Dea & Kinan

Dea & Kinan
58. Berita ?



Saat sedang asik menyantap bubur, tiba-tiba saja heandphone Akira berdering. Membuatnya harus mengangkatnya saat mendapati nama ibunya yang tertera dilayar heandphonenya.


"Hallo..." Ucap Akira sambil bangkit dari tempat tidurnya dan mendudukan dirinya diatas kursi putar yang sudah tersimpan didepan meja kerjanya.


"Hallo sayang, ibu ingin memberitaumu sesuatu..." Tutur Karina membuat Akira menghela nafas berat.


"Apa tidak bisa menghubungiku besok ?" Tanyanya merasa lelah.


"Jika begitu kau akan kerepotan sendiri, Dengarkan saja apa yang ibu katakan. Setelah itu putuskan sendiri apa yang akan kau lakukan..." Jelasnya membuat pria itu segera memasang telinganya dengan baik. Berusaha mencerna semua ucapan ibunya yang membuatnya tak bisa berkutik.


"Berita soal pertunangan ?" Gumam Akira segera meraih komputernya dan mulai berseluncur ria di internet setelah mendengar penjelasan ibunya. Matanya mulai membulat saat melihat berita soal dirinya dan Kinan, bahkan foto dirinya ikut tersebar.


"Ibu ini ?" Tanya Akira yang masih terhubung dengan sambungan telpon ibunya.


"Ibu yang membuatnya, ibu baru selesai memberikan klarifikasi pada sejumlah media yang datang ke rumah. Ayahmu juga membantu ibu dalam memberikan klarifikasi..." Jelasnya dengan suara ringan membuat Akira semakin kebingungan.


"Bagaimana bisa ibu membuat berita seheboh ini ? Kiara dan Bayu, bagaimana jika mereka terganggu dan keluar menunjukan bukti kebohonganku pada semua media ?" Tutur Akira bertanya sambil memijat kepalanya yang mulai berdenyut.


"Hee... kau tidak tau ? Ibu sudah membereskan masalahmu bersama Fino. Apa dia belum memberitaumu ?" Jawab Karina mulai melempar batu pada kaki tangannya Akira, bersikap seperti tak tau apapun. Padahal semuanya adalah rencana yang sudah dibuatnya jauh-jauh hari.


"Orang itu !" Gumam Akira dengan nada kesal bersamaan dengan kedatangan Kinan yang sudah membawa cangkir teh mint ditangannya.


"Teh nya sudah ku buatkan" Ucap Kinan membuat pria itu segera berbalik badan menghadap kearah Kinan.


"Kyaaa... dirumahmu ada Kinan ? Ibu jadi ingin bertemu dengannya, berikan ponselmu padanya, aku ingin bicara dengannya cepat berikan" Teriak Karina membuat Akira segera menjauhkan heandphonenya dari telinganya.


"Jadi pembicaraannya sudah selesai kan ?" Tanya Akira membuat Karina tersadar dengan sesuatu yang hampir dilupakan olehnya.


"Gawat ibu hampir saja lupa, Hhehe maafkan ibu ya... Besok kamu dan Kinan bersiap untuk memberikan klarifikasi didepan media ya, Ibu dengar mereka akan datang ketempatmu" Jawabnya membuat Akira kembali menghela nafas berat.


"Kau sangat sadar kalau aku benci media bu. Kenapa malah membawaku pada masalah seperti ini..." Gumam Akira.


"Jadi kau tidak suka terlepas dari Kiara ? Apa ibu salah mengambil tindakan ? Apa ibu harus membiarkanmu dimanfaatkan oleh wanita itu lagi ?" Tanya Karina berturut-turut.


"Ekhem" Dehem Kinan sambil melipat kedua tangannya diatas dada, membuat Akira tersadar dengan kehadirannya.


"Kau sedang demam kan ? cepat berbaring, minum obatnya dan habiskan teh mint nya ! aku tidak mau berlama-lama merawatmu !" Lanjutnya sambil memasang ekspresi kesalnya.


"Kau sakit ? ibu tidak salah dengar kan ?" Tanya Karina membuat pria itu refleks mematikan sambungan telponnya.


"Cepat minum obatnya-" Ucap Kinan terhenti saat mendengar suara pintu rumah Akira yang dibuka dengan keras sampai mengeluarkan suara yang cukup keras.


"Kakak !" Teriak Megan dan Dea bersamaan sambil menerobos masuk ke dalam kamar Akira yang sudah terbuka pintunya.


