Dea & Kinan

Dea & Kinan
126. Menguping



Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya Megan pulang bersama Dea yang sudah dijemputnya di bandara.


Bintang dan Bulan yang melihat merekapun segera berhambur memeluk Megan dan Dea.


"Bibi sudah pulang, Bulan kangen." Suara gadis kecil itu membuat Dea segera memeluknya dengan gemas.


"Uh keponakan bibi sudah besar ya, bibi juga kangen sama Bulan dan Bintang." Tutur Dea tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat bertemu dengan keponakan tercintanya.


"Kalau begitu bibi tidak lupa bawa oleh-oleh dong ya?" Lanjut Bintang membuat Megan segera mencubit pipi pria kecil itu dengan gemasnya.


"Swakit om, ampwun–lepwasin. Papa ...." Rengek Bintang berusaha melepaskan tangan Megan diwajahnya.


"Jangan mencubit keponakanku bodoh!" Bentak Dea segera melayangkan pukulan diatas kepala tunangannya itu, membuat pria itu memekik kesakitan sedangkan Bintang langsung memeluk Dea dengan mata berkaca-kacanya.


"Kamu masih belum berubah ya?" Suara Kinan yang sudah berdiri dihadapan adiknya.


"Kakak." Ucapnya langsung memeluk Kinan dengan eratnya.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Lanjut Akira mendekati adiknya yang masih mengusap puncak kepalanya.


"Seperti biasanya–" Jawab Megan terhenti saat mendengar suara tawa Bintang dan Bulan.


"Bulan mirip ayah kan?" Tanya Bulan membuat Akira tersipu.


"Ya, kau memang mirip ayahmu saat masih kecil dulu ...." Jawab Megan sambil menahan tawanya.


"Oii!" Ucap Akira yang tak terima dengan ucapan adiknya itu.


"Kalau Bintang? Bintang mirip siapa?" Tanya pria kecil itu dengan sorot mata berbinarnya.


"Hem, kalau Bintang lebih mirip dengan mamamu kan? Kamu juga suka main game sepertinya, ceroboh, keras kepala dan sulit diatur." Jelas Megan membuat Akira memalingkan wajahnya berusaha menahan suara tawanya, sedangkan Kinan hanya bisa menunjukan senyuman kesalnya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 pm, acara ulang tahun si kembar pun sudah selesai dan sekarang mereka sedang bersama kakek dan neneknya di lantai atas.


Aku sendiri sedang menikmati pemandangan malam ini didepan teras rumah bersama dengan Megan.


"Aku senang kau sudah kembali, bagaimana kuliahmu disana?" Tutur Megan mengejutkanku.


"Menyenangkan." Jawabku kembali memperhatikan beberapa bintang di langit setelah sempat melihat sosok Megan di sampingku.


"Kau tau?" Lanjutku bertanya sambil melirik kearahnya.


"Apa?" Tanyanya sambil mengernyitkan keningnya dengan sorot mata bingungnya.


"Aku juga sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi." Jawabku tak kuasa menahan senyumanku.


Selain itu ada alasan lain kenapa aku merasa bahagia seperti ini, salah satunya karena kakak ku. Setelah mendengar dia keguguran, aku merasa sangat khawatir dan sempat ingin kembali untuk menghiburnya.


Tapi saat melihat kondisinya sekarang, dia terlihat jauh lebih baik dari terakhir kali aku menghubunginya. Yah lagipula dulu kakak belum memiliki si kembar. Tapi yah, kalau harus diingat lagi ... tuhan itu sangat baik pada kakak ku. Buktinya saat dia kehilangan calon buah hatinya, tuhan memberikan gantinya dengan mengaruniainya dua anak sekaligus.


Kemudian aku juga merasa senang pada akhirnya semua masalah di keluarga kami sudah berangsur membaik setelah kejadian kakak yang menyelamatkan nyawa Delia. Berkat tindakannya itu paman bisa menyadari semua kesalahannya dan lebih memperhatikan putrinya.


Dia bahkan sampai mengizinkan putrinya untuk menikah dengan Dafa yang notabennya terlahir dari keluarga yang sederhana. Padahal dulu paman sangat ingin menikahkan Delia dengan pria yang lebih mapan.


