
Setelah melakukan perdebatan dengan Megan, akhirnya pria itu pergi kepasar setelah mendapatkan peta dan daftar belanjaan yang ditulis oleh Kinan.
Ah, soal peta menuju toko game. Tentu saja Kinan tidak memberikannya. Lagipula dia kan tidak pernah keluar rumah, mana mungkin dia tau toko game yang dimaksud oleh Megan. Dan soal pasar, dia pernah beberapa kali pergi ke pasar meski terpaksa.
Pertama, saat Dea melakukan perjalanan sekolah selama 3 hari. yang ke dua, saat Dea jatuh sakit dan kebetulan stok makanan dikulkas sudah habis. Yang ke tiga, saat dia mendapat hukuman dari Dea karena ketahuan bergadang. Jadi mau tak mau dia harus pergi kepasar, meski untuk yang pertama kalinya, dia tersesat saat perjalanan pulang sampai harus menelpon Dea yang sedang berada diluar kota karena melakukan perjalanan sekolah. Tentu saja Dea mengomeli kakaknya karena menanyakan jalan pulang pada adiknya yang berada diluar kota.
"Akhirnya bisa tenang juga ...." Gumam Kinan sambil duduk dikursi putarnya dan mulai menyalakan komputernya.
Tak lama kemudian, Kinan mendapatkan telpon dari nomor tak dikenal. Dengan cepat dia pun menjawab panggilan masuk itu.
"Tolong ...." Rengek seseorang disebrang sana membuat wanita itu kebingungan dan menjauhkan heandphonenya dari telinga, dan melihat kembali nomor tak dikenal itu.
"Kak Kinan! Sepertinya aku menjatuhkan petanya disuatu tempat. Aku tidak tau harus pergi kemana, aku juga tidak tau aku berada dimana ... to-tolong jemput aku." Tutur pria itu berteriak membuat Kinan hampir melempar heandphonenya karena terkejut mendengar suaranya.
"Ah Megan," gumamnya baru menyadarinya, "Apa tadi dia bilang? Dia menjatuhkan kertasnya?" Lanjutnya.
"Kau bawa Hp kan? Kenapa tidak buka google maps aja?" Ucap Kinan mengejutkan Megan.
"Hee... kenapa kau tega sekali padaku? Batre Hp ku tinggal sedikit lagi. Jadi cepat jemput aku... aku mo–" Jelas Megan terburu-buru membuat Kinan merasa kesal. Kemudian sambungannya terputus, mungkin karena batre heandphonenya keburu habis.
"Ah, anak itu benar-benar ...." Geram Kinan mulai berlari kearah pintu sambil menggenggam heandphonenya dan meraih topi yang tergantung di atas paku dekat pintu.
***
Setelah berlarian kesana kemari akhirnya Kinan menemukan sosok Megan yang sedang duduk di bangku taman dengan ekspresi ... senang?
"Kenapa kau senyam senyum seperti itu?" Tanya Kinan yang baru sampai dengan nafas tak beraturannya.
"Kau datang?" Tanya Megan dengan wajah terkejutnya, 'Padahal aku pikir dia tidak akan perduli.' Lanjutnya dalam hati.
"Apa maksudmu? Kau yang memintaku untuk datang kan? Kenapa malah nyasar ke tempat sejauh ini? Dan lagi wajahmu bertolak belakang dengan suara rengekanmu di telpon. Kenapa kau menjatuhkan kertasnya? Kau benar-benar membuatku kesal, padahal aku mau main game dengan tenang ...." Tutur Kinan sambil menunjuk kearah wajah Megan.
"Hhaha... maafkan aku, aku kan tidak sengaja menjatuhkannya. Soal wajahku, barusan aku bertemu dengan seseorang. Jadi aku tidak bisa menahan diriku setelah mendengar cerita menarik darinya ...." Jelasnya sambil tersenyum hangat.
"Ha?" Tanya Kinan memasang wajah kesalnya, "Tidak masuk akal, mana ada cerita menarik yang bisa membuat orang lain sesenang itu. Dan lagi, kalau kau bertemu dengan orang baik. Kenapa tidak menanyakan jalan pulang atau jalan menuju kepasar padanya? dasar bodoh ...." Lanjutnya mulai mengomel.
"Hhaha, aku tidak kepikiran sampai sana. Hhahaha ... maafkan aku." Tutur Megan tak menghentikan ocehan Kinan.
'Meski dia malas keluar rumah, dia bisa mengkhawatirkanku seperti ini juga ya, mungkin karena aku bilang tersesat padanya. Sampai-sampai dia berlari seperti itu. Sepertinya orang itu benar-benar mengenal kak Kinan dengan baik ya ....' Batin Megan mengingat sosok yang baru saja ditemuinya.
Pria itu pun mulai bangkit dari tempat duduknya membuat Kinan berhenti mengoceh dan menatapnya penuh tanya.
"Karena kak Kinan sudah disini, bagaimana kalau kita pergi kepasar bersama saja? Sekalian antar aku ke toko game." Ajak Megan membuat Kinan menghela nafas pasrah.
"Yah sudah, terlanjur keluar rumah juga. Ayo pergi ...." Ucap Kinan sambil berjalan mendahului Megan. Memimpin perjalanan menuju pasar, "Dan lagi, kau ini benar-benar aneh ya. Sebentar-sebentar memanggilku kak Kinan, nanti sebentar-sebentar memanggilku dengan sebutan 'Kau'. Dasar labil ...." Lanjut Kinan mengejek Megan, membuat rona merah diwajah pria itu mencuat.
