
Malam hari di kediaman Kinan.
"Seperti biasanya, masakan kak.Kinan memang yang terbaik." Puji Megan setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Gak usah keseringan memujinya deh." Ucap Dea melirik tajam ke arah Megan, lalu kembali menyuapkan nasi dan lauk kedalam mulutnya.
Menu makan malam yang dibuat Kinan malam ini adalah ikan goreng, capcay, dan tahu isi serta sambal terasi yang diminta oleh Dea.
"Aku selesai." Ucap Kinan setelah menyuapkan makanan terakhir kedalam mulutnya.
"Cepatnya?" Gumam Megan sambil memperhatikan Kinan yang sudah selesai mengunyah makananya dan tangannya yang sudah meraih gelas berisi air di hadapannya.
"Lagi-lagi makanmu sedikit, makan yang banyak ke biar tambah tinggi." Tutur Dea membuat Kinan melirik tajam ke arahnya karena menyinggung soal tinggi badannya.
Dea yang melihat ancaman di mata Kinan pun langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Sedangkan Akira masih setia memperhatikan Kinan. Dan Megan, dia begitu menikmati makan malamnya, tak memperdulikan keributan disekitarnya. meski menu makan malam kali ini terlihat biasa saja tapi dia benar-benar menikmatinya.
"Cepat selesaikan makan malam kalian." Ucap Kinan sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah wastafel dan mulai mencuci semua piring kotor yang sudah menumpuk di sana.
"De." Ucap Akira membuat Dea segera melihat kearahnya dan membuat Kinan masuk ke dalam mode menguping dengan pandangan berfokus pada pekerjaan dihadapannya.
'Kalau kau benar-benar nekat mengajaknya, akan ku habisi kau malam ini juga.' Batin Kinan mulai mengoceh mengeluarkan aura mengancamnya.
"Aku ingin mengajakmu keluar besok malam. Bisa pergi denganku?" Tanya Akira tanpa basa-basi membuat Dea terkejut begitupun dengan Kinan yang sudah mengeluarkan aura aneh di sekitar tubuhnya sejak tadi. Bahkan Megan yang tampak tak perdulipun langsung melihat kearah kakaknya yang memasang wajah datarnya meski barusan dia mengajak seorang gadis untuk keluar bersamanya besok malam.
"Kurang ajar, awas saja kau! aku benar-benar tidak akan melepaskanmu. Kau tidak akan bisa pulang dengan selamat ...." Gumam Kinan sambil mencuci gelas ditangannya.
"Barusan kau bilang apa?" Tanya Megan sambil mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya untuk memastikan indra pendengarannya tidak terganggu.
"Ke—kenapa mendadak mengajak ku keluar malam? Kak Akira tidak salah pilih teman keluar kan? Maksudku, aku masih sekolah loh dan ...." Jelas Dea membuat Megan melirik kearahnya dan ucapannya segera terhenti saat Akira menatapnya dengan serius.
"Aku sudah memikirkannya." Ucap Akira membuat Megan kembali melirik kearahnya.
"Itu ... ka–karena aku masih sekolah dan besok sudah masuk ujian akhir smester, maka aku tidak akan bisa keluar. Aku akan sangat sibuk belajar selama ujian, jadi maafkan aku ...." Lanjut Dea menjelaskan kembali ucapan sebelumnya yang sempat terhenti.
Mendadak Megan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, menahan suara tawanya agar tidak keluar, begitupun dengan Kinan yang diam-diam menahan tawanya sambil mencuci gelas lainnya.
Akira yang menyadari kelakuan dua orang itu langsung merasa kesal sekaligus malu. Dan Dea merasa tidak enak karena menolak ajakan pria itu, tapi mau bagaimana lagi. Dia harus fokus pada ujiannya, secara statusnya sebagai seorang pelajar tidak akan bertahan lama lagi. Dia akan segera lulus dalam beberapa bulan ke depan kan?
