Dea & Kinan

Dea & Kinan
112. Ingatan yang tersisa



Waktu sudah menunjukan pukul 07:30 Pm, Akira baru kembali dari kantor bersama dengan Kiara dan Bayu.


Fino yang mendengar suara pintu yang diketuk dari luar pun segera berlari meraih pintu masuk dan mempersilahkan majikannya masuk ke kediamannya bersama dengan Kiara dan Bayu.


Kinan yang masih sibuk di dapur bersama dengan bi Inah pun tak menyadari kedatangan Akira bersama Kiara dan sepupunya itu.


"Dimana Kinan?" Tanya Akira yang tak mendapati sosok wanita itu dimanapun.


"Nona masih sibuk memasak di dapur bersama bi Inah tuan." Jawab Fino.


"Kenapa kau tidak melarangnya? Dia harus beristirahat setelah mengalami kecelakaan seperti itu." Gumam Akira segera dihentikan oleh Kiara yang menepuk bahunya secara tiba-tiba.


Dengan cepat wanita itu menunjukan senyuman lebarnya, membuat pria berambut hitam itu kebingungan dengan reaksi Kiara yang tak seperti biasanya.


"Kondisinya baik-baik saja kan? Dokter juga mengatakannya, dia hanya perlu merawat memar di keningnya, jadi biarkan saja dia memasak." Tutur Kiara segera mendapat jitakan maut dari sepupunya.


"Kau ini! Sudah bolos pemotretan masih saja–" Ucap Bayu segera dihentikan oleh Kiara.


"Aku datang jauh-jauh kesini untuk mendapatkan makanan enak dari Kinan loh." Jelas Kiara dengan nada suara yang sedikit meninggi memelototi Bayu selagi tangannya mengelus puncak kepalanya untuk menghilangkan rasa sakitnya.


"Hee...?" Gumam Fino merasa tak percaya dengan tujuan utama Kiara yang datang jauh-jauh ke kota X hanya ingin memakan masakan Kinan berkebalikan dengan tujuan utamanya.


"Kalian ini–" Ucap Akira segera terhenti saat mendengar suara Kinan di dekat anak tangga yang memanggil namanya.


Wanita itu sudah berdiri dengan mengenakan rok panjang selutut berwarna merah maroon dengan kemeja putih polos berlengan panjang yang sengaja dilipat hingga ke siku. Rambutnya pun sudah terikat setengah, membiarkan setengah rambutnya terurai.


"Makan malamnya sudah ... kalian juga datang?" Tutur Kinan sambil berjalan mendekati Akira di depan pintu masuk, memperhatikan sosok Kiara dan Bayu yang berdiri disamping Akira.


"Kinan." Teriak Kiara langsung memeluk tubuh wanita berambut coklat itu dengan erat.


"Kiara ...." Gumam Kinan berusaha melepaskan pelukannya.


"Kau mau membunuhnya?!" Tanya Bayu penuh penekanan sambil melepaskan pelukan Kiara, dengan cepat Kinan mengambil napas sebanyak mungkin setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Kiara.


"Nona? Anda baik-baik saja?" Tanya Fino merasa khawatir dengan Kinan.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Kinan setelah berhasil mengatur napasnya.


"Ngomong-ngomong kenapa mereka datang kesini?" Lanjut Kinan bertanya kepada Akira.


"Tentu saja karena aku ingin–" Jelas Kiara segera dipotong oleh Bayu.


"Memastikan kondisimu, aku sudah mendengar semuanya dari Akira." Lanjut Bayu membuat sepupunya merasa kesal karena perkataannya sudah dipotong.


"Aku mengundang mereka untuk makan malam bersama, sekalian menjelaskan–" Jelas Akira terhenti saat mendengar dengusan kesal Kiara.


"Tidak bisakah kita isi perut dulu?" Tanya wanita itu sambil menggeret Kinan menuju dapur.


"Dasar Kiara!" Umpat Bayu merasa kesal dengan kelakuan sepupunya itu.


Mau tak mau Akira, Bayu dan Fino pun pergi mengikuti langkah Kiara yang masih setia merangkul pundak Kinan dengan antusias. Mungkin karena suasana hatinya yang membaik setelah mengintrogasi Delia dan memojokan wanita itu.


