
"Kau bilang mereka mengincar Delia kan?" Suara Akira yang duduk disamping Kinan, membiarkan Delia duduk di depan bersama dengan Fino yang fokus mengemudikan mobilnya.
"Hem." Jawab Kinan.
"Kalau begitu, mereka pasti musuh-musuhnya tuan Danu." Gumam Akira membuat Delia tersentak.
"Musuh?" Tanya Kinan mewakili sepupunya.
"Belakangan ini banyak orang asing yang mencari keberadaan tuan Danu, bahkan beberapa diantara mereka berusaha untuk menggali informasi pribadi tuan Danu. Tak heran jika mereka mengetahui putrinya tuan Danu." Jelas Fino mewakili Akira.
"Tapi kenapa mereka mengincar Delia?" Tanya Kinan mencemaskan sepupunya.
"Entahlah, dari dulu tuan Danu memang sudah memiliki banyak musuh. Mungkin mereka ingin melukai putrinya untuk menakut-nakuti pria itu. Atau–" Jelas Akira tak mau melanjutkan ucapanya.
"Atau apa?" Tanya Kinan berusaha mendapatkan setengah jawaban yang tak keluar dari mulut Akira.
"Bukan apa-apa. Sekarang pikirkan saja soal dirimu, orang tuamu pasti khawatir jika melihatmu seperti ini." Jelas Akira menyadarkan Kinan dengan pakaian basah dan kain putih ditangan kananannya. Kain pakaian yang dikenakan oleh Delia, dia memotongnya dan merobeknya untuk menghentikan pendarahannya.
"Benar juga ...." Guman Kinan.
Diam-diam Akira mengirimkan pesan penting kepada Danu. Memberitau bahaya yang sedang dihadapi oleh putri tunggalnya.
'Untuk selanjutnya biarkan mereka yang mengurusnya. Aku tak mau melibatkan diri dengan masalahnya, yang harus ku pikirkan saat ini adalah menikah dengan aman bersama dengan Kinan. Wanita ini juga tak akan tinggal diam jika tau keluarganya ada dalam bahaya ....' Batin Akira sambil memperhatikan Delia yang duduk dihadapannya dan melirik kearah Kinan.
***
Terlihat sosok Kinan yang berjalan memasuki rumahnya diikuti oleh Delia dan Akira.
"Selamat da–tang." Suara Dea terhenti saat melihat perawakan Kinan yang basah Kuyup dengan luka ditangannya.
"Ada apa denganmu?" Lanjutnya sambil berjalan cepat mendekati kakaknya.
"Ini?" Tanya Dea menatap Delia dan Akira bergantian.
"Kinan menolongku, dan kami jatuh ke sungai." Jawab Delia.
"Aku akan menjelaskannya, sebelum itu–" Lanjut Akira memberikan lirikan kearah Dea dan memberikan kode untuk membawa kakaknya pergi.
Dengan cepat gadis itupun membawa kakaknya pergi ke kamar mandi dan menyiapkan pakaian ganti untuknya. Lalu pergi menemui Akira dan Delia di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya yang sudah menunggunya.
"Dimana Kinan?" Tanya bu Hanum.
"Dia masih mandi." Jawab Dea.
"Baguslah, kalau begitu aku akan menjelaskan kejadiannya." Tutur Akira memulai pembicaraan seriusnya bersama dengan mereka.
"Jadi Delia?" Ucap bu Hanum merasa terkejut setelah mendengar penjelasan panjang dari calon menantunya itu.
"Maafkan aku ... padahal sebentar lagi Kinan akan menikah dengan Akira, tapi gara-gara tak sengaja bertemu denganku ...." Tutur Delia merasa bersalah karena melibatkan Kinan dalam masalah keluarganya.
"Aku senang kau baik-baik saja, Kinan juga pasti merasa seperti itu." Ucap bu Hanum segera memeluk wanita berambut pirang itu.
'Kenapa keluarga ini sangat baik padaku?' Batin Delia bertanya-tanya dengan mata berkaca-kacanya.
Perbincangan mereka terus berlanjut sampai Kinan selesai membersihkan tubuhnya, dan membiarkan Delia pergi mandi untuk membersihkan dirinya.
"Dimana ibu?" Tanya Kinan saat melihat adiknya duduk tegap diruang tengah.
"Masak." Jawab gadis itu singkat.
"Ayah?" Lanjutnya bertanya.
"Akira?" Tanyanya lagi sambil duduk disamping adiknya.
"Diluar juga," jawab Dea lagi setelah menghela napas lelah.
