
Setelah memakan waktu cukup lama akhirnya merekapun sampai di tempat tujuan. Dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Dengan cepat mereka keluar dari dalam mobil, kecuali Kinan. Wanita itu masih terlelap dalam tidurnya.
"Dasar kakak." Ucap Dea hendak membangunkan Kinan, namun dengan cepat di hentikan oleh Akira.
"Biar aku saja yang membangunkannya, Dea pergi saja. Bukannya tadi mau ke toilet?" Tutur Akira membuat Dea mengurungkan niatnya.
"Kalau begitu aku serahkan urusan kakak pada kak Akira." Ucap Dea sebelum pergi ke toilet bersama dengan Fani.
"Kalau begitu aku yang akan mengurus tiket masuknya." Tutur Megan sambil menggeret Rafa dengan penuh semangat. Karena dari awal pria itu yang memberikan saran untuk pergi ke taman hiburan yang sangat ingin dia kunjungi.
"Kenapa gue digeret oii?" Tanya Rafa merasa kebingungan dan tak terima dengan perlakuan Megan.
"Loe temenin gue." Jawab Megan sambil tersenyum lebar kearahnya.
Akira yang melihat mereka pergi pun segera membuka pintu mobil bagian kanan, tempat di mana Kinan tertidur.
"Lelap sekali tidurnya ...." Gumam Akira yang memperhatikan wajah Kinan yang masih terlelap, pria itu berdiri di depan pintu mobil yang sudah di buka selebar mungkin, membuat sinar matahari menyoroti wajah cantik Kinan.
"Ki–" Lanjut Akira menghentikan ucapannya ketika tangan Kinan tiba-tiba memegangi kemejanya, membuatnya terkejut.
'Dia masih ti–dur ....' Batinnya saat kembali melihat wajah Kinan setelah sempat mengalihkan perhatiannya pada tangan wanita itu.
Entah kenapa perlahan wajah Akira memerah dan senyumnya merekah ketika melihat rambut Kinan yang tertiup angin dengan lembutnya. Meski udaranya terasa panas tapi wanita itu masih bisa tertidur dengan lelap.
Dengan hati-hati Akira pun melepaskan tangan Kinan yang masih memegangi kemejanya, lalu meletakan kembali tangan Kinan pada pangkuannya.
"Mereka lama sekali." Ucap Akira sambil memperhatikan ke sekeliling, mencoba mencari kehadiran Megan dan yang lainnya namun tak ada tanda-tanda mereka akan datang, "Apa mereka menunggu di pintu masuk ya?" Lanjutnya bergumam dan kembali melihat Kinan, lalu tangan kanan Akira meraih wajah wanita itu dan mengelusnya dengan lembut, kemudian beralih menekan hidung Kinan dengan jahilnya, menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Sudah waktunya untuk bangun." Ucapnya saat melihat Kinan mulai membuka matanya dengan terburu-buru dan melepaskan tangan Akira yang menghalangi hidungnya. pria itu menekanya selama beberapa detik sampai Kinan terusik dari tidurnya karena kesulitan menghirup udara.
"Kau mau membunuhku ya?" Ucap Kinan sambil memegangi hidungnya yang tak bersalah dan memasang wajah kesalnya.
"Hem." Ucap pria itu sambil memalingkan wajahnya.
"Pria ini benar-benar membuatku kesal. Bagaimana bisa dia membangungkanku dengan cara kejam seperti itu? Tidak bisakah dia membangunkanku dengan cara normal? Hidungku? Dia benar-benar berniat untuk menghabisiku, dasar kurang ajar. Tunggu saja pembalasanku!" Gerutu Kinan sambil mengikuti Akira yang sudah berjalan di hadapannya setelah mengunci pintu mobilnya.
Benar saja dugaan Akira, mereka semua sudah menunggunya di depan pintu masuk.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Megan memasang wajah kesalnya.
"Pasti karena kesulitan membangunkan kakak ya? Dia memang agak susah kalau dibangunkan." Tutur Dea sambil melirik ke arah Kinan yang masih menguap dengan tangan kanan yang meutupi mulutnya.
"Yang penting semuanya sudah berkumpul, bagaimana kalau sekarang kita masuk dan bersenang-senang?" Saran Fani membuat Megan dan Dea kembali bersemangat, dan tanpa di sadari Kinan juga ikut bersemangat membuat mereka semua terkejut.
"Kau tidak salah makan kan?" Tanya Dea segera mendapat jitakan dari kakaknya, membuatnya memekik.
"Ayo cepat masuk!" Ajak Kinan sambil menggeret Megan membuat pria itu tak berkutik saking terkejutnya dengan tindakan Kinan yang menggandenganya. Sedangkan yang lain mengikuti mereka dari belakang.
