Dea & Kinan

Dea & Kinan
17. Pulang Sekolah



Sore ini Dea pulang dari sekolah dengan perasaan gembira, entah apa yang membuatnya menjadi segembira itu. Padahal pagi tadi sikap malasnya sudah berada dipuncak, dan cuaca hari ini juga terlihat biasa saja, sejuk di pagi hari, cerah di siang hari dan redup di sore hari. Tapi semangat Dea malah memuncak.


Kali ini Dea tidak pulang sendirian, ada Fani yang pulang bersamanya. Gadis itu tidak bisa pulang dengan Rafa karena pria itu ada urusan lain dengan temannya di kelas sebelah.


"Eh Fan, minggu depan kan kita ulangan akhir smester ...." Tutur Dea dengan tatapan berbinar-binarnya.


"Terus?" Tanya Fani masih bersabar mengikuti langkah kaki Dea yang sempat berjalan mundur hanya untuk memperhatikan wajah Fani.


"Setelah UAS kan ada libur sekolah selama dua minggu. Enaknya liburan kemana ya?" Tanya Dea yang sudah membelakangi Fani dan berjalan santai dihadapan gadis itu.


"Haa..." Gumam Fani menghela nafas, "UAS nya juga belum, udah mikirin liburan aja loe. Yang harus loe pikirin pertama itu adalah bagaimana cara loe supaya gak ikut kelas remedial. Baru deh loe mikirin liburan." Lanjutnya menyadarkan Dea soal kelas remedial yang biasanya dilakukan selama satu minggu di liburan awal sekolah.


"Abis gue sumpek di rumah terus. Capek liat kelakuan kakak gue yang males-malesan tiap hari. Ya siapa tau aja dia mau gue ajak liburan gitu, atau kita balik ke kampung selama gue libur sekolah aja ya? Sekali-kali menjauhkannya dari internet juga bagus kan?" Tutur Dea mengeluarkan isi pikirannya.


"Jangan lupa kalau kakak loe juga gak males-males amat. Dia masih suka masakin loe pagi dan malam hari loh ...." Jelas Fani yang sudah menyamakan langkahnya dengan Dea.


Seketika percakapan mereka berhenti, mungkin karena Dea sudah tak bisa membalas ucapan Fani atau karena sudah kehabisan topik pembicaraan.


Sedangkan disisi lain, terlihat sebuah mobil hitam yang berjalan mendekati Dea dan Fani dari arah belakang.


Saat Dea dan Fani mendengar suara klakson mobil. Mereka langsung menepi, dan mobil itupun berhenti tepat di samping mereka.


"Siapa De?" Tanya Fani merasa penasaran dengan si pemilik mobil yang berhenti di samping mereka.


Lalu kaca mobil itupun terbuka, membuat Fani terkejut kegirangan sambil menggelayuti tangan Dea, "De ... cowo ganteng yang waktu itu De ...." Bisiknya membuat Dea risih.


"Baru pulang?" Tanya Akira yang masih duduk manis di mobilnya sambil memegangi setir mobilnya.


"Ia kak, kakak juga keliatannya baru pulang." Jawab Dea sambik tersenyum.


"Kalau gitu kita bareng aja. Ayo naik, ajak temanmu juga." Tutur Akira mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam mobilnya, membuat Fani semakin kegirangan.


"Ayo De, kapan lagi pulang sama cowo ganteng ...." Ucap Fani yang sudah membuka pintu mobil bagian belakang.


"Oii Fan ...." Ucap Dea tak didengarkan.


Gadis itu sudah masuk lebih dulu dan duduk manis di dalam mobil, sedangkan Dea yang masih berdiri di luar pun terpaksa ikut masuk. Duduk di sebelah Fani.


"Kenapa duduk di belakang semua?" Gumam Akira sambil menancap gas.


"Kakak ini yang tinggal dirumah Dea ya. Rumah yang disewakan itu ya?" Tanya Fani begitu bersemangat .


"Iya." Jawab Akira.


"Hee... bagaimana rumahnya? Apa kakak betah tinggal disana? Ku dengar kakak punya seorang adik, apa itu benar? Apa kakak sudah punya pacar?" Tanya Fani bertubi-tubi.


"Adwuh swakit Dwea ... lepwasin ...." Ucap Fani yang merasa kesakitan karena dicubit oleh Dea.


"Hhaha... kalian terlihat begitu akrab ya." Ucap Akira membuat Dea segera melepaskan cubitannya dan Fani langsung mengusap pipinya yang sudah meninggalkan warna merah disana.


