
Akira pun mengantarkan Kinan pulang kerumahnya, saat itu waktu baru menunjukan pukul 10:52 Am.
Di dalam mobil, saat perjalanan pulang.
"Jadi beritau aku kenapa kau bisa berakhir seperti tadi ?" Tanya Akira mulai angkat bicara karena masih kesal dengan apa yang dilihatnya.
"Ck, bagaimana bisa dia mengikatmu seperti itu ? Dia benar-benar membuatku kesal" Lanjutnya masih belum puas menggerutu.
"Kenapa kau diam saja ? Jawab pertanyaanku !" Ucap Akira mengejutkan Kinan.
"Berisik ! Jangan bawel deh..." Ucap Kinan sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Dasar bodoh ! Bisa-bisanya hilang kesadaran dan terikat menyedihkan seperti itu" Ejek Akira membuat Kinan hilang kesabaran.
"Memangnya aku menginginkannya ?" Bentak Kinan membuat Akira bungkam, "Dia menyerangku diam-diam, memukul tengkuk ku dengan keras. Tentu saja aku hilang kesadaran, saat ku tersadar. Tangan dan kakiku sudah terikat dengan erat, lalu aku bisa apa ?" Lanjutnya menjelaskan masih dengan perasaan kesalnya dan wajahnya menunjukan rasa takut yang belum pernah diperlihatkan kepada siapapun selain pada keluarganya.
Wanita yang terlihat seperti bisa menghadapi apapun itu, kini terlihat menyedihkan dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya supaya tidak merembes keluar. Sosok Kinan yang selalu terlihat sangat bisa diandalkan dan tak kenal rasa takutpun. Ternyata hanya seorang wanita biasa.
Mengingat tatapan Bayu yang masih membekas dalam ingatannya, sudah membuatnya merinding dan tak ingin menemui pria itu lagi.
Akira yang melihat ekspresi ketakutan Kinan pun langsung menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan. Melepaskan sabuk pengamannya dan langsung memeluk tubuh Kinan, berusaha untuk menenangkannya. Beruntung saat itu jalanan sedang sepi, jadi tak ada yang bisa melihat Akira yang memeluk tubuh wanita itu secara tiba-tiba.
"Tadi itu benar-benar menakutkan... Hiks..." Tutur Kinan mulai terisak dan kembali mengingat tatapan Bayu yang membuatnya merinding.
"Maafkan aku" Bisik Akira membuat Kinan tersadar dan segera mendorong tubuh pria itu untuk menjauh darinya.
"A-apa ?" Tanya Akira tak mengerti dengan tindakan Kinan.
"Jangan memeluk ku tanpa izin bodoh !" Jawabnya penuh penekanan dengan rona merah diwajahnya dan segera menghapus air matanya.
"Ha ? Aku terbawa suasana dan tanpa sadar malah memeluknya..." Gumam Akira kembali mengenakan sabuk pengamannya dan langsung menancap gas, menyembunyikan rona merah diwajahnya dengan memandangi jalanan dihadapannya. Fokus pada kemudinya.
Selama beberapa menit mereka hanya bisa bungkam, dan tak ada yang berani memulai pembicaraan lagi. Sampai akhirnya, Kinan mengambil langkah untuk memulai pembicaraan baru dengan pria itu.
"Kenapa kau datang menolongku ?" Tanyanya membuat Akira melirik kearahnya.
"Apa harus ada alasannya ?" Jawab Akira balik bertanya.
"Aneh saja... padahal kau sedang bersama Kiara. Dan lagi bukannya mengantar dia pulang, kau malah mengantarku, wajahmu juga terlihat bodoh saat sedang kesal" Jelas Kinan membuat Akira merasakan sakit dihatinya saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut wanita itu.
"Terlihat bodoh ?" Gumam Akira berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin, namun senyumannya malah terlihat aneh karena dipaksakan.
'Ya tentu saja aneh, bagaimana kau bisa memasang ekspresi seperti itu untuk orang lain ? Seharusnya kau tunjukan ekspresi itu pada kekasihmu, hanya padanya... tapi kenapa ? Pria bodoh ini malah mengkhawatirkanku tanpa alasan ?' Batin Kinan sambil menopang dagunya dan membiarkan kepalanya menyender pada kaca jendela mobil disampingnya.