Pasalnya dia langsung pergi bersama Bayu dan Akira, membawa Delia menjauhi Kinan. Maka dari itu Fino segera menjemput Kinan di rumah sakit saat mendapat panggilan dari Akira.


Saat kembali ke rumahnya, dia langsung beristirahat selama satu jam penuh. Setelahnya dia sibuk di dapur bersama dengan bi Inah, mungkin karena dia tau kalau Akira akan kembali ke rumahnya. Rumah yang ditinggali Kinan saat ini, jadi dia ingin menyambut kedatangan Akira setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


Setelah selesai makan malam, mereka langsung pergi ke ruang tengah untuk membahas soal rencana Delia.


Tampaknya Kinan tak begitu terkejut saat mendengar penuturan Bayu dan Kiara. Mungkin karena dia sempat bertemu dengan Delia dan mendengar beberapa petunjuk mengenai rencana jahatnya.


"Maaf karena aku tak mengatakannya sejak awal." Tutur Kiara merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Kinan.


"Aku juga minta maaf karena sudah melibatkan Akira dalam masalah ini, tapi ku pikir dia juga harus mengetahuinya supaya bisa menjaga dirinya dan membantuku untuk mengungkap semua kejahatannya." Lanjut Bayu sambil meletakan cangkir teh digenggamannya.


"Ku pikir tak ada yang perlu dimaafkan, karena pada akhirnya rencana Delia berhasil kalian gagalkan." Jelas Kinan dengan eskpresi murungnya.


"Tapi kenapa kau terlihat murung?" Tanya Kiara memperhatikan ekspresi Kinan.


"Aku hanya merasa ... bagaimana dengan Delia? Apa dia mengakui semua kejahatannya?" Jawab Kinan segera mengubah ekspresinya dengan mengembangkan senyuman terbaiknya.


"Dia mengakui semuanya." Jawab Bayu mendahului Akira dan Kiara.


"Lalu, apa kalian berniat memenjarakannya? Ku dengar kalian sudah mengumpulkan semua bukti kejahatannya, jadi–" Tanya Kinan segera dipotong oleh Akira.


"Aku tidak bisa melakukannya, biar bagaimanapun dia sepupumu, keluargamu. Aku tak berhak memutuskan semuanya, karena kita masih belum menjadi keluarga." Jelas Akira membuat bulir air mata Kinan berjatuhan.


"Ki–kinan? Kau baik-baik saja?" Tanya Kiara terbata-bata.


"Aku ... padahal dia berniat menghapus ingatanmu, tapi kau masih bisa bersikap baik padanya. Kau–" Jelas Kinan segera mendapatkan pelukan hangat dari Akira.


"Sudahlah, kau ini tidak bisa melihat orang lain akur ya?" Sindir Kiara dengan senyuman sarkas yang ditunjukan pada sepupunya itu.


"Terima kasih ...." Ucap Kinan setelah melepaskan pelukan Akira.


"Terima kasih?" Tanya mereka bersamaan langsung mendapatkan senyuman hangat dari Kinan setelah dia menyeka air matanya.


***


Banyak hal yang sudah ku lalui semasa hidupku, kehilangan impianku, sahabatku bahkan sepupuku.


Meski begitu aku sangat yakin dengan ingatanku yang tersisa, ingatan soal kedekatanku dengan Delia. Dulu sekali, sebelum dia tinggal dan bersekolah disekolah yang sama denganku, dia pernah datang bersama bibi untuk mengunjungi kakek dan nenek.


Awalnya kami tak begitu dekat karena Delia memang gadis pemalu dan sering menjadi target kejahilan teman-teman sebayanya.


Dia sering menangis diam-diam dibelakang rumah kakek karena tidak suka dengan warna rambutnya. Seperti yang kita tau, bibi bukan orang pribumi jadi warna rambutnya pun terlihat berbeda dengan kebanyakan orang di dalam negri.


Dan sepertinya Delia tak menyukai warna rambutnya karena kesulitan mendapatkan teman sebaya jika sedang berlibur ke rumah kakek. Dan dihari itu aku sempat memergoki dirinya yang sedang dikerjai oleh beberapa anak nakal di dekat perkebunan kakek.


