
Terdengar suara bel sekolah berdering cukup nyaring, membuat semua siswa siswi segera berhamburan keluar kelas.
"De kekantin ?" Tanya Fani yang sudah berdiri dihadapan bangku Dea.
"Ya, ayo pergi" Jawab Dea sambil bangkit dari tempatnya setelah selesai membereskan tempat pensil dan buku-buku sekolahnya, tidak lupa dia juga membawa kotak bekalnya.
Mereka pun segera pergi ke kantin, Fani membeli beberapa gorengan, baso ikan dan es teh. Sedangkan Dea, gadis itu hanya membeli es teh karena dia memang sudah membawa bekal dari rumah.
"Loe bawa bekal ?" Gumam Fani memperhatikan Dea yang sibuk membuka kotak bekalnya.
"Akhirnya bisa isi perut juga" Gumam Dea terlihat senang saat melihat isi kotak bekalnya, kemudian segera menyantap bekalnya tanpa banyak bicara.
'Ni anak bener-bener kelaparan kayanya...' Batin Fani sambil tersenyum kaku pada Dea saat mereka bertemu pandang.
"Jadi kalian disini" Tutur Rafa yang ikut bergabung dengan Fani dan Dea.
"Wah enak tuh, bagi dikit dong..." Lanjut Rafa saat melihat nasi kepal yang tersisa di dalam kotak bekal Dea.
Dengan cepat gadis itu meraih kotak bekalnya sambil memasang ekspresi tak bersahabatnya, "Enak aja !" Ucapnya setelah menelan makanan didalam mulutnya.
"Dasar pelit" Umpat Rafa tampak kesal sebelum meminum es teh pesanannya.
"Ngomong-ngomong kita jadi kan belajar kelompok di rumah Indri ?" Tanya Dea mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong..." Jawab Fani begitu bersemangat membuat Rafa terkejut dengan suara keras yang dikeluarkan gadis itu.
"Bikin kaget aja" Ucap Rafa sambil mengelus dadanya membuat Fani terkekeh.
"Tapi gue cuma bisa sampai jam enam ya" Tutur Dea menarik perhatian kedua sahabat itu.
"Gue juga gak bisa lama-lama lah, jam segitu kita harus balik" Ucap Rafa menyetujui ucapan Dea.
"He ? Kenapa gitu ? Kita kan bisa belajar sampai jam tujuh malam" Tanya Fani tampak kecewa membuat Dea segera menghela nafas lelahnya.
"Loe lupa ya ? Jadwal bus hari ini cuma sampai jam enam, kalau gue gak pulang jam segitu, gue bisa ketinggalan bus. Loe sih enak bisa dianterin si Rafa" Jelas Dea membuat Fani ber'Oh' ria.
"Tapi loe kan bisa minta dijemput sama si Megan" Tutur Rafa setelah meneguk es teh dihadapannya.
"Megan ? Orang itu, gue lagi gak mau berurusan sama dia" Ucap Dea sambil menutup kotak bekalnya dengan kasar, wajahnya juga tampak kesal saat mendengar nama pria itu.
"Kenapa ? Tumben loe gak suka denger nama tu orang..." Tanya Fani mulai penasaran dengan perubahan sifat Dea. Tapi gadis itu tak mau menjawab pertanyaannya.
"Dah ah balik ke kelas yuk" Ajak Dea sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Hee ? padahal gue belum lama datang, udah ngajak balik ke kelas aja" Gumam Rafa terdengar ketelinga Dea, membuat gadis itu mendelik kesal kearahnya.
"Gue gak ngajak loe ya, yuk Fan balik" Ucap Dea membuat Rafa tersentak, sedangkan gadis itu malah sibuk menarik sahabatnya menjauhi kantin.
"Hee... gue masih pengen berduaan sama pacar gue" Rengek Fani tak didengarkan.
"Sialan loe De ! jangan tinggalin gue woii..." Teriak Rafa segera mengejar kepergian Dea dan Fani.
"Cih" Decih Dea saat melihat Rafa sudah berjalan disamping kekasihnya dengan ekspresi kesalnya karena diperlakukan tidak baik olehnya.
"Woii !" Ucap Rafa penuh penekanan, merasa tidak enak dengan sikap Dea yang menyebalkan seperti biasanya.
***
"Akhirnya bisa bermalas-malasan lagi..." Tutur Kinan sambil rebahan diatas sofa dengan menikmati keripik balado kesukaannya, lalu kembali bermain game di heandphonenya.
