Dea & Kinan

Dea & Kinan
27. Senyuman Dea & Kinan



Waktu menunjukan pukul 06:00 Pm. Terlihat Kinan yang sedang sibuk memasak di dapur rumahnya, sedangkan Dea sedang membaca novel di ruang tengah menemani Megan yang sedang sibuk bermain game bersama dengan Akira.


"Arrgh..." Geram Megan merasa kesal saat Akira berhasil mengalahkannya, sedangkan Akira mulai bangkit dari tempatnya membuat Megan melirik ke arahnya.


"Mau kemana?" Tanyanya.


"Membantu Kinan." Jawab Akira sambil melengos.


"He? Ayo bermain denganku lagi, kali ini aku yang akan mengalahkanmu. Cepat kesini!" Teriak Megan tak di dengarkan dan malah mendapat lemparan bantal dari Dea yang merasa terganggu dengan teriakannya.


"Berisik! Gue lagi baca novel." Jelas Dea menatap mata Megan dengan tajam membuat pria itu merinding.


Entah sejak kapan mereka mulai terlihat dekat, sampai Dea memutuskan menggunakan bahasa gaul dalam pembicaraan mereka.


"Galak banget sih loe!" Umpat Megan sambil mengelus kepalanya yang tak bersalah. Dan melanjutkan kembali bermain game tanpa Akira maupun Kinan.


Di dapur...


"Makanannya belum jadi, tunggu di ruang tengah saja." Ucap Kinan saat melihat Akira berdiri di ambang pintu.


"Aku tau." Ucap Akira sambil memasuki dapur dan melipat lengan bajunya sampai ke siku, membuat Kinan mengangkat salah satu alisnya untuk menunjukan kebingungannya.


"Ini tinggal di goreng kan?" Tanya Akira setelah mencuci tangannya dan langsung meraih mangkuk udang.


"Apa yang ...." Tanya Kinan segera dihentikan oleh pria itu.


"Biarkan aku membantumu." Jawabnya.


"Membantu?" Gumam Kinan merasa kesal, "aku tidak meminta bantuan darimu, jadi cepat kembali ke tempatmu!" Lanjutnya sambil merebut mangkuk udang di tangan Akira, namun pria itu malah merebutnya kembali dan mulai menggoreng beberapa udang membuat Kinan menghela nafas pasrah saat melihat pria itu begitu menikmatinya.


"Begini-begini aku juga bisa memasak. Yah meskipun belum semahir dirimu ...." Tutur Akira mengakui kepayahannya mengalihkan perhatiannya pada Kinan yang masih berdiri disampingnya.


"Tentu saja, masih terlalu cepat 100 tahun untuk menyamaiku." Gumam Kinan menyombongkan dirinya membuat Akira mendelik.


"Satu tahun. dalam satu tahun aku akan menyamai kemampuan memasakmu. lihat saja nanti!" Tutur Akira tak di dengarkan.


"Cepat dibalik, kalau tidak nanti gosong. Setelah warnanya ...." Ucap Kinan memperhatikan udang yang sedang di goreng oleh Akira dengan gemasnya, lalu tanpa pikir panjang dia langsung meraih tangan Akira yang memegangi spatula membuat pria itu terkejut dengan tindakan Kinan.


"Tuh kan, kalau mau membantu jangan banyak bicara. Nanti hasilnya gosong seperti ini, cepat angkat!" Jelas Kinan tak di dengarkan, Akira masih mematung memperhatikan Kinan yang masih memegangi tangan kanannya.


"Apa yang kau lihat? Cepat angkat!" Bentak Kinan yang sudah melepaskan tangan Akira, dan pria itupun langsung mengangguk saat tersadar dari lamunannya.


"Sini, biar aku saja. Kau ulek saja sambalnya" Ucap Kinan sambil merebut mangkuk ditangan Akira dan menunjuk kearah cobek yang tersimpan di atas meja makan.


"Hee..." Gumam Akira sambil melihat kearah cobek yang ditunjuk oleh Kinan.