"Kau ini hobi sekali mencari musibah ya?!" Lanjutnya berteriak sambil mencubit pipi kakaknya dengan gemas lalu menepuk tangan kanan Kinan yang terluka, membuatnya meringis kesakitan.
"Kau!" Umpat Kinan tak di dengarkan sambil melihat adiknya membuka kotak P3K yang sudah tersimpan dihadapannya.
"Gulungkan lengan bajunya." Pinta Dea membuat Kinan mengangkat lengan baju pendeknya, membiarkan Dea mengobati lukanya dengan wajah seriusnya.
"Tidak bisakah kau tinggalkan wanita itu disana? Biarkan saja dia tertembak disana." Gerutu Dea terlihat begitu kesal.
"Mana bisa aku meninggalkan sepupuku begitu saja, lagipula dia bisa mati jika pelurunya berhasil menembus jantungnya. Aku melihat pria itu mengarahkan pistolnya kearah jantungnya dibalik tubuh Delia, meski dia berdiri beberapa puluh meter. Aku bisa melihatnya, makanya aku mendorong tubuhnya sampai dia terjatuh, dan secepat mungkin aku menghindari peluru itu. Tapi aku malah mendapatkan goresannya dan membawanya terjun bebas. Hha–haha ... ternyata aku sangat payah." Jelas Kinan panjang lebar membuat Dea dan ibunya tak berkutik sedikitpun, diam-diam bu Hanum menguping pembicaraan kedua putrinya dibalik pintu dapur yang berdekatan dengan ruang tengah.
Disisi lain, Danu sedang melakukan pembicaraan serius bersama dengan kakaknya dan Akira. mereka sibuk membahas soal musuh yang mengincar Delia dan tindakan apa yang bisa dilakukan Danu untuk menangkap musuhnya itu.
***
Ku dengar beberapa langkah kaki berjalan mendekati ruang tengah. Dan ku dapati Ayah bersama paman dan Akira sudah berjalan mendekati Delia.
"Del–" Suara paman terdengar begitu lembut dengan sorot mata penuh penyesalan bercampur khawatir.
"Maafkan ayah." Lanjutnya membuat putrinya menengadah menatap sorot mata ayahnya yang sudah berdiri dihadapannya.
"Aku juga ingin mengucapkan terima kasih banyak padamu Kinan. Terima kasih sudah menyelamatkan putriku dan ... maafkan semua kesalahanku padamu." Tutur paman membuatku sedikit terkejut saat melihat penyesalan dimatanya.
Aku bahkan tak pernah berpikir kalau paman akan meminta maaf seperti ini padaku.
"Aku minta maaf pada kalian semua." Lanjutnya lagi sambil membungkukan tubuhnya menghadap kearah ayah dan ibu yang sudah berdiri disamping ayah.
"A–anu ...." Ucap ibu merasa tak enak dengan permintaan maaf adik iparnya itu.
"Maafkan aku." Ucapnya lagi segera mendapatkan sentuhan tangan ayah dibahunya.
"Sudahlah, kami semua sudah memaafkanmu ...." Tutur Ayah membuat paman menengadah sebelum kembali menegakan tubuhnya.
"Aku tidak mau pulang!" Suara Delia mengejutkan semua orang.
"Apa yang kau katakan? Saat ini bukan saatnya untuk bersikap keras kepala seperti ini." Tutur paman terlihat khawatir mengingat nyawa putrinya dalam bahaya.
"Biarkan saja dia menginap disini untuk satu malam. Kau bisa menjemputnya besok." Jelas ibu membuat raut wajah Delia terlihat sumringah.
"Benarkah? Aku boleh menginap disini?" Tanya Delia begitu antusias.
"Tapi–" Ucap paman segera dihentikan oleh Akira.
"Aku akan meminta Fino untuk berjaga disekitar ini bersama dengan anak buahku yang lainnya," tutur Akira berusaha menenangkan paman.
"Kenapa juga kita harus menampung wanita menyebalkan ini? Biarkan saja dia pulang bersama ayahnya." Ucap Dea terlihat kesal. Mungkin dia masih tak bisa memaafkan sepupunya itu.
"Dea." Ucap ibu sedikit memelototinya membuat Dea bungkam.
"Tidak perlu dipikirkan pulanglah, Delia aman disini. Besok kau bisa menjemputnya. Jika tidak, aku yang akan mengantarnya pulang nanti." Lanjut ayah mencoba mencairkan suasana.
"Maaf merepotkan." Ucap paman terlihat canggung.
xxx