
"Rasanya sudah lama ya kita gak kumpul-kumpul kaya gini." Tutur Dea terlihat begitu bahagia duduk disebelah ayahnya dan menyenderkan kepalanya dibahu pria itu.
"Benar, terakhir kali kapan ya? lupa." Lanjut Kinan yang juga menyenderkan kepalanya dibahu ayanya. Membiarkan pria itu duduk diantara Dea dan Kinan.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanya pak Arya tak bisa melepaskan diri dari kedua putrinya yang memegangi kedua tangannya.
"Ayah diam saja." Ucap Dea membuat Kinan terkekeh.
"Ada apa nih? kayanya kedua putri ibu bahagia banget hari ini, pake manja-manjaan sama ayah lagi." Tutur bu Hanum yang baru keluar dari dapur membawa empat cangkir teh kesukaan keluarganya.
"Uwaaah tehnya wangi ...." Ucap Kinan segera meraih salah satu cangkir teh diatas nampan yang dibawa ibunya.
"Hati-hati masih panas." Ucap bu Hanum memperingatkan, tapi sepertinya terlambat. Lihatlah wajah aneh yang dibuat Kinan akibat merasakan panas di ujung lidah dan bibirnya.
"Kakak ini masih saja ceroboh ya, padahal bentar lagi mau jadi nyonya Akira." Ejek Dea setelah meneguk teh panas yang sudah ditiupnya.
"Berisik!" Ucap Kinan terlihat kesal.
"Sudah-sudah, kalian ini masih saja suka bertengkar ya." Tutur pak Arya menengahi pertengkaran kedua putrinya.
"Ibu seneng deh, pada akhirnya putri sulung ibu akan segera menikah." Lanjut bu Hanum membuat Kinan sedikit cemberut.
"Loh kok mukanya ditekuk gitu?" Tanya pak Arya mewakili istrinya.
"Ya habis ... ibu kayanya seneng banget mau pisah sama anaknya. Padahal aku masih pengen bareng-bareng sama ayah dan ibu buat beberapa tahun kedepan." Gerutu Kinan langsung mendapatkan cubitan gemas dari ibunya yang duduk dihadapannya.
"Orang tua mana yang gak bahagia melihat putrinya menikah? meski nantinya kamu harus tinggal sama Akira dan keluarganya. Kita kan masih tetap bisa bertemu, masih keluarga. Jadi berhenti bersikap seperti anak kecil seperti ini." Jelas bu Hanum.
"Berarti Dea beneran bakal ditinggal sendiri di rumah ini ya?" Gumam Dea terlihat murung.
"Dea ...." Ucap Kinan merasa tersentuh.
"Jangan pikir kamu bisa mengundur pernikahanmu ya." Ucap bu Hanum menyadari niat buruk putrinya, Kinan yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa terkekeh untuk menutupi perasaannya yang campur aduk.
"Ibu tau aja apa yang dipikirin anaknya." Lanjut pak Arya dengan senyuman hangatnya.
"Ibu beneran gak sedih gitu Kinan diambil anak orang?" Tanya Kinan kembali menyenderkan kepalanya dibahu ayahnya.
"Sedih sih, kamu kan ibu rawat dari kecil. Sekarang udah sebesar ini malah mau dipinang anak orang–" Jawab bu Hanum setelah menyeruput teh hangat dicangkir tehnya.
"Kalau begitu–" Ucap Kinan terpotong.
"Tapi ibu bahagia karena Karina dan Wira bisa menyayangimu seperti putrinya sendiri. Jadi ibu tidak perlu khawatir mengirim mu ke keluarga Wira sebagai istrinya Akira." Lanjutnya sambil tersenyum hangat membuat kedua putrinya tak bisa berkata-kata.
"Ayah juga sependapat dengan ibumu. Kamu beruntung bisa disayangi keluarganya Wira." Jelas pak Arya saat melihat putrinya menatap wajahnya dengan serius.
'Beruntung ya? meski awalnya terjadi karena kecelakaan?' Batin Kinan bertanya-tanya saat semua momen kebersamaannya dengan Akira berputar dengan cepat dalam ingatannya. Dimulai dari pertemuan pertamanya, pertengkaran untuk menjadi kekasih palsunya yang berlanjut sampai ke insiden Kinan yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya Akira, dan sekarang malah beneran mau menikah.
"Malam ini aku mau tidur di kamar kakak ya." Suara Dea membuyarkan lamunan wanita berambut coklat itu.
"Kenapa?" Tanya Kinan.
"Ke–kenapa apanya?" Tanya Dea tergugup, "sudah jelas kan? aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama kakak sebelum kakak menikah." Lanjutnya dengan rona merah diwajahnya.