"Jangan berisik !" Bentak Kinan tak membuat mereka bungkam.


"Beritanya, beritanya kak ! kalian sudah melihatnya ?" Tanya Dea sambil mengatur nafasnya.


Akira yang sudah duduk di tempat tidurnya kembali dikejutkan dengan tindakan Megan yang mulai mengotak ngatik komputernya dan membuka sebuah website yang menayangkan sebuah video berdurasi pendek soal klarifikasi yang diberikan oleh orang tua mereka.


"Barusan juga ditayangkan ditelevisi loh" Ucap Dea setelah berhasil mengatur nafasnya.


Kinan yang merasa penasaran dengan suara yang didengarnyapun mulai mendekati komputer Akira dan ikut menonton video itu. Matanya membelalak terkejut saat melihat wanita cantik yang dia kagumi, wanita yang tidak lain adalah ibunya Akira dan Megan.


"Ini ?" Tanya Kinan sambil menunjuk layar komputer Akira dan melirik kearah Akira dengan tajam, membuat pria itu terbatuk setelah menelan obat penurun demamnya.


"Apa maksudnya ? kenapa mereka membenarkan pertunangan bohongan kita ? kenapa bisa begini ?" Lanjutnya benar-benar frustasi.


"Ini mah kerjaan ibu..." Guman Megan menghela nafas pasrah membuat Akira ikut menghela nafas bersamanya.


"Jelaskan padaku, kenapa ?" Tanya Kinan terhenti saat mengingat penjelasan ibunya pagi tadi.


'Ah kalau begini bisa-bisa orang bodoh ini mengetahui soal perjodohanku dengannya, soal lahan pertanian dan pembatalan perjodohanku dengan Bayu... dia bisa langsung tau kalau ini semua adalah rencana keluarganya, habislah sudah...' Lanjutnya dalam hati.


"Su-sudahlah kak jangan terlalu dipikirkan" Hibur Dea sambil mengelus kepala Kinan.


"Bagaimana bisa ? kehidupan damaiku, semua orang mulai memperhatikanku sekarang..." Rengek Kinan membayangkan dirinya yang tak bisa hidup bermalas-malasan lagi.


'Jadi ibu benar-benar menyukai kak.Kinan ya, dan berniat menjodohkan kakak dengannya. Tapi kenapa musti menggunakan cara seperti ini ? tidak kah ini terlalu berlebihan ?' Batin Megan menggerutu sebal memperhatikan Akira yang tak bersuara sejak tadi. Entah karena masih pusing atau emang tidak ingin ambil pusing. Jadi dia hanya bisa mengabaikannya dan kembali terlelap dalam tidurnya.


***


Malam pun sudah berlalu berganti dengan pagi. Hari ini Dea mengantarkan bubur dan teh mint buatan kakaknya ke rumah Akira, memberikannya pada pria itu supaya sakitnya segera pulih.


Sedangkan Megan, dia sedang sarapan pagi bersama Kinan yang terus memasang ekspresi murungnya. Terlihat begitu menyedihkan, bahkan dia terus mengaduk makannya berulang-ulang. Sepertinya selera makannya sudah hilang sejak semalam.


"Kak Kinan ?" Tanya Megan berusaha mencairkan suasana, "Apa kakak terganggu dengan berita itu ?" Lanjutnya bertanya.


"Tentu saja, kehidupan damaiku sudah berakhir dan lagi kenapa tante Karina membenarkan semua kebohongan itu ? padahal dia bisa menceritakan kebenarannya..." Jelas Kinan semakin murung.


"Sepertinya ibu sangat menyukai kak.Kinan ya..." Gumam Megan sambil tersenyum lirih, mungkin masih ada rasa yang tersisa untuk wanita dihadapannya itu.


"Mana mungkin begitu..." Balas Kinan sambil bergumam.


"Tentu saja karena perjodohan kalian..." Jelas Megan membuat Kinan tersentak dan segera memandang wajah Megan yang menatapnya dengan tatapan sendunya.


"Kenapa kau bisa tau ?" Tanyanya merasa heran, padahal dia sudah menutup semua informasi perjodohannya serapat mungkin.


"Bukan hal yang sulit" Jawabnya tak membuat Kinan merasa puas, "Apa kakak tidak suka dengan perjodohan ini ? kalau begitu kenapa tidak menolaknya saja ?" Lanjutnya bertanya setelah menelan makanan didalam mulutnya.


"Seandainya aku bisa..." Jawab Kinan sambil menghela nafas pasrah membuat Megan kebingungan.


xxx