Dea & Kinan

Dea & Kinan
49. Campur tangan Karina



Setelah pergi menemui Ayah dan Ibu, aku kembali diantar pulang oleh Bayu. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa melamun, memikirkan semua pembicaraan pak.Darma dengan ayahku. Pembicaraan soal lahan pertanian yang belum bisa kami tebus.


Sedangkan Bayu, pria itu sesekali melirik kearahku dan kembali fokus pada kemudinya. Seolah dia tau apa yang sedang mengganggu pikiranku dan aku tak ingin diganggu olehnya.


Waktu juga sudah menunjukan pukul tujuh malam. Jalanan sudah terlihat lebih ramai sekarang, mungkin karena sudah memasuki waktu makan malam dan waktu pulang kerja.


"Mau mampir dulu sebelum pulang ?" Tanya Bayu angkat bicara.


"Tidak perlu, antar aku pulang saja" Jawabku tanpa meliriknya dan fokus pada pemandangan yang terpantul dikaca jendela disampingku.


"Ba-baiklah..." Gumamnya.


Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam perjalanan pulang. Akhirnya aku pun sampai di depan rumah. Buru-buru aku turun dari dalam mobil pria itu.


"Terima kasih" Ucapku pada Bayu yang berdiri disampingku.


"Seperti yang kau dengar saat berada di rumah ibumu. Selama satu minggu kedepan, kita akan sering bertemu agar bisa saling mengenal lebih jauh lagi. Dan..." Jelasnya membuatku segera melengos meninggalkanya disamping mobilnya.


"Dasar tidak sabaran..." Ucap Bayu yang ternyata mengekoriku.


"Pulang sana !" Ucapku penuh penekanan sambil menghentikan langkahku tepat di depan pintu rumahku dan dia pun ikut menghentikan langkah kakinya.


"Hee... tapi aku ingin mampir dulu" Tuturnya membuat alasan.


"Ini sudah malam. Jangan membuatku kesal, pulang sana !" Bentakku benar-benar merasa kesal.


Disisi lain aku mendengar suara pintu terbuka di kediaman Akira, lalu mendengar suara seorang perempuan dan Akira yang ikut keluar dari dalam rumahnya.


"Baiklah aku pulang sekarang. Besok aku akan kembali menjemputmu" Tutur Bayu sambil meraih tangan kananku dan mengecupnya dengan lembut, sontak membuatku terperajat.


"Selamat malam Kinan" Lanjutnya berlalu dari hadapanku sebelum aku sempat memarahinya karena sudah bertindak lancang seperti itu.


'Dasar kurang ajar !' Batinku mengumpat kesal di depan pintu rumahku.


"Aku pulang dulu ya..." Suara itu membuatku refleks melihat ke rumah Akira.


Tiba-tiba mataku melihat Kiara yang menarik dasi Akira dengan cepat sampai wajah mereka berdekatan dan bibir mereka saling bersentuhan, membuatku terkejut dan mematung untuk beberapa saat.


'A-apa-apaan itu tadi ?' Batinku sambil bergegas masuk kedalam rumah dan menyenderkan tubuhku pada pintu yang sudah ku kunci dari dalam.


Kejadian singkat tadi benar-benar membuatku terkejut untuk beberapa saat, dan entah kenapa malah aku yang malu saat melihat mereka berciuman.


Tanganku juga sampai gemeratan, lalu dadaku terasa sakit, dan ada rasa kesal yang menggangguku. Kenapa wanita itu membuatku kesal ? dan kenapa Akira diam saja saat Kiara bersikap lancang seperti itu ? ah ya, hubungan mereka kan sudah membaik. Sepertinya Akira juga sudah bisa memaafkannya.


'Bodoh ! kenapa denganku ? ada apa dengan perasaan aneh ini ? berhenti memikirkanya, fokus saja pada urusanku sendiri' Batinku sambil meremas pakaianku, 'Tapi... jika berita soal sandiwara pertunanganku beredar. Bukankah itu tidak akan menjadi masalah untuknya, lagipula beritanya juga memang benar. Dan Akira juga sudah kembali pada Kiara, reputasi yang akan hancur mungkin bukan reputasi keluarganya Akira, tapi... keluargaku' Lanjutku masih dalam hati.


"Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana Bayu. Aku..." Gumamku mulai menggigit bibir bawahku dengan gemas, mencoba menahan rasa kesalku yang membuatku ingin berteriak sekeras mungkin sekarang.


"Perempuan itu... dia melirik ku kan ? Tatapannya tadi..." Lanjutku saat bayangan Kiara tiba-tiba berkelebat cepat di dalam kepalaku.


Mengingat kembali lirikan tajam yang ditunjukannya padaku saat aku melihatnya berciuman dengan Akira. Sedangkan Akira hanya bisa menatap terkejut kearah Kiara, bahkan pria itu tak menyadari kehadiranku.


