
Setelah selesai sarapan pagi, Dea langsung pergi ke rumah Akira untuk mengantar tukang yang dia panggil, tukang yang akan memperbaiki keran kamar mandi di rumahnya Akira.
Sedangkan Kinan, dia sibuk bermain game dengan Megan di rumahnya.
"Keran air nya tolong diperbaiki ya pak." Tutur Dea kepada seorang bapak yang sudah melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Setelah itu Dea pun kembali kerumahnya dengan terburu-buru.
"Kak ...." Ucapnya membuat Kinan, Megan dan Akira melihat kearahnya secara bersamaan, "Tolong siapkan minuman untuk tukang di rumah kak.Akira, setelah itu tolong jemur pakaiannya, aku–" Lanjutnya terhenti saat Kinan mengeluh dengan ekspresi malasnya.
"Hee... tau gitu aku panggil tukangnya di hari sekolahmu saja De. Malas ah... kamu aja yang siapin minumnya." Tutur Kinan membuat Dea tersenyum kesal.
"Baiklah, tapi aku mau kau pergi ke pasar untuk menggantikanku. Bagaimana?" Tanya Dea masih tersenyum.
"Kalau begitu aku akan siapkan minumnya." Ucap Kinan langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera pergi ke dapur.
"Hah..." Guman Dea menghela nafas lelah, "Aku pergi ya." Lanjutnya berteriak.
"Tunggu." Ucap Akira menghentikan langkah Dea, "Heh..." Lanjutnya memanggil Megan, namun tak ada respon dari adiknya.
"Gan." Ucapnya sekali lagi, barulah Megan melirik kearah Akira dengan tatapan kesalnya karena sudah mengganggu kesenangannya saat bermain game.
"Pergi ke pasar sana." Ucap Akira memerintahkan adiknya.
"Ha? Kenapa? Bukankah urusan dapur sudah di ambil alih oleh kak Kinan?" Tanya Megan dengan nada malasnya.
"Antar Dea ke pasar." Jawab Akira membuat Dea merasa tidak nyaman.
"Ti–tidak perlu diantar, aku bisa pergi sendiri ko." Tutur Dea berusaha mencairkan suasana.
"Dengar? Dia bilang bisa pergi sendiri." Ucap Megan kembali fokus pada konsol gamenya.
"Kalau begitu jatahmu minggu ini aku potong ya." Tutur Akira sambil tersenyum sinis.
"Aku pergi," ucap Megan langsung bergegas mengantar Dea ke pasar, "ayo pergi." Lanjutnya saat melewati Dea yang masih mematung di tempat saat mendengar ancaman Akira.
'Ternyata Dia juga mengancam adiknya dengan cara itu. Sama seperti kakak, apa semua kakak selalu mengancam adiknya seperti itu?' Batin Dea mulai berjalan mengikuti Megan.
Kinan yang baru selesai membuatkan lemon tea untuk tukang di rumah Akira pun langsung bergegas mengantarkannya.
"Lemon tea?" Tanya Akira saat mencium wangi teh di atas nampan yang dibawa oleh Kinan, "Kenapa lemon tea? Kenapa tidak buatkan kopi saja? Atau jus?" Lanjutnya masih bertanya.
"Berisik ah, pulang sana." Ucap Kinan melewati Akira yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Apa kau selalu bersikap seperti itu?" Tanya Akira tak di dengarkan, "Sifatmu jelek sekali ya ...." Lanjutnya berusaha mencuri perhatian Kinan dengan terus mengekori wanita itu.
Namun tetap tak di perdulikan, kini Kinan sudah memasuki rumah hunian Akira dan menyimpan lemon tea yang dibuatnya diatas meja ruang tamu.
Kemudian kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk menemui tukang yang sedang sibuk memperbaiki keran air yang rusak.
"Pak," ucap Kinan membuat orang itu melihat kearahnya, "bagaimana? Apa sudah selesai?" Lanjutnya bertanya.
"Mana bisa selesai secepat itu, dasar gak sabaran ...." Tutur Akira mengejek Kinan, tapi masih tak dianggap. nyatanya wanita itu masih fokus berbasa-basi dengan bapak tukang itu.
"Belum neng, sebentar lagi." Jawab bapak itu sambil tersenyum.
"Kalau sudah selesai teh nya diminum ya pak, saya sudah siapkan di ruang tamu ...." Tutur Kinan membalas senyuman bapak itu.
"Ia neng, Makasih." Ucapnya.
Akira yang mulai kesal dengan sikap cuek Kinan pun segera menghentikan langkahnya di depan pintu rumahnya. Menghalangi pintu keluar dengan berdiri disana.
Untuk beberapa detik mereka saling memandang kesal satu sama lain. dan berakhir dengan tundukan kepala Kinan.