"Ba–baru pertama kali aku melihat penolakan langsung dari seseorang yang diajak oleh kakak. Secara selama ini semua perempuan hampir gila karena mengagumimu dan tak akan ada yang mau menolak ajakan darimu, tapi hari ini ...." Tutur Megan dengan suara tertahan dan tubuhnya juga terlihat gemetaran, beruasaha menahan tawanya sebaik mungkin membuat rona wajah Akira memerah secara perlahan, "Bwahahaha... aku gak kuat lagi, hahaha..." Lanjutnya melepaskan tawanya, dan kini suara tawa Megan sudah memenuhi ruangan membuat Kinan ikut tertawa lepas bersama Megan.
"Sepertinya kau orang pertama yang menolak ajakan kakak ku ya. Kau benar-benar hebat, aku sampai tak bisa berhenti tertawa." Tutur Megan sambil menepuk pundak Dea setelah mengendalikan dirinya yang sempat tertawa terpingkal-pingkal.
Akira yang tak bisa menutupi rasa malunya pun mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kinan.
Kinan yang tak kuasa menahan tawanya mendadak menghentikanya saat melihat Akira yang sudah meliriknya dengan tajam.
"Kalau sudah seperti ini, sepertinya aku harus membongkar rahasiamu." Bisik Akira sambil mengeringkan gelas basah yang sudah di cuci oleh Kinan.
"Hee... jadi kau mengancamku lagi?" Tanya Kinan dengan santainya membuat Akira tersenyum menatap gelas yang di pegangnya.
"Sebenarnya aku sudah menolak ajakannya, tapi dia membuatku kesal. Jadi tanpa sadar aku malah menerima ajakannya." Jelas Akira membuat Kinan melirik kearahnya.
"Tiba-tiba curhat." Guman Kinan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Mau tak mau aku akan memaksamu untuk ikut bersamaku." Ucap Akira sambil mecuci tangannya, membuat bahunya berdekatan dengan bahu Kinan. Kinan yang terkejut dengan aksi Akira pun langsung menjauhkan dirinya dari samping pria itu.
"Ah ya kenapa kakak tidak pergi dengan pacar kakak saja?" Tanya Dea membuat Akira melihat kearahnya, "Ah iya aku lupa! Kakak kan bilang tidak punya pacar. Maafkan aku ...." Lanjutnya merasa tidak enak saat mengingat percakapannya dengan Akira ketika dia pulang bersama dengan pria itu dan juga sahabatnya Fani.
"Tapi aku masih tak habis pikir dengan keputusanmu mengajak Dea. Maksudku, dia kan masih sekolah dan besok dia harus sekolah, begitupun dengan besok, besok dan besoknya, kalaupun bisa keluar, itu berarti dia hanya bisa keluar saat malam minggu saja kan? Jadi aku pikir kenapa tidak mengajaknya keluar saat malam minggu saja? Atau kau ajak orang lain saja. Seperti mengajak kak.Kinan, dia kan selalu luang dan lagi dia sudah tidak sekolah. Usianya juga lebih muda satu tahun denganmu, kalau kau dengan Dea... usia kalian berbeda empat tahun. Bukankah nantinya akan terlihat canggung? Kau juga tidak akan bisa berbicara santai dengannya, Dea juga tidak akan bisa so akrab denganmu." Jelas Megan panjang lebar sambil menatap kakaknya dengan tajam di akhir kalimatnya, seolah-olah dia tau akan masalah yang sedang dihadapi oleh Akira.
"Kepalamu baik-baik saja kan?" Tanya Dea merasa heran dengan ocehan Megan, karena biasanya pria itu tidak akan banyak bicara selain membicarakan soal game dan kakaknya.
Akira yang menatap tajam kearah adiknya pun sudah paham betul arah pembicaraan yang dia coba jelaskan pada dirinya.
"Yah aku sudah menolaknya, jadi tidak perlu meributkannya lagi." Ucap Kinan yang sudah selesai dengan kegiatannya membuat Megan kembali terkejut dan tertawa.