'Aku tidak menyadarinya ....' Batin Megan sambil menghentikan langkahnya dan menatap punggung Kinan yang mulai menjauhinya.
***
Setelah berbelanja stok mingguan dan mengantar Megan ke toko game yang berada dekat dengan halte bus. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Soal toko game, mereka sempat mencarinya di internet. dan ternyata tokonya tidak jauh dari halte bus depan kompleks utama dekat jalan raya.
"Jadi jarak menuju pasar hanya satu kali pemberhentian bus ya." Gumam Megan sambil berjalan disamping Kinan dengan membawa dua kantung belanjaan untuk stok bulananya. sedangkan Kinan hanya membawa satu kantung belanjaan ditangan kanannya.
"Ngomong-ngomong kenapa kak.Kinan tau aku berada di taman?" Tanya Megan membuat Kinan melirik kearahnya.
"Ada anak kecil yang bilang padaku, kalau di taman ada laki-laki aneh yang mecurigakan, senyam senyum sendiri. dia juga menyebutkan ciri-cirinya, jadi aku langsung pergi kesana untuk memastikan." Jelas Kinan kembali melihat kedepan.
"Laki-laki aneh?" Gumam Megan berkeringat dingin sambil memaksakan untuk tersenyum, "Tapi sekali-kali keluar rumah tidak buruk juga bukan?" Lanjutnya bertanya, membuat Kinan melirik kembali kearah Megan.
"Lihat pemandangan langitnya ... bagus bukan?" Ucapnya sambil menunjuk keatas langit dan tersenyum hangat.
"Hem," guman Kinan dengan ekspresi datarnya, memperhatikan langit biru yang dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang menyilaukan, "silau." Lanjutnya membuat Megan melihat kearah Kinan berjalan.
"Ah kak Kinan!" Teriak seorang anak laki-laki berusia enam tahun berlari mendekati gadis itu diikuti oleh dua anak lainnya.
"Kak Kinan." Teriak mereka membuat Kinan menghentikan langkahnya.
"Kenapa harus bertemu dengan ketiga bocah ini?" Gumam Kinan memasang wajah terkejutnya.
"Siapa mereka?" Tanya Megan ikut menghentikan langkahnya.
"Anak-anak tetanggaku." Jawab Kinan sudah dikelilingi oleh ketiga anak kecil yang sebelumnya berlarian mendekatinya. dari ketiga anak itu, satu diantaranya adalah anak perempuan.
"Hee... hari ini kakak pergi ke pasar ya?"
"Kakak beli apa?"
"Kenapa kakak jarang keluar rumah?"
"Ayo kita main kejar-kejaran lagi."
"Ajari aku cara berlari yang cepat lagi ...."
"Kak Dea belum pulang ya?"
Begitulah ocehan mereka saat bertemu dengan Kinan. membuat wanita itu tak bisa berkutik dan hanya memasang senyum paksaan yang menghiasi wajahnya.
"Siapa om itu?" Tanya salah satu dari mereka sambil menunjuk kearah Megan.
"O–om?" Guman Megan membuat Kinan tertawa.
"Pacar kak Kinan ya?" Lanjut yang lainnya bertanya membuat gadis itu terkejut.
"Pacar?" Gumam Megan lagi.
"Bukan! siapa juga yang mau pacaran sama dia." Jawab Kinan membuat Megan terkejut.
"Ja–jahatnya" Gumamnya lagi.
"Apa kakak beli coklat? permen? atau es krim?" Tanya gadis kecil yang menarik jaket Kinan.
"Tidak. kakak cuma beli sayuran sama beberapa daging dan ikan," jawab Kinan sambil tersenyum, "kalau begitu kakak pulang dulu ya. mainnya kapan-kapan aja ya, dadah ...." Lanjutnya sambil mulai melangkahkan kakinya meningagalkan ketiga anak itu.
"Heee..." Teriak ketiga anak itu merasa terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh Kinan.
"Ah kakak beli permen loh. kalau mau silahkan diambil ...." Tutur Megan yang sudah berjongkok dihadapan mereka.
"Waah... beneran boleh ni om?"
"Asik ...."
"Om benar-benar orang baik ya... kalau gitu kita main yuk."
"Padahal aku udah bilang kakak barusan. tapi tetep aja dibilang om," gumam Megan merasa dipermainkan, "mainnya lain kali saja ya. untuk sekarang lebih baik kalian pulang saja dulu, cuaca hari ini cukup panas. nanti kalian bisa demam loh." Lanjutnya menolak tawaran ketiga anak itu dengan nada selembut mungkin.
"Heee..." Teriak mereka lagi, sama terkejutnya saat melihat reaski Kinan sebelumnya.
"Kalau kalian mau menurut. nanti kakak beliin lagi permen buat kalian, atau kalian mau coklat? atau es krim?" Tutur Megan menghibur mereka bertiga.
"Permen, coklat, es krim ...." Gumam mereka bertiga memasang ekspresi berseri-serinya.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya, sampai jumpa om." Teriak salah satu diantara mereka sambil berlari menjauhi Megan diikuti dua lainnya, sedangkan Megan hanya bisa melambaikan tangannya kearah mereka sambil memberikan senyuman terhangatnya.
"Dia benar-benar meninggalkanku ...." Guman Megan yang tak melihat Kinan dimanapun.
xxx