Dea & Kinan

Dea & Kinan
78. Kediaman keluarga Wira



Dua hari kemudian sejak kejadian panjang pada hari dimana aku menolong Kiara dari kedua preman asing itu. Aku sudah tak pernah bicara dengan Akira lagi, ku dengar dari Megan pria itu belum pulang dari rumah ibunya.


Selama dua hari ini juga perasaanku menjadi campur aduk. Aku merasa bahwa aku tidak seharusnya meminta dia menyerah padaku, tapi disisi lainnya aku merasa lega karena ternyata dia benar-benar menyerah padaku. Entahlah aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri.


Waktu baru menunjukan pukul 09:00 Am, Dea baru kembali dari pasar dan Megan sudah pergi ke kampusnya pagi-pagi buta. Hari yang dinantikan oleh pria itu dimulai pada hari ini.


"Kau tidak mau menonton pertunjukan band-nya?" Tanyaku pada Dea yang sedang sibuk merapikan isi kulkas.


"Untuk apa aku melihatnya?" Jawabnya balik bertanya.


"Untuk apa lagi? Kau kan menyukainya," jelasku terhenti saat melihatnya melirik kearahku.


"Lupakan itu! Bagaimana hubunganmu dengan si Akira? Lalu lututmu bagaimana?" Tanya Dea kembali fokus pada pekerjaannya.


"Kenapa mendadak menanyakan hubunganku?" Tanyaku sambil mengupas jeruk ditanganku, "Kalau soal kaki ku, aku sudah bisa melompat lagi. Berlari sepuluh kilo meter juga kayanya sanggup..." Lanjutku.


"Apa dia berhasil membuatmu jatuh cinta?" Tanyanya terdengar ragu sambil menutup pintu kulkas dihadapannya.


"Ha? Kau pikir pria sepertinya bisa membuatku jatuh cinta semudah itu?" Jawabku setelah menelan jeruk didalam mulutku.


"Ya kau benar. Mana mungkin pria sepertinya bisa menaklukan hatimu semudah itukan?" Gumam Dea sambil berjalan kearahku dan menghempaskan tubuhnya pada sofa disampingku.


"Tapi biar bagaimanapun aku lebih mengenalmu dari pria itu. Jangan harap kau bisa membodohiku!" Lanjutnya sambil menatapku penuh selidik.


"A-apa maksudmu? Menyembunyikan apa?" Tanyaku mulai berkeringat dingin.


"Sebenarnya kau sudah menyukainya kan?" Jawabnya membuatku tersendak, dengan cepat ku raih gelas dihadapanku dan meneguk habis air di dalamnya.


"Aku?" Tanyaku kembali meletakan gelas itu ketempatnya.


"Aku tidak akan menghalangimu jika kau benar-benar menyukainya. Yah sebaiknya kakak bertindak cepat sebelum wanita itu melakukan sesuatu padamu..." Jelasnya sambil menekan tombol power pada remot televisi ditangannya.


"Wanita itu?" Gumambu betanya-tanya.


"Delia, siapa lagi? Jelas-jelas dia menyukai kak Akira, kau tidak menyadarinya?" Jawab Dea membuatku tersentak.


"Ku kira Kiara..." Ucapku.


"Mana mungkin, dia sendiri sudah mengakui kesalahannya kan? Dan saat kakak sedang memasak kemarin. Aku mendengar ucapannya soal menyerah pada kak Akira, dia juga akan mendukung hubunganmu dengan kak Akira." Jelasnya lagi kembali mengejutkannya.


"Ba-bagaimana bisa dia menyerah pada Akira? Padahal dia terlihat begitu mencintainya..." Tanyaku hanya mendapat helaan nafas lelah Dea.


"Semua orang bisa berubah kan? Apalagi setelah nyawanya diselamatkan," jawabnya terlihat memikirkan sesuatu.


Benar juga, aku sudah menyelamatkan hidupnya dari kedua preman itu. Tapi aku tidak menyangka jika tindakanku bisa membuatnya berubah menjadi seperti sekarang. Rasanya terlalu mengejutkan jika tiba-tiba dia berubah, padahal hari dimana dia mencium Akira sambil melirik tajam kearahku. Aku merasakan aura mengerikan darinya, seolah-olah dia tak ingin melepaskan Akira lagi. Tak membiarkanku untuk lebih dekat dengan pria itu.


Akira, pria itu juga masih mengoleksi semua foto mesranya dengan Kiara. Lalu bagaimana bisa dia mencintaiku secepat itu? Tidak kah itu aneh? Aku benar-benar merasa dipermainkan oleh pasangan itu.


"Kau memikirkan apa?" Tanya Dea mengejutkanku.


"Eh itu... itu," jawabku merasa ragu untuk memberitaunya.


"Katakan!" Pintanya terlihat kesal.


"Tidak kah kau memperhatikan Akira? Dia telihat masih menyimpan rasa pada Kiara, Kiara juga masih mencintainya. Lalu kenapa mereka tidak kembali seperti dulu lagi? Dengan begitu mereka akan sama-sama bahagia kan?" Jelasku merasa bingung sendiri.


"Aku malah melihat kak Akira risih dengan kehadiran si tiang listrik itu, saat makan malam juga... dia berusaha untuk menghindari kontak mata dengan wanita itu. Lalu membuka obrolan soal pekerjaannya dengan Delia," jelas Dea berusaha mengingat kejadian makan malam dua hari yang lalu.


"Mungkin hanya perasaanmu saja, pokoknya kakak tenang saja. Jika pria itu berani menyakiti hatimu, aku sendiri yang akan memberikannya pelajaran." Lanjutnya sambil menepuk bahuku dan menatapku dengan serius.


