Dea & Kinan

Dea & Kinan
68. Layangan



Di taman kompleks, terlihat Kinan yang sedang menggiring ketiga anak berusia enam tahun menuju tempat teduh dibawah pohon mangga berukuran cukup besar dan tinggi.


Disisi lain suasana taman pagi ini juga cukup ramai pengunjung mayoritas anak kecil usia empat sampai enam tahun. Mereka bermain bersama dengan pengawasan dari orang tuanya.


"Eh ada nak Kinan, hari ini pergi keluar rumah ya" Tutur seorang wanita lansia yang sedang duduk dibangku taman.


"Iya nih nek, Kak.Mita minta aku jagain anak-anak dan keponakannya" Jawab Kinan sambil memberikan senyuman terbaiknya.


"Kak sini kak!" Teriak Doni sambil melambaikan tangannya dibawah pohon mangga.


"Sepertinya setiap awal tahun keluarga Mita selalu sibuk ya," Tutur lansia itu.


"Iya nih nek, kalau gitu Kinan permisi dulu ya" Jelasnya sambil bergegas ketika melihat Doni dan Dean berebut bola sepak yang mereka bekal dari rumahnya.


"Jangan bertengkar..." Tutur Diana dengan mata berkaca-kacanya, berusaha melerai pertengkaran kedua anak dihadapannya.


"Aku pinjam dulu sebentar" Teriak Doni sambil menarik bola yang dipeluk oleh Dean dengan begitu eratnya.


"Tidak mau, aku mau memainkannya lebih dulu" Balas Dean tidak mau mengalah dan menyerahkan bolanya begitu saja.


"Tu-tunggu kalian berdua..." Ucap Kinan saat sampai ditempat mereka, dengan cepat Diana memeluk tubuh wanita itu.


"Kakak" Ucap gadis kecil itu mulai meneteskan air matanya, dengan cepat Kinan mengelus kepala Diana dengan lembut.


"Doni Dean!" Ucap Kinan dengan nada tingginya membuat kedua bocah itu menengok kearahnya secara bersamaan.


"Diana..." Ucap mereka saat melihat gadis kecil itu menangis.


"Ja-jangan menangis..." Tutur Dean masih memeluk bola ditangannya sambil mendekatkan diri pada kembarannya.


"Kalian tidak boleh bertengkar lagi, kan bisa main bersama-sama. Sebelum itu bantu kakak gelar tikarnya ya, kita makan dulu. Setelah itu baru kalian boleh bermain." Jelas Kinan sambil memegangi kepala Dean dan Doni yang sudah berdiri disampingnya.


"Ba-baikan, kalian harus baikan" Ucap Diana membuat mereka berdua saling melempar pandangan, sedangkan Kinan hanya bisa tersenyum gemas saat melihat ekspresi imut yang ditunjukan Diana pada kedua anak laki-laki dihadapannya.


Tanpa banyak bicara merekapun berbaikan dengan menjabat tangan kanan satu sama lain, membuat wajah Diana kembali berseri-seri.


Disisi lain terlihat sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari taman kompleks. Seorang wanita cantik tengah memperhatikan Kinan dari dalam mobilnya sambil tersenyum lebar.


"Fino!" Ucap wanita itu.


"Ya nyonya Karina?" Tanya pria itu memperhatikan wajah Karina dari kaca spion mobilnya.


"Aku ingin menemui Kinan, temani aku." Jelasnya sambil keluar dari dalam mobilnya.


Tanpa pikir panjang pria berambut ikal itupun segera mengikuti langkah Karina. Mereka berjalan menghampiri kerumunan anak kecil dan Kinan yang sedang berbincang bersama mereka.


***


"Kinan..." Sapa Karina mengejutkan gadis itu.


"Ah tante Karin," ucapnya terhenti.


"Aku mencarimu di rumahmu, tapi rumahmu tampak sepi. Ternyata kau ada disini."Jelasnya membuat Kinan segera menggeser tubuhnya, memberikan tempat duduk untuk Karina.


"Itu, aku harus mengasuh mereka." Jelasnya merasa tidak enak.


Karina hanya bisa memperhatikan ketiga anak dihadapannya. Mereka langsung mengintrogasi Fino yang bersikap sok kenal dan sok dekat dengan mereka. Lalu tiba-tiba kedua anak laki-laki itu segera berlari menjauhi Kinan sambil membawa bola sepak. Fino yang mendengar panggilan merekapun mau tak mau harus mengikuti ajakan mereka untuk bermain bola.


"Mereka ini?" Tanya Karina melihat kearah Kinan yang sedang membukakan bungkus kue ditangan Diana.


"Mereka anak tetanggaku, setiap tahun selalu menitipkan mereka padaku." Jelasnya sambil tersenyum membuat wanita itu membulatkan mulutnya dengan sempurna untuk mengatakan 'Oh'.


"Tante cantik ini siapa kak ?" Tanya Diana membuat Karina kegirangan karena dipanggil cantik oleh gadis seimut Diana.


"Tante ini..." Tutur Kinan segera dihentikan oleh ucapan Karina.


"Aku ingin membawanya pulang..." Gumamnya terlihat menggemaskan, padahal usianya sudah tak muda lagi. Tapi wajah awet mudanya membuatnya terlihat pantas-pantas saja melakukan hal menggemaskan seperti seorang anak kecil. Terutama tatapan matanya dan caranya menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terkepal di depan dadanya.


"Tante bisa kena masalah nantinya..." Tutur Kinan sambil memaksakan senyumannya.


"Tante mau?" Tanya Diana sambil menyodorkan sebuah kue kehadapan Karina dengan wajah menggemaskannya.


"Aku tidak tahan lagi..." Tuturnya segera memeluk Diana dengan eratnya membuat gadis itu kesulitan bernafas untuk beberapa saat.


