersenyum lebar memohon maaf dari Dea.
"Ya syukur deh kalau loe mulai bisa menerima kenyataan. jadi gue gak perlu repot-repot hibur loe lagi." Gumam Dea masih mengusap keningnya.
"Ya gue harus bisa menerima kenyataan, lagian masih banyak cewe diluaran sana yang mau sama gue." Tuturnya membuat Dea merasa geram saat melihat ekspresi angkuhnya.
"Banyak ya?" Tanya Dea terhenti saat melihat kerutan di kening Megan, lalu jari telunjuknya juga mulai memegangi keningnya, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi yah untuk sekarang gue lebih tertarik sama secret admirer itu." Tuturnya kembali tersenyum lebar mengejutkan Dea, bahkan wajah gadis itu sudah memerah saat mendengar kata "Secret admirer".
"Ho–hoo ... jadi sekarang mulai serius dengan satu cewe lagi nih?" Tanya Dea dengan nada menggodanya masih dengan wajah meronanya.
"Kepo loe! udah masuk kelas sana, gue mau ke kampus." Ucap pria itu sambil menutup kaca helm dikepalanya, berusaha menutupi rona merah diwajahnya.
"Belajar yang bener!" Lanjutnya sambil menancap gas membuat Dea terkejut.
"Be–belajar yang bener? selama ini gue juga belajar dengan benar dan serius, nyebelin banget sih tu orang." Oceh Dea sambil berjalan memasuki halaman sekolah bersama dengan siswa-siswi lainnya.
'Secret admirer ya ....' Batinnya sambil tersenyum lebar.
"Cie yang berbunga-bunga," ejek Fani yang baru datang mengejutkan Dea.
"Masih pagi udah ngumbar kemesraan di depan gerbang sekolah." Lanjutnya yang sudah berjalan disamping sahabatnya itu.
"Me–mengumbar kemesraan? mata loe rusak ya?" Tanyanya membuat Fani terkekeh.
"Jadi ... kenapa muka loe merah gitu?" Tanya Fani setelah selesai tertawa.
"Me–merah?" Gumamnya membuat sahabatnya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Keliatan banget emang?" Lanjutnya kembali mendapatkan anggukan cepat dari Fani.
"Seriusan?"
"Dua rius malah."
"He?"
"Tadi si Megan ngomong apa emang?"
"Gak ngomong apa-apa ko ...."
"Gue tau loe bohong," Ucap Fani mulai mempercepat langkahnya untuk mengejar Dea yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Cerita sama gue De, jangan kabur oii." Lanjutnya berteriak sambil berlari saat melihat sahabatnya sudah melarikan diri menuju kelasnya.
"Loe gak usah tau, jangan ngikutin gue!" Teriak Dea sebelum memasuki kelasnya.
xxx