Tanpa aba-aba Dea yang sedang bermain denganku pun langsung berlari menghajar semua anak nakal itu, dan aku bergerak cepat untuk mengamankan Delia.


Gadis imut itu pun terlihat menggemaskan dengan bola mata besar dan pipi chubynya yang memerah, bahkan hidung mancungnya pun ikut memerah karena tangisannya.


"Mereka benar-benar membuatku kesal!" Umpat gadis kecil berusia kisaran tujuh tahun berjalan mendekatiku, jika tidak salah usiaku baru memasuki sepuluh tahun saat itu.


"Kau menghajar mereka semua?" Tanyaku sambil memperhatikan beberapa memar yang didapatkan oleh Dea akibat bertengkar dengar beberapa bocah laki-laki.


"Ya, yang perempuan semuanya langsung kabur saat melihatku." Jawab Dea sambil tersenyum angkuh, berusaha menyombongkan dirinya.


"Kakak tidak apa-apa?" Lanjut gadis kecil itu sambil berjongkok dihadapan Delia.


"Dia tidak mau bicara sejak tadi, hey Dea. Lihat wajahku!" Tuturku membuat gadis kecil itu segera melihat kearahku dengan tatapan bingungnya.


"Hem?" Gumamnya.


"Apa diwajahku ada sesuatu?" Tanyaku segera mendapatkan kernyitan bingung dari Dea.


"Dia terus menatap wajahku dengan mata bulatnya itu, ku pikir ada yang aneh diwajahku. Apa ada sesuatu disana?" Lanjutku sambil memperhatikan wajahku yang terpantul dibola mata Dea.


"Ini aneh, aku tidak menemukan apapun diwajahku ...." Gumamku masih sibuk melihat wajahnya dimata Dea, sedangkan Dea hanya bisa mengedipkan matanya dan sesekali memperhatikan Delia yang mulai menyeka air matanya.


"Lukamu harus segera dibersihkan." Tutur Delia sambil meraih saku celananya dan mengeluarkan tisu basah dan plester dari dalam sakunya.


"Ah ini, aku tidak ingat mendapatkan luka ini." Gumam Dea langsung mendapat cubitan gemas dariku.


"Kau selalu saja ceroboh ya!" Umpatku disela-sela rengekan Dea yang memohon ampun minta dilepaskan dari cubitanku.


"Pft..." Suara Delia mengalihkan perhatianku dan Dea, "Hhaha maaf, kalian lucu ya. Padahal usiamu lebih muda dariku, tapi keberanianmu lebih besar dariku." Lanjutnya sambil membersihkan luka di kening Dea, lalu menutupnya dengan plester.


"Kalau mereka mengerjaimu lagi, bilang saja padaku. Aku akan menghajarnya untuk kakak." Tutur Dea sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi miliknya.


"Ya, kau kan bisanya cuma berkelahi." Ketusku dengan senyuman sinisku.


"Apa?!" Ucap Dea penuh penekanan tak terima dengan perkataanku.


"Sudah sore, kita harus pulang." Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan dan berhasil membuat Dea terkejut.


"Kau benar." Tutur gadis berambut hitam itu menyetujui perkataanku.


"Kita harus pulang, jangan sampai nenek menghukum kita lagi karena telat pulang." Lanjut Dea segera berlari meninggalkanku dan Delia.


"Kita juga harus pulang, ku dengar ibu dan bibi membuat camilan lezat untuk kita." Tuturku segera meraih tangan Delia dan membawanya pergi dengan berlari.


"Benarkah? Camilan apa?" Tanya Delia dengan mata berbinarnya.


"Apa ya?" Gumamku sambil berpikir selagi berlari bersama gadis berambut pirang itu.


"Puding?" Tanya Delia masih mempertahankan senyuman manisnya.


"Mungkin saja." Jawabku membalas senyuman gadis itu.


"Oiii kalian! Cepatlah sedikit!" Teriak Dea yang sudah berlari cukup jauh di depan kami.


"Kami datang." Teriak Delia mempercepat langkah berlarinya dan mulai menarik tanganku supaya mengikuti kecepatan berlarinya.


xxx