
Aku hanya tau kalau keuangan keluargaku sedang bermasalah. Tapi tak pernah diberitau kalau semua itu terjadi karena ulah pamanku sendiri.
Sekarang aku semakin pusing memikirkan masalah keluargaku, biar bagaimanapun aku putri pertama dari keluarga Pak.Arya dan Bu.Hanum. Sudah sewajarnya aku merasa harus terlibat dan mencari jalan keluarnya untuk meringankan beban kedua orang tuaku.
Dan sebagai seorang kakak, aku merasa bertanggung jawab karena selama ini aku hanya bisa bermalas-malasan dan mengandalkan uang orang tuaku untuk menyambung hidup. Selain itu aku juga merasa harus menyembunyikan masalah ini dari Dea, selama dia masih sekolah SMA maka ini semua tidak ada hubungannya dengan Dea. Tugas dia hanya belajar dan lulus dengan nilai memuaskan, lalu masuk kuliah dan wujudkan cita-citanya. Hanya itu yang bisa ku pikirkan untuk kebaikannya.
Aku tak bisa membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa menyisihkan uang jajannya dan malah menghambur-hamburkannya untuk belanja barang-barang kesukaannya.
"Sekarang bagaimana ? Apa yang bisa ku lakukan ? Pekerjaan freelance ku cukup lancar dan lumayan menguntungkan meski harus sering begadang. Jika ingin membantu keuangan keluargaku, aku juga harus mencari pekerjaan lain dengan upah yang... atau ku jual saja ya rumahku. Jadi saat Dea lulus, aku bisa kembali kerumah ibuku di kampung. Dan membiarkan Dea mandiri disini, jadi dia bisa belajar menahan diri dan berhemat juga..." Gumamku sambil menyenderkan tubuhku pada kepala kursi putar yang ku duduki. Sudah lama aku tidak bermain komputer, jadi saat ini aku sedang merenung di ruang tengah.
Waktu juga masih menunjukan pukul dua siang. Dea selalu pulang sore dan Megan sudah pergi ke kampusnya sejak pukul sepuluh pagi tadi. Lalu Akira, si pria menyebalkan itu, dia masih berada diluar kota. Katanya sih sedang sibuk mengurusi perusahaanya yang berada disana.
Entah sekaya apa dia, tapi jika melihatnya bekerja sekeras itu maka tidak heran kalau dia bisa menjadi orang kaya. Keluarganya juga sangat disiplin dan menghargai waktu. Seperti yang kita tau, kunci sukses itu adalah bekerja keras. Dan rasanya aku mulai paham dengan kalimat "waktu adalah uang" mungkin itu bisa menjadi motto hidup keluarganya Akira.
"Apa yang kau gumamkan ?" Suara Akira mengejutkanku.
"Ba-bagaimana kau ? Kenapa sudah pulang ? Bukannya satu atau dua hari lagi baru bisa pulang ?" Tanyaku yang merasa terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Kini pria itu sudah duduk di sofa sambil membuka kancing jas abu yang dikenakannya, dan tangannya juga segera meraih dasi hitam yang melingkar di lehernya. Lalu melonggarkannya dan melepaskan kancing kemeja di bagian lehernya.
"Sepertinya kau sedang menganggur ya..." Tuturnya benar-benar membuatku kesal. Dengan cepat aku duduk kembali diatas kursi putarku setelah sempat bangkit karena terkejut.
"Mau mencari kerja ?" Lanjutnya saat melihat layar komputerku.
"Bukan urusanmu !" Jawabku sambil memutar kursiku kearah komputer dan segera membuka aplikasi game yang sudah ku instal di dalam komputerku.
"Bukannya kau sudah mendapat pekerjaan ? Freelance ?" Tanyanya lagi terdengar penasaran.
"Sudah ku bilang bukan urusanmu !" Jelasku sedikit membentaknya tanpa melirik wajahnya sedikitpun.
"Terserah kau saja" Gumamnya sambil melangkahkan kakinya menjauhi ruanganku, dan ku dengar suara pintu rumahku terbuka lalu kembali tertutup.
"Dia pulang ya ?" Tanyaku saat melihat kesekeliling, tak ku dapati dia dimanapun, "Syukurlah..." Lanjutku sambil menghela nafas lega.
