
Kinan tampak bersenang-senang menunggangi kuda putih yang sudah menarik perhatiannya, sedangkan Fino hanya bisa berjalan memegangi tali kekang kuda itu.
Disisi lain Dea juga sudah memperingati kakaknya agar tidak memperparah cederanya. Maka dari itu dia meminta Fino untuk menuntun kudanya supaya Kinan tidak menarik tali kekang itu dan membuat kudanya berlari.
"Tuan Fino bisakah anda melepaskan talinya? Sayang sekali jika aku tidak menungganginya dengan caraku." Tutur Kinan berusaha membujuk Fino sambil memasang senyuman terindahnya.
"Tidak nona, demi keselamatan anda. Saya tidak bisa membiarkan nona berkuda seorang diri, jadi biarkan saya menuntun kudanya saja." Jelas Fino sambil membalas senyuman Kinan dengan senyuman terbaiknya.
"Ayolah tuan Fino satu kali saja, setelah itu aku akan menuruti perintahmu." Bujuk Kinan sambil meunjukan puppy eyesnya.
"Kalau saya lakukan itu bisa-bisa nona Dea memarahi saya..." jelas Fino masih tak mau mengalah.
'Cih kenapa dia tidak terpengaruh dengan ekspresi yang ku tunjukan ? Biasanya semua orang tidak akan tahan setelah melihat tatapanku, dia benar-benar tangguh.' Batin Kinan merasa kesal.
Disisi lain Dea sudah berjalan memasuki rumah Karina dengan dibimbing oleh seorang pelayan pria berambut hitam dengan kacamata yang menghiasi wajahnya.
Matanya tak bisa berhenti memperhatikan setiap sudut rumah Karina yang begitu memukau. Semua dekorasi dan beberapa pelayan wanita yang berlalu lalang benar-benar membuatnya semakin takjub.
"Sudah seperti di dalam istana saja..." Gumam Dea memperhatikan seorang pelayan wanita yang mengenakan pakaian maid berjalan melewatinya.
"Sebelah sini nona, silahkan masuk." Tutur pria berkacamata itu menyadarkan Dea.
"Terima kasih." Ucapnya sebelum masuk kedalam ruangan yang dimaksud oleh pelayan itu.
Kali ini Dea dimanjakan sengan beberapa lukisan indah yang terpajang di dalam ruangan itu, bahkan dekorasi ruangan itu juga tak kalah mewahnya dengan dekorasi diruang tamu tadi.
"Silahkan masuk De," ucap Karina mempersilahkan Dea untuk masuk.
***
"Saya akan mengurus sisanya..." Tutur Delia terhenti saat mendengar keributan dihalaman samping rumah Akira.
Akira yang mendengarnya juga langsung memperhatikan Fino yang sedang menunggangi kuda bersama seorang wanita berambut coklat.
Wanita itu terus mentertawakan cara berkuda Fino yang terbilang masih payah dimatanya.
"Kenapa dia ada disini?" Guman Akira ketika menyadari sosok wanita itu.
"Mereka seperti sepasang kekasih ya," tutur Delia terhenti saat melihat Akira melirik kearahnya.
"Ma-maaf..." Lanjutnya sambil menutup mulutnya.
"Kau tidak bisa mempercepat pergerakannya tuan?" Suara Kinan kembali mencuri perhatian Akira.
"Tidak bisa nanti nona bisa terjatuh," lanjut Fino membuat Akira merasa kesal ketika pria itu mencondongkan tubuhnya kearah Kinan yang memang duduk didepannya dengan posisi kaki menyamping.
"Hhaha kau payah sekali, aku tidak akan terjatuh hanya karena dibawa berkuda dengan kecepatan tinggi. Lagipula aku sudah lama bersahabat dengan kuda-"
"Pak!" Ucap Delia menyadarkan Akira.
"Ya ? Ah kau boleh pergi sekarang..." Tutur Akira sambil melangkah mendekati Fino yang baru turun dari kudanya, membiarkan Kinan menunggangi kudanya sedirian seperti sebelumnya.
"Tapi pak..." Ucap Delia tak didengarkan.
"Fino!" Ucap Akira saat sampai di dekat pria itu.
"Iya tuan," jawabnya saat melihat Akira dihadapannya.
"Pergi siapkan mobil." Pinta Akira sambil melirik kearah Kinan.
"Tapi tuan, nyonya meminta saya untuk menemani nona Kinan." Jelas Fino segera mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.
"Saya yang akan menemaninya jadi cepat siapkan mobilnya." Ucapnya penuh penekanan membuat Fino mengangguk paham dan segera pergi dari sana.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Akira yang sudah meraih tali kekang kuda yang sedang ditunggangi oleh Kinan.
"Ibumu yang membawa kami kesini," jawabnya merasa canggung.