"Cepat ulek sambalnya! Dan bersihkan meja makannya, lalu siapkan piring, gelas, sendok dan garpu untuk semua orang." Jelas Kinan mulai menggoreng semua udang di dalam mangkuk yang di pegangnya.


"Ujung-ujungnya kau menyuruhku ini dan itu." Tutur Akira dengan nada datar seperti biasanya membuat Kinan merasa kesal.


"Kau sendiri yang mau membantuku kan? Jadi turuti semua perintahku, jangan bawel." Tutur Kinan sambil melirik tajam ke arah Akira, membuat pria itu segera menuruti semua perintah Kinan.


"Kau harus membayarnya nanti." Ucap Akira membuat Kinan mendelik.


"Ku dengar kakimu cedera, bagaimana sekarang?" Tanya Akira memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan itu.


"Tentu saja sudah sembuh. Lagipula itu sudah lama." Jawab Kinan begitu tak bersahabat membuat Akira merasa jengkel.


"Sepertinya aku memang harus membongkar rahasiamu pada Dea ya." Ancam Akira membuat Kinan mendengus.


"Lakukan saja, aku tidak takut." Tantang Kinan membuat Akira kembali mendelik.


"Tentu saja tidak takut karena kau sudah menceritakannya kan?" Tanya Akira setelah selesai mengulek sambalnya.


"Dari mana kau tau?" Tanya Kinan yang terkejut mendengar pertanyaan Akira, dan segera melihat ke arah pria itu berdiri dengan memasang wajah ketakutannya.


Akira hanya bisa menunjukan senyuman angkuhnya kepada Kinan.


"Berarti Dea sudah tau dengan kondisi keuangan keluargamu?" Tanya Akira membuat Kinan meliriknya dengan tajam.


"Aku benar-benar akan menghabisimu jika membicarakan hal ini lagi ...." Jelas Kinan tak suka jika masalahnya dicampuri oleh orang lain.


"Melihat reaksimu, berarti kau belum menceritakan yang itu." Ucap Akira menghela nafas berat.


Pembicaraan merekapun selesai saat Megan dan Dea menghampiri mereka ke dapur.


"Wah udang ...." Ucap Megan berseri-seri dan segera mengambil tempat untuk duduk menyantap makan malamnya.


"Cuci tangan dulu!" Ucap Dea sambil menepuk tangan Megan yang hendak mengambil udang dengan tangan kosong.


"Cih!" Ucap pria itu langsung pergi untuk mencuci tangannya di wastafel.


***


"Ini benar-benar enak." Ucap Megan dengan mulut penuh makanan.


"Joroknya, telan dulu baru ngomong." Ucap Dea merasa jengkel saat melihat kelakuan Megan, lalu pria itupun segera menelan makannya dan tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya.


"Ah soal rencana liburan kita," ucap Megan membuat semua orang memperhatikannya, "bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan? aku ingin menaiki beberapa wahan yang memacu adrenalin." Lanjutnya begitu antusias.


"Dasar Bocah." Ejek Dea kembali menikmati makannya, sedangkan Megan malah menatap kesal kearah Dea.


"Taman hiburan ya ...." Gumam Kinan segera mendapat perhatian dari adiknya dan Akira.


"Benarkan, aku tau kak.Kinan akan suka tempat seperti itu. Aku juga ingin menantang kak.Kinan untuk menaiki wahana ekstrem disana." Jelas Megan kembali bersemangat.


"Kau ingin pergi kak? disana lebih ramai daripada di pantai dan pegunungan loh." Tanya Dea merasa cemas dengan kakaknya yang tidak menyukai keramaian.


"Kalau kau mau aku akan ikut." Jawab Kinan sambil memasukan perkedel kentang kedalam mulutnya.


"Ha?" Ucap Dea begitu terkejut saat mendengar jawaban kakaknya.


"Kau yakin?" Tanya Akira ikut cemas karena ekspresi yang ditunjukan oleh Dea.


