
Waktu sudah menunjukan pukul 03:15 Pm. Cuaca sore ini benar-benar mendung, udaranya terasa lebih dingin dan berat. Padahal cuaca siang tadi cukup panas.
Disisi lain terlihat seorang gadis bertubuh tinggi dengan rambut hitam panjangnya yang terikat satu. Gadis itu terus berlari menuju halte bus dengan tergesa-gesa, mungkin tidak ingin sampai kehujanan di jalan.
"Oii De ... duluan ya." Teriak Fani yang dibonceng Rafa sambil melambaikan tangannya saat melewati Dea.
"Yoo ...." Jawab Dea sambil membalas lambaian tangan Fani yang semakin menjauh dari pandangannya, "Tu anak bener-bener ngebut ya ...." Lanjutnya bergumam sambil terus berlari.
Tak lama kemudian Dea pun sampai di halte bus, dan menunggu jadwal kedatangan bus berikutnya.
Jika diperhatikan warna rambutnya dengan Kinan sangat berbeda. Warna rambut Kinan sekilas terlihat berwarna hitam, namun saat diperhatikan lagi warnanya lebih dominan ke coklat, meski bukan coklat terang. Sedangkan Dea, warna rambutnya benar-benar hitam alami, dan panjangnya juga mencapai pinggang. Sedangkan Kinan, panjang rambutnya hanya satu jengkal diatas pinggang.
Kemudian perbedaan lainnya adalah warna bola matanya, Kinan memiliki warna bola mata coklat terang sedangkan Dea memiliki warna bola mata coklat tua dengan hidung yang lebih mancung dari Kinan.
"Ah hujan ...." Guman Dea saat melihat rintik hujan mulai berjatuhan, untunglah gadis itu sudah berteduh di halte bus, "Sepuluh menit lagi bus nya baru datang." Lanjutnya sambil melihat jam digital di heandphonenya bersamaan dengan rintik hujan yang semakin deras.
Saat sedang menunggu, tiba-tiba saja sebuah mobil pribadi berwarna hitam berhenti dihadapan Dea, kemudian kaca mobil itupun terbuka membuat wajah Dea terkejut saat melihat si pemilik mobil itu.
"Ayo naik." Ucap pria itu dengan wajah seriusnya.
"He?" Guman Dea masih terkejut.
"Hujannya tidak akan berhenti cepat. Jadi pulang bersamaku saja." Jelasnya membuat Dea mematung untuk beberapa saat.
"Tapi kak Akira ... ba–bagaimana bisa?" Tanya Dea belum selesai.
"Naik saja dulu." Ucap pria itu membuat Dea segera menuruti ucapannya, dan masuk kedalam mobilnya, duduk di bangku belakang sambil menggenggam heandphonenya.
"Kenapa duduk dibelakang?" Tanya Akira sambil mengemudikan mobilnya, "Memangnya aku ini supirmu?" Lanjutnya terdengar kesal.
"Aku tidak mau memutar jalan, hanya untuk duduk di depan. Bajuku bisa basah nanti." Jelas Dea sambil melihat pemandangan yang terpantul dari kaca jendela mobil.
'Dia membuatku tak bisa membalas ucapannya ....' Batin Akira.
Tak banyak hal yang dibicarakan selama perjalanan pulang. Hanya kebisuan dan kecanggungan satu sama lain yang sama-sama enggan memulai pembicaraan, meski wajah mereka terlihat penasaran, ingin mencoba bertanya dan mengenal satu sama lain. Namun suasana yang tercipta dari kebisuan itu sudah berubah menjadi kecanggungan yang tak bisa mereka hadapi.
'Canggungnya ... kenapa aku tidak bisa menanyakan soal keluarga mereka ya? Mereka terlihat sudah tinggal berdua dari lama, tapi sejak kapan? Dan bagaimana dengan orang tua mereka? Mendadak aku menjadi penasaran dengan kehidupan mereka. Dan soal lukisan yang aku lihat waktu itu, darimana mereka mendapatkannya?' Batin Akira mulai mengoceh karena merasa penasaran, dan rasa penasarannya itu tak akan pernah terjawab jika dia tidak berani menanyakannya.
'Kenapa aku harus sok akrab dengan bertanya soal pekerjaan dan kehidupan pribadinya? Meski aku sedikit penasaran, lagipula siapa juga yang butuh sewa rumah kalau mereka bisa membelinya. Dilihat dari sudut manapun jelas-jelas mereka orang kaya, hanya saja mereka tidak menunjukannya.' Batin Dea ikut mengoceh dan terus memperhatikan pemandangan diluar jendela dan sesekali melirik kearah spion dimana mata Akira terpantul dari cermin yang menggantung disana.
***
Setengah jam kemudian, Dea dan Akira pun sampai di rumahnya. dengan cepat Dea keluar dari mobil Akira dan berterima kasih atas tumpangan yang diberikan oleh pria itu.
"Aku benar-benar tertolong, sekali lagi terima kasih banyak." Ucap Dea sambil memberikan senyumannya.
"Tidak perlu berterima kasih, lagipula jalan pulang kita satu arah." Tutur Akira membalas senyuman gadis itu membuatnya terkekeh.
