
Pagi ini Karina pergi berkunjung ke rumah Akira untuk memastikan putranya baik-baik saja, sejak mendengar Akira sakit dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Sesampainya dirumah Akira, Karian langsung mengetuk pintu rumah pria itu dengan keras dan terburu-buru sampai pintunya dibukakan untuknya.
Akira yang mendengar keributan itu langsung bergegas membuka pintu rumahnya dan mendapati ibunya berdiri di depan pintu bersama kedua bodyguardnya.
"Ibu ?" Ucap Akira merasa terkejut dengan kehadiran ibunya.
"Bagaimana kondisimu ?" Tanyanya langsung memegangi kening Akira, lalu membawa pria itu masuk ke dalam rumah.
"Kalian tunggu diluar. Jika mereka benar-benar datang, bilang saja kondisi Akira sedang kurang sehat. Lalu usir mereka semua" Lanjutnya sebelum menutup pintu rumah Akira.
"Kenapa ibu datang ?" Tanya Akira memasang ekspresi bingungnya.
"Karena ibu khawatir padamu. Tapi sepertinya kondisimu baik-baik saja, apa Kinan merawatmu dengan baik ?" Tuturnya begitu antusias saat menyebutkan nama Kinan.
"Ah pilihan ibu memang yang terbaik, dia bahkan bisa merawatmu saat kau sedang sakit. Ibu jadi semakin menyukainya..." Lanjutnya tak bisa menyembunyikan wajah berbinar-binarnya.
"Kenapa ibu harus membuat berita seheboh itu ?" Tanya Akira kembali memastikan niatan ibunya itu, sepertinya dia belum diberitau semuanya oleh Karina.
"Yang lebih penting sekarang, dimana Kinan ? Dia tidak datang ? Apa dia ada dirumahnya ?" Tutur Karina membuat Akira menghela nafas pasrah saat menghadapi ibunya yang begitu antusias itu.
'Melihat ibu seperti ini mengingatkanku pada sikap Kinan saat sedang membujuk Dea, sudah lama juga aku tidak melihat ekspresinya yang seperti ibu' Batin Akira masih memperhatikan ibunya.
"Dia dirumahnya, biasanya aku dan Megan yang pergi kerumahnya untuk sarapan pagi dan makan malam. Dia bahkan hampir tidak pernah main kesini" Jelas Akira yang menyenderkan tubuhnya pada kepala sofa yang didudukinya.
"Hee ? Jadi kalian yang pergi kesana ? Sarapan pagi ? Makan malam ? Apa itu ?" Tanya Karina mulai bingung dan mendekatkan dirinya pada Akira.
"Megan tidak suka dengan masakanku, semenjak mencicipi masakan wanita itu, dia malah tergila-gila dengan masakan Kinan. Jadi aku memintanya untuk memasakan sarapan pagi dan makan malam setiap hari untuk kami, tentu saja tidak gratis..." Jelas Akira merasa murung saat mengingat adiknya mengomentari masakannya dan memberikan banyak pujian pada masakan Kinan.
"Heee... dia bisa masak ya ? Ibu jadi penasaran seenak apa masakannya, ibu ngin mencicipinya" Oceh Karina kembali berseri-seri.
"Lebih enak dari masakan ibu" Ucap Akira sambil tersenyum meledek ibunya, sedangkan wanita itu malah mencubit pipi Akira dengan gemasnya.
***
Setelah mendengar penjelasan dari ibunya, Akira bergegas pergi kerumah Kinan untuk membahas soal perjodohannya. Dan lagi sepertinya para wartawan itu tidak jadi menemui mereka. Entah apa yang terjadi pada mereka, tapi mungkin saja ini semua sudah diatur oleh Karina.
Di kediaman Kinan, sekitar pukul 08:30 Am, terlihat seorang wanita berambut coklat yang sedang asik duduk diatas kursi putarnya sambil melamun.
Matanya menerawang jauh kearah kaca jendela disamping meja komputernya, wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu sampai dia tidak menyadari kehadiran Akira yang sudah duduk di atas sofa yang berdekatan dengan kursi putarnya.
"Haah..." Gumam Kinan menghela nafas berat dan menyerah dengan pikirannya sambil mengacak-ngacak rambut panjangnya.
"Berhenti menghela nafas seperti itu !" Ucap Akira mengejutkannya, membuat Kinan refleks memutar kursi putar yang didudukinya.
"Ke-kenapa ? Demam mu ?" Tanya Kinan gelagapan saat mendapati Akira yang duduk dibelakangnya, mengenakan kaos berwarna abu tertutupi jaket hitam yang dikenakannya. Pria itu juga mengenakan celana jeans semata kaki dengan rambut yang sudah ditata rapi.
"Sudah turun. Aku kesini mau membicarakan soal perjodohan kita" Jawab Akira membuat Kinan terperajat dan berpura-pura tak mendengar ucapan pria itu.
'Jadi tante Karina sudah menceritakan hal ini padanya ya...' Batin Kinan kembali menghela nafas berat.
