Dea & Kinan

Dea & Kinan
101. Petunjuk



"Sepertinya mereka belum kembali ya ...." Gumam Kiara sambil menghela nafas lelah memegangi gelas berisi jus cair ditangan kanannya.


"Biarkan saja, yang penting mereka sedang bersama. Yang harus kita awasi saat ini adalah wanita itu." Tutur Bayu sambil memperhatikan kedatangan Delia yang memasuki ruangan tempat acara berlangsung.


"Kau benar," ucap Kiara menyetujui ucapan sepupunya itu.


Disisi lain, Dea sedang asik menikmati beberapa hidangan lezat yang disediakan diatas meja hidangan.


"Rakus bener," ejek Megan yang baru kembali dari kerumunan beberapa temannya yang ikut hadir dalam perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya. Ya sebenarnya mereka di undang dalam perayaan ulang tahun kakaknya, tapi karena bertepatan dengan ulang tahun pernikahan orang tuanya, mereka begitu bersemangat pergi lebih awal untuk berburu makanan di rumah mewah Megan.


"Udah balik loe, kenapa mereka ditinggal?" Tanya Dea setelah menelan kue di dalam mulutnya.


"Loe bisa gendut loh kalau kebanyakan makan yang manis-manis." Tutur pria itu menghiraukan pertanyaan Dea.


"Suka-suka gue lah, yang gendut kan badan gue. Ko loe yang repot sih?" Jelas Dea kembali memasukan kue kedalam mulutnya.


"Loe lupa? Loe itu udah jadi model, loe harus bisa merawat tubuh loe." Jelasnya mengingatkan gadis itu.


"Gue lupa." Gumamnya sambil meraih gelas berisi jus cair di atas meja.


"Bodoh!" Umpat Megan sebelum meneguk jus cair ditangannya.


"Berisik!" Balas Dea dengan nada kesalnya.


***


Ku lihat kakak dan kak Akira yang baru kembali dari luar.


"He? Mereka gandengan?" Tanyaku sambil memperhatikan tangan kakak yang menggandeng tangan kak Akira dengan ekspresi yang sulit ku jelaskan.


Wajahnya terlihat kesal dengan rona merah di wajahnya, lalu tatapannya berubah menjadi sangat hangat. Tak lama kemudian senyumannya mengembang saat bertemu tatap dengan kak Akira.


"Kenapa loe terkejut begitu?" Tanya Megan mengejutkanku.


"Ya–ya aneh aja," jawabku sambil memainkan gelas ditanganku.


"Aneh? Bukankah itu bagus?" Tanyanya lagi dengan tatapan lurus memperhatikan sosok kak Akira dan kakak.


"Bagus?" Gumamku ikut memperhatikan mereka.


"Iya bagus, jika melihat situasinya ... sepertinya mereka sudah mengetahui perasaan satu sama lain." Jelasnya.


"Haa..." Gumamku dengan nada datar memlirik kearah Megan yang sudah tersenyum lebar kearahku.


Dengan cepat ku palingkan wajahku darinya. Memikirkan apa yang baru saja dikatakannya, soal perasaan kakak dan kak Akira.


'Jadi mereka sudah menyadari perasaan mereka masing-masing ya?' Batinku masih memperhatikan kak Akira dan kakak yanh sedang berbincang dengan beberapa tamu, yang kemungkinan mereka adalah rekan kerja kak Akira.


"Huhu ... kakak ku sudah besar sekarang," tuturku merasa terharu saat melihat sosoknya.


"He?" Ucap Megan terdengar terkejut membuatku melirik kearahnya, tanpa sadar air mataku sampai menetes tepat pada saat pandangan kami bertemu.


"Lo–loe nangis?" Lanjutnya membuatku segera berbalik badan dan menghapus air mata yang sempat menetes karena terharu dengan pemandangan yang baru saja ku lihat.


Bagaimana tidak? Sudah lama sekali orang tua kami menginginkan kakak untuk mencari sosok pendamping, tapi kakak tak pernah mengindahkan keinginan ayah dan ibu. Dia malah asik dengan dunianya sendiri, membuatku jengkel setiap hari.


Jika harus mengingat semua kejadian menyebalkan itu, aku jadi merasa sedih dan kehilangan. Tapi mau bagaimana lagi? Cepat atau lambat kakak akan menemukan seseorang yang ... lebih penting daripada adiknya sendiri.


Lalu dia akan pergi meninggalkanku, hidup bersama pasangannya. Membangun keluarganya sendiri, dengan membayangkannya saja sudah membuatku sesedih ini.


'Aku memang ingin kakak segera menemukan seseorang yang bisa menjadi teman hidupnya. Tapi saat dia menemukannya, entah kenapa aku malah tak ingin kakak pergi ....' Batinku mengoceh memikirkan apa yang terlintas dikepalaku.


Saat lamunanku berkelana jauh, tiba-tiba saja aku merasakan tepukan lembut di bahuku. Membuatku refleks melihat kearah seseorang yang menepuk bahuku itu.


"Ada apa?" Tanyanya membuatku mengerucutkan bibirku dengan kesal.


