
Pagi ini si kembar Dean Diana dan Doni pun kembali mengisi kesibukanku. Padahal waktu masih menunjukan pukul 08:00 Am, tapi mereka sudah berlarian kesana kemari menyusuri setiap ruangan di dalam rumah.
Megan dan Dea sudah pergi pagi-pagi buta sekali sama seperti biasanya. Akira ? Bahkan pria itu tidak kelihatan batang hidungnya, meski Dea sempat memberitauku kalau dia sudah kembali kemarin sore. Tapi aku belum bertemu dengannya.
Mungkin dia juga langsung pergi ke kantornya pagi-pagi sekali. Yah, tak masalah bagiku. Justru aku merasa sangat lega karena dia tidak akan menggangguku lagi dengan semua rencana didalam kepalanya itu.
'Tapi kenapa saat itu aku merasa kehilangan ya?' Batinku bertanya-tanya.
"Kak Kinan, kita main ke taman lagi yuk!" Ajak Diana sambil menarik jaket biru muda yang ku kenakan.
"Setelah kakak selesai menggambar ya..." Tuturku sambil tersenyum kearahnya.
'Karena kemarin aku ketiduran, kerjaanku jadi tertunda. Dan sejak pagi tadi telpon dari klien itu terus menggangguku.' Lanjutku dalam hati sambil menghela nafas lelah.
"Hee? Memang selesainya jam berapa?" Tanya Dean sambil memegangi bola sepak yang ditaruh diatas kepalanya.
"Hem?" Gumamku sambil memegangi daguku, berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk mereka. Jangan sampai aku membuat mereka kecewa jika tiba-tiba tidak bisa mengajak mereka main ke taman.
"Pukul sepuluh tepat deh. Kita main ke taman, tapi sebagai gantinya kalian jangan ganggu kakak dulu ya. Kakak mau gambar dulu di kamar." Lanjutku sambil tersenyum lebar pada mereka bertiga.
"Janji ya!" Ucap Diana dan Doni bersamaan membuatku segera menganggukan kepalaku dengan mantap.
***
Disisi lain terlihat sosok Akira sedang berbincang dengan Fino di depan parkiran kantornya. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.
Tampaknya pria itu sedang memberikan ceramah pada sosok Fino yang terlalu memanjakan ibunya dan mengabaikan pekerjaan yang sudah diberikan olehnya. Sedangkan Fino, pria itu hanya bisa menganggukan kepalanya beberapa kali ketika Akira bertanya paham atau tidak padanya.
Setelah puas menceramahi Fino, kini dia segera masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dengan supir pribadinya. Sedangkan Fino, pria itu segera menghubungi seseorang sambil berjalan memasuki kantor Akira.
"Hallo nona?" Ucap Fino saat sambungan telponnya terhubung.
"Ah iya soal gambarnya akan saya kirimkan pukul sepuluh siang nanti, mohon maaf jika pengerjaannya tidak sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan, saya akan usahakan menyelesaikannya secepat mungkin..." Jelas suara itu mengingatkan Fino pada seseorang.
"A-ah iya saya harap anda bisa segera menyelesaikannya. Atasan saya benar-benar tidak sabaran dan-" Tutur pria itu terhenti saat mendengar suara beberapa anak kecil berteriak diheandphonenya.
"Kak.Kinan mainnya sekarang aja, Dean mau main bola sekarang."
"Ana juga mau ke taman lagi, ketemu tante cantik,"
"Jangan ganggu kak.Kinan!"
"Tunggu sampai pukul sepuluh ya, kalian kan sudah janji tidak akan mengganggu kakak dulu, kakak harus menyelesaikan pekerjaan kakak dulu." Tutur suara itu terdengar lembut.
"Ma-maafkan saya tuan, pokoknya saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya secepatnya. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya, terima kasih sudah menghubungi saya" Lanjutnya sebelum mengakhiri sambungan telpon itu.
"Aku tidak salah dengar kan?" Gumam Fino sambil memperhatikan layar heandphonenya.
"Kinan? Anak-anak? Kinan itu... apa dia nona Kinan yang itu ya?" Lanjutnya bertanya-tanya sambil membayangkan wajah wanita yang dia maksud.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 09:15 Pm, Kinan masih sibuk dengan pekerjaannya sedangkan ketiga anak itu sudah mengobrak ngabrik seisi rumah tanpa sepengetahuanya.
