Dea & Kinan

Dea & Kinan
67. Tiga D



Ku buka mataku secara perlahan saat merasakan sakit dibagian bahu keatas.


"Uh benar-benar sakit" Gumamku sambil bangkit dari posisi terbaringku dan memijat salah satu bahuku dengan tangan lainnya, berharap rasa sakitnya segera menghilang.


"Eh ? Semalaman aku tidur disofa ?" Lanjutku saat tersadar dengan selimut yang menutupi setengah tubuhku.


'Sepertinya aku ketiduran dan sekarang kakak menghilang' Batinku sambil bergegas setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 05:15 Am.


Ku langkahkan kaki ku menuju dapur setelah melipat selimut kakak yang digunakan untuk menghangatkan tubuhku.


"He ?" Gumamku merasa terkejut dengan semua perubahan suasana di dalam dapur, benar-benar berbeda dengan suasana semalam.


Dapurnya sudah bersih total, meja makan dan kursi sudah kembali pada tempatnya. Alat-alat membuat kue beserta piring dan gelas juga sudah kembali ketempatnya. Sesampahan juga sudah menghilang.


Dan sekarang aku melihat sosok kakak ku yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Rambutnya juga sudah dicepol asal dengan lengan kaos hitam panjang yang digulung hingga kesiku tertutupi oleh celemek berwarna merah muda.


'Sejak kapan dia bisa melakukan hal-hal seperti ini ?' Batinku merasa tersentuh melihat perubahan kakak yang membuatku segera pergi mandi sebelum dia menyadari kehadiranku.


"Tadi aku tidak bisa berhenti memperhatikan kakinya..." Gumamku merasa bersalah karena terus menerus mengingat kejadian buruknya saat dia gagal menggapai impiannya.


Legging hitam dibawah lututnya itu selalu dikenakan saat dia menggenakan celana pendek sepahanya, membuatku terus teringat dengan masa lalunya. Kakak memang sengaja selalu mengenakan Legging hitam untuk menutupi jahitan bekas oprasi cedera disalah satu kakinya.


"Stop !" Ucapku sambil menutup pintu kamar mandi, "Berhenti memikirkan hal itu, kakak sudah menerima semuanya jadi berhenti mengkhawatirkannya. Dia tidak akan suka jika melihatku memasang tampang menyedihkan" Lanjutku berusaha memperbaiki suasana hatiku.


'Tapi, sepertinya hanya aku yang masih belum bisa menerima masa lalunya... dan lagi aku tidak bisa banyak membantunya, dia bahkan tidak bisa mengandalkanku dalam menyelesaikan masalah keluargaku' Batinku membuat semangatku kembali memudar.


***


"Dea !" Teriak Kinan sambil berlari kearah adiknya yang baru menuruni anak tangga dengan mengenakan seragam sekolahnya, tangannya juga sudah menjinjing tas sekolahnya dengan erat.


"A-apa ?" Tanyanya merasa terkejut saat mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Kinan.


"Hari ini belikan aku big cola dan beberapa camilan ya" Jawabnya sambil memasang ekspresi puppy eyes andalannya.


"Asalkan kakak tidak membuat kekacauan seperti kemarin..." Tuturnya sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah, menyembunyikan semburat rona merah yang mulai timbul diwajahnya.


"Hhaha... asik !" Teriak Kinan sambil menarik tangan kanan Dea menuju ke dapur bersamanya.


Dea yang merasa senang dengan perlakuan kakaknya hanya bisa pasrah mengikutinya sambil tersenyum lebar.


"Puding" Ucap Dea dengan mata berbinarnya saat melihat sebuah puding coklat sudah terhidang diatas meja makannya.


"Enak..." Suara Megan mengejutkan Dea, rupanya pria itu sudah datang lebih awal dari biasanya. Dan dia sedang menikmati puding coklat dihadapannya.


"Ayo sarapan dulu, aku juga sudah menyiapkan bekal untukmu" Tutur Kinan membuat Dea segera duduk ditempatnya.


"Padahal hari ini aku berniat makan bakso di kantin sekolah..." Gumam Dea tampak bersedih dan segera memakan sarapan paginya.


***


Setelah sarapan pagi, aku langsung bergegas pergi ke sekolah. Saat aku sedang sibuk mengikat tali sepatuku, tiba-tiba saja telingaku mendengar beberapa suara anak kecil yang mendekati rumah.


Dan saat aku hendak memastikannya, mereka sudah menerjangku lebih dulu tepat pada saat pintu rumah baru ku buka.


"Ah kalian !" Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah salah satu ibu dari mereka bertiga.


"Ti-tidak apa-apa, aku baik-baik saja" Tuturku sambil memasang senyuman terbaik ku.