"Ngapain sih loe? Gangguin gue aja ...." Ucapku sambil menatap mata Megan dengan kesal. Ya, dialah yang sudah menepuk bahuku.


"Ma–mau kemana?" Tanyaku tak mendapat jawaban.


Pria ini benar-benar tak mau mendengarkanku, dia hanya bisa menarik tanganku dan pergi kesebuah ruangan.


Ku lihat beberapa lukisan indah yang terpajang di dinding ruangan itu, bahkan ada satu set sofa mewah yang tersimpan di dekat jendela lebar dengan gorden cantik berwarna merah.


'Tempat tidur?' Batinku saat melihat tempat tidur mewah dengan ukuran besar, 'seperti tempat tidur seorang raja.' Lanjutku berusaha menahan tawa memikirkan siapa si pemilik ruangan ini.


"Ada apa?" Suara Megan mengejutkanku, matanya sudah menatapku dengan serius.


"Ha?" Tanyaku sambil melepaskan tanganku yang masih di genggam olehnya.


"Jangan menangis seperti itu di depan tamu undangan." Jelasnya sambil menundukan kepalanya.


"He? Ta–tadi itu ... lagipula siapa yang akan melihatku menangis? Mereka sibuk dengan kenalan mereka, dan aku juga tak mengenal mereka." Tuturku.


"Loe gak sadar?" Tanyanya kembali menatapku dengan serius.


"A–apa sih?" Tanyaku tak mengerti.


"Sejak kalian turun dari panggung, mereka semua memperhatikan kalian." Jawabnya membuatku semakin kebingungan.


"Mereka? Siapa?" Tanyaku.


***


"Mereka ...." Jawab Megan terhenti dan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Loe gak perlu tau, yang jelas gue gak suka mereka liatin loe kaya gitu." Lanjutnya sambil mengingat beberapa pria yang memperhatikan Dea dengan tatapan tertariknya.


"Ha? Apa sih? Loe gak jelas banget." Tutur Dea mulai merasa kesal dengan sikap Megan yang tak bisa dimengerti olehnya.


"Ada satu hal yang ku ketahui tentangmu, selama ini aku hanya diam tak menanyakan apapun padamu. Tapi entah kenapa aku ingin menanyakannya sekarang," jelas Megan membuat Dea membisu memperhatikan tatapan serius pria itu.


"Na–nanya apaan?" Tanya Dea tergugup.


Gadis itu mulai melangkah mundur saat melihat Megan melangkahkan kakinya mendekatinya, memperpendek jarak diantara mereka.


Langkah Dea terhenti saat merasakan tubuhnya bersender pada pintu dibelakangnya. Matanya masih memperhatikan tatapan Megan yang belum berubah sejak dia membawanya masuk kedalam ruangan yang entah kamar siapa.


Kedua tangan Megan mendarat di samping kepala Dea, mengunci tubuh gadis itu dan membuatnya sedikit ketakutan dengan aura yang dirasakannya.


"Lo–loe mau apa?" Tanyanya setelah susah payah menelan ludahnya saat merasakan tenggorokannya yang mengering.


Tiba-tiba saja pria berambut coklat itu tersenyum dingin membuat gadis itu terkejut dengan perubahan ekspresi Megan yang dilihatnya.


'Ada apa dengannya? aku belum pernah melihat ekspresinya yang seperti ini? tekanan macam apa yang dia buat? kenapa rasanya ....' Batin Dea terhenti saat melihat wajah Megan yang semakin mendekat padanya.


"Sepertinya aku sudah mengetahui siapa yang mengirimkan surat-surat itu padaku." Ucapnya membuat gadis itu tersentak.


"Wa–wah ... sepertinya kau berhasil menemukan gadis itu ya." Tuturnya berusaha menutupi kegugupannya dengan memalingkan pandangannya kesembarang arah.


"Kau tak ingin mengetahui siapa gadis misterius itu?" Tanyanya membuat Dea segera melirik kearah Megan dan kembali bertemu tatap dengan pria itu.


"Ah ya aku lupa, seharusnya aku menanyakan ini padamu. Bukan bertanya padamu ... ku ubah pertanyaannya ... Apa kau mengetahui si pengirim surat itu?" Lanjutnya membuat degupan jantung Dea semakin berpacu.


"Ma–mana mungkin aku tau kan? bukankah tadi kau bilang kau mengetahuinya?" Jawabnya berusaha mendorong tubuh Megan, namun usahanya sia-sia.


'Sial! sekuat apa sih tenaganya? kenapa mendorongnya saja tidak bisa? tidak bukan begitu, sepertinya tubuhku yang melemas setelah mendengar perkataannya.' Batin Dea merasakan telapak tangannya yang mendingin.


"Kau tau? gadis itu ada disini, aku bisa tau setelah menemukan petunjuk dikamarnya ...." Suara Megan kembali mengejutkan Dea.


"Petunjuk? dikamarnya?" Guman Dea kembali bertemu tatap dengan pria dihadapannya, pria yang masih menatapnya dengan serius dengan senyuman dinginnya.


xxx