***
Di kediaman Akira.
"Lelahnya..." Gumam Akira sambil melepaskan jas dan dasi yang dikenakannya, lalu mengambil sikap duduk di atas tempat tidurnya sambil mengeluarkan heandphonenya.
Kemudian matanya menatap sebuah pesan masuk yang diterimanya beberapa jam yang lalu. Tatapannya benar-benar serius dan penuh tanya.
Tentu saja karena isi pesannya yang bertuliskan "Aku sudah tau yang sebenarnya..." dan Akira mendapatkannya dari nomor tak dikenal.
Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Megan membuka pintu sekeras mungkin sambil berteriak "Aku pulang !". Wajahnya juga terlihat berbunga-bunga, entah apa yang sudah membuatnya menjadi seperti itu.
"Lama-lama kau semakin mirip dengan Dea ya..." Tutur Akira yang sudah keluar dari kamarnya dan melihat adiknya yang sedang sibuk membuka tali sepatu yang dikenakannya.
"Jangan samakan aku dengan cewe itu !" Gerutu Megan tampak kesal.
"Bagaimana kuliahmu hari ini ?" Tanya Akira mengalihkan pembicaraan.
"Melelahkan seperti biasanya..." Jawab Megan sambil menyeringai saat menengok ke arah kakaknya berdiri saat ini.
"Tapi wajahmu sangat bersemangat ya..." Jelas Akira sambil berjalan kearah ruang tengah, meninggalkan Megan di depan pintu.
"Itu karena festival tahunan di kampus akan segera diadakan, terus gak lama kemudian penerimaan mahasiswa baru. Dan di acara festival nanti, aku akan tampil bersama bandku. Uwah... aku jadi sangat bersemangat sekarang" Jelasnya begitu bersemangat mengikuti langkah kakaknya yang sekarang sudah duduk manis diatas sofa sambil memegang remot tv dan menyalakan televisi itu dengan menekan tombol power pada remot ditangannya.
"Ku kira sudah berhenti bermain band" Tutur Akira setelah menghela nafas lelah.
"Mana mungkin ! Siapa yang bilang ?" Teriak Megan merasa sedikit kesal karena mendengar helaan nafas kakaknya itu.
"Tidak perlu berteriak. Benar-benar deh..." Ucap Akira sambil mengorek salah satu telinganya dengan jari kelingkingnya.
"Cih" Ucap Megan mendecih kesal sambil melengos masuk kedalam kamarnya.
***
Pukul 07:00 Pm, di kediaman Kinan. Seperti biasanya mereka berempat sedang menyantap makan malam yang sudah dibuatkan oleh Kinan.
Dea dan Megan mulai sering bertengkar akhir-akhir ini. Sedangkan Akira, dia terlihat begitu lesu mungkin karena urusan pekerjaannya. Kinan, seperti biasanya dia tidak ingin merepotkan dirinya untuk mengurusi urusan orang lain.
Dia tidak ingin mengulangi kejadian di malam itu, saat Akira terlihat murung dan meminta izin untuk membawa Dea setelah membuatnya salah paham.
Dan untuk pertama kalinya dia merasa malu berdekatan dengan Akira. tapi pria itu malah tidak menyadarinya.
"Aku selesai..." Ucap Kinan sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah wastafel, "Bekasnya cuci sendiri !" Lanjutnya dengan nada tegas dan melirik tajam kearah mereka bertiga.
"Ba-baik" Jawab Megan yang merasakan ancaman dari wanita itu.
Setelah melap tangannya, Kinan pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan memikirkan kembali soal masalah keluarganya dan pesan yang dia dapat ketika Akira pulang ke rumahnya siang tadi. Isi pesannya sama dengan pesan yang diterima oleh Akira, bahkan nomor si pengirimnya juga sama.
"Orang iseng mana lagi yang mencari masalah denganku ? dapat nomorku dari siapa ? siapa yang memberikannya ? awas aja kalau sampai ketemu, akan ku berikan pelajaran padanya, lancang sekali memberikan nomor pribadiku kepada orang lain tanpa meminta izin padaku dulu" Oceh Kinan merasa kesal memperhatikan pesan yang diterima olehnya.
xxx