
"Kinan ...." Teriak Wulan yang baru sampai di kediaman Akira.
Wanita itu terlihat begitu gembira sampai memeluk tubuh Kinan dengan eratnya, tak perduli dengan para tamu yang mulai memperhatikannya.
"Sudah lama sekali ... akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi." Lanjutnya sambil melepaskan pelukannya.
"Kalian datang?" Tanya Kiara yang baru bergabung membuat Wulan dan Dev melihat kearah kedatangannya.
"Ya–" Jawab Dev terhenti saat Wulan tiba-tiba mendorongnya agar memberikan ruang untuknya mendekati Kiara.
"Aku kangen banget, udah lama ya kita gak ketemu." Tutur Wulan sambil memeluk tubuh Kiara cukup erat.
"Maaf ya kami datang terlambat, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dulu sebelum pergi kesini." Jelas Dev sambil menggaruk tengkuknya.
"Tak masalah, yang penting kalian datang." Tutur Akira dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Jadi jadi?" Tanya Wulan setelah melepaskan pelukannya dari Kiara.
"Jadi?" Ucap Kiara dan Kinan bersamaan.
"Sudah di tentukan tanggal pernikahannya? Aku tak sabar ingin menghadiri acara pernikahan kalian." Lanjut Wulan membuat rona merah diwajah Kinan mencuat.
"Kita lihat saja nanti." Jawab Akira membuat Wulan kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau kesal begitu?" Tanya Kiara berusaha menahan tawanya.
"Habisnya–" Jelas Wulan terhenti saat Akira menepuk bahu Dev dengan tangan kirinya. Membuat perhatian mereka tertuju pada kedua pria itu.
"Bagaimana dengan kalian? Sudah memutuskan tanggal pernikahannya?" Tanya Akira membuat Wulan bereaksi cepat dengan menggandeng tangan Dev.
"Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Karena sudah ditanya, sebaiknya kami berikan undangannya sekarang." Lanjut Dev sambil mengeluarkan dua buah undangan dan memberikannya pada Kiara dan Akira.
"Yang ini satu untuk berdua ya." Goda Dev sambil melirik kearah Kinan.
"Hee... satu bulan dari sekarang ya?" Gumam Kiara terlihat bahagia untuk sahabatnya.
"Hhehe... begitulah, kalian harus datang ya. Tidak boleh tidak!" Ucap Wulan kembali tersenyum membuat Dev ikut tersenyum dengannya.
"Ada apa?" Tanya Akira saat menyadari Kinan yang tak banyak bicara, tak seperti biasanya. Wanita itu hanya membisu mendengarkan pembicaraan mereka tanpa protes sedikitpun.
"Apa kau tidak enak badan?" Lanjut Kiara bertanya dengan memasang ekspresi khawatirnya.
"Tidak aku baik-baik saja." Jawab Kinan berusaha menunjukan senyuman terbaiknya.
***
Waktupun berjalan dengan cepat, Karina juga sudah memberikan pengumuman pada semua tamunya mengenai tanggal pernikahan putranya yang terbilang cepat.
Bahkan Kinan tampak terkejut saat mengetahui dirinya akan dinikahi oleh Akira dalam waktu kurang dari satu bulan lagi. Sedangkan Akira tampak tenang dengan keputusan yang diambil oleh orang tuanya.
"Huh kenapa mereka melakukan semua ini? Bukankah terlalu cepat untuk kami menikah?" Gumam gadis itu sambil berdiri dibalkon.
Kebetulan acara malam ini diadakan dilantai atas, semua tamu undanganpun hanya rekan-rekan kerja Akira dan teman-teman dekatnya. Jika harus dihitung, bisa mencapai seratus tamu undangan.
"Apa yang kau gumamkan?" Tanya Akira mengejutkan Kinan.
"Itu ...." Ucapnya terhenti dan melamun beberapa saat.
"Apa kau tidak bahagia dengan keputusan yang diambil oleh orang tuaku?" Tanyanya membuat Kinan menghela nafas pasrah.
"Yah sejujurnya aku masih belum siap, rasanya semua ini terlalu cepat untuk ku. Aku ragu bisa memenuhi keinginan tante Karina." Jawabnya sambil memperhatikan rembulan yang bersinar terang malam ini.
"Apa kau tidak ingin menikah denganku?" Tanyanya membuat wanita itu melirik kearah Akira yang sudah menatapnya dengan serius.
"Bukan begitu," jawabnya terhenti saat melihat senyuman angkuh Akira.
"Sepertinya aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku." Tuturnya membuat rona merah diwajah Kinan kembali mencuat.
"Ya–yah meski tidak berhasil dilakukan dalam waktu satu minggu." Jelas Kinan terbata-bata.
"Mau bagaimana lagi kan? Aku sibuk bekerja jadi–" Bela Akira masih mempertahankan senyuman angkuhnya, namun tak lama kemudian ekspresinya berubah saat merasakan kecupan hangat Kinan di pipinya.
"Selamat ulang tahun." Ucapnya setelah mencium pipi Akira.
Dengan cepat Akira meraih pipinya dan melihat senyuman hangat yang terpancar diwajahnya.
***
"Ada apa?" Tanya Kinan duduk dihadapan Dea sambil meraih cangkir teh diatas meja.