"Ya, terima kasih." Jawabku kembali menunjukan senyumanku padanya, pria yang begitu sabar menunggu kepulanganku dan sempat melamarku di bandara sore tadi.


Ku rasakan tangan Megan meraih tanganku dengan sorot matanya yang menerawang jauh keatas langit, bersamaan dengan hembusan angin yang membuai rambutku dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah menerima lamaranku." Suara Megan membuatku segera menengok kearahnya yang berdiri disamping kiriku.


Ku lihat dia tersenyum hangat padaku bersama dengan sorot matanya yang tak kalah hangatnya, membuat jantungku berdebar-debar.


"Terima kasih karena sudah menungguku–" Balasku terhenti saat merasakan kecupan hangat dipipiku.


"A–apa yang kau lakukan?" Tanyaku sambil memukul dada bidangnya, "Bagaimana kalau ada yang melihat–" Lanjutku terhenti sambil memperhatikan lingkungan sekitar, memastikan tak ada seorangpun yang melihat kami di teras.


"Biarkan saja, lagipula kau calon istriku sekarang. Kalau kamu siap, aku akan mengajak ayah dan ibu ke rumahmu besok." Tuturnya membuatku melongo barang sesaat, mencoba untuk mencerna perkataannya dan memastikan indra pendengaranku.


"Kau gila? Aku bahkan baru kembali, apa yang akan ayah dan ibuku katakan jika aku kembali diantar oleh keluargamu? Dan saat sampai sana aku malah dilamar olehmu." Ocehku tak bisa membayangkan ekspresi kedua orang tuaku, ya meskipun aku bisa menjamin kalau mereka akan menerima lamaran itu. Lagipula selama ini ayah dan ibu juga setuju-setuju saja aku menjalin hubungan dengan Megan.


"Hoo... jadi kau sudah melamar adik ku ya?" Suara kakak mengejutkanku dan Megan.


"Eh ada kakak ipar, hehe ... mana si kembar?" Tutur Megan sambil melepaskan tanganku dan menggaruk tengkuknya dengan tangan lainnya.


"Masih di kamar ayah dan ibu ... jangan mengalihkan pembicaraan." Jawabnya.


"Kau sudah dengar pembicaraan mereka, kenapa harus menanyakannya lagi." Lanjut kak Akira menghampiri kakak ku dan mencubit pipinya dengan gemas.


"Aw sakit!" Pekiknya sambil melepaskan cubitan suaminya itu.


"Ho... jadi kalian menguping pembicaraan kami ya?" Tanyaku berusaha untuk tetap tenang disaat perasaan kesalku mulai menyelimutiku.


"Eh itu ... aku, tadi aku tidak sengaja mendengarnya." Jelas kakak terdengar gelagapan sambil memalingkan pandangannya ke sembarang arah.


"Aku sudah melarangnya, tapi dia tidak mau mendengarkanku." Lanjut kak Akira dengan ekspresi datar seperti biasanya.


"Ka–kak!" Ucapku penuh penekanan membuatnya segera berlari kedalam rumah, tentu saja aku juga berlari mengejarnya yang berteriak meminta maaf sebelum akhirnya tertawa.


Entah apa yang dia tertawakan, tapi dilihat dari situasinya. Sudah lama kami tidak bermain kejar-kejaran seperti ini.


"Uwah bibi sama mama main kejar-kejaran." Teriak Bulan yang sudah menuruni anak tangga dengan digandeng oleh tante Karina.


"Curang! Bintang juga mau ikutan." Lanjut Bintang segera berlari mengejar ibunya disusul oleh Bulan.


"He? Kenapa kalian ikut mengejar mama?" Tanyanya disela tawanya.


"Ayo tangkap mama, Bulan kejar mama." Ucap Bintang memerintah adiknya.


"Benar kejar mama Kinan." Ucapku ikut berlarian bersama kedua keponakanku itu. Sedangkan tante Karin malah mentertawakan pemandangan dihadapannya, begitupun dengan kak Akira dan Megan yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Dapat!" Ucap Bulan dan Bintang segera memeluk ibunya dengan erat.


"Hhahaha, mama cape." Tutur kakak berusaha mengatur napasnya dan membalas pelukan putra-putrinya yang masih tertawa riang.


"Kita menang bi." Lanjut Bulan berlari kearahku dan memelukku dengan erat, membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipi chubby-nya itu.


xxx