
"Jangan bercanda, mana mungkin aku berkelahi dengan seorang perempuan kan?" Tutur Akira segera menghentikan ucapannya saat melihat tatapan serius Kinan yang begitu tajam menatap matanya.
"Siapa sangka sifatmu sejelek ini." Ucap Kinan terdengar mengejek ditambah dengan senyuman sinis yang masih bertahan diwajahnya, membuat Akira kembali tersenyum setelah sempat melunturkan senyuman diwajahnya.
"Padahal ku kira kau seorang pria pendiam, ternyata cukup cerewet juga." Lanjutnya memperjelas ucapan sebelumnya.
"Hhaha tidak perlu memujiku seperti itu." Ucap Akira tak kuasa menahan tawanya membuat Kinan kebingungan.
"A-ada apa dengannya? Apa kepalanya sempat terbentur sesuatu? Padahal aku tidak sedang melawak. Dan pujian? Siapa yang memujinya? Kenapa dia sampai tertawa seperti itu?" Ucap Kinan bertanya-tanya.
"Maaf maaf, aku hanya ...." Ucap Akira berusaha menghentikan tawanya dan mulai menghela nafas sedalam mungkin untuk menenangkan dirinya.
"Kepalamu pasti bermasalah." Ucap Kinan sambil melangkah mundur, berusaha mengambil jarak sejauh mungkin dari Akira.
"Jadi?" Tanya Akira kembali pada pembicaraan sebelumnya membuat Kinan kembali berdiri dengan tegap dan kembali menatap mata Akira dengan serius, "Mau menemaniku? Atau mengizinkanku pergi bersama Dea?" Lanjutnya kembali tersenyum, kali ini bukan senyuman sinis seperti sebelumnya.
"Huft... bukankah sudah ku bilang aku tidak mau pergi?" Jawab Kinan berusaha menata kembali kesabarannya yang hampir habis setelah menghela nafasnya.
"Kalau begitu kau mengizinkanku pergi dengan Dea kan?" Tanyanya lagi memperjelas pilihan yang dia berikan.
"Jika tidak bisa pergi karena belum menemukan orang yang cocok, maka jangan pergi. Tidak perlu menyusahkan dirimu sendiri, apalagi sampai menyeret orang lain untuk terlibat dalam masalahmu sendiri." Jelas Kinan berusaha menyadarkan pria itu sambil memperhatikan halaman rumahnya.
"Bukankah itu jahat sekali?" Lanjutnya kembali menatap Akira yang sudah memasang wajah datarnya.
"Ku anggap kau mengizinkanku pergi bersama Dea." Ucap Akira sambil melengos kedalam rumahnya, tak mengizinkan Kinan untuk membalas ucapannya.
"Terserah kau saja." Umpat wanita itu sambil kembali ke rumahnya dengan perasaan campur aduk, 'Dasar menyebalkan, lihat saja kalau dia beneran ngajak Dea.' Lanjutnya menggerutu di dalam hati.
Sekitar dua puluh menit Kinan menunggu di depan rumahnya sambil bermain game di heandphonenya, akhirnya tukang yang dipanggilnya keluar dari rumah Akira dengan di antar oleh si penghuni rumah menuju depan pintunya.
Kinan yang melihat tukang itu berjalan menuju gerbang rumah Akira pun langsung berlari mendekatinya.
"Eh neng." Ucap bapak itu saat menyadari kehadiran Kinan.
"Bagaimana pak? Sudah bisa di pakai?" Tanya Kinan.
"Iya neng, sudah saya perbaiki." Jawabnya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, kalau begitu ini silahkan diambil." Tutur Kinan sambil memberikan sebuah amplop ke tangan bapak itu.
"Ti–tidak perlu neng, bapak sudah mendapatkan bayaran dari tuan disana." Tolak bapak itu sambil menunjuk ke arah Akira yang masih berdiri di depan pintu rumahnya, memperhatikan mereka berdua.
"Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai bonus. Lagipula yang memanggil bapak kesini kan saya, jadi tolong di terima ya." Tutur Kinan sambil tersenyum hangat kepada bapak itu setelah sempat melirik tajam ke arah Akira, 'Padahal yang manggil kan Dea. Yah lagipula bapak ini juga tidak akan menyadarinya , secara wajah kami nyaris sama ....' Lanjutnya dalam hati merasa tidak enak karena membohonginya.