"Sedikit lagi..." Gumamnya masih sibuk menggerakan tangan kanannya kemudian terhenti saat mendengar suara pintu rumah yang diketuk berulang kali secara berirama.
"Tuan Fino," ucap Kinan merasa terkejut dengan kedatangannya.
"Selamat pagi nona." Sapanya masih tersenyum.
"Si-silahkan masuk dulu tuan," tuturnya mempersilahkan pria itu masuk.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Lanjutnya bertanya.
"Apa anak-anak itu ada di dalam?" Tanyanya membuat Kinan terdiam bingung mendengar pertanyaan dari pria berambut ikal itu.
"Ituloh, Hhaha... pasti nona tidak akan percaya dengan penjelasan saya. Tapi pagi ini saya menghubungi seseorang yang bertugas membuat desain karakter game di perusahaan tuan Akira, terus tanpa sengaja saya mendengar teriakan beberapa anak kecil yang menyebutkan nama nona. Jadi saya pikir..." Jelasnya terhenti saat melihat ekspresi serius Kinan.
Wanita itu seperti sedang mengingat sesuatu dan dengan cepat dia mengeluarkan heandphone di dalam saku jaketnya. Lalu mencoba menghubungi nomor klien yang menghubunginya pagi tadi.
Terdengar suara dering heandphone dari dalam saku jas hitam yang dikenakan oleh Fino. Dengan cepat pria itu mengangkatnya.
"Tuan Fino?" Tanya Kinan terdengar diheandphone pria itu, lalu pria itu memberikan anggukan mantap dengan senyuman lebarnya saat mendengar suara Kinan keluar dari heandphonenya.
"Jadi?" Gumam wanita itu merasa terkejut karena dia mendapatkan projek besar dari perusahaan Akira.
"Karena sudah begini, biar saya bantu menjaga anak-anak. Nona Kinan selesaikan saja dulu pekerjaannya," jelasnya sambil berjalan kearah ruang tengah sambil memasukan kembali heandphonenya ketempat semula.
"Ma-maaf merepotkanmu, dan terima kasih atas pengertiannya. Saya akan segera menyelesaikannya..." Ucapnya merasa tidak enak pada Fino, tapi lagi-lagi pria itu malah memberikan senyuman hangat padanya.
***
Ku lihat waktu sudah menunjukan pukul 02:00 Pm, dengan cepat aku keluar dari dalam kamarku untuk menemui si kembar Dean Diana dan Doni.
"Sial! aku benar-benar lupa waktu. Setelah menyelesaikan desain karakter itu, aku malah mengerjakan pekerjaan dari klien lain sampai lupa pada ketiga anak itu, mereka pasti ngambek sekarang..." Gerutuku sambil berjalan kearah ruang tengah.
"Sudah selesai?" Tanya Fino sambil tersenyum kearahku.
"Ma-maaf aku benar-benar lupa waktu. Seharusnya aku tidak mengerjakan pekerjaan lainnya..." Jawabku merasa tidak enak sambil menggaruk tengku ku yang bahkan tak terasa gatal sedikitpun.
"Kak.Kinan kelamaan kerjanya, es krimnya sudah habis," protes Doni sambil menunjukan kotak es krim kosong berukuran sedang kearahku.
"Hhaha maaf ya kakak lupa kalau ada janji main ke taman bersama kalian." Jelasku memaksakan tawaku sambil berjalan kearah Doni. Anak itu sedang duduk lesehan dibawah karpet dekat meja komputerku.
"Lain kali saja, soalnya om Fino sudah belikan kami es krim. Jadi kami tidak boleh merepotkan kakak-" Tutur Diana sambil tersenyum lebar dan segera dihentikan oleh Fino.
"Itu tidak benar," Ucapnya dengan rona merah diwajahnya.
"Terima kasih sudah mau menjaga mereka." Ucapku merasa tertolong dengan kehadirannya, berkatnya pekerjaanku juga berhasil diselesaikan tepat waktu. Dengan begitu untuk beberapa hari kedepan aku memutuskan untuk beristirahat dan berhenti menerima pekerjaan dari klien.
"Kalau begitu kakak siapkan makan siang untuk kita semua ya." Lanjutku berhasil membuat ketiga anak itu berteriak kegirangan.
"Aku mau risoles lagi," teriak Dean begitu antusias.
"Kemarin kan udah, hari ini makan omlet aja." Tolak Doni membuat Dean kesal.
"Risoles! pokoknya risoles!" Teriak Dean tak mau kalah.
xxx