"Mungkin dia merasa kesal saat mendengar perjodohan kami dibatalkan, lalu dia bersiap seperti itu..." Jawab Kinan merasa enggak melirik kearah Akira.
"Batal ? Kenapa bisa ?" Tanyanya membuat Kinan mendelik tajam kearah pria itu.
'Bagaimana dia bisa berpura-pura tidak tau ? Padahal ibu bilang, keluarganya ingin menjodohkannya denganku. Dan lagi aku harus menerimanya untuk semua hal yang sudah diberikan pada keluargaku. Bantuan dari keluarga Wira untuk mengembalikan lahan pertanian yang digadaikan pada keluarga pak.Darma dan pembatalan perjodohanku dengan Bayu. Semua itu adalah pertolongan dari keluarga Wira...' Batin Kinan mengingat semua ucapan ibunya saat berbicara melalui telpon pagi tadi.
'Intinya situasi yang ku alami saat ini sama saja dengan sebelumnya, harus melakukan perjodohan dan tidak diberikan kesempatan untuk menolak. Rasanya seperti orang tuaku menjualku pada keluarga Wira... kenapa rasanya malah sedih ya ? Tapi kenapa pria bodoh ini tidak membahasnya ? Apa itu artinya dia belum tau ? Atau keluarganya sengaja tidak memberitaunya ? Entahlah, yang penting aku tidak boleh memberitaunya. Bisa repot nantinya kalau dia tau soal perjodohan yang direncanakan oleh keluarganya dan keluargaku..." Lanjutnya mengakhiri lamunannya.
***
Akhirnya kami pun sampai dirumah. Aku langsung keluar dari mobil pria itu dan berjalan cepat menuju rumahku.
"Aku pulang" Teriak ku saat sampai di dalam rumah.
Kemudian aku melihat Dea dan Megan yang mengintipku dibalik dinding ruang tengah.
'Apa yang mereka lakukan ?' Batinku merasa heran dengan kelakuan dua orang aneh itu.
"Ternyata benar dia pergi bersama dengan kak.Akira" Ucap Dea membuat Megan mengangguk.
"Tapi kenapa dia meninggalkan heandphonenya di luar rumah begitu saja ?" Tanya Megan sambil memegangi dagunya dan mulai berpikir keras.
Dengan cepat aku melirik kearah Akira yang baru saja masuk kedalam rumahku.
"Aku memberitau mereka kalau kau pergi bersamaku, bisa gawat kalau aku bilang kau diculik" Jelas Akira saat melihat tatapanku yang menuntut penjelasan padanya.
"Kenapa tidak langsung pulang kerumahmu saja ?" Tanyaku sambil berjalan mendekati Dea dan Megan.
"Kau sudah pulang ? Biasanya selalu pulang larut" Tanyaku pada Megan, membuat pria itu berhenti berpikir soal heandphone yang mungkin tak sengaja ku jatuhkan sebelum Bayu membawaku pergi.
"Dea menelponku kalau kakak tiba-tiba saja menghilang. Jadi aku langsung pulang, tapi saat kak.Akira menelpon... bilang kak.Kinan sedang bersamanya, aku jadi sedikit menyesal karena pulang dengan terburu-buru" Jelas Megan sambil melirik kearah Dea yang sudah asik sendiri duduk di sofa sambil memainkan heandphonenya.
"Lelahnya..." Guman Akira sambil duduk disebrang sofa tempat Dea duduk, pria itu mulai melepaskan kancing jas hitam yang dikenakannya dan melonggarkan dasi yang melilit di lehernya, lalu membuka kancing kerah kemeja yang dikenakannya.
"Kenapa ?" Tanyaku pada Megan yang masih memperhatikan Dea dengan serius.
"Aku baru pertama kali melihat Dea menangis karena mengkhawatirkan kak.Kinan, jadi ku pikir kakak benar-benar menghilang. Tapi kakak ku malah menelpon dan bilang kak.Kinan sedang bersamanya, rasanya ada yang aneh saja..." Jelas Megan sambil menggaruk tengkuknya.
"Hee... jadi kau datang untuk menenangkan Dea ya" Tuturku sambil mengelus rambut Megan dengan gemasnya. Bagaimana tidak ? Saat ini dia sudah menunjukan wajah tersipunya, matanya juga tak berhenti memperhatikan Dea.
xxx