"Kalau begitu saya masuk dulu." Ucap Dea sambil berjalan mundur sebelum akhirnya membalikan badannya dan berjalan kearah pintu rumahnya. Sedangkah Akira hanya memberikan senyuman dan lambaian tangan kearah Dea yang bahkan sudah tak memperhatikannya.
"Aku pulang." Teriak Dea saat memasuki rumah dan segera membuka sepatunya.
"Berisik! lihat saja nanti, aku pasti akan mengalahkanmu, tunggu saja ...." Tutur Kinan terdengar Kesal.
"Mereka ini sedang apa sih?" Gumam Dea yang sudah berdiri dibelakang sofa yang diduduki oleh Kinan dan Megan, kemudian pandangannya menyebar ke seluruh ruangan. seketika kesabarannya hilang.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Teriak Dea begitu kesal ketika melihat seisi ruangan itu terlihat berantakan. banyak sampah koaci dan bungkus makanan ringan lainnya yang berceceran di lantai, lalu beberapa buku komik dan kaset yang juga berceceran diatas meja.
"Dea? sudah pulang." Ucap Kinan sambil menyeringai sedangkan Megan malah bersembunyi dibalik sofa sambil memeluk bantak sofa karena merasa takut dengan aura yang terpancar keluar dari tubuh Dea.
"Bersihin gak?" Ucap Dea menatap tajam kearah Kinan.
"Hee..." Gumam Kinan dengan nada malasnya dan membuang wajah kearah layar komputer besarnya, tak memperdulikan kemarahan adiknya.
"Bersihin sampahnya!!" Bentak Dea membuat Kinan terperajat dan bergegas menuruti perintah Dea sebelum dia benar-benar mengamuk, "Oii! kau juga bantuin dia." Lanjutnya saat melihat Megan diam-diam menatapnya dengan rasa takut.
"Ba–baik-baik." Ucap Megan bergegas membantu Kinan dengan mengambil sapu di bawah anak tangga.
"Padahal lagi seru-serunya ...." Guman Kinan sambil melihat kearah komputernya yang masih menampilkan tampilan game yang sedang dimainkannya bersama dengan Megan.
Saat mereka sedang sibuk membersihkan sampah yang berceceran dilantai, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. kemudian terlihat sosok Akira yang sudah memasuki rumah Dea.
"Aku ingin pinjam kamar man–" Tanya Akira terhenti saat melihat Megan sedang menyapu lantai dan Kinan yang sedang memunguti sampah plastik, "Jadi dia ada disini ...." Lanjutnya bergumam saat melihat Megan sedang menyapu lantai.
"Anu Dea ...." Ucap Akira segera menutup mulutnya saat melihat aura menakutkan yang terpancar dari tubuh Dea, "Aku pinjam kamar mandinya ya." Lanjutnya sambil melengos kearah kamar mandi dengan membawa handuk, pakaian dan peralatan mandinya. mencoba lari dari situasi mengerikan yang sedang terjadi saat ini.
"Hem." Jawab Dea sebelum pria itu berjalan terlalu jauh, dan akhirnya masuk kedalam kamar mandi.
Cukup lama mereka membersihkan ruang tengah. akhirnya mereka bisa kembali bersantai di sofa, dan Dea pun melemaskan bahunya lalu menghela nafas lelah.
"Dengar ya kalian. selama aku tidak ada di rumah, jangan berbuat seenaknya. terutama kau!" Tutur Dea sambil menekankan nada bicaranya diakhir kalimatnya dan melirik tajam kearah Kinan yang mulai bergetar ketakutan, "Sudah ku bilang jangan mengacak-ngacak rumah! kau bukan anak kecil lagi, bersikap dewasalah!!" Lanjutnya mulai mengoceh.
"Menyeramkan ...." Guman Megan yang melihat ekspresi Dea saat mengomeli Kinan. Sedangkan Kinan hanya bisa membisu dan mendadak menjadi patung, mencoba menjadi anak baik yang mendengarkan ocehan adiknya.
"Sebenernya diantara mereka berdua, siapa yang menjadi kakaknya?" Tanya Akira yang sudah duduk di samping Megan setelah selesai mandi.
"Tentu saja kak Kinan." Jawab Megan dengan ekspresi polosnya, menatap mata Akira yang sudah melirik kearahnya.
"Tapi sikap mereka berkebalikan ya ...." Gumam Akira.
"Tentu saja tidak. meski kau melihat kak.Kinan seperti seorang adik. tapi sebenarnya dia lebih dewasa dari Dea." Jelas Megan kembali memperhatikan Dea dan Kinan.
"Heee..." Gumam Akira ikut memperhatikan kakak beradik itu.
"KAU!!" Ucap Dea melirik tajam kearah Megan membuat pria itu terperajat, "Kalau belum mandi, cepat pergi mandi!" Lanjutnya penuh penekanan.
"Ya–baik laksanakan." Ucap Megan segera berlari kerumahnya untuk mengambil pakaian ganti dan peralatan mandi yang sudah disimpan Akira di kamar mandi rumahnya.
"Benar-benar gadis yang menyeramkan ...." Guman Akira berkeringat dingin menatap Dea yang kembali mengomeli Kinan tanpa ampun.
xxx