
Suasana pada malam hari ini benar-benar ramai. Banyak para pengunjung yang berdatangan keacara festival kembang api disekitar kompleks tempat tinggal Dea dan Kinan.
Saat Dea masih duduk di bangku SD, Fani menyarankan acara festival kembang api di malam tahun baru pada ayahnya. Dan ayahnya menyetujui saran darinya, bahkan sampai saat ini acara festivalnya masih diselenggarakan karena semakin menarik dan meriah.
Dari banyaknya pengunjung, sosok Dea dan Megan lah yang menjadi pusat perhatian. Selain pakaian yang mereka kenakan, kecantikan dan ketampanan mereka juga banyak mendapat pujian. Bahkan beberapa dari mereka menyangka kalau Dea dan Megan adalah sepasang kekasih.
"Kenapa kakak memaksaku untuk mengenakan pakaian ini ? Coba saja tadi pergi dengan pakaian biasa..." Gumam Dea merasa tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian.
"Seorang Dea bisa malu juga ya" Ledek Megan membuat gadis itu merasa kesal.
"Tentu saja. Gue juga manusia, sekarang lihat pakaian loe. Apa-apaan dengan jas abu-abumu itu ?" Jelas Dea balik meledek.
"He ? kenapa ? apa yang salah dari pakaian gue ? bukannya gue terlihat tampan dan sempurna ya ?" Tanyanya sambil menunjukan beberapa pose andalannya yang membuat Dea mematung saking tak percayanya dengan tingkat kepercayaan diri yang ditunjukan oleh pria itu. Dea bahkan tidak bisa membedakan mana sikap percaya diri dan malu-maluin yang ditunjukan Megan padanya.
"Haa... kalau begini, aku ingin cepat bertemu dengan Fani saja..." Gumam Dea sambil melangkahkan kakinya lagi dan meninggalkan Megan di belakangnya. Dengan cepat pria itu mengejar langkah kaki Dea.
"De lihat itu" Ucap Megan sambil menarik tangan Dea dan menunjuk kearah stand mainan.
"Haa..." Gumam Dea sambil menghela nafas pasrah saat tiba-tiba tangannya digeret oleh Megan.
Sambil menunggu Fani dan kakaknya tiba. Mereka memutuskan untuk bersenang-senang lebih dulu. Dea yang sadar soal perasaan Megan pun, mau tak mau harus bersabar dalam menghadapi pria yang satu ini. Setidaknya dia bisa menghiburnya dengan menemaninya berkeliling.
"Ngomong-ngomong kak.Akira dimana ? Dia belum pulang ?" Tanya Dea sambil memperhatikan Megan yang sedang memegang senapan dengan peluru kayu untuk menembak target yang tersedia dihadapannya. Matanya terus menatap sebuah gantungan boneka beruang berwarna putih, boneka sebesar kepalan tangannya.
"Ya. Masih ada urusan, mungkin tidak akan pulang" Jawab Megan sambil menembak boneka itu.
"Hebat..." Gumam Dea saat melihat tembakan Megan tepat sasaran, dan pria itu terlihat bahagia sambil menyombongkan dirinya dihadapan Dea.
***
"Mereka lama sekali ya... padahal acaranya sudah mau dimulai. Masa ke toilet menghabiskan waktu sampai satu jam ? Fani juga, katanya udah di tempat. Tapi udah keliling beberapa kali juga tetep gak ketemu sama tu anak" Oceh Dea yang sudah duduk di bangku taman dengan lelahnya.
"Kembang api pertamanya mau dimulai tuh. Pergi yuk..." Ajak Megan sambil meraih tangan Dea dan membawa gadis itu berlari bersamanya.
"Ni anak aktif banget ya. Pantesan aja waktu di taman hiburan susah nyarinya, orang dia sebelas dua belas dengan kakak" Gumam Dea masih berlari disampingnya.
'Tapi tangannya... dia gak sadar apa kalau tindakannya ini bisa bikin salah paham ?' Lanjutnya dalam hati sambil melirik tangan Megan yang masih menggenggam tangannya.
Disisi lain...
"Sudah sampai tuan" Ucap seorang supir sambil menghentikan laju mobilnya, dengan cepat Akira keluar dari dalam mobilnya dan mulai berjalan ketempat festival.