'Sialan! Bagaimana bisa dia mengetahuinya secepat ini? Padahal aku sudah berhati-hati, tapi ... arrgh, awas saja kalai dia berani mempermainkanku lagi.' Batin Dea terus mengoceh mengingat kejadian siang tadi.
"Dea?" Tanya Kinan yang tak mendapatkan respon apapun dari adiknya.
"Aku akan balas dendam padanya!" Ucap Dea nyaris berteriak, untung saja tak ada yang menyadarinya. Hanya saja Kinan tampak terkejut dengan reaksi Dea saat dia tersadar dari lamunannya.
"Eh?" Gumamnya membuat Kinan menjitak kepala adiknya dengan kesal, sedangkan Dea hanya bisa memekik kesakitan sambil mengelus kepalanya yang menjadi korban kekerasan kakaknya.
"Jangan melamun!" Tegasnya.
"Aku tidak melamun!" Ucap Dea berusaha membela diri.
"Yakin? Ku lihat kau seperti sedang memikirkan sesuatu ... apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Kinan tampak khawatir.
'I–itu ... mana mungkin aku menceritakannya pada kakak kan? Aku tidak bisa bilang kalau pria menyebalkan itu sudah mencuri ciuman pertamaku, mana bisa.' Batinnya mengoceh saat mengingat kejadian memalukan siang tadi.
"Hem?" Gumam Kinan masih memperhatikan adiknya yang terlihat kesal, bersamaan dengan itu wajah Kinan mulai terlihat pucat dan keringat dingin mulai membanjiri keningnya.
'He? Ada apa denganku? Kenapa rasanya ... Ini? Semuanya berputar.' Batinnya sambil menundukan kepalanya setelah menyimpan cangir teh ditangannya.
Semua suara kebisingan mulai terdengar samar ditelinganya, pandangannya pun mulai buram sampai akhirnya wanita itu tumbang dan jatuh pingsan di lantai.
Dea yang sejak tadi sibuk dengan pemikirannya pun begitu terkejut saat melihat kakaknya tergeletak di lantai secara tiba-tiba.
"Kak?" Ucap Dea segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kinan yang tak sadarkan diri di lantai.
"Apa yang terjadi?" Tanya Delia mengejutkan Dea, wanita berambut pirang itu langsung berjongkok disampingnya dan meraih tangan Kinan. Tapi Dea tak memperdulikannya, dia hanya bisa menepuk wajah kakaknya dengan perlahan. Berharap Kinan bisa sadarkan diri detik itu juga, tapi usahanya sia-sia.
Saat perhatian Dea melemah, Delia langsung mencopot cincin yang melingkar dijari manis Kinan. Kemudian senyuman sarkasnya terpancar begitu saja.
"Ayo bawa dia ke–" Saran Delia setelah memasukan cincinnya kedalam saku pakaiannya.
"Kinan?!" Suara Akira mengejutkan Delia, beberapa tamu undangan pun mulai memperhatikan.
"Kak Akira." Gumam Dea dengan ekpresi khawatirnya.
"Jangan khawatir ...." Ucap Akira langsung meraih tubuh Kinan dan membawanya ke kamar pribadinya, diikuti oleh Dea dan Delia.
"Apa yang terjadi?" Tanya Karina saat sampai di dalam kamar Akira bersama dengan Fino, wajahnya juga terlihat khawatir saat melihat Kinan terbaring diatas tempat tidur putranya.
Wanita itu langsung datang menemui putranya saat mengetahui Kinan jatuh pingsan dari salah satu pelaya di rumah mewahnya.
"Tante," Gumam Dea.
"Fino! cepat panggilkan dokter." Ucap Karina membuat pria itu bergegas pergi keluar untuk menelpon dokter pribadi keluarga Wira.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Karina mendekati putranya yang masih setia memegangi tangan Kinan dengan ekspresi khawatirnya.
'Hee ... jadi dia mengkhawatirkan calon menantunya ya. Sepertinya Kinan berhasil mencuri hati Akira dan tante Karina ya,' Batin Delia diam-diam menatap wajah Kinan dengan tatapan kesalnya.
"Seingatku kakak sedang menikmati teh tadi, tapi tiba-tiba saja dia jatuh pingsan setelah meminum teh itu." Jelas Dea menyadarkan Delia.
'Sial! aku lupa mengurusnya ....' Lanjutnya terlihat panik.
"Teh?" Tanya Karina dan Akira bersamaan.
"Ya, seorang pelayan menghidangkannya untuk kakak." Jawab Dea membuat ekspresi Akira berubah.
"Aku pergi dulu." Ucapnya membuat Dea dan Karina terkejut.
"Biarkan aku ikut." Lanjut Delia mengekori Akira.
"Kau mau kemana?" Teriak Karina tak diperdulikan, bersamaan dengan itu Megan dan Kiara berjalan cepat memasuki kamar Akira dengan wajah khawatirnya.
"Ada apa ini?" Tanya Megan memperhatikan Kinan yang tak sadarkan diri.
"Kinan?" Lanjut Kiara sambil meremas tangannya dengan kesal.
'Apa yang ku lakukan? harusnya aku memperhatikannya, kenapa hal ini bisa terjadi? apa yang sebenarnya terjadi? apa ini ulahnya?' Lanjutnya bertanya-tanya dalam hati dan mengingat wajah Delia yang tersenyum sarkas padanya saat berpapasan dengannya.
xxx