
Waktupun berlalu dengan cepat, hari ini aku ada janji dengan tante Karina untuk mencoba gaun pengantin yang sudah disiapkan olehnya.
Selain itu Akira juga sangat ingin bertemu denganku, dan aku juga ingin menemuinya sebentar saja. tapi dihari kepulangannya Ibu dan Ayah tak mengizinkannya bertemu denganku dengan alasan aku sedang dipingit. Bahkan jendela kamarku juga dilarang dibuka seperti biasanya.
Akira dan Megan tidak diperbolehkan sarapan pagi dan makan malam bersama ku dan Dea lagi selama aku dan Akira belum resmi menikah.
Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon penganti perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba.
Tujuannya untuk memberikan waktu pada calon pengantin untuk mempersiapkan dirinya menuju pernikahan. Saat dipingit, dia bisa beristirahat dan merawat dirinya sendiri dalam menyambut hari bahagianya. Dengan begitu, calon pengantin terlihat lebih sehat dan segar di hari pernikahannya nanti.
Alasan lainnya untuk memupuk perasaan rindu di antara kedua calon mempelai. Agar keduanya dapat saling merasakan rindu sehingga saat pernikahan nanti, keduanya akan semakin bahagia karena lama tak berjumpa. Selain itu, calon pengantin laki-laki akan merasa pangling saat melihat calon pengantin perempuan karena lama tak bertemu. Begitulah yang ibu jelaskan padaku.
Tapi hari ini tante Karina ingin bertemu denganku sekalian mengajak ku kesuatu tempat. Dan diam-diam aku mengatur pertemuan dengan Akira tanpa sepengetahuan ibu.
Ibu mengizinkanku pergi karena tante Karina membujuknya, dia bilang ingin menghabiskan waktu bersamaku untuk memilih gaun pengantin.
***
"Ini benarkan alamatnya?" Gumamku sambil melihat alamat yang dikirimkan tante Karina padaku, dan ku lihat nama tempat spa yang ada dihadapanku.
Tak lama kemudian seorang perempuan menghampiriku dan mengajak ku masuk kedalam tempat itu. Ya siapa lagi kalau bukan tante Karina?
"Tante?" Tanyaku segera mendapatkan senyuman manis darinya.
"Hari ini aku ingin melakukan perawatan bersamamu, setelah itu baru kita pergi ke butik ku supaya kamu bisa mencoba gaun pengantinnya disana." Jelasnya.
"Ya–baiklah." Ucapku tak bisa menolaknya.
"Ku dengar Hanum melarang Akira bertemu denganmu ya?" Tanyanya membuatku terkejut saat mendengar nama pria itu.
"Ya begitulah, ibu bilang gak baik kalau kami bertemu sebelum acara pernikahan. Jadi setiap kali Akira ke rumah, ibu pasti mengusirnya ...." Jawabku memaksakan diri untuk tertawa diakhir kalimat.
'Perasaan apa ini? Apa aku merasa bersalah karena sudah berbohong pada ibu?' Batinku mengingat pesan masuk yang ku terima dari Akira.
Padahal aku cuma bilang mau bertemu tante Karina saja setelah itu langsung pulang. Tapi diam-diam malah mengatur pertemuan dengan Akira, apa tidak apa-apa ya kalau aku bertemu dengan pria bodoh itu sebentar saja?
Setelah melakukan spa dan menghabiskan waktu beberapa jam di tempat spa sambil mempertimbangkan kembali keputusanku untuk menemui Akira atau tidak. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke butik tante Karina untuk memeriksa gaun pengantin yang akan ku kenakan dihari H nanti.
"Ada apa tante?" Tanyaku saat memergoki tante Karina tertawa diam-diam di belakangku.
"Maaf, aku hanya ingat dengan putraku. Melihatmu bersamaku sekarang, pasti Akira akan merasa iri jika tau aku pergi bersamamu tapi tak mengajaknya." Jelasnya setelah puas tertawa.
"Apa tante tidak memberitau Akira soal pertemuan kita hari ini?" Tanyaku merasa penasaran.
"Tadinya mau aku beritau, tapi Hanum melarangku. Kamu tau kan seberapa menakutkannya dia jika sedang marah? Aku tak ingin mendapat masalah dan dimarahi olehnya. Jadi aku memutuskan untuk diam." Jelasnya membuatku tersenyum kaku.