"Ta-tante," ucap Kinan berusaha menyadarkan wanita itu, biar bagaimanapun dia harus segera melepaskan Diana sebelum gadis itu hilang kesadaran akibat sesak nafas.


Wajah Diana terlihat sedikit pucat sekarang, matanya menatap lurus pada makanan dihadapannya. Mencoba untuk mengatur pernafasannya yang sempat terganggu akibat pelukan erat dari orang asing yang baru ditemuinya.


"Tante ini sangat berbahaya ya!" Ucap gadis itu dengan lantang, memasang ekspresi kesal yang menggemaskan membuat hati Karina menjadi sedikit terguncang karena dibentak oleh gadis imut itu. Namun satu detik kemudian dia kembali tersenyum lebar.


'Sepertinya dia sangat menyukai anak kecil' Batin Kinan sambil tersenyum kaku memperhatikan sosok Karina yang terus menggoda Diana.


"Kak Kinan!" Teriak Dean mengalihkan perhatian mereka semua, anak itu melambaikan tangan kanannya setinggi mungkin selagi tangan satunya sibuk memegangi layangan.


"Sini main layangan." Lanjutnya sambil menyeringai.


"Layangan?" Tanya Karina.


"Ayo ayo main!" Teriak Diana sudah berlari lebih dulu mendekati kembarannya.


"Kalau begitu aku permisi dulu sebentar" Tutur Kinan kepada Karina yang masih memperhatikan ketiga anak didekat Fino.


Kinan pun segera mendekati Dean, wajahnya tampak ditekuk padahal baru saja dia tersenyum lebar saat memanggilnya.


"Om Fino tidak mau bermain denganku." Tuturnya sambil melihat Fino yang sedang membantu Doni bermain layangan.


"Kakak mendapatkan layangan darimana ?" Tanya Diana begitu antusias.


"Om Fino membelikannya disebrang jalan, tapi dia malah menerbangkan layangan Doni duluan." Tuturnya merasa kesal.


"Lagipula om Fino tidak akan bisa menerbangkan dua layangan sekaligus," tutur Kinan sambil tersenyum pada Dean.


"Kalau begitu biar kakak yang menerbangkannya, Dean bantu kakak ya." Lanjutnya sambil menyeringai membuat ekspresi Dean berubah menjadi berseri-seri.


"Emangnya kakak bisa bermain layangan?" Tanya Diana sambil memiringkan kepalanya, menatap bingung wajah Kinan.


"Ckckck... kak.Kinan ini jagonya bermain layangan," jelas Dean sambil tersenyum bangga membuat Diana kebingungan.


"Hhaha... kita lihat saja kemampuan kakak." Ucap Kinan ikut menyombongkan dirinya dihadapan Diana.


'Kenapa wajah mereka terlihat seperti itu?' Batin Diana saat melihat senyuman angkuh yang ditunjukan Kinan dan kembarannya.


***


"Hee... jadi dia bisa bermain layangan juga?" Gumam Karina sambil tersenyum hangat memperhatikan Kinan yang terlihat dekat dengan ketiga anak itu.


Fino juga sempat terkejut saat melihat Kinan menerbangkan layangan, lalu Doni menantang Dean untuk beradu layangan. Tentu saja yang memainkannya Fino dan Kinan, sedangkan mereka hanya berperan sebagai pendukung saja. Tapi sesekali Kinan memberikan benang layangan pada Dean dan mengajari cara bermain layangan pada anak itu.


Karina yang tak bisa berhenti tersenyum pun akhirnya mengeluarkan heandphonenya dan segera merekam kegiatan Kinan bersama Fino dan ketiga anak itu, suara teriakan dan tawa mereka terdengar jelas ketelinga Karina.


"Jangan mau kalah kak," ucap Diana berusaha menyemangati Kinan.


"Potong benangnya kak, ayo ulur lagi layangannya abis itu tarik..." Lanjut Doni menyemangati Fino yang tak bisa berhenti tersenyum.


"Tidak akan semudah itu!" Ucap Kinan segera menjauhkan layangannya.


"Tidak akan ku biarkan." Balas Fino tak menyerah.


"Ayo kak kalahkan kak Fino kak," ucap Dean sambil memasang ekspresi menggemaskannya.


Keributan mereka terus berlanjut membuat beberapa anak kecil lainnya ikut bergabung dengan mereka, membentuk kelompok kecil antara tim si kembar dan tim Doni.


Anak-anak itu saling berteriak menyemangati Kinan dan Fino. Hingga akhirnya benang layangan Fino terputus dan membuat semua anak yang mendukungnya refleks mengatakan "Ah..." bersama-sama.


"Hhahaha rasakan itu..." Ucap Kinan merasa bahagia.


"Hebat, kakak hebat!" Teriak Dean dan Diana kegirangan.


"Maafkan aku ya" Ucap Fino sambil menggaruk tengkuknya merasa bersalah pada Doni.


"Yah dari dulu kak.Kinan emang jagonya bermain layangan, jadi tidak heran kalau om kalah darinya" Jelas Doni membuat pria itu tersentak dan refleks melirik kearah Kinan yang sudah dikerumuni banyak anak-anak.


"Seriusan ? Padahal dia perempuan, tapi bisa bermain layangan seperti anak laki-laki?" Guman Fino begitu terkejut.


"Hhaha-hahaha..." Tawa Karina mendekati mereka semua, membuat Fino dan Kinan segera melihat kearahnya.


"Tak ku sangka kau kalah dari seorang perempuan," ejek Karina membuat Fino sedikit kesal, sayangnya dia tak bisa berkata apapun pada majikannya itu. Dia terlalu sayang dengan pekerjaannya dan tak ingin mendapatkan masalah jika berurusan dengan Karina.


xxx