"Loe gak bisa lembut sedikit apa? kasar banget sih jadi cewe ...." Guman Fani memprotes sikap sahabatnya itu.


"Hem," gumam Akira menarik perhatian Fani dan Dea, "aku tinggal di rumah itu baru beberapa hari dengan adik ku, rumahnya cukup nyaman dan sepertinya aku beruntung karena bisa menyewa rumah itu. Soal pacar, sayangnya aku belum menemukan orang yang cocok." Lanjut Akira menjawab semua pertanyaan Fani.


"Hee... aku kira sudah punya pacar. Dan bagaimana bisa kakak bilang menyewa rumah di sana disebut dengan beruntung? Bukankah malah tidak beruntung sama sekali? Pasti berisik tinggal disana, Dea dan kak.Kinan kan selalu berisik. Para tetangga saja sudah menyerah dengan kebisingan yang di ciptakan oleh mereka berdua ...." Tutur Fani merasa kurang puas dengan jawaban yang di terimanya, sedangkan Dea hanya bisa melirik tajam kearah Fani saat mendengar Akira tertawa.


"Kak Akira ya ... nama kakak itu Kak Akira kan? Kakak harus siap mental tinggal disamping tetangga rusuh seperti mereka ...." Lanjut Fani segera dihentikan dengan jitakan yang dilayangkan Dea.


"Aw." Pekik Fani sambil memegangi kepala yang dijitak oleh sahabatnya itu.


"Yang rusuh itu kakak gue!" Ucap Dea membenarkan ucapan Fani.


"Haa...? apa loe bilang? bukannya loe sama rusuhnya? jangan melemparkan semuanya pada kak Kinan ...." Tutur Fani mulai berdebat dengan Dea, sedangkan Akira hanya bisa memperhatikan kedua gadis itu dari spion mobilnya, meski hanya meliriknya sesekali karena perhatiannya harus fokus pada jalanan dihadapannya.


Bahkan Fani juga tidak menyadari kelakuannya sendiri jika sedang bersama dengan Dea. gadis itu sama rusuhnya dan berisik seperti Dea dan Kinan. mungkin karena mereka sudah berteman sejak kecil.


Tak lama kemudian Fani pun turun dari mobil Akira dan berpamitan pada pria itu sambil memasang wajah cantiknya. sedangkan Dea hanya membatu melihat kelakuan sahabatnya yang kecentilan dan tak bisa tahan dengan pria tampan. Yah, bukan salahnya juga... kebanyakan perempuan kan suka sama pria tampan, jadi wajar-wajar saja. tapi kalau sikap kecentilannya, tergantung orangnya. gak semua perempuan bersikap centil di depan pria tampan kan?.


"Temanmu lucu ya." Ucap Akira yang sudah mengemudikan mobilnya lagi.


"Lu–lucu?" Tanya Dea dengan nada bergumam.


"Bagaimana sekolahnya hari ini?" Tanya Akira mengejutkan Dea.


'He? apa yang dia katakan? apa telingaku salah dengar?' Batin Dea mempertanyakan indra pendengarannya, dan mengingat kembali saat-saat dia pulang bersama dengan Akira kemarin sore. tak banyak yang mereka bicarakan, hanya saling melihat kearah spion mobil.


"Bi–biasa saja, seperti yang kak Akira lihat ...." Jawab Dea melantur.


"Seperti yang aku lihat?" Guman Akira bertanya-tanya, "Ah ya. ku dengar kalian sudah tinggal disini sejak kecil ya, Megan menceritakannya padaku ...." Lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Ya ... kami sudah tinggal disini sejak kecil. atau lebih tepatnya, kami lahir di kota ini." Ucap Dea membenarkan ucapan Akira sambil tersenyum hangat mengingat semua kenangan yang melintas cepat dalam ingatannya, dan yang paling jelas adalah saat dia menangis di kamarnya karena mendapat banyak memar di kakinya.


'Berjuang untuk menggantikan kakak ku ya?' Lanjut Dea saat mengingat ejekan Kinan soal dirinya yang begitu payah dalam berlari. tanpa sadar senyumannya kembali merekah, lebih hangat dari sebelumnya.


Akira yang melirik sekilas ke arah kaca spion mobilnya pun sempat berhenti mengedipkan matanya beberapa detik karena merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya, dan tanpa sadar pria itu ikut terbawa suasana. untuk pertama kalinya dia melihat senyuman yang terpancar diwajah Dea sehangat itu.


'Dari semua senyuman yang dia tunjukan, senyuman yang ku lihat saat inilah yang paling tulus dan ... hangat.' Batin Akira ikut tersenyum dan kembali fokus pada kemudinya.


xxx