"Berhenti bergerak ! Kau membuatku pusing" Ucap Akira sambil meraih kursi putar Kinan, membuat wanita itu berhenti bermain-main dengan menggoyang-goyangkannya kekanan dan kekiri.
"A-apa ?" Tanya Kinan berusaha memecahkan keheningan yang hampir membunuhnya.
"Aku sudah dengar semuanya dari ibu dan Fino-" Jawab Akira segera dihentikan oleh Kinan.
"Jadi kau mau apa dariku ?" Tanya Kinan menatap malas kearah Akira yang sudah kembali duduk di sofanya.
"Soal pertunangan itu-" Jawabnya kembali dihentikan oleh Kinan yang sudah mengambil sikap berdiri.
"Aku tidak bisa mewujudkannya, meskipun ibuku memaksaku untuk menerima perjodohan ini dan mendorongku untuk melakukan pertunangan sungguhan denganmu. Aku tetap tidak akan bisa memenuhi harapannya" Jelas Kinan sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku jaket biru muda yang dikenakannya.
"Kenapa sudah masuk kesana ?" Tanya Akira sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Kau ingin membahas hal itu denganku kan ?" Ucapnya balik bertanya.
"Ya benar sih, tapi seharusnya aku yang memutuskannya. Kau bahkan tidak ada hak untuk menerima atau menolaknya" Jelas Akira sambil menyenderkan tubuhnya pada kepala sofa yang didudukinya.
"Keluargamu bahkan sudah memberikanmu pada keluargaku. Bagaimana bisa kau menolak perjodohan ini ?" Lanjutnya bertanya.
"Tentu saja aku bisa menolaknya, alasannya sederhana-" Tutur Kinan terhenti saat melihat Akira bangkit dari tempatnya dan mulai melangkah maju memperpendek jaraknya dengan Kinan.
"Jika alasan sederhanamu itu bisa untuk membatalkan perjodohan ini, kenapa tidak kau gunakan untuk membatalkan perjodohanmu dengan Bayu ?" Tanya Akira penuh penekanan dan menatap tajam mata Kinan, membuat wanita itu berkeringat dingin.
"Kenapa diam ?" Tanya Akira saat melihat Kinan tak berkutik.
"I-itu karena Bayu mengancamku dan orang tuaku juga mendesak ku..." Jawabnya setelah berhasil menelan ludahnya saat tenggorokannya mengering secara tiba-tiba.
"Lalu apa yang dikatakan orang tuamu soal perjodohan kita ? mereka pasti membicarakannya denganmu juga kan ?" Tanya Akira masih menatap mata Kinan yang sudah melirik kearah lain untuk menghindari tatapa pria itu.
"Tentu saja mereka juga mendesak ku, aku benar-benar diperlakukan seperti barang oleh orang tuaku. Kemarin mendesak ku untuk menerima perjodohanku dengan Bayu, sekarang mendesak ku untuk menerima perjodohanku denganmu setelah keluargamu membantu menyelesaikan urusan keluargaku. Padahal aku bisa mencari pasanganku sendiri tanpa harus dijodohkan dengan siapapun" Jelas Kinan mulai memelankan suaranya.
"Dasar bodoh !" Ucap Akira sambil menyentil kening Kinan dan melangkah mundur, memberikan sedikit ruang untuk wanita itu.
Kinan yang terkejut dengan reaksi Akira pun hanya bisa memegangi keningnya dan mengusapnya perlahan. Mencoba menghilangkan rasa sakitnya.
"Berhenti memasang ekspresi menyedihkan seperti itu" Lanjut Akira sambil melempar pandangannya kesembarang arah, menyembunyikan rona merah diwajahnya.
'Ni orang kenapa sih ?' Batin Kinan bertanya-tanya.
"Aku tidak bisa membiarkan reputasi keluargaku kembali tercemar, aku tidak mau mengulangi kejadian dimasa lalu. Semua ini memang salah ibuku, dia yang merencanakan semuanya untuk membuatku dekat denganmu. Tapi aku, bagaimanapun caranya... aku akan membuat pertunangan bohongan itu menjadi kebenaran" Jelas Akira membuat Kinan tersentak.
"Padahal kau masih mencintai Kiara, kenapa harus memaksakan dirimu untuk memenuhi keinginan ibumu ? Aku memang tidak bisa berbuat banyak untuk membatalkan perjodohan ini, tapi kau ? Kau putranya, dia pasti akan mendengarkanmu..." Tutur Kinan dengan nada kesalnya, bahkan kedua tangannya sudah terkepal begitu erat.
"Mungkin aku masih memiliki sedikit perasaan untuk Kiara, tapi akhir-akhir ini aku merasakan hal yang berbeda. Aku merasa tidak suka melihatmu kerepotan, aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan Bayu, aku juga..." Jelas Akira segera dihentikan oleh ekspresi Kinan yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Jadi kau mau bilang menyukaiku ?" Tanya Kinan membuat Akira tersentak dan membulatkan matanya saat melihat tatapan sinis Kinan yang diberikan padanya.
'Ada apa dengannya ?' Batin Akira merasakan aura berat yang diciptakan oleh Kinan, aura berat yang sudah memenuhi seluruh ruangan.
xxx