"Akira..." Ucap seorang wanita membuat langkah pria itu terhenti.
"Kiara" Sapa Akira dengan suara datarnya.
"Kau juga ada disini ?" Tanya wanita itu berniat mengobrol lama dengannya.
"Ya. Aku tinggal di dekat sini, jadi hal biasa kalau aku berkeliaran di sekitar sini" Jawab Akira sambil melihat ke sembarang arah berusaha menghindari tatapan langsung Kiara.
"Dimana tunanganmu ?" Tanyanya lagi membuat pria itu menatap kearahnya, "Apa kau mencintainya ?" Lanjutnya lagi memasang ekspresi sedihnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu ?" Ucap pria itu balik bertanya dan menatap tajam kedalam mata Kiara.
"Soalnya aku masih tidak percaya kalau kau bisa menemukan penggantiku secepat ini..." Jelasnya sambil meremas rok pajang yang dikenakannya.
"Cepat ya ? Padahal bagiku waktu terasa sudah berhenti sejak kau memutuskanku dan pergi ke paris dengan pria lain" Tutur Akira membuat wanita itu merasa tersentak sekaligus bersalah.
"Soal itu, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal karena sudah meninggalkanmu dan aku harap kau mau memaafkanku. Aku juga ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi..." Lanjutnya menatap mata Akira penuh harap, sedangkan pria itu malah menatap jijik kearahnya.
"Sayangnya aku tidak pernah memikirkan hal itu, Bagiku kau sudah lama mati..." Jelas Akira membuat Kiara kembali tersentak.
"A-apa maksudmu ?" Tanyanya dengan mata berkaca-kacanya.
"Orang yang memilih pergi dariku tak sepantasnya mendapatkan cinta dariku lagi. Mana mungkin aku menerimamu lagi setelah aku tau kalau kau hanya mengincar hartaku saja. Apa pria itu meninggalkanmu karena dia juga tau kalau kau matre ?" Tuturnya kembali menjelaskan dan berhasil membuat wanita itu menitikan air matanya.
"Ke-kenapa kau bisa berbicara sekasar itu ?" Tanya Kiara tak mendapat jawaban.
Akira pun mulai meninggalkan wanita itu, sendirian berdiri di tempatnya saat matanya menangkap sosok Kinan dan Fani yang sedang mentertawakan sesuatu sambil berjalan kearah stand makanan.
Membiarkan Kiara menangis seorang diri di dekat lampu taman, ditemani hembusan angin yang membuatnya semakin terisak.
***
"Disini kau rupanya" Ucap Akira mengejutkan Kinan dan Fani, "Dimana Dea dan Megan ?" Lanjutnya bertanya.
"Mereka sudah pergi sejak tadi" Jawab Fani bersamaan dengan ledakan kembang api, membuat perhatian semua orang tertuju pada cahaya kembang api yang menghiasi langit malam.
"Acara pembuka ya..." Gumam Fani sambil tersenyum melihat kembang api itu.
"Kita harus segera berkumpul dengan mereka" Ucap Kinan segera bergegas setelah menerima jagung bakar yang dibelinya.
Fani dan Akira pun mengikuti langkah kakinya tanpa banyak berbicara. Fani terlihat sibuk dengan heandphonenya karena dia sedang bertukar pesan dengan kekasihnya. Sedangkan Akira, dia terlihat sedang banyak pikiran dan terhanyut dalam lamunannya sendiri.
"Sudah ku bilang kan ? Kalau masih suka balikan lagi aja. Jangan menyiksa hatimu seperti itu" Ucap Kinan yang berjalan disamping Akira membuatnya tersadar.
"Apa yang kau pikirkan ? Aku sedang memikirkan perkataan kedua orang tuaku" Tanya Akira berusaha menutupi perasaannya.
"Dasar tukang bohong, emangnya tadi aku gak lihat apa kalau kau sedang berbicara dengan mantanmu itu. Dia bilang apa ? Ngajak balikan kan ? Kalau gitu tinggal terima aja, selesai kan ? Kau juga bahagia, dia juga bahagia..." Jelas Kinan setelah menelan makanan dimulutnya.
