Dea & Kinan

Dea & Kinan
09. Penghuni baru rumah utama



Terdengar senandungan Kinan yang sedang membaca komik online di komputernya, membuat Dea terkejut saat turun dari kamarnya. Karena mendapati kakaknya yang bangun sepagi ini, bermain komputer dengan lampu padam.


"Nyalakan lampunya bodoh!" Bentak Dea yang menjitak kepala kakaknya membuat Kinan terkejut dan melirik kearah adiknya.


"Sakit tau!" Ucap Kinan sambil mengelus-ngelus kepalanya.


"Hah..."Guman Dea sambil menghela nafas, "Kalau kakak bisa bangun sepagi ini, setidaknya mandi dulu!" Tutur Dea yang memperhatikan pakaian tidur Kinan dan rambut berantakannya, serta beberapa cemilan yang berceceran diatas mejanya.


"Males," ucap Kinan spontan sambil menggigit kripik yang baru diraihnya, "dan lagi dingin ...." Lanjutnya kembali fokus pada komik yang sedang dibacanya.


'Lagian siapa juga yang bangun sepagi ini? Orang semalaman aku gak tidur, tapi kalau aku bilang gitu, bisa-bisa aku dimakan sama Dea.' Lanjutnya lagi dalam hati sambil melirik kearah adiknya yang masih berdiri disampingnya.


"Hah... terserah kakak aja deh ...." Gumam Dea setelah menghela nafas, "Tapi kau harus tetap mandi ya ! Awas aja kalau sampe gak mandi!" Lanjutnya dengan tegas.


"Hee... mode iblisnya muncul!? Tapi tadi kau bilang terserah, berarti terserah aku dong mau mandi atau enggak." Tutur Kinan membuat Dea tambah emosi.


"Kau lupa ya? Pasti lupa ya?! Ha ya kau lupa, Hari ini kan kau ada janji bersama orang yang akan melihat-lihat rumah kita. Jadi kau harus tampil rapi dan wangi, kau harus memberikan kesan baik dihadapannya. Jangan sampai mengacau," jelas Dea berapi-api membuat Kinan tak berkutik, "Mengeti? Mengerti kan!" Lanjutnya menatap mata kakaknya dengan penuh ancaman membuat Kinan menelan ludah merasakan ancaman dari adiknya.


"Kenapa kakak harus membuat janji dihari senin coba? Aku jadi cemas, semoga saja dia tidak bersikap kekanak-kanakan seperti biasanya." Gumam Dea sambil berjalan kearah kamar mandi dan meninggalkan Kinan di ruang tengah.


***


Setelah selesai mandi Dea langsung bersiap-siap untuk pergi kesekolah, sedangkan kakaknya, dia sedang mandi karena disuruh oleh Dea.


Lalu setelah selesai bersiap-siap Dea pun pergi dari kamarnya, dan turun untuk menyantap sarapan paginya di ruang tengah.


"Tumben mandinya lama ...." Guman Dea sambil menelan potongan roti dimulutnya dan melihat kearah pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian Kinan pun keluar dari kamar mandi bersamaan dengan usainya Dea bersarapan.


"Aku berangkat sekolah dulu ya," pamit Dea kepada kakaknya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, 'sial, aku masih merasa cemas meninggalkannya sendirian...' Lanjutnya dalam hati sambil berjalan kearah pintu keluar.


"He? Padahal masih pagi loh." Ucap Kinan sambil memperhatikan Dea yang sedang mengenakan sepatu sekolahnya, lalu gadis itupun langsung membuka knop pintunya saat selesai mengenakan sepatu.


"Hati-hati ya." Teriak Kinan yang melihat adiknya menutup pintu rumah tanpa berkata apapun lagi.


Lalu wanita berusia 21 tahun itu pun, mulai bersiap-siap dengan memilih pakaian yang akan dikenakan di lemari pakaiannya.


"Hem..." Gumam Kinan terlihat kebingungan saat memilih pakaian yang akan dikenakannya, 'Enaknya pake setelan, dres atau baju biasa ya?' Lanjutnya dalam hati sambil memegangi dagunya dan tatapannya fokus pada semua baju di dalam lemarinya.


"Kalau setelan, rasanya terlalu gimana gitu ya ... lagian cuma nerima tamu, bukan mau lamar kerja. Kalau pakai dres ... ribet amat ya, mending pakai jeans sama kaos putih polos aja deh. Cuma nerima tamu ini." Jelas Kinan mempertimbangkan keputusannya dan langsung mengeluarkan celana jeans dan kaos putih polos yang akan dipakai olehnya.


Kemudian Kinan segera memakai pakaiannya sambil bersenandung, setelah itu dia segera menata rambutnya dan memakai sedikit riasan wajah untuk menutupi mata pandanya akibat begadang semalaman.


"Hem ... lumayan." Gumam Kinan sambil bercermin dan menunjukan beberapa pose disana.


***


"Lamanyaaa..." Gumam Kinan yang sedang duduk santai di kursi putarnya sambil bermain game, "Udah lewat dari waktu yang dijanjikan ... pengen cepet ganti celana." Lanjutnya sambil melihat jam dinding yang menunjukan waktu pukul 10:15 am.


Kemudian wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah dapur.


"Hem..." Gumam Kinan sambil menuangkan air kedalam gelas yang diambilnya, lalu meminumnya sampai tersisa setengahnya, "Dia benar-benar membuatku kesal. Aku benar-benar benci manunggu!" Lanjutnya dengan nada kesal sambil menyimpan gelasnya di dalam wastafel dan pergi dari sana untuk kembali bermain game.