"Ah orang itu bilang ada urusan diluar kota kan ? Dia akan pulang dua atau tiga harian lagi, berarti waktu yang ku berikan akan cepat selesai. Dia tidak akan bisa merencanakan hal-hal bodoh untuk membuatku jatuh cinta lagi kan ?" Lanjutnya dengan wajah gembiranya.
Biar bagaimanapun, Akira selalu mengganggu Kinan saat pagi hari dan malam hari. Dia selalu membuat wanita itu kewalahan dalam menghadapi kejahilannya.
Saat pikirannya berkelana cukup jauh, membayangkan hari-hari damai yang akaj ditemuinya, tiba-tiba saja henadphone ditangannya berbunyi, nomor Akira juga terpampang dilayar heandphone Kinan.
Wanita itu tampak kesal karena dihubungi oleh Akira, padahal baru saja dia bisa bernafas lega karena kehadiran pria itu begitu jauh dari jangkauannya. Dan dia juga tidak akan bisa mengganggunya seenak jidatnya.
Tapi Kinan tak pernah menyangka kalau Akira akan menghubunginya. Dengan malas dia pun mengangkat telponnya, "Ya ?" Ucapnya terdengar begitu malas.
"Ada apa denganmu ? Kenapa tidak bersemangat begitu ?" Tanya Akira merasa heran dengan suara yang didengarnya.
"Kenapa harus menghubungiku ? Bukankah aku sudah pernah memperingatimu ? Kau tidak boleh menghubungiku ! Gara-gara dirimu aku jadi kalah bermain game..." Oceh Kinan mulai merasa kesal karena aktifitasnya diganggu.
"Game ? Hanya karena game kau-" Ucap Akira terpotong, rupanya wanita itu langsung mematikan sambungan telponnya dan kembali bermain game diheandphonenya.
Tak sampai satu menit, Akira kembali menelponnya dan dengan perasaan kesal Kinan pun kembali mengangkat telponnya.
"A-" Ucap Kinan terhenti saat mendengar Akira mengomelinya.
"Aku belum selesai bicara ! Beraninya kau menutup telponku..." Tuturnya membuat wanita itu segera menghela nafas lelahnya.
"Makanya to the point aja, gak usah muter-muter. Kau menggangguku !" Bentaknya.
"Padahal aku berusaha meluangkan waktu untukmu tapi kau bersikap kasar sekali padaku" Gumamnya dengan suara kesalnya.
"Cepat katakan ! Ada apa ? Kalau tidak ada aku akan mematikan sambungannya" Ucap Kinan menyadarkan pria itu.
Dengan cepat Akira pun mengatakan apa yang harus dia sampaikan, namun belum sempat dia mengatakan semuanya. Sambungan telponnya sudah terputus, dengan cepat Kinan memeriksa heandphonennya dan segera menghela nafas pasrah karena batrainya baru saja habis.
"Aku lupa mengisi dayanya, padahal aku ingin menyelesaikan misi dalam game dulu..." Tututnya merasa kecewa.
'Dan lagi tadi dia bicara apa ya ?' Lanjutnya dalam hati berusaha mengingat perkataan Akira.
"Percuma ! Aku tidak bisa mengingatnya... sudahlah mending nonton anime saja, sudah lama juga tidak nonton anime" Ocehnya sambil berjalan kearah komputernya dan mulai menyalakannya.
***
"Wanita itu ! Beraninya dia mematikan sambungannya, dan sekarang dia malah mematikan heandphonenya" Gerutu Akira sambil memperhatikan heandphonenya dengan perasaan kesal.
'Padahal aku ingin mengajaknya keluar saat aku kembali nanti, dan lagi ibu... dia bilang ingin bertemu dengannya hari ini. Aku bahkan belum menyampaikan semuanya, kalau begitu ku berikan saja nomornya pada ibu' Lanjutnya dalam hati sambil mengirimkan nomor Kinan pada ibunya.
"Kita sudah sampai tuan" Ucap seorang supir menyadarkannya, dengan cepat Akira keluar dari dalam mobilnya dan segera memasuki sebuah perusahaan besar dihadapannya.
'Kita lihat akan jadi seperti apa acara pertemuan hari ini' Batin Akira sambil berjalan melewati beberapa orang yang sedang berkumpul di lobi.
xxx