
"Huft... kalau kau masih mencintainya, kenapa tidak kembali padanya saja? Toh tidak ada yang melarang kan?" Tutur Kinan secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Tanya Akira merasa bingung.
"Dia meninggalkanmu dan hubungan kalian berakhir, dia juga mengkhianatimu kan? Tapi jika kau masih ingin bersamanya, kenapa tidak memaafkannya saja? Mungkin saja saat itu dia khilaf. Sepertinya dia juga masih mencintaimu, jadi ...." Jelas Kinan segera dihentikan oleh tindakan Akira yang mendadak menarik tubuhnya kedalam pelukannya, untuk kesekian kalinya wajah wanita itu dibuat tersipu dengan rona merah yang terpancar diwajahnya.
'Apa yang dia lakukan? aku tau kami sedang berdansa sekarang, tapi kenapa? jantungku rasanya benar-benar mau keluar dari tempatnya, dan se–sesak sekali ....' Batin Kinan masih mengikuti alunan musik yang mengalun memenuhi ruangan itu, dan kakinya terus bergerak kekanan dan kekiri mengikuti langkah Akira yang membimbingnya untuk terus menari bersamanya.
"Aku tidak suka membicarakanya, lagipula kau tunanganku, benar kan sayang?" Ucap Akira membuat Kinan merasa malu sekaligus kesal dengan ledekan pria itu.
Tak lama kemudian acara dansa pun berakhir, dan Akira segera berpamitan pada Kiara dengan alasan Kinan yang kelelahan karena mereka sempat berjalan-jalan dulu sebelum datang keacara penyambutannya Kiara.
***
"Sepertinya kau kelelahan ya, sayang?" Tanya Akira sambil menggandeng tangan Kinan menuju tempat parkir dan menunjukan senyuman sinisnya dengan tatapan menggoda.
"Jangan mengejek ku!" Bentak Kinan mulai lepas kendali.
"Sifat aslinya sudah balik ya." Gumam Akira kembali memasang ekspresi datarnya.
"Ssstt..." Desis Kinan saat berjalan disamping Akira, dan menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" Tanya Akira ikut menghentikan langkah kakinya. Lalu matanya melirik kearah kaki Kinan, dan matanya membelalak saat melihat bercak darah disana.
"Kakimu ?" Lanjutnya sambil berjongkok.
"Ah pantas saja perih." Ucap Kinan yang baru menyadarinya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Tanya Akira merasa bersalah karena berlama-lama diacara penyambutan Kiara.
"Sebaiknya kita obati dulu luka lecetmu itu." Lanjut Akira saat melihat Kinan terus meringis menahan rasa sakit dikakinya. Kemudian pria itupun segera menggendong tubuh Kinan bak seorang putri.
"A–apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!" Tutur Kinan merasa malu karena diperlakukan seperti itu oleh Akira.
"Diam! Nanti bisa jatuh." Ucap Akira ketika Kinan mulai meronta minta diturunkan, Tapi dia langsung terdiam saat melihat tatapan mengancam Akira, lalu menundukan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.
'Apa-apaan orang ini?' Batin Kinan mulai merasakan degup jantungnya yang kembali berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Silahkan tuan." Ucap seorang pria berjas hitam membukakan pintu mobil dan mempersilahkan masuk pada Akira.
"He? Si–siapa dia? Ini? Mobil siapa?" Tanya Kinan merasa bingung, karena saat pergi tadi dia tidak mengendarai mobil putih besar jenis Mazda biante dihadapannya. Dan lagi Akira langsung menyuruh pria berjas hitam itu untuk pergi ke apotik terdekat, memintanya untuk membelikan obat untuk luka lecet dikakinya.
"Diam sebentar." Ucap Akira sambil mendudukan tubuh Kinan di dalam mobil dengan tubuh yang menghadap kearahnya yang sudah berjongkok diluar mobil, tangan pria itu tampak berhati-hati saat mencoba melepaskan heels yang dikenakan oleh Kinan.
"Biarkan saja, jangan dilepas. Aku akan mengobatinya dirumah." Jelas Kinan kembali meringis saat Akira berhasil melepas salah satu heelsnya.
"Terlalu lama kalau mengobatinya dirumah." Ucap Akira sambil membuka heels putih yang satunya.
"Ini obatnya tuan." Ucap seorang pria berjas hitam yang dimintai tolong untuk membelikan beberapa obat oleh Akira. Dengan cepat pria itu meraihnya dan mulai mengobati luka lecet di kedua kaki Kinan.
"Aw, pelan-pelan bodoh!" Ucap Kinan sambil menjambak rambut Akira tanpa sadar.
"Tu–tuan." Ucap pria berjas hitam dibelakangnya tampak khawatir dengan Akira.
"Tolong buang benda ini, dan belikan yang ukurannya sedikit lebih besar. Kirimkan ke alamat rumahku yang sekarang." Ucap Akira sambil memberikan heels putih milik Kinan ke tangan pria dibelakangnya setelah ia selesai mengobati luka lecet dikaki Kinan.
"Ha? Dibuang? Kenapa? Itukan milik ku." Tanya Kinan begitu terkejut dengan tindakan bodoh Akira yang main buang heels miliknya.