Dea yang melihat kakaknya begitu antusias terlihat begitu senang dan terus tersenyum memperhatikannya. Sedangkan Akira, wajahnya tampak kesal menatap pemandangan di hadapannya, dan sesekali melirik ke kanan dan ke kiri.
"Sebaiknya kita naik wahana apa dulu ya?" Tanya Kinan sambil melirik ke arah Megan yang masih membisu dengan rona merah diwajahnya.
"He?" Ucap Kinan menghentikan langkah kakinya dan melepaskan tangannya yang sempat menggandeng Megan.
"Ada apa?" Tanya Dea ikut berhenti.
"Wa-wajahnya kenapa merah sekali? Apa dia sakit? Apa dia demam Dea?" Tanya Kinan langsung menggandeng tangan kanan Dea setelah mengambil langkah mundur dan menunjuk ke arah Megan dengan refleks.
"He?" Guman mereka semua sambil melihat wajah megan yang sudah menjadi sangat merah sekarang.
"Bu-bukan begitu!" Jawab Megan mulai membuka suara sambil melambai-lambaikan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Ah..." Guman Dea dan Fani bersamaan, 'sudah jelas dia menyukai kak.Kinan kan?' Lanjut Fani dalam hati sambil tersenyum geli.
'Jangan bilang?!' Batin Dea menatap tajam ke arah Megan yang masih bersikap malu-malu.
"Ya sudah loe sama gue aja, kita naik roller coaster." Ajak Rafa sambil merangkul Megan.
"Ikut!" Teriak Kinan dan Fani bersamaan, mereka benar-benar bersemangat terlihat dari raut wajah dan senyuman lebarnya.
Lalu mereka berempat pun mulai mengantre dan mulai bersenan-senang, sedangkan Dea dan Akira menuggu mereka di bangku taman yang tersedia tak jauh dari wahana roller coaster.
"He kak Akira tidak ikut?" Tanya Dea merasa terkejut karena pria itu tak ikut bersenang-senang bersama yang lainnya.
"Dea sendiri kenapa tidak ikut?" Jawab Akira balik bertanya.
"Soal itu ... aku tidak suka wahana menakutkan seperti itu, Hhehe..." Jawab Dea malu-malu, "kakak sendiri kenapa tidak ikut naik?" Lanjutnya kembali bertanya.
"Kenapa ya? Aku juga tidak tau." Jawab Akira sambil tersenyum.
"Kakakmu, dia terlihat begitu menikmatinya ya ...." Lanjut Akira sambil mengingat ekspresi Kinan ketika sedang tertawa saat berjalan menuju wahana roller coaster berdampingan dengan Fani. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari ekspresinya, sudah pasti sesuatu yang sangat lucu.
"Kakak itu selalu terlihat sempurna ketika berada di luar rumah. Dia berubah menjadi wanita dewasa dan meninggalkan sifat kekanak-kanakannya, bisa di bilang bermuka dua." Jelas Dea sambil tersenyum geli saat mengingat tingkah kakaknya saat di dalam rumah dan di luar rumah, dia benar-benar membandingkannya.
Tak lama kemudian mereka berempat pun berjalan kearah Dea dan Akira setelah selesai menaiki wahana roller coaster, tapi Megan dan Rafa berjalan dengan cepat meninggalkan Kinan dan Fani dibelakangnya.
"Lihat-lihat ada cewe cantik tuh." Ucap salah seorang pria yang berjalan melewati Akira dan Dea yang masih duduk di bangku taman.
"Mana mana?" Tanya yang satunya sambil celingak celinguk mencari orang yang dilihat oleh temannya.
"Itu tuh, yang memakai jaket biru." Jawabnya membuat Dea melirik tajam kearah mereka yang bahkan tidak memperhatikannya.
"Yang disebelahnya juga manis banget." Lanjutnya sambil memperhatikan Fani.
Dengan cepat Dea bangkit dari tempat duduknya, sedangkan Akira masih anteng duduk ditempatnya. Entah pendengaran Dea yang terlalu tajam atau memang pria itu yang tidak peka? Entahlah.
"Loe kenapa De?" Tanya Rafa saat sampai di hadapannya bersama dengan Megan.
"Cewe." Goda salah satu pria yang sempat membicarakan wanita yang mereka anggap cantik dan manis. Kedua pria itu sudah menghalangi langkah Fani dan Kinan.
Megan dan Rafa yang penasaran dengan arah pandangan Dea pun menengok kearah belakangnya. Mata mereka langsung membelalak saat melihat Fani dan Kinan sedang di goda oleh dua pria asing.