"Tapi aku bisa saja berubah pikiran dalam sepuluh detik." Jelas Kinan setelah menelan makanan di dalam mulutnya dan meraih gelas dihadapannya.


Megan pun segera menyiku tangan Dea dan menyadarkan gadis itu yang tak berkutik saat mendengar kakaknya mau pergi keluar rumah untuk pertama kalinya, tanpa dipaksa olehnya.


"Mau mau. aku mau pergi dengan kakak." Ucap Dea sambil menyeringai pada Kinan yang sedang meneguk air minumnya.


"Kita berangkat lusa nanti. aku akan menyelesaikan pekerjaanku besok." Tutur Akira ikut bahagia meski wajahnya masih terlihat datar.


"Yeay pergi ke taman hiburan, akhirnya bisa refreshing juga." Teriak Megan begitu gembira membuat Dea tertawa, sedangkan Kinan hanya menatap hangat ke arah Dea sambil menunjukan senyuman yang tak kalah hangatnya.


"Janji ya kak. jangan berubah pikiran, pokoknya besok kita pergi bersama." Tutur Dea di sela-sela tawanya dan kembali tersenyum.


"Ya." Ucap Kinan membuat kembali tersenyum saat melihat ekspresi Dea yang sudah lama tak dilihatnya.


Akira yang melihat senyuman Kinan pun tak bisa mengalihkan pandanganya, sama seperti saat Megan melihat Kinan tersenyum untuk pertama kalinya. tiba-tiba tangan Akira langsung memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat.


'Senyuman hangat seperti yang penah aku lihat sebelumnya ....' Batin Akira masih memegangi dadanya, 'Senyuman yang ditunjukan Dea dan senyuman yang ditunjukan Kinan.., entah kenapa rasanya berbeda' Lanjutnya yang masih memperhatikan Kinan dan mengingat senyuman Dea saat dia pulang bersamanya.


Senyuman dan tatapan hangat yang di tunjukan Kinan memang bisa menghipnotis semua orang yang melihatnya, sampai membuat siapapun tak bisa berpaling darinya.


Meski Dea lebih cantik dari Kinan, tapi senyuman Kinan lah yang paling banyak menarik perhatian para pria. sama seperti saat dia masih sering tersenyum ketika berlari, namanya sampai terkenal kesemua penjuru sekolahnya. Bahkan ada beberpa pria yang berusaha menyatakan perasaannya pada Kinan, namun sering kali ditolak olehnya.


Jadi bukan berarti Kinan tidak laku, cuma dia lebih mementingkan hobi dan adiknya. Makanya dia selalu menghindari kisah rumit orang-orang kasmaran. Baginya menjalin hubungan dengan seorang pria adalah hal yang rumit dan bisa merepotkannya. Sedangkan Kinan sendiri, dia tidak suka semua hal yang merepotkan jadi dia memilih untuk menghindari kisah hidup yang akan membawanya kearah sana.


Karena yang penting bagi Kinan sekarang hanyalah Dea, Dea yang masih belum dewasa sepenuhnya membuat Kinan sering kali mencemaskannya, apalagi sekarang mereka tinggal berjauhan dengan orang tuanya, tentu saja Kinan harus bisa menjaga Dea dan membuat adiknya merasa tenang berada disampingnya dengan menutupi semua kecemasannya dengan sikap kekanak-kanakan yang dimilikinya.


Karena bagi Kinan, selama adiknya bahagia dia akan melakukan apapun untuk membuatnya tersenyum, dengan caranya sendiri. Kinan juga bisa menjadi sosok yang menakutkan sebagai seorang kakak, hanya untuk melindungi adiknya dari para pria play boy yang hanya memanfaatkan Dea sebagai penghasil uang bagi mereka, karena Dea dan Kinan terlahir dalam keluarga yang cukup kaya. Jadi pasti ada satu dua pria yang mengincar uang mereka, sama seperti saat itu.


xxx