Dengan ragu bapak itupun menerimanya dan langsung undur diri setelah mengucapkan terima kasih kepada Kinan.
"Hemph..." Ucap Kinan membuang muka dari Akira saat mereka bertemu pandang, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke dalam rumahnya.
***
"Akhirnya sampai juga." Tutur Megan terlihat begitu kelelahan dan berjalan lemas memasuki rumah Kinan sambil menjinjing beberapa belanjaan.
Megan yang melihat Dea bermalas-malasan di sofa pun ikut menghempaskan dirinya untuk mengistirahatkan kakinya.
"Minum dulu." Ucap Kinan yang membawa Es jeruk untuk mereka berdua.
"Es jeruk ...." Ucap mereka bersamaan sambil mengambil bagian mereka dan segera meneguknya, "Seger ...." Lanjut Megan setelah meneguknya.
"Es jeruk sehabis belanja memang yang terbaik." Tutur Dea kembali bersemangat setelah menghabiskan Es jeruk buatan Kinan.
"Ku harap kali ini kau tidak lupa diri lagi De." Ucap Kinan saat melihat semua belanjaan yang dibawa adiknya dan Megan.
"Ma-mana mungkin ...." Gumam Dea sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Kau sampai meminjam uang ku loh. tidak ingat?" Tutur Megan dengan wajah polosnya membuat Dea kesal.
"Deeeaaaaa... !!" Ucap Kinan penuh penekanan.
"Ma–maafkan aku." Teriak gadis itu sambil berlari menuju kamarnya di lantai atas.
"Udah sering dibilangin juga." Ucap Kinan setelah menghela nafas.
"Sudah ku bilang kan, kalau aku akan membayarnya," tutur Akira mengejutkan Kinan dengan kehadirannya yang tanpa permisi, "setiap makanan yang kau masakan untuk ku dan adik ku" Lanjutnya membuat Kinan kembali naik pitam.
"Perjanjiannya kalian yang akan berbelanja sendiri dan aku yang memasak. jadi jangan membicarakan uang terus dihadapanku!" Jelas Kinan merasa kesal sambil meraih semua belanjaan yang tersimpan di atas meja. kemudian berjalan kearah kulkas dan segera menata semua belanjaannya ke dalam kulkas.
"Kau itu kenapa kak? kepalamu sedang bermasalah ya?" Tanya Megan yang merasa heran dengan kelakuan Akira. Padahal biasanya Akira sangat pendiam dan tak banyak bicara, selalu setuju-setuju saja dengan perjanjian apapun yang dia buat dengan orang lain dan tak pernah memprotesnya.
"Berisik." Ucap Akira membuat Megan bungkam.
Setelah selesai menata semua belanjaannya, Kinan pun kembali bersantai di kursi putarnya sambil memainkan heandphonenya.
"Ah ya, kembalilah saat makan malam nanti." Ucap Kinan mengusir Akira dan Megan secara halus.
"Hee... padahal aku mau main game bareng kak.Kinan lagi." Gumam Megan memasang wajah sedihnya.
"Aku mau baca komik online, jadi pulanglah! jangan ganggu aku. hari ini aku sedang kesal." Jelas Kinan sebelum memasang headshet ke telinganya.
Dengan perasaan sedih akhirnya Megan pun pulang bersama Akira.
"Tapi kenapa kak Kinan bisa merasa kesal? aku juga belum pernah melihatnya sekesal itu. bahkan wajah kesalnya saat kalah bermain game juga berbeda dengan ekspresi kesal yang dia tunjukan tadi. kira-kira dia kesal kenapa ya?" Tutur Megan mulai mengoceh sebelum masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Akira hanya membisu dan mengikuti langkah Megan.
"Kak," ucap Megan saat berbalik badan, "kerannya sudah diperbaiki kan?" Lanjutnya bertanya.
"Ya." Jawab Akira begitu singkat.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu. kayanya seger kalau mandi jam segini, apalagi aku habis panas-panasan di pasar ...." Jelas Megan sambil berjalan kearah kamar mandinya, meninggalkan Akira yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku harus mengajaknya langsung, sebelumnya aku juga harus menanyakannya. akan ku tanyakan saat makan malam nanti." Gumam Akira berniat mengajak Dea untuk menemaninya dalam acara double date yang dia bicarakan dengan Kinan beberapa jam yang lalu.
xxx