"Se–serius? Kapan dia mengajakmu? Kau, kau menolaknya? Hhaha... tidak bisa dipercaya, langsung mendapat penolakan dua kali dalam sehari. Hhahaha..." Tanya Megan berusaha mengendalikan dirinya.
"Yah lagipula dia tidak akan mau jauh-jauh dari rumah." Gumam Dea yang hanya mampu memasang senyuman diwajahnya.
"Berisik!" Bentak Akira yang sudah menjitak kepala adiknya membuat Megan segera menutup mulutnya.
***
"Yeay..." Teriak Kinan dan Megan bersamaan saat berhasil memenangkan game yang sedang mereka mainkan.
"Berisik!" Teriak Dea yang mengintip di atas anak tangga membuat mereka melihat kearahnya.
Entah sudah berapa kali dia membentak mereka agar tidak berisik, namun mereka kembali berulah. Selain mengganggu tetangga, mereka juga mengganggu konsentrasi belajar Dea yang akan menghadapi ujian besok. benar-benar dua orang yang tidak pengertian.
"Pulang sana!" Ucap Dea kepada Megan.
"Hee... padahal masih seru." Gumam Megan.
"Dia akan semakin berisik kalau ada yang menemaninya bermain game. Dan nantinya aku gak bisa fokus belajar, kalau sampai nilai ku ancur, maka kalian yang harus bertanggung jawab." Tutur Dea menekankan ucapannya pada kalimat terakhirnya membuat Megan merinding.
"Kenapa kau tidak belajar di rumahku saja? Disana cukup tenang kalau mereka sibuk bermain game disini." Tutur Akira sambil berjalan ke arah pintu keluar.
"Benar juga. Mending kau belajar di rumah kami saja, aku akan disini sampai kau selesai belajar. Jadi kita sama-sama untung kan?" Jelas Megan begitu sumringah.
"Untung pala loe." Ucap Dea sambil menjitak kepala Megan membuat pria itu memekik kesakitan.
Meski begitu Dea tetap pergi kerumah Akira untuk melanjutkan waktu belajarnya yang sudah terbuang sia-sia karena mengomeli Megan dan kakaknya.
"Ujung-ujungnya pergi juga." Guman Megan masih kesal kepada Dea yang sudah berani menjitak kepalanya.
'Kenapa aku tidak mengusir ni anak aja sih? Kan gawat kalau sampai orang itu membujuk Dea agar mau keluar bersamanya besok. Sekarang aku malah khawatir pada Dea, tapi dia bilang besok sudah masuk ujian akhir smester. Dia juga semarah itu saat waktu belajarnya terganggu, yah memang selalu seperti itu sih. Biarkan saja deh, dia juga bukan orang yang gampang mengubah keputusannya.' Batin Kinan mengoceh dan kembali larut dalam permainan gamenya.
Di rumah Akira...
"Coklat panasnya." Ucap Akira sambil menghidangkan cangkir berisi coklat panas di hadapan Dea.
"Terima kasih." Ucap Dea menerima coklat panas buatan Akira.
'Ca–canggungnya ....' Batin Dea sambil melirik kearah Akira yang sudah duduk di sebrang tempat duduknya, mata Akira begitu fokus pada berkas ditangannya tak menyadari Dea yang sedang memperhatikannya, 'Aku jadi tidak enak karena menolaknya. Adai saja dia mengajak ku pada malam minggu atau hari libur lainnya, seperti yang Megan bilang. Mungkin aku tidak akan menolaknya' Lanjutnya masih berbicara dalam hati.
'Apa yang ku pikirkan? Fokus, kau harus fokus pada ujianmu dulu. Tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak dulu." Batin Dea mulai fokus kembali pada buku pelajaran di hadapannya dan menepis semua pikiran anehnya.
'Ada apa dengannya?' Batin Akira saat melihat Dea menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kembali fokus belajar.
xxx