
Dea dan Fani masih asik mengawasi kakaknya dibalik semak-semak. Entah sudah berapa lama mereka berjongkok disana. Yang jelas Fani mulai bosan dan kakinya mulai kesemutan, membuatnya meringis menahan rasa sakitnya.
"Balik yuk De !" Ajak Fani sudah tak tahan berjongkok disana.
"Bentar lagi..." Jawab Dea dengan nada santainya, namun tatapannya menatap tajam kearah Bayu.
"Dari tadi bentar lagi aja terus. Gue pegel nih, betah amat sih loe disini. Banyak nyamuk nih !" Jelas Fani mulai tak sabar sambil menepuk nyamuk yang hinggap diwajahnya.
"Ih gue gak bisa denger obrolan mereka. Kakak ngomongin apa sih sama tu orang ?" Gerutu Dea tak mendengarkan keluhan sahabatnya.
"Gue balik !" Ucap Fani hendak bangkit dari posisi berjongkoknya, namun dengan cepat Dea meraih tangan kiri Fani. Membuat gadis itu kembali berjongkok ditempatnya.
"Gue bilang bentar lagi. Sabar dulu napa" Ucap Dea melirik kearah sahabatnya yang sudah memasang wajah kesalnya.
"Panas tau ! jongkok lama-lama juga bikin pegel dan kesemutan..." Jelas Fani menatap tajam kearah Dea.
"Emang loe pikir gue gak pegel apa ?" Tanya Dea membuat Fani melihat kakinya, lalu dengan jahilnya dia mencolek kaki Dea, membuat gadis itu hampir berteriak karena merasa sakit.
"Loe juga kesemutan ternyata, udah deh balik aja yu" Ucap Fani setelah melihat reaksi Dea yang sudah memasang mata berkaca-kaca menahan tangis karena ulahnya.
"Bentar lagi ya" Bujuk Dea tak mengalihkan pandangannya dari Fani. Dengan berat hati gadis itupun mengalah setelah menghela nafas berat.
"Lima menit lagi, lima menit gak balik. Gue balik sendirian. Gak usah protes !" Tutur Fani mengancam membuat Dea mendecih, "Oii !" Lanjutnya membuat Dea tutup mulut dan enggan memprotes keputusan sahabatnya itu.
Disisi lain...
Akira yang sedang berjalan-jalan dengan Kiara pun mendadak menghentikan langkahnya saat mendapati Kinan dan Bayu yang sedang berbincang dibangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa berhenti ?" Tanya Kiara yang ikut berhenti disamping pria itu, "Kita belum menemukan tempat yang bagus untuk..." Lanjutnya terhenti saat matanya menangkap sosok Bayu. Kemudian kedua sudut bibir Kiara pun langsung tertarik keatas, seperti sedang merencanakan sesuatu.
Dengan cepat Kiara meraih tangan Akira dan menggandengnya, berjalan kearah Bayu dan Kinan yang sedang asik berbincang. Meski hanya Bayu saja yang menikmati perbincangannya dengan Kinan, karena sejak tadi Kinan hanya menjawab pertanyaannya dengan suara malasnya.
Mungkin sekarang yang terpikirkan olehnya hanyalah "Panasnya... ingin pulang, minum cola dan bermalas-malasan sambil nonton anime". Secara matahari mulai naik dan cuaca semakin panas. Bagi Kinan yang tidak suka keluar rumah, hal ini seperti hukuman untuknya.
"Hay" Sapa Kiara yang sudah berdiri dihadapan Bayu dan Kinan, membuat mereka berdua mendongakan kepalanya untuk melihat kehadiran orang dihadapannya.
"Kalian ?" Ucap Bayu langsung berdiri.
"Kebetulan sekali ya kita bertemu disini" Tutur Kiara sambil tersenyum dan tak sedikitpun melepaskan tangan Akira dari genggamannya.
"Benar, kalian sedang jalan-jalan juga ya" Ucap Bayu membalas senyuman sepupunya itu.
"Ah Kinan, selamat siang. Kenapa kau diam saja ?" Tanya Kiara sambil melihat ekspresi kesal Kinan yang ditutupi dengan ekspresi Datarnya. Mungkin kesal karena dia harus keluar rumah dimusim sepanas ini, dan ekspresi datarnya ditunjukan kepada Kiara dan Akira, ekspresi tidak perduli dengan kehadiran mereka termasuk dengan Bayu.