"Gue hajar mereka baru tau rasa!" Ucap Megan sambil melipat lengan jaketnya dan berjalan kearah kedua pria itu, namun langkahnya segera dihentikan oleh Rafa.
"Apa?" Tanya Megan sambil melihat ke arah Rafa dan Dea yang sudah menggeleng-gelengkan kepala mereka untuk menghentikan tindakan bodoh Megan.
Megan yang merasa kebingunganpun langsung mengernyitkan dahinya dan melirik ke arah Akira yang sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Tak akan semudah itu mengganggu mereka." Tutur Dea tersenyum mengerikan memperhatikan Fani dan Kakaknya.
***
"Berdua aja nih? Dimana pacarnya?" Tanya salah seorang pria berambut coklat dengan plester yang terpasang di dahinya.
"Mau kami temani?" Lanjut yang satunya ikut bertanya.
"Tidak perlu, kami sedang menunggu pacar kami." Jawab Fani sambil tersenyum manis, seolah-olah inggin menggoda kedua pria dihadapannya yang sudah berani mengajaknya bicara.
"He sudah punya pacar?"
"Kalau begitu, kita tukeran nomor heandphone saja, bagaimana?" Tanya pria berplester itu mulai mendekati Fani.
"Sayangnya kami tidak bawa heandphone." Jawab Kinan yang sejak tadi terdiam memperhatikan dua pria dihadapannya, dan mulai menyembunyikan Fani dibelakangnya dengan bersikap santai menatap mereka.
"He? Jangan bohong ...." Tutur mereka sambil memperhatikan tas Fani yang menunjukan heandphonenya.
Dengan berani Kinan mendekati mereka, memperpendek jaraknya dengan kedua pria itu, lalu menatap mereka dengan tatapan tajamnya, berusaha mengintimidasi mereka.
"Kalian lama sekali." Ucap Rafa yang sudah berdiri dibelakang kedua pria itu, lalu berjalan kearah Fani dan berdiri disampingnya. Segera Fani meraih tangan Rafa.
Kinan yang masih menatap kedua pria itu tak menyadari kehadiran Akira yang sudah berdiri di belakangnya, pria itu juga menatap tajam kearah mereka. Membuat mereka ciut dan segera pergi dari hadapan Kinan.
"Me–manakutkan." Gumam Fani sambil menghela nafas lega.
"Biasanya juga berani." Ucap Rafa mengingat Fani yang begitu keras terhadap para pria saat sedang menagih uang kas dikelasnya.
"Kau ini belum berubah ya." Lanjut Dea menatap ke arah kakaknya sambil menghela nafas, "haha.. untung saja dia tidak menghajar mereka." Lanjut Fani tak kuasa menahan tawa membuat Megan dan Akira kebingungan.
"Berisik!" Ucap Kinan masih kesal karena kesenangannya diganggu oleh dua orang asing itu.
"Menghajar?" Tanya Akira.
"Dulu saat masih SMA, kami juga pernah diganggu oleh orang-orang seperti tadi. Tapi kak.Kinan malah menghajar mereka tanpa ampun, sampai membuat mereka lari terbirit-birit." Jelas Fani setelah selesai tertawa, membuat Akira dan Megan melirik ragu kearah Kinan.
"Udah udah mending kita naik wahana lainnya dan bersenang-senang lagi." Tutur Rafa mencoba meredakan kekesalan Kinan.
"Kalau begitu aku ingin naik kora-kora, ayo pergi ke sana." Ucap Fani melirik ke arah Rafa yang sudah tersenyum setuju padanya.
"Aku juga ingin naik hysteria, ayo temani aku." Ucap Megan sambil menggeret Kinan, memisahkan diri dari yang lainnya.
"He?" Gumam Kinan saat tangannya ditarik paksa untuk mengikuti langkah Megan, tak lama kemudian wanita itu kembali tertawa dan melupakan rasa kesalnya.
"Setelah naik hysteria aku ingin naik tornado." Ucap Kinan membuat pria itu menengok ke arahnya sambil memasang wajah cemas.
"To–gornado? Okelah!" Ucap Megan langsung memberikan senyum kakunya, senyuman untuk menyembunyikan rasa takutnya. tapi Kinan malah mentertawakan ekspresi Megan.
"Mereka benar-benar bersemangat ya." Gumam Dea sambil memperhatikan kepergian mereka semua.
"Jadi kita mau mengikuti yang mana?" Tanya Akira sambil melirik kearah Dea.
"Hem..." Gumam Dea sambil memegangi dagunya dan mulai berpikir, "sepertinya aku akan menyusul Fani. Aku juga ingin mencoba naik kora-kora, sepertinya yang satu itu tidak terlalu menakutkan." Lanjutnya sambil menyeringai membuat Akira ikut tersenyum.
xxx