"Ada apa De ?" Suara Megan mencuri perhatianku. Saat aku melihat kearahnya, ekspresinya benar-benar berubah ketakutan.


'Ni anak kenapa ?' Batinku merasa prihatin saat melihat wajah tampannya memasang ekspresi seperti itu.


"Kak Dea mau sekolah ya ?" Tanya seorang gadis kecil yang mengenakan celana jeans pendek dengan kaos putih berlengan pendek bergambarkan animasi panda.


"I-iya nih baru mau berangkat" Jawabku sambil tersenyum menatap gemas mata gadis itu. Ekspresinya berubah menjadi murung saat mendengar jawabanku.


"Om Megan hari ini kita main bola lagi ya" Teriak kedua anak laki-laki berwajah tampan mendekati Megan dan memeluknya dengan erat.


"Kinan maaf ya hari ini titip anak-anak lagi, aku harus pergi kerja bersama dengan suamiku. Dan bibinya sedang ada urusan, aku tidak tau harus menitipkan mereka kepada siapa lagi kalau bukan padamu" Tutur wanita itu saat melihat kakak berjalan mendekatiku.


"Tidak perlu minta maaf begitu, aku tidak keberatan bermain bersama si kembar Dean, Diana dan Doni" Tuturnya sambil tersenyum.


"Hari ini kita mau buat kue lagi kan kak ? kue yang kemarin sangat enak, Ana mau makan kue lagi" Tutur gadis kecil itu sambil menarik pakaian kakak.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya, aku harus bergegas. Kalian tidak boleh nakal ya, jangan membuat kak Kinan dan kak Megan kerepotan ya" Tutur Wanita itu berpamitan dengan ketiga anak kecil dihadapnnya.


"Kalau gitu aku juga berangkat sekarang deh" Lanjutku ikut bergegas saat sadar waktu sudah menunjukan pukul 06:15 Am.


"Hati-hati" Ucap kakak sebelum aku benar-benar pergi dari hadapannya.


***


"Kalau gitu aku juga pergi ke kampus sekarang deh. Maaf tidak bisa membantu kak.Kinan" Tutur Megan merasa tidak enak.


"Jangan khawatir, aku-" Ucapnya segera dihentikan oleh teriakan Doni.


"Hee ?! om mau kemana ? bukannya mau ngajakin kita main lagi ?" Tanyanya membuat Megan segera mengelus kepala anak itu.


"Saat kakak pulang nanti ya, hari ini kakak mau kuliah dulu. Kalian jangan nakal ya, kalau kalian berjanji mau jadi anak baik. Nanti kakak bawakan es krim buat kalian" Jelasnya berusaha berbicara selembut mungkin.


Seketika raut wajah ketiga anak tadi berubah menjadi berseri-seri, "benar ya bawa es krim" Ucap Doni sambil mendongakan kepalanya, membuat Megan sedikit membungkuk dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban 'Ya'.


"Kalau gitu Ana mau rasa coklat" Lanjut gadis itu sambil tersenyum gembira membuat Kinan ikut tersenyum gemas.


"Dean mau rasa vanila" Tutur anak laki-laki yang berdiri disamping Doni.


"Aku aku, aku mau rasa mangga" Lanjut anak terakhir membuat Megan mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.


"Kalau bitu kakak pergi dulu ya" Tuturnya sambil bergegas berjalan kearah motornya yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Dadah om, hati-hati di jalan ya..." Tutur si kembar Dean dan Diana.


"Jangan lupa es krimnya ya" Lanjut Doni sambil tersenyum lebar melambaikan tangan kanannya setinggi mungkin saat Megan berlalu dari hadapan mereka.


"Hari ini kita mau main apa kak ?" Tanya Diana membuat gadis itu segera berpikir keras untuk mencari permainan menarik yang tak gampang membuat mereka bosan.


"Hem..." Gumamnya sambil memegangi dagunya membuat ketiga anak berinisial D itu memperhatikan wajah Kinan dengan terheran-heran.


"Bagaimana kalau main ke taman ?" Tanya Kinan saat mendapatkan sebuah ide.


"Bisa main bola disana tuh" Ucap Doni sambil menepuk bahu Dean dan tersenyum lebar padanya.


"Kalau gitu tunggu sebentar ya, kakak mau ambil beberapa makanan dulu supaya kita bisa sekalian main piknik-piknikan disana" Tutur Kinan segera bergegas ke dapur.


"Piknik..." Ucap Diana dengan senyuman lebar dan mata berbinarnya membuat Dean dan Doni ikut tersenyum senang saat melihat gadis itu begitu gembira.


xxx