'Ingin pulang...' Batin Kinan.
***
"Itu kak.Akira kan ? Ngapain sama si tiang listrik ?" Tanya Dea merasa kesal saat melihat Kiara nempel-nempel pada Akira.
"Ih itu cewe ngapain sih sama kak.Akira ? bikin kesel aja" Gumam Dea semakin kesal saat tiba-tiba dia mengingat perlakuan Kiara padanya ketika wanita itu berkunjung kerumahnya. Karena Akira yang membawanya untuk makan malam bersama di rumah Kinan, tapi sayangnya Kinan dan Megan tidak ada saat itu.
"Itu cewe yang waktu ditaman hiburan kan ?" Tanya Fani sambil melirik kearah Dea yang sedang asik meremas semua daun dihadapannya.
"Udah lima menit, Yuk balik !" Ucap Fani sambil menggeret Dea dari balik semak-semak.
"Tunggu dulu ! Tunggu bentar, gue penasaran nih. Bentar aja Fan, oii lepasin gue... Faniii..." Tutur Dea sambil meronta, namun Fani tak memperdulikannya dan tetap membawanya pulang sesuai dengan
perjanjiannya.
Disisi lain...
"Ada apa dengan wajahmu ? Kau baik-baik saja ?" Tanya Akira memperhatikan wajah aneh Kinan.
"Ya" Jawab Kinan sambil bangkit dari tempat duduknya dan menyeka keringat di dahinya yang hampir turun membasahi alisnya.
"Akhirnya kau bisa jujur dengan perasaanmu. Selamat ya..." Lanjutnya sambil menepuk bahu Akira dan berlalu dari hadapan mereka.
"Tu-tunggu Kinan !" Teriak Bayu sambil mengejar langkah Kinan, meninggalkan Akira dan Kiara di taman.
"Ada apa ? Kenapa mendadak pergi ?" Tanya Bayu sambil berjalan disamping Kinan.
"Aku tidak suka kita sering keluar rumah. Untuk besok jangan datang menjemputku !" Jawab Kinan melirik tajam kearah Bayu.
"Tapi kenapa ?" Tanyanya merasa bingung, "Bukankah semua perempuan akan merasa senang jika sering diajak keluar ?" Lanjutnya.
"Sayangnya itu tidak berlaku untuk ku !" Jawab Kinan membuat Bayu tersentak.
"Ah ternyata informasi itu benar ya, perempuan yang satu ini memang berbeda dari yang lainnya..." Gumam Bayu memperhatikan langkah Kinan, "Aku malah semakin menyukainya. tunggu saja, aku pasti akan membuatmu jatuh hati padaku" Lanjutnya kembali mengikuti langkah Kinan.
'Aarrgh... aku benci suhu panas ini !' Batin Kinan kembali mendumel.
***
Akira masih memperhatikan kepergian Kinan dan Bayu, matanya tak mau lepas dari sosok Kinan setelah dia mengatakan selamat padanya.
Entah kenapa Akira malah merasa kesal saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita itu. Selain itu, Bayu yang terus mengekorinya membuat Akira ingin menyingkirkannya.
Tanpa sadar dia sudah mengepalkan salah satu tangannya dengan erat, dan menatap tajam pada Kinan dan Bayu yang sekarang sedang berdebat di depan mobil pria itu. Mobil yang tak jauh terparkir di dekat mobilnya Akira.
Disisi lain, Fino mulai bosan mengawasi tuannya. Bahkan pria berambut ikal itu berulang kali menguap dan menyeka air mata yang hampir jatuh akibat rasa kantuknya.
"Haa... aku mulai bosan, kenapa aku diberikan tugas membosankan seperti ini ?" Tutur Fino kembali memegang setir mobilnya sambil mengedip-ngedipkan matanya, mencoba untuk tetap terjaga.
"Tatapan yang ditunjukan tuan Akira tadi ? Apa itu bisa disebut dengan tatapan cemburunya milik tuan ? Tapi ko terlihat seperti tatapan predator ya ? Hhaha... aku jadi bingung menilai karakter tuan Akira, sejak bekerja dikeluarga Wira. Tuan Akira memang selalu sedingin balok es, tapi saat sedang bersama tuan muda dan nyonya Karina... ekspresinya jadi bervariasi" Lanjutnya mengoceh, kemudian langsung menggaruk kepalanya bingung dan menyerah dengan pikirannya sendiri.
xxx