Dea & Kinan

Dea & Kinan
70. Halusinasi



Waktu sudah menunjukan pukul 04:00 Pm, Megan sudah kembali dari kampusnya dengan membawa es krim pesanan Dean, Doni dan Diana.


Tapi suasana di dalam rumah Kinan tampak sunyi, dan saat dia masuk. Matanya menangkap sepasang sepatu pria dan wanita yang tersimpan rapi dihadapannya bersama dengan sederet sepatu ketiga anak kecil yang dititipkannya pagi tadi.


"Ada tamu?" Gumamnya segera masuk.


"Biarkan mereka tidur dengan nyenyak nyonya..." Suara seorang pria membuat Megan segera melihat ruang tengah dengan terburu-buru.


"Kau sudah pulang?" Tanya Kinan yang baru kembali dari dapur membuat pria itu melihat kearahnya.


"Ya," jawabnya, "Tapi kenapa ada ibu dan Fino disini?" Lanjutnya sambil melihat kearah Karina dan Fino.


"Nyonya tolong berhenti memotret mereka..." Tutur Fino berusaha menghentikan aksi wanita itu, tapi sepertinya Karina tak memperdulikannya. Nyatanya dia masih anteng memperhatikan ketiga bocah menggemaskan dihadapannya, dia bahkan sampai memotret wajah mereka saat sedang terlelap.


"Nyo-" Lanjut Fino terhenti saat melihat Megan berjalan mendekati mereka, dengan cepat pria itu merampas heandphone Karina membuat wanita itu terkejut.


"Tuan muda?" Gumam Fino melangkah mundur saat merasakan aura mengerikan yang keluar dari tubuh Megan.


"Hhehe kau sudah pulang putraku?" Tutur Karina sambil tersenyum lebar dengan aura berbunga-bunganya.


"Jangan ganggu mereka!" Ucapnya penuh penekanan.


"Baik baik, ibu akan berhenti memotret mereka..." Tutur Karina sambil memajukan bibirnya dengan tatapan kesalnya.


"Mau ku buatkan es jeruk?" Tanya Kinan pada Megan yang sudah berdiri didepan kulkas dan memasukan es krim yang dibawanya kedalam freezer.


"Kebetulan sekali aku sedang ingin meminumnya," tutur Megan sambil tersenyum.


"Aku aku juga mau dibuatkan satu," teriak Karina begitu bersemangat.


"Nyonya ssttt..." Ucap Fino berusaha menenangkannya agar tidak membangunkan ketiga anak yang sudah tertidur itu.


"Hhaha maaf." Ucapnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu kalian tunggu diruang tamu saja, supaya tidak mengganggu mereka." Tutur Kinan segera pergi kedapur untuk membuat empat gelas es jeruk.


Setelah selesai membuat es jeruk, wanita itupun segera pergi ke ruang tamu untuk menemui Megan dan yang lainnya. Dengan membawa nampan berisi empat gelas es jeruk.


"Maaf membuat kalian menunggu." Tutur Kinan membuat pembicaraan mereka terhenti.


"Es jeruk ku..." Ucap Karina segera mengambilnya sebelum sempat dihidangkan diatas meja.


"Pelan-pelan ! Ibu ini bukan anak kecil lagi, jangan membuatku malu," gerutu Megan membuat Karina murung.


"Terima kasih..." Ucap Fino setelah menerima es jeruk miliknya.


Dengan cepat Kinan pun mengambil tempat duduk disamping Karina setelah melihat wanita itu menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya. Memberikan sinyal agar Kinan duduk disebelahnya.


"Jadi ada perlu apa ibu datang kesini?" Tanya Megan mengawali pembicaraan.


"Tadinya ibu mau mengajak Kinan keluar, tapi ibu melihatnya bersama ketiga anak itu ditaman. Jadi ibu ikut bergabung bersamanya sampai akhirnya ikut bermain bersama mereka disini... tak ku sangka Kinan pandai mengurus anak kecil kue buatannya juga sangat enak dan," jelas Karina begitu antusias dan terhenti saat melihat tatapan Megan.


"Tu-tuan muda?" Tanya Fino.


"Ibu tidak menambah pekerjaan kak.Kinan kan ? Aku tau benar sikap ibu," tanya Megan segera terhenti saat melihat wajah ibunya yang sengaja berpaling dari tatapannya.