"Sebenarnya kakaknya itu aku apa Dea sih?" Gumamku sambil tersenyum kaku kearah Dea.


"Tapi De..." lanjutku terhenti berusaha mejelaskan apa yang ku rasakan.


"Jadi sikap keras kepalamu hanya sampai disini ya? Hhaha..." Tuturnya masih tertawa, "Akhirnya kakak ku menyadari perasaannya sendiri, wajahmu juga sudah memerah sekarang." Lanjutnya membuatku malu setengah mati, dengan cepat aku memukul bahunya dengan bantal sofa disampingku.


"Aku hanya merasa kehilangan akhir-akhir ini, apa itu bisa disebut dengan perasaan suka?" Jelasku segera merasakan telapak tangan Dea diatas kepalaku. Saat aku melirik kearahnya, gadis itu sudah tersenyum lebar kearahku.


"Kau payah soal membaca perasaanmu ya? Hal seperti itu saja tidak tau artinya, jika bukan perasaan suka lalu perasaan apa lagi? Hhaha..." tuturnya diakhiri dengan tawanya, entah kenapa ucapannya membuatku jengkel sekarang.


Dengan cepat aku mengejar Dea yang sudah berlari kearah pintu keluar rumah, mungkin karena sudah merasakan aura membunuh yang ku keluarkan.


"Awas kau ya! Jangan kabur, cepat kembali kesini!" Teriak ku saat melihat Dea keluar dari rumah.


***


"Tante Karina?" Ucap Dea saat mendapati seorang wanita sudah berdiri dihadapannya ketika dia baru keluar dari rumahnya.


"Selamat pagi nona Dea dan nona Kinan..." tutur Fino kepada kedua saudari yang sudah berdiri dihadapannya.


"Masuk dulu tan..." Ajak Kinan segara dihentikan oleh Karina.


"Hari ini aku ingin mengajak kalian berdua berkunjung kerumahku, aku ingin memakan masakanmu lagi..." Jelas Karina sambil meraih tangan Kinan.


"He? Main kerumah tante?" Tanya Kinan merasa terkejut.


Disisi lain Dea sudah tersenyum jahil memperhatikan wajah bingung kakaknya. Rupanya sang adik tau kalau Kinan merasa ragu dan mungkin saja dia tak ingin bertemu dengan Akira disana.


"Sekali-kali kita main ke rumah tante Karina tak apa kan kak? Ayo pergi..." Ucap Dea setelah mengunci pintu rumahnya membuat Kinan terkejut.


"A-apa? Kau serius?" Tanya wanita itu tergugup.


"Yeay, akhirnya kita bisa bersenang-senang di rumahku. Senangnya..." tutur Karina begitu bersemangat.


Dengan cepat Dea meraih tangan Kinan dan mulai mengekori Karina menuju mobilnya. Mereka duduk dibangku belakang bersama dengan Karina, membiarkan Fino duduk sendirian di depan.


Setelah menghabiskan waktu satu jam perjalanan menuju rumah Karina, akhirnya mereka sampai dikediaman keluarga Wira.


Mata Kinan dan Dea tak bisa berpaling dari pemandangan yang tersaji disekitar rumah Karina, terutama saat mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah gerbang besar menuju halaman rumahnya yang masih terbilang cukup jauh.


"Ini beneran rumah tante?" Tanya Dea berusaha menelan ludahnya saat melihat rumah mewah nan megah dihadapannya dengan cat putih yang mengiasi sebagian besar rumah itu.


Dengan cepat Fino menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Karina. Lalu mereka semua segera turun dari dalam mobil itu.


"Uwaaah benar-benar indah..." Gumam Kinan dengan mata berbinarnya, memperhatikan air mancur didepan rumah itu lalu beralih pada beberapa bunga mawar yang sengaja ditanam disepanjang jalan.


"Mau langsung masuk?" Tanya Karina pada Dea dan Kinan yang masih mematung di depan pintu rumahnya.


"Dea! Dea lihat diasana, tamannya luas sekali," ucap Kinan sambil menarik lengan baju Dea membuat gadis itu melihat kearah yang ditunjuk oleh Kinan.


Terlihat beberapa pria berjas hitam sedang menunggangi kuda disana, membuat Kinan semakin bersemangat. Bahkan tanpa sadar sikap kekanak-kanakannya sudah muncul sekarang.


"Uwah ada kuda De, kuda putih De ingin naik, naik kuda..." Lanjutnya semakin antusias membuat Dea tak berkutik, sedangkan Karina dan Fino hanya bisa tersenyum geli memperhatikan kelakuan Kinan yang menggemaskan.


"Sepertinya kalian ingin melihat-lihat dulu ya, Fino tolong ajak mereka berkeliling dulu. Setelah mereka puas, tolong antar mereka keruanganku." Tutur Karina sambil tersenyum kearah Dea dan Kinan, membuat mereka menunduk malu.


"Mari nona." Ajak Fino setelah melihat majikannya masuk kedalam rumahnya.


"Seharusnya kau tidak bersikap kekanak-kanakan seperti tadi bodoh!" Bisik Dea merasa kesal dengan sikap Kinan yang ingin menunggangi kuda.


"Tapikan kuda nya emang lucu, dan lagi sudah lama aku tidak menunggangi kuda..." Tutur Kinan sambil memajukan bibirnya kedepan membuat Fino kembali tersenyum geli dengan perdebatan kakak beradik dibelakangnya.


xxx