"Gak segampang itu juga kali" Guman Akira sambil menghela nafas lelahnya.
"Kak aku pergi dulu ya. Nanti kirim pesan kalau udah ketemu Dea dan kak.Megan" Ucap Fani terlihat buru-buru.
"He ? Dasar anak muda" Gumam Kinan ketika melihat aura berbunga-bunga yang terpancar dari senyuman gadis itu.
"Selamat ulang tahun" Ucap Akira mengejutkan Kinan dengan berdiri dihadapannya secara tiba-tiba.
Mata mereka saling bertemu dan ada rona merah yang semakin mencuat dari wajah Kinan. Sedangkan Akira terlihat begitu tenang dengan tangan yang meraih sesuatu dari dalam saku jas yang dikenakannya.
"Terimalah" Ucap pria itu membuatnya mundur beberapa langkah, mengambil jarak aman untuk melindungi dirinya dari Akira.
"Ada apa ?" Tanya Akira merasa kebingungan dengan tingkah wanita itu.
"Aku tidak mau ya kalau isinya cincin !" Teriak Kinan dengan rona merah diwajahnya saat melihat sebuah kotak kecil berwarna merah ditangan Akira.
"He ? Kenapa ?" Tanya Akira memasang ekspresi bingungnya.
"Pokoknya tidak mau !" Jawab Kinan tak menghilangkan rasa penasaran Akira.
"Terserah saja, lagian aku tidak berniat memberikanmu cincin" Tuturnya sambil memasukan kembali kotak itu kedalam saku jasnya.
'Pokoknya jangan sampai lengah, aku tidak akan menerima hadiah apapun darinya. Bagaimana jika nantinya aku malah terjebak dalam permainannya. Permainan tunangannya sudah selesai dari kemarin, jangan sampai ada kelanjutannya. Aku tidak mau berurusan dengan hal-hal merepotkan lagi, jangan sampai terjebak...' Gerutu Kinan dalam hati sambil berjalan cepat meninggalkan Akira di belakangnya.
Tak lama kemudian mereka berhasil bertemu dengan Dea dan Megan yang sedang asik duduk dibangku taman yang tersedia dipinggir lapangan sambil menikamti pemandangan langit berbintang.
"Akhirnya datang juga" Ucap Dea yang menyadari kedatangan kakaknya dan segera mencubit pipi Kinan dengan gemas setelah bangkit dari tempat duduknya, "Kenapa lama sekali ?" Lanjutnya bertanya.
"Kakak, ternyata pulang toh" Ucap Megan saat melihat Akira yang baru sampai dibelakang Kinan, memasang ekspresi bingungnya. rupanya dia masih memikirkan perkataan Kinan yang tak mau menerima cincin darinya.
"Ho, kau menunggunya dulu ya..." Tutur Dea sambil menyeringai.
"Mana mungkin. Tadi kami bertemu di jalan" Jelas Kinan membela diri.
"Tidak perlu berbohong seperti itu" Goda Dea sambil merangkul sang kakak.
"Aku tidak bohong. Tadi aku berangkat bersama Fani, terus ketemu dia di jalan. Dan sekarang Fani pergi menemui Rafa..." Jelas Kinan menghela nafas lelah diakhir kalimatnya.
"Mereka emang bucin sih" Gumam Dea sambil menyeringai, "Tunggu ! Kau bersama Fani ? Sejak kapan ? Kalian tidak mengerjaiku kan ?" Lanjutnya bertanya sambil menatap serius kedalam mata Kinan.
"Mengerjaimu ? Kenapa ?" Tanya Megan mewakili Kinan, membuat gadis itu melirik ke arahnya dan berakhir dipijakan yang Megan pijaki.
"Siapa tau ini rencana Fani dan Kakak supaya aku bisa berduaan denganmu" Jawab Dea sambil mendelik kesal kearah Megan.
"Jadi kau tidak suka jalan bersama pria setampan diriku ?" Tanya Megan begitu percaya diri membuat Akira dan Kinan mentertawakannya, dan Dea pun ikut tertawa karenanya.
"Jangan tertawa ! Aku memang tampan sejak lahir, ayolah..." Tutur Megan merasa kesal.
xxx