'Dia benar-benar takut dengan Megan ya?' Batin Kinan.


"Benarkan Fino?" Lanjut Karina menatap tajam kearah Fino membuat pria itu segera mengangguk setuju dengan penjelasan majikannya itu.


"Benarkah?" Tanya Megan melirik kearah Fino dengan tatapan tak kalah tajamnya.


'Kenapa aku dihadapkan dalam situasi seperti ini?' Batin Fino mulai berkeringat dingin.


"Aku tidak bisa masuk dalam pembicaraan mereka, maaf tidak bisa membantumu tuan Fino..." Gumam Kinan sambil tersenyum kaku dengan keringat dingin dipelipisnya.


***


"Aku pulang..." Teriak Dea sambil menutup pintu rumahnya dan segera melepas sepatunya dengan cepat.


"Kak aku," ucap gadis itu saat menemui kakaknya sedang bermalas-malasan disofa ruang tengah.


'Haa... dia direpotkan lagi oleh ketiga anak hiperaktif itu ya.' Batin Dea ikut prihatin melihat ekspresi lelahnya.


"Dea... sudah pulang? Makan malamnya sudah ku siapkan diatas meja makan," tutur Kinan dengan suara lemasnya.


"Barusan aku melihat mobil tante Karina keluar dari halaman rumah kak.Akira, apa dia baru saja berkunjung?" Tanya Dea.


"Hem, dia berkunjung dari pagi... berkatnya ketiga anak itu jadi bersikap sedikit lebih tenang." Jawabnya masih dengan suara malasnya.


"Tenang? Berarti kakak tidak terlalu kerepotan dong? Tapi kenapa wajahmu begitu lesu?" Tanyanya bertubi-tubi.


"Mandi saja sana..." Ucap Kinan menyadarkan Dea, dengan cepat gadis itu segera pergi ke kamarnya untuk menyimpan tas sekolahnya dan pergi mandi.


Megan, pria itu juga sudah kembali kerumahnya lebih awal. Menurut penjelasan darinya, acara kampus yang dinantikannya akan segera diselenggarakan pada hari minggu nanti. Jadi dia semakin sibuk berlatih dengan anggota band-nya, pagi-pagi sekali dia harus pergi ke kampus dan pulang larut malam.


Dea juga masih disibukan dengan kegiatan sekolahnya, Akira masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Dan Kinan, wanita itu malah disibukan mengurusi anak tetangganya padahal dia sedang sibuk-sibuknya mengerjakan projek besar dari sebuah perusahaan game terkenal. Sebagai pembuat desain karakter game.


"Kak!" Ucap Dea yang baru selesai mandi melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, tapi dia tidak menemukan Kinan dimanapun.


Saat dia memeriksa kamarnya, ternyata wanita itu sedang fokus menggambar dengan rambutnya yang sudah terikat asal dan kacamata yang menghiasi wajahnya.


"Haah..." Ucap Dea sambil menghela nafas berat, 'dia jadi semakin sibuk, apa aku harus bicara pada kak.Mita ya ? Supaya dia mencari orang lain saja untuk menjaga anak-anaknya...' Lanjutnya dalam hati sambil menutup pintu kamar Kinan dengan perasaan khawatir.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 Pm, udara malam ini semakin dingin, cahaya bulan dan bintang pun masih setia menemaniku dibalik jendela kamarku.


Ku rasakan bahuku mulai terasa sakit, mataku juga terasa perih dan gatal sekarang. Dengan cepat ku senderkan tubuhku pada senderan kursi yang ku duduki, lalu melepaskan kacamata anti radiasi yang ku kenakan.


"Sepertinya hari ini kau bergadang lagi ya?" Suara seseorang membuatku refleks melihat kearah jendela kamarku yang masih terbuka lebar.


"A-apa itu tadi? apa ada yang salah dengan kepalaku?" Gumamku tak mendapati siapapun disana.


"Gawat! sepertinya aku mulai berhalusinasi, bagaimana bisa bayangannya berkelebat cepat dalam kepalaku? tidak mungkin kan aku merindukannya?" Lanjutku sambil memegangi kepalaku yang terasa berdenyut.


'Tapi...' Batinku merasakan sesuatu yang asing.


xxx