Setelah kejadian malam itu mereka belum berbicara lagi. Dan sekarang tiba-tiba saja Akira datang menghampirinya dan mengajaknya berbicara lagi.
"Kami?" Tanya Akira.
"Kenapa turun?" Tanya Akira masih memegangi kuda disampingnya.
"Uwah ada anak kuda, lucunya..." Teriak Kinan mengalihkan pembicaraan sambil berlari kearah kandang kuda yang tak jauh darinya, meninggalkan Akira yang masih berdiri ditempatnya dengan memegangi kuda putih disampingnya.
"Siapa namanya? usianya berapa tahun? induknya yang mana? sudah dikasih makan belum? boleh aku membantumu memberikan makan kudanya?" Oceh wanita itu mulai menanyakan semua hal yang ada di dalam kepalanya sambil memasang wajah berseri-serinya.
Akira yang baru datang pun langsung memberikan kuda itu pada salah seorang pengurus kuda yang menghampirinya.
"Akira! Akira lihat dia sangat menggemaskan," tutur Kinan segera meraih tangan kiri pria itu membuat Akira terkejut.
"Aku jadi ingin membawanya pulang. Tapi kalau aku mengurs kuda lagi bisa-bisa ibu mengomeliku lagi lalu menjual semua kuda kesayanganku..." Lanjutnya semakin mengecilkan suaranya.
Akira yang masih digandeng oleh Kinan pun hanya bisa mematung mendengarkan ocehan gadis itu, lalu matanya melirik kearah tangan kanan Kinan, memperhatikan sebuah cincin yang masih melingkar indah di jari manisnya.
"Rupanya kau masih mengenakan cincin yang ku berikan ya." Tutur Akira tak di dengarkan.
"Lihat-lihat kuda yang itu cantik sekali ya, tubuhnya juga bagus." Oceh Kinan yang sudah berlari kearah kandang kuda disisi sebelah kirinya.
Akira yang melihatnya begitu antusias pun hanya bisa menghela nafas pasrah dan segera menemaninya berkeliling.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 Pm. Fino yang melihat kedatangan Megan pun segera membungkukan tubuhnya sedikit, memberikan salam hormat pada sosok Megan.
"Dimana ibu?" Tanya pria itu pada Fino.
"Beliau ada di ruangannya bersama dengan nona Dea." Jawab Fino mengejutkan Megan.
"Kenapa gadis itu ada disini?" Tanyanya segera memasuki rumahnya dengan terburu-buru.
Disisi lain...
"Rumahmu benar-benar seperti istana, kenapa kau mau menyewa rumahku?" Tanya Kinan mengekori Akira dengan langkah malasnya.
"Karena tempatnya lebih dekat dengan kantorku." Jawabnya masih sibuk memainkan heandphonenya.
'Terus kenapa kemarin dia tidak pulang kerumahnya?' Batinnya merasa kesal dengan jawaban Akira.
"Soal pembicaraan malam itu..." Lanjut Kinan segera dihentikan oleh Akira yang sudah membalikan badannya menghadap kearahnya.
"kau memintaku untuk menyerah kan?" Tanyanya.
"Jika kau mau menyerah maka mernyerah saja," jawabnya sambil berjalan melewati Akira.
'Apa yang aku katakan ? seharusnya aku memintanya untuk tidak menyerah padaku...' Lanjutnya dalam hati.
"Kalau begitu lepaskan cincin ditanganmu itu!" Ucap Akira menghentikan langkah Kinan.
Wanita itu segera berbalik badan kearah Akira dan menatapnya kesal dengan rona merah diwajahnya. Sedangkan Akira hanya bisa menunjukan senyuman kemenangan diwajahnya.
"Aku-" Ucap Kinan terhenti saat mendengar suara Delia dibelakang Akira.
"Maaf sudah mengganggu waktu kalian," tuturnya ketika sampai di samping Akira.
"Tapi aku harus memberitau pak Akira soal meeting sore ini." Lanjutnya mengingatkan Akira.
"Aku benar-benar melupakannya, ayo pergi." Tutur Akira begitu terburu-buru, Kinan yang melihatnya berjalan melewatinya hanya bisa mematung ditempatnya. Merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya dengan lembut dan rasa kesal dihatinya.
Sedangkan Delia, wanita itu hanya bisa melirik kearah Kinan sambil mengekori Akira. Lalu diam-diam tersenyum sinis pada sosok wanita yang baru saja dilewatinya.
xxx
Eea, akhirnya bisa crazy up juga 😆👍
jangan lupa like, komentar dan vote ya. Kalau ada kritik dan saran yang bisa membangun, tolong jangan sungkan untuk memberitau author ya 👉👈
Terima kasih sudah mampir... 😁