"Tolong sekalian bawa mobilku kerumahku ya." Tutur Akira sambil memberikan kunci mobilnya pada pria berjas hitam yang masih berdiri ditempatnya melalui kaca jendela mobil yang terbuka disamping Kinan. Membuat tubuh Akira berdekatan dengan tubuhnya. dan pria diluar itu langsung memberikan salam hormat padanya setelah menerima kunci mobil dari tuannya.
'Jangan bilang ini juga mobilnya? Dan supir?' Batin Kinan saat melihat seorang supir yang sejak tadi sudah duduk tenang sambil memegang kemudinya.
***
"Dia tertidur." Gumamku saat melihat Akira terlelap dengan pulasnya.
"Anu ... kalau boleh tau anda ini siapa ya?" Tanyaku seperti orang bodoh, tapi aku hanya ingin memastikannya saja. Siapa tau dia orang yang dikirim oleh temannya.
"Saya supir pribadinya tuan Akira nona." Jawab pria berjenggot tipis itu menatapku dari spion mobilnya sambil tersenyum hangat.
"Su–supir pribadinya?" Gumamku merasa tak percaya dengan ucapannya, "seberapa kayanya orang ini sampai punya supir pribadi segala?" Lanjutku membuat supir itu tertawa.
"Wajar saja nona, lagipula tuan Akira adalah putra pertamanya nyonya Karina pemilik restoran mewah dan pusat perbelanjaan di kota ini. Selain itu, ayahnya juga pemilik rumah sakit terbesar di kota ini. Dan tuan Akira sendiri adalah seorang pemilik perusahaan game terbesar di kota ini. semua kerabatnya juga memiliki beberapa perusahaan besar, jadi sudah dari sananya keluarga tuan sangat kaya. Saya dengar-dengar kakeknya tuan juga pemilik hotel ternama di kota ini." Tutur sang supir berhasil membuatku tak berkutik sedikitpun.
"Se–seriusan? ini pasti mimpikan? semuanya berada di kota ini? berarti orang ini adalah orang terkaya di kota ini?" Gumamku berusaha menyadarkan diriku sendiri.
'Kalau orang ini sangat kaya, kenapa dia malah menyewa rumah kecil keluargaku?' Batinku merasa kesal dengan cerita yang dituturkan oleh supir pribadinya Akira, 'Bagaimana ibu bisa bersahabat baik dengan tante Karina ya?' Lanjutku masih dalam hati.
"Kalau boleh tau sudah berapa lama tuan menjadi supirnya tuan Akira?" Tanyaku merasa penasaran.
"Sejak tuan masih kecil, saat itu kalau tidak salah usianya baru menginjak 7 tahun." Jawabnya sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Berarti tuan kenal dengan Kiara?" Tanyaku lagi semakin penasaran dengan masa lalu Akira.
"Iya, sejak SMP tuan sering bermain dengan nona Kiara. Dan dengar-dengar mereka juga sudah dijodohkan, tapi saat menjelang hari pernikahan mereka. Nona Kiara membatalkan pernikahannya dan pergi ke paris ...." Jawab supir itu terdengar sedih.
"Di–dijodohkan? tapi dia mencintainya begitu besar. Kenapa orang itu membatalkan pernikahannya dan pergi ke paris? jahat sekali ...." Gumamku sambil memperhatikan wajah Akira yang terlelap dalam tidurnya.
"Tapi melihat tuan bisa kembali seperti dulu lagi. Benar-benar membuat saya senang." Ucap sang supir kembali menunjukkan senyumannya di kaca spion mobilnya.
"Seperti dulu?" Tanyaku.
"Semenjak nona Kiara meninggalkannya, tuan jarang keluar rumah dan selalu bersikap seperti orang jahat. Nona akan mengetahuinya jika berkunjung kerumah nyonya Karina." Jelas supir itu tak menjawab rasa bingungku, "sudah sampai." Lanjutnya ketika sampai di depan rumahku.
Benar-benar pembicaraan yang cukup panjang, membuatku merasa perjalanan tadi sangat singkat. Kemudian ku buka pintu mobil itu dengan menggesernya ke belakang, dan saat aku akan keluar, tiba-tiba saja pikiran jahilku muncul.
Dengan cepat aku melirik kearah Akira yang masih terlelap dalam tidurnya, lalu menekan hidung pria itu dengan kedua jariku. melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia lakukan padaku saat dia membangunkanku di parkiran taman hiburan.
Tak lama kemudian Akira mengerjapkan matanya dan segera menjauhkan tanganku dari hudungnya, berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin. Dengan cepat aku tertawa saat melihat reaksinya.
"Hhaha... rasakan pembalasanku!" Ucapku sambil menyeringai dan segera keluar dari dalam mobilnya sebelum dia membentak ku. Dan ternyata supir pribadinya Akira juga diam-diam mentertawakan kejahilanku.
"Tunggu!" Ucap Akira menghentikan langkahku, dan tiba-tiba saja pria itu kembali menggendongku ala seorang putri. sepertinya dia segera keluar dari mobilnya saat aku melompat keluar.
"Da–dasar lancang. cepat turunkan aku! aku bisa berjalan sendiri." Teriak ku kembali meronta, namun tak ada reaksi darinya. Akira malah berjalan santai memasuki halaman rumahku.
"Kakimu bisa kotor, heelsmu sudah aku buang kan?" Jelas Akira membuatku kesal.
"Salahmu sendiri kenapa membuangnya?" Bentakku.
xxx