"Dea!" Ucapnya penuh penekanan.
"Jangan menggodaku!" Jelas gadis itu sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Siapa juga yang mau menggoda orang galak sepertimu hah?" Tutur Kinan membuat adiknya merasa kesal.
"Mereka ini ...." Gumam pak Arya melihat pertengkaran kedua putrinya yang semakin memanas.
"Tak berubah sedikit pun dari terakhir kali kita hidup bersama ... padahal tadi ingin menghabiskan banyak waktu bersama kakaknya, tapi malah mengajaknya bertengkar," lanjut bu Hanum tak habis pikir dengan kelakuan kedua putrinya yang tak bisa jujur dengan perasaannya masing-masing.
"Awas ya kamu!" Ucap Kinan sambil berlari mengejar Dea yang sudah berlari mengelilingi ruang tengah.
"Ibu tak mau menghentikan mereka?" Tanya pak Wira yang masih duduk tenang diatas sofanya dengan tangan kanannya yang segera meraih cangkir teh dihadapannya.
"Biarkan saja, sudah lama ibu tidak melihat mereka bertengkar. Lagipula kedepannya mereka akan tinggal ditempat berbeda ...." Jawab bu Hanum dengan sorot mata teduhnya memperhatikan kelakuan kedua putrinya.
"Ibu pilih siapa? aku apa kakak?" Tanya Dea mengejutkan ibunya yang tak mendengarkan perdebatan mereka.
"Ha? milih gimana maksudnya?" Jawabnya balik bertanya dan segera mendapat pelukan manja dari putri bungsunya yang berdiri dibelakang kursi sofa yang diduduki oleh bu Hanum.
"Kalau ayah pasti milih aku kan." Suara Kinan yang sudah lebih dulu memeluk ayahnya dari belakang sofa dan memberikan senyuman sarkasnya kearah Dea, membuat gadis itu mendengus kesal.
"Apa sih? kedua putri ayah ini lagi bahas apa," tanya pak Arya sambil meraih tangan Kinan yang sudah melingkar dibahunya.
"Dea mau berlibur bareng ayah dan ibu setelah ujian Dea selesai, tapi kakak ingin berlibur setelah dia menikah nanti. Kalau menurut Dea, orang yang sudah menikah tidak perlu ikut. Iya kan bu, ibu pasti setuju denganku. Makanya ibu harus milih Dea." Jelas gadis berambut hitam itu mempererat pelukannya.
"Mana ada, aku kan juga masih putri ibu. Wajar dong kalau aku juga mau ikut, lagian kita udah lama gak berlibur satu keluarga." Bela Kinan tak ingin kalah dari perdebatannya.
"Berlibur ya ...." Gumam pak Arya menarik perhatian kedua putrinya.
"Kayanya lebih seru kalau rame-rame ya yah." Lanjut bu Hanum membuat kedua putrinya kebingungan.
"Kalau berlibur bersama keluarga Wira pasti mereka tidak akan bisa bu, mereka kan sangat sibuk." Jelas pak Arya setelah menghela napas lelahnya.
"Kalau Karina pasti ikut deh yah. Ayah kan tau sifatnya, dia juga pasti akan menggeret kedua putranya." Tutur bu Hanum dengan senyuman gelinya.
"Hee... jadi ibu sama ayah berniat mengajak mereka? kalau gitu bukan liburan keluarga namanya." Tutur Dea melepaskan pelukan ibunya dan berjalan memutari sofa itu sebelum akhirnya duduk disamping sang ibu.
"Eh ko gitu ngomongnya, kamu tau kan kalau keluarga Wira dan keluarga Kita akan menjadi besanan? berarti mereka juga akan menjadi keluarga kita." Jelas bu Hanum sambil memainkan pipi putrinya dengan gemas.
"Berarti ibu dan ayah memilihku ya ... tapi aku maunya berlibur bersama ayah dan ibu saja. Kalau bersama Akira dan keluarganya, nanti aku gak bisa manja-manjaan sama ayah dan ibu." Tutur Kinan yang masih memeluk ayahnya dari belakang sofa membuat kedua orang tuanya terkekeh saat mendengar penuturan dari putri sulungnya itu.
"Kakak gak cape ya harus jaga image di depan–" Ucap Dea segera mendapat lemparan bantal sofa diwajahnya.
"Ki–nan!" Lanjut Dea penuh penekanan, merasa kesal dengan kelakuan kakaknya yang dianggap menyebalkan.
Dan akhirnya pertengkaran mereka kembali berlanjut setelah sempat mereda karena membahas soal rencana liburan yang diinginkan oleh Dea.
xxx