Tok... tok...


Terdengar suara pintu yang diketuk sebanyak tiga kali, membuat Kinan bangkit dari tempat duduknya setelah mematikan komputernya.


Di dapatinya dua orang pria yang berdiri didepan pintu rumahnya dan dibelakangnya terdapat sebuah mobil pribadi yang terparkir tepat di depan rumahnya, lalu mata gadis itu melihat kesisi lainnya yang terdapat sebuah mobil yang terparkir beberapa meter dibelakang mobil pribadi itu, 'Mobil pengangkut kah?' Batin Kinan bertanya-tanya.


Kemudian pandangannya beralih pada dua sosok pria bertubuh cukup tinggi yang berdiri dihadapannya.


"He?" Ucap Kinan yang sempat terkejut melihat kehadiran mereka, 'Aku tau aku sedang menunggu orang yang ingin melihat-lihat rumahku, tapi ... apa maksudnya ini? kenapa rasanya aura mereka, menyilaukan.' Lanjut Kinan dalam hati.


"Permisi, apa benar ini kediaman Nyonya Kinan?" Tanya salah seorang pria berpostur tinggi dengan wajahnya yang keasia-asiaan membuatnya terlihat semakin tampan dengan mengenakan setelan.


"Nyo–nyonya?" Gumam Kinan merasa terkejut.


"Tempo hari saya yang menelpon untuk melihat-lihat rumahnya dan sudah membuat janji dengan Nyonya Kinan, dan beliau memberikan alamat rumah ini pada saya. jadi ... apa bisa saya bertemu dengan beliau?" Jelasnya membuat Kinan menatap tajam kearah pria itu.


"Dengar ya, nama saya memang Kinan, tapi saya tidak setua itu. Dan saya tidak suka dengan pembicaraan formal seperti ini, jadi berbicara dengan santai saja." Jelas Kinan sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya membuat kedua pria itu saling bertatapan.


"Apa anda yakin? Maksud saya, anda bernama Kinan?" Tanya pria lainnya yang mengenakan celana jeans dan kaos polos berwarna biru tua dengan lengan panjang yang dilipat sampai siku, kemudian dilehernya terdapat sebuah kalung yang biasa dipakai oleh kaum pria untuk gaya-gayaan, lalu tangan kanannya memegangi sebuah jaket.


"Huft... memangnya wajahku terlihat meragukan?" Tanya Kinan setelah menghela nafasnya.


"Lebih muda dari yang ku bayangkan, ku kira dia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Biasanya yang menyewakan rumah itu ...." Bisik pria itu kepada pria yang berpakaian setelan terdengar ke telinga Kinan.


"Jadi mau langsung melihat-lihat? Atau mau istirahat dulu? Kalau mau istirahat akan ku buatkan kalian minum." Jelas Kinan menarik perhatian mereka.


"Ah, izinkan saya melihat-lihat dulu saja" Tutur seorang pria berpakaian rapi itu, "Kalau begitu kau tunggu di mobil saja." Lanjutnya sambil menatap pria disampingnya.


"Hee... aku juga ingin melihat-lihat." Ucapnya terlihat terkejut, namun tak digubris dan mereka malah meninggalkan pria malang itu.


"Woii dengerin napa!" Teriaknya tak direspon.


Kinan pun mengajak pria itu berkeliling untuk melihat-lihat rumah yang akan ditinggalinya.


"Ternyata lebih luas dari dugaanku." Gumam pria itu sambil melepaskan jasnya dan mengendurkan dasi yang melingkar dilehernya.


"Dimasing-masing kamar sudah tersedia lemari pakaian ...." Jelas Kinan terhenti saat melihat ekspresi pria disampingnya yang memasang wajah berseri-serinya, meski tak begitu jelas karena wajahnya tampak serius.


"Bahkan ada tempat tidurnya juga." Gumam pria itu.


"Meski begitu masih banyak tempat yang lebih bagus dari rumah ini, tidak heran jika tuan berubah pikiran." Jelas Kinan sambil berjalan ke halaman samping rumahnya melalui jendela pintu geser di ruang tengah rumahnya itu.


Mata pria itu tak bisa beralih dari pemandangan dihadapannya, "Ini." Lanjutnya begumam.


"A–anu..." Ucap pria itu memperhatikan Kinan yang fokus melihat pemandangan taman dihadapannya, "Jika boleh tau, kira-kira harga sewa pertahunnya berapa ya?" Lanjutnya bertanya membuat Kinan terkejut.


"He?" Tanya Kinan.


"Sebenarnya kami berniat pindah hari ini, maka dari itu kami menyewa mobil pengangkut barang di depan. Jadi mungkin, kalau bisa saya akan bayar setengahnya dulu, soalnya saya belum menarik uang lagi." Jelasnya membuat mata Kinan membelalak.


"Jadi itu beneran mobil pengangkut barang ...." Ucap Kinan, "Se–sebaiknya kita bicarakan di rumah saya saja, supaya barang-barangmu bisa langsung disimpan." Lanjut Kinan sambil berjalan keluar rumah,


'Padahal aku hanya menebaknya saja ....' Lanjutnya lagi dalam hati.


"Lukisan itu ...." Gumam pria itu kembali melihat kedalam jendela rumah yang berada disebelah taman yang menghubungkan rumah itu dengan rumah yang dipijakinya saat ini. yang tidak lain adalah rumah Kinan dan adiknya.


xxx