'Memang benar sih, tak ada yang bisa melawan kehendak ibu. Apalagi saat dia sedang marah.' Batinku menyetujui perkataan tante Karina bersama munculnya bayangan wajah ibu saat sedang marah.
'Yah sebaiknya aku pulang saja, maafkan aku Akira ... aku tidak bisa memancing kemarahan ibuku. Aku harus menyelamatkan nyawaku sendiri.' Lanjutku dalam hati.
***
"Bo–bohong!" Guman seorang pria berambut hitam dengan kemeja putih dan dasi abu-abu bermotif garis yang melingkar dikerah kemejanya.
"Ada apa tuan?" Tanya Fino yang masih berdiri didepan meja kerja Akira.
'Yang benar saja, kenapa tiba-tiba dia membatalkannya? Dia mau mempermainkanku ya?!' Batinnya tak terima dengan pesan singkat yang dikirim oleh Kinan, dengan frustasi pria itu mengacak-ngacak rambut hitamnya.
"Tuan jangan bilang anda mau menemui nona Kinan." Tutur Fino tepat sasaran menghentikan aksi mengacak-ngacak rambutnya.
"Da–darimana kau tau?" Tanya Akira sedikit tergugup sambil melirik pria berambut ikal itu.
"Terkadang wajah tuan sangat mudah dibaca, apalagi jika soal nona ...." Jawab Fino dengan gumamannya itu.
"Bersabarlah tuan, bukankah tak lama lagi kalian akan segera menikah ... hanya tersisa beberapa hari lagi. Sebaiknya tuan bersikap baik saja jangan membuat saya kerepotan." Lanjutnya kemudian setelah menghela napas lelahnya dan membayangkan apa yang akan terjadi padanya kalau sampai majikannya menghilang dari pengawasannya dan pergi menemui Kinan secara diam-diam.
"Hem ...." Gumam Akira terdengar lesu sambil menyenderkan tubuhnya disenderan kursi kerjanya.
Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel yang menarik perhatian pria itu, dengan cepat dia mengangkatnya berharap itu telpon dari Kinan.
Tapi sepertinya bukan dari Kinan, terlihat dari perubahan wajahnya yang kembali lesu saat mendengar suara yang tak diharapkannya.
"Ada apa? Kenapa sepertinya kau tidak suka jika aku menelponmu?" Suara Dev terdengar kesal.
"Bukan apa-apa ... ada apa menelponku?" Jawab Akira masih mempertahankan suara malasnya.
"Ku dengar kau akan menikah beberapa hari lagi, tapi kenapa suaramu tak ada kebahagiaan sedikitpun? Padahal kau mendahului acara pernikahanku, seharusnya kau bahagia–" Jelas Dev membuat pria itu menghela napas pasrah.
"Yah kalau harus bilang bahagia, ya aku bahagia. Tapi ...." Tutur Akira terhenti.
"Kau dilarang menemui Kinan kan?" Tebak Dev tepat sasaran.
"Hhahaha... semua orang yang akan menikah pasti akan mengalaminya. Tenang saja, setelah menikah nanti kau akan bertemu dengannya setiap hari." Lanjutnya berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Sepertinya kau belum mengalaminya ya ... ku pastikan kau akan merasakan apa yang ku rasakan saat ini." Tutur Akira dengan suara sarkasnya.
"Hhahaha... lagipula pernikahanku masih beberapa minggu lagi, masih ada waktu untuk jalan bersama dengan wulan." Ucap Dev begitu percaya diri.
"Kenapa kau menyombongkan hal itu padaku?" Tanya Akira mulai merasa kesal.
"Hha–haha... maaf aku tidak bermaksud, aku hanya ingin memberitaumu kalau kami akan datang ke tempatmu dalam waktu dekat. Wulan sudah tak sabar ingin bertemu dengan Kinan." Jawab Dev.
"Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?" Gumam Akira memikirkan kedekatan Wulan dengan calon istrinya.
"Aku akan menghubungimu lagi saat kami pergi ke tempatmu ya, pastikan untuk selalu mengaktifkan ponselmu ya. Bye-bye." Jelas Dev sebelum mematikan sambungan telponnya.
xxx