"Kakak ? Kenapa tidak bilang sudah pulang ?? bagaimana kondisi ibu dan ayah ?" Tanya Dea yang melihatku berdiri di depan pintu, membuatku segera melepaskan sepatu yang ku kenakan.


"Baik, mereka sangat sehat. Bagaimana sekolahmu tadi ?" Jawabku sambil berjalan mendekati Dea yang berdiri di dekat pintu kamarku.


"Sudah makan malam ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


***


"Sudah, tadi kak.Akira..." Jawab Dea terhenti, "Ah cewe itu. Cewe yang di taman hiburan, mantannya kak.Akira. Dia datang dan ikut makan malam bersama..." Lanjutnya menaikan nada suaranya dan mengingat kejadian saat dirinya disindir soal kakaknya yang menjadi tunangan bohongannya Akira, lalu saat wanita itu bilang wajah mereka memang mirip, dan soal pacar bohongan Akira. Dia sangat yakin kalau itu adalah Dea bukan Kinan, apalagi saat Akira memperkenalkannya dengan nama Dea.


"Aku benar-benar merasa jadi nyamuk memperhatikan mereka berdua makan dihadapanku. Dan si sialan Megan malah tidak ada, dan kenapa kak.Akira membawa wanita itu kerumah kita ? dia sampai bisa membedakanku dengan kakak ku, benar-benar mengesalkan. Padahal orang lain sangat sukit membedakanku dan kakak, tapi wanita sialan itu..." Lanjutnya masih menggerutu kesal.


'Sepertinya mereka ingin menunjukan hubungan mereka yang sudah membaik...' Batin Kinan menyimpulkan, "Aku mau mandi dulu, pergilah tidur. Besok harus sekolah kan ?" Lanjutnya membuat Dea bergegas pergi ke kamarnya, sedangkan Kinan pergi mandi.


Disisi lain...


"Berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan ? Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi !" Tutur Akira sambil menelpon seseorang dan menyusut bibirnya dengan punggung tangan kanannya. Sorot matanya juga terlihat begitu tajam menatap kepergian mobil Kiara.


"Aku tidak mau tau, apapun yang terjadi. Selesaikan semuanya besok malam !" Lanjutnya mengakhiri sambungan telponnya.


Kemudian pria itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara motor Megan memasuki halaman rumah Akira, membuat langkah pria itu terhenti di tempat.


"Dari mana saja ? Kenapa baru pulang ?" Tanya Akira yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.


"Latihan band" Jawab Megan sambil menyeringai dan segera melepaskan helm dikepalanya, lalu bergegas turun dari motornya dan berjalan menghampiri kakaknya.


"Jadi kapan acaranya diselenggarakan ?" Tanya Akira mengikuti langkah Megan yang sudah masuk ke dalam rumahnya lebih dulu.


***


"Ayolah pah, kita pergi temui bu.Hanum. mamah ingin Akira dan Kinan bersama, kita buat berita soal pertunangan mereka jadi kenyataan. Ya pah ya..." Bujuk Karina sambil menggelayuti tangan suaminya yang baru pulang kerja.


"Kita sudah pernah membahasnya kan ? jadi jangan membahasnya lagi, aku mau mandi dulu..." Jelas pria itu sambil melepaskan tangan sang istri dan meninggalkannya di depan pintu rumahnya.


"Pah !" Teriak Karina sambil mengikuti suaminya yang sudah menyusuri anak tangga menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat tak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria seusia putra pertamanya.


"Ma-maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak sengaja" Tutur pria itu sambil membungkukan tubuhnya sebagai permintaan maaf.


"Kenapa kau terlihat buru-buru ? apa ada masalah dengan Akira ?" Tanya Karina tak memperdulikan permintaan maaf pria itu.


"I-itu..." Ucapnya setelah kembali berdiri tegap.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi jika tidak memberitauku semuanya..." Tutur Karina sambil berkacak pinggang.


"A-anu nyonya, tuan Akira meminta saya pergi kerumahnya. Jadi saya harus bergegas" Jelasnya mencari-cari alasan.


"Untuk apa dia memanggilmu selarut ini ?" Tanya Karina menatap serius pada pria berambut ikal dihadapannya itu, "Dengar ya Fino, wajahmu itu mudah dibaca dan kau tidak pandai berbohong. Jadi katakan yang sebenarnya padaku !" Lanjutnya membuat pria itu berkeringat dingin.


Mau tak mau Fino pun menceritakan masalah yang sedang dialami oleh tuannya itu. Karina yang mendengarnya pun tak bisa tinggal diam, dia langsung menelpon orang-orang kepercayaannya untuk membantu Akira setelah Fino pergi dari hadapannya


"Kalau sudah begini, aku benar-benar akan membuat mereka benar-benar bertunangan..." Guman Karina dengan aura berbunga-bunganya.


"Suamiku sayang !" Teriaknya sambil berlari menuju kamarnya dengan perasaan gembiranya.


xxx