"Sial leherku pegal, kenapa aku harus selalu melihat ke atas saat sedang berbicara dengan orang yang lebih tinggi dariku?" Guman Kinan sambil memijat-mijat tengkuknya.
"Sekarang rumah ini adalah tempat tinggalku, jangan seenaknya keluar masuk rumah orang." Tutur Akira tiba-tiba.
"Kalau begitu sebaiknya kau bersikap baik dengan menghidangkan minum untuk tukang yang sudah kami panggil. Jangan membuatku repot ...." Balas Kinan.
"Tapi kan itu salah kalian sendiri. Coba saja kalian memperbaiki kerusakannya saat kami belum mengisi rumah ini. Pasti kau tak akan kerepotan seperti ini." Jelas Akira membuat Kinan melemparkan senyuman sinis kearahnya.
"Karena sejak awal aku memang tidak berniat menyewakannya." Ucap Kinan membuat Akira terkejut.
"A–apa maksudmu?" Tanya Akira.
"Ide menyewakan rumah ini adalah idenya Dea. Karena suatu alasan maka mau tak mau aku harus setuju dengan idenya." Jawab Kinan sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"Apa mungkin alasannya adalah orang tua kalian?" Tanya Akira saat mengingat kejadian di hari ia menguping pembicaraan Kinan.
Kinan yang terkejut dengan ucapan Akira pun hanya bisa mematung dan menatap tajam kearah Akira yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kalau kau diam, berarti jawabannya adalah iya." Tutur Akira sambil menunjukan sebuah foto di heandphone nya, foto Kinan yang sedang fokus menggambar.
"Hemph... tau apa kau? Ancaman seperti itu tidak akan berpengaruh lagi padaku. Dasar penguntit." Tutur Kinan sambil mendorong pria itu keluar sampai menyisakan jalan untuknya keluar dari rumah Akira.
"Aku hanya perlu bilang kalau kau diam-diam bekerja keras di belakang Dea. Pasti dia juga senang karena kakak nya sudah bekerja. Bukankah selama ini dia mengkhawatirkan masa depanmu?" Jelas Akira kembali menghentikan langkah Kinan.
"Ceritakan saja. Toh dia juga tidak akan mempercayainya." Ucap Kinan menantang pria itu sambil mulai berjalan menjauhinya.
"Kalau dia tidak bisa percaya dengan satu foto. Maka tinggal aku putar rekamanya saja ...." Tutur Akira membuat Kinan terperajat dan menghentikan langkahnya.
"Re–rekaman?" Gumam Kinan sambil melirik kearah Akira berdiri.
"Ya rekaman, lihatlah ...." Ucap Akira memperjelas ucapannya membuat Kinan berjalan kembali kearah Akira yang masih berdiri di dekat pintu. Dan mulai melihat rekaman yang sedang diputar di heandphonenya Akira, terdengar dari suaranya.
Tentu saja itu adalah suara Kinan yang sedang berbicara dengan seseorang dari telponnya.
"Kau? Menguping? Mengintip juga? Sejak kapan?" Tanya Kinan mulai berkeringat dingin setelah selesai melihat rekaman yang di maksud oleh Akira, "Mengerikan ... dasar penguntit! Cepat hapus videonya!!" Lanjutnya sedikit berteriak dengan wajah pucat karena merasa takut, bukan takut rekamannya sampai ke tangan Dea. Tapi takut dengan kehadiran pria dihadapannya yang memiliki kebiasaan buruk dengan memperhatikan dirinya secara diam-diam.
"Akan ku rahasiakan,"ucap Akira menatap mata Kinan dengan serius membuat wanita itu harus menelan ludah secara paksa saat merasakan tenggorokannya perlahan mengering, "dengan satu syarat tentunya." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Syarat?" Gumam Kinan merasa dibodohi, "Jangan mempermainkanku. Kau sudah memaksaku untuk memasak makanan untuk kalian. Harusnya itu sudah cukup." Tuntut Kinan kembali dibuat kesal.
"Tidak sulit. Hanya ...." Ucap Akira sambil menunjukan dua buah tiket nonton di tangannya.
"Tiket?" Gumam Kinan.
"Temanku ingin mengadakan double date, tapi aku belum menemukan orang yang cocok. Jadi aku memintamu untuk menemaniku, mudah bukan?" Jelasnya membuat Kinan semakin kesal.
"Tidak bisa! Aku tidak mau jauh-jauh dari rumah. Cari yang lain saja." Ucap Kinan sambil membuang muka dari pria itu.
"Sayang sekali... kalau begitu bolehkah aku meminjam Dea?" Tanya Akira sambil tersenyum sinis kearah Kinan dan menatap tajam sorot matanya yang juga membalas tatapan Akira tak kalah tajamnya.
"Bagaimana kalau berkelahi dulu denganku?" Tanya Kinan yang sudah mencapai batas kesabarannya sambil tersenyum sinis untuk